Monday, September 26, 2011

Goodbye, Young Doctor!

Sabtