Sunday, August 22, 2010

Tahun Ajaran Baru, Semangat Baru

Masa perkuliahan tingkat 5 udah dimulai, dan apa artinya itu? Berarti gw menjadi senior paling senior di kampus gw sekarang. Walaupun istilah senior paling senior itu agak diragukan artinya, karena menjadi ko-ass berarti menjadi kasta paling rendah di rumah sakit, bahkan lebih rendah daripada perawat. Apalagi gw masuk ke bagian-bagian besar di tingkat 5 yang berarti juga tanggung jawab juga menjadi semakin besar. Lupakan soal senioritas di kampus, karena itu udah bukan jamannya lagi. Tapi soal senioritas di kedokteran, itu bagaikan anda harus mengantri di dalam gang yang sempit yang anda nggak mungkin bisa menyalip senior anda. Fiuhh...

Back to the topic, kenapa gw memilih judul di atas? Karena kuliah di kedokteran butuh semangat tambahan untuk lulus. Ingat, untuk lulus, bukan untuk mendapat predikat cum laude, karena itu butuh modal yang lebih. Semakin dewasa seseorang, tanggung jawabnya pun makin besar. Nggak heran kerja dokter semakin tua semakin banyak prakteknya. Hampir nggak ada dokter yang pensiun dini, kecuali dia jadi pengusaha. Beruntung gw memilih stase bedah yang tergolong paling santai sebagai pilihan pertama, karena cocok untuk adaptasi dari liburan sekaligus adaptasi dengan teman-teman sekelompok. Karena bagi gw, semangat itu datang kalo teamwork juga menunjang. Barulah kalo stase ini udah selesai, gw bisa menjejaki ke stase-stase lainnya yang lebih berat.

Singkat dan nggak penting banget ya tulisan gw sekarang? Maklum buru-buru mau buka puasa. Mendingan nggak usah dibaca deh...

Sunday, August 15, 2010

A...drenaline!!!

Ini adalah ringkasan cerita kelompok klinik tingkat 4 gw yaitu kelompok gado-gado Emergency yang berisikan 17 orang luar biasa. Kami selalu menjalani kepaniteraan dengan semangat tinggi dan selalu suka tantangan, makanya kami memilih stase ini sebagai stase pertama.



Ini dia orang-orangnya (berdasarkan absen):


1. Marinda Asiah Nuril Haya
Ini dia wanita paling ditakuti di seluruh FKUI untuk para mahasiswa baru. Diganggu dikit, langsung amarahnya keluar. Walaupun gitu, di kelompok ini dia sedikit jinak.

2. Putri Addina
Sang penggosip sejati, tiada hari tanpa gosip dan celotehan. Punya banyak koneksi di THT yang cukup menguntungkan kelompok. Cewek Padang sejati, walaupun kelakuannya nggak mirip Padang.





3. Citra Ariani
Satu-satunya gamer PSP di kelompok ini, game favoritnya adalah Pata-Pon. Pemikirannya kadang "luar biasa". Terkenal dengan cekikikannya yang khas: fufufu.








4. Fadhil Pratama Apriansyah
Si songong. Tukang ngatain dan ngisengin orang. Sobat iPhone bersama Joy dan Ryan, di manapun kapanpun pasti mainin gadget-nya itu. Maniak bola, bagi dia bola adalah teman, eh sodara.









5. Fatia Permata Sari
Pasangan sejatinya Fadhil. Kesusahan cari dia? Cari Fadhil aja dulu. Balerina yang ceking abis. Koneksinya bejibun di RSP, dari staf, residen, sampe konsulen, yang bikin kelompok kita hepi di sana.








6. Himawan Aulia Rahman
Penulis sendiri. Tukang tidur, tukang telat. Sekian dan terima kasih.








7. Putri Amalia Isdianto
Titisannya makhluk ijo yang suka lompat-lompat. Pemanggil pasien: jangan sekali-kali jaga sama dia, kalo nggak mau dapat pasien +. Sifatnya bikin dia jadi peliharaan satu kelompok.






8. Caroline Supit
Keturunan ketiga dari dinasti Supit yang legendaris bikin dia terkenal di kalangan konsulen. Walaupun seleranya gothic, dia adalah pembawa suasana ceria di kelompok.






9. Kristina Joy Herlambang
Manusia paling nggak hoki di dunia untuk masalah ujian. My partner-in-crime dalam urusan telat dan tidur. Mood-nya agak luas: kadang ketawa cekikikan, kadang berurai air mata.





10. Dini Irawan
Cici lulusan SMA di Singapura pengayom satu kelompok yang suka mendamaikan masalah. Suka menolong, ditandai dengan maunya dia menggantikan jadwal jaga orang lain di tengah malam sekalipun. Dihormati karena jabatannya sebagai ketua kelas inter angkatan.








11. Margaretha Gunawan
Bisa dibilang corong TOA-nya kelompok ini. Keaktifannya nggak ada yang bisa ngalahin. Penolong kelompok di saat semua udah jenuh sama preskas dan ditanya sama konsulen, "Any question?"








12. Filipus Dasawala
Orang paling pintar sekelompok! Kejeniusannya melebihi Einstein! Orang satu-satunya di angkatan yang ikut K2N UI. Kadang pikirannya terlalu penuh dan suka campur aduk.





13. Mona Jamtani
Orang asli Jombang yang ngaku-ngaku dari India. Pembawaannya misterius, sok nyimpan rahasia gede di balik kepalanya. English-nya yang fluent sering bikin konsulen bilang, "Kita diskusi Bahasa Indonesia aja ya!"







14. Atmadhilla Rafitasari
Ini dia andalan kelompok untuk nyelesaiin masalah sama konsulen cowok. Cewek penggoda setiap pria. Walaupun gitu, dia lulusan Tarnus, jadi kalo bikin masalah sama dia ati-ati aja.






15. Ima Sonia
Pembawaannya bagaikan melihat makhluk planet lain di bumi: misterius. Arek Mojokerto asli, nggak heran aksennya masih medok. Jawara jalan cepat. Gitu-gitu dia balerina lho!







16. Mohamad Rachadian Ramadan
Si gadget boy yang juga merupakan gitaris rock papan atas. Suka tuker jaga disesuaiin sama jadwal manggungnya. Dikit-dikit bolak-balik Melbourne ec. ketajiran. Pengagum sejati seorang dokter di IGD RSP.








17. Luhut Suryanugraha
Tukang tidur nomer satu, bagi dia hidup itu malam hari tidur itu siang hari. Orang yang sampai sekarang nggak ketauan ilang ke mana. Paling sering bawain oleh-oleh mochi tiap minggu dari Sukabumi. Penolak pasien tulen, pernah nggak dapat sepasien pun saat jaga malam.

Saturday, August 7, 2010

Friendship Story

Kisah ini terjadi di pertengahan Liga Medika 2009, waktu gw jadi panitia akomodasi. Gw dan teman gw (J dan I) tergabung dalam grup anak Fasilitas, grup yang terdiri atas anak-anak pelayan peserta serta teman para supir dan penjaga hotel.

Waktu kejadian malam hari menjelang pagi, saat capek udah bikin kesadaran di bawah rata-rata. Si J hendak mengambil sepeda motornya di kampus untuk pulang. Si I hendak mengantarkan si J dari hotel di Matraman untuk mengambil motornya dengan menggunakan mobil si I.

Mobil jalan dari hotel ke kampus yang nggak terlalu jauh dan jalanan juga udah sepi kayak Jakarta-Merak tengah malem.

J: "I, anterin gw yak ke kampus, gw tidur dulu. Bangunin gw kalo udah nyampe kampus!"
I: "..."

Begitu udah nyampe kampus (motor J diparkir di halaman berpager di deket forensik RSCM).

J: "Waduh sialan, pagernya dikunci. Yaudah gw pulang besok pagi, gw nginep hotel aja." (sambil posisi tidur lagi dengan posisi kaki di atas dashboard)
I: "..."

Si I hendak memutar mobilnya di pertigaan Kenari yang mestinya verboden, berhubung udah malem dan ngantuk banget. Taunya ada polisi nge-prit mobilnya di depan Carolus.

I: "J, ada polisi nih!"
J: (masih dengan posisi kaki di atas dashboard dan dalam keadaan somnolen) "Udah lo kasih aja duit!"

Akhirnya si I ngomong sama pak polisi.

I: "Aduh pak, saya beneran udah ngantuk banget pak. Udah tilang aja pak. Saya rela kok pak."
Pak polisi: "Wah dek, jangan gitu. Damai aja dek ya!"
I: "Pak, saya beneran nggak punya duit lagi pak. Duit saya beneran tinggal 20 ribu."
Pak polisi: "Yaudah itu aja gapapa."

Pak polisi: "Bang, nasi goreng satu bang!!!" (sambil pesen ke tukang nasi goreng di deketnya)

Dan si J udah dalam keadaan tidur lelap. Mobil pun akhirnya dengan selamat kembali ke hotel.

Thursday, August 5, 2010

Liburan Pangandaran

Pangandaran, salah satu pantai terbaik di pulau Jawa, terletak di dekat perbatasan Jabar-Jateng tepatnya di Kabupaten Ciamis. Akhir Juli yang lalu, gw berkesempatan liburan ke sana. Ekspektasi gw berlebih karena Pangandaran adalah objek wisata andalan Jabar. Lagian, waktu itu liburan anak sekolah udah selesai. Jadi mestinya pantainya nggak kayak cendol.

Sebelumnya gw nginep di Bandung dulu, sekalian nemenin bokap yang ada kerjaan. Bandung ya seperti biasa lah harus wisata kuliner sama FO. Cuma sekarang ini gw nemuin lagi restoran favorit keluarga gw yang dulu ilang: restoran seafood Parit 9, yang dulu sempet pindah. Kepiting saus singapore-nya wuidih harus dicoba. Untuk restoran yang sekelas itu di Jakarta nggak ada yang ngalahin. Gw dijemput sama teman-teman liburan gw (Fadhil, Fatia, Haykal) di restoran itu. Maksud hati mau mesenin dulu biar makanannya cepet datang, gw lupa ada Haykal si anak Aceh yang nggak tahan pedes sedikit pun sama Fatia yang nggak bisa makan kepiting. Sore hari langsung cabut ke Pangandaran, estimasi 5 jam dengan kendaraan Avanza sama modal GPS dari Haykal. Keluar Bandung dikit aja udah macet. FYI, untuk sampe ke Pangandaran harus ngelewatin 2 gunung yang berarti jalan berkelok-kelok sebanyak 2 kali. Tengah malam sekitar jam 12 kita baru ngeliat pantai. Malam minggu ternyata daerah pantainya masih rame.

Keesokan harinya pagi-pagi gw jadi saksi Pangandaran di minggu pagi yang rame banget, bahkan kolam renang hotel juga ikut-ikutan kayak cendol. Kita jemputin satu temen lagi di pos polisi Pangandaran, Mang Juno, yang habis transit satu malam di Tasikmalaya. Terus dilanjutin sama snorkling karang di pantai Pasir Putih. Sayang sekali, gara-gara tsunami tahun 2006, terumbu karangnya jadi nggak terlalu bagus lagi dan ikan-ikannya udah jarang. Sore hari dilanjutin trekking cagar alam Pangandaran untuk ngelihat gua stalaktitnya. Malem harinya dilanjutin makan seafood di daerah pantai timur. Pantai barat sama pantai timur Pangandaran bedanya 180 derajat, bagaikan nggak ada kehidupan di pantai timur.


Pantai barat



Pantai timur



Pantai Pasir Putih


Keesokan harinya jalanan jadi lebih sepi dan tujuan kita selanjutnya adalah ke 30 km arah barat Pangandaran, tepatnya ke daerah Cijulang. Ngabisin waktu sehari di Pangandaran hari sebelumnya dirasa udah cukup dan belum dapet kesan yang wah. Begitu sampai ke objek wisata Green Canyon, kita lebih kecewa lagi begitu tahu perjalanannya dibatasi karena hujan yang terjadi kemarin malamnya. Akhirnya nggak jadi ke Green Canyon dan pergi ke pantai Batukaras yang juga nggak jauh dari situ. Ini dia pantai yang wajib dikunjungi, relatif sepi dan banyak bule! Bahkan lebih gampang nyari bule daripada pribumi di sana. Dan pantai inceran bule pasti ada nilai lebihnya: surfing! Modal 50 ribu rupiah per papan dihabisinlah waktu sampai menjelang sore hari. Sore kembali ke Pangandaran, ngelihat sunset di pantai barat, dan makan malam lagi di pantai timur. Seafood di sini memang gw akuin seger-seger walaupun masakannya biasa aja, itu yang jadi nilai plus Pangandaran. Malam hari di Pangandaran kalo nggak libur berasa seperti kota mati!


Pantai Batukaras


Keesokan harinya bangun pagi-pagi untuk ngelihat sunrise di pantai timur, sekaligus persiapan untuk nebus Green Canyon hari sebelumnya. Semalam hujan masih rintik-rintik, langit mendung, tapi kita masih berharap Green Canyon dibuka full karena sedari awal memang tujuannya ya ini, bukan Pangandaran. Beruntung Green Canyon dibuka penuh, bermodalkan 75 ribu rupiah satu perahu akhirnya perjalanan diteruskan. Sumpah, rugi banget kalo nggak ke sini, apalagi waktu perjalanan nyusurin dinding Green Canyon bermodalkan pelampung, kedua tangan, dan skill renang. Yup, skill renang memang wajib dikuasai untuk jalan ke sini. Tapi kecapekan itu terasa sirna saat berenang mengikuti arus, melewati jeram, dan lompat dari ketinggian 6 meter. Ini memang perjalanan yang harus diulang.


Green Canyon


Satu lagi tempat yang nggak boleh dilewati antara Jakarta-Pangandaran, restoran sunda Cibiuk yang terkenal akan sambelnya. Buat yang nggak suka pedes anda beruntung! Sambel Cibiuk bisa dihidangkan nggak pedes (agak maksa dinamain sambel). Makan di saat laper-lapernya di tengah perjalanan 7 jam di pegunungan Priangan memang nggak ada yang ngalahin.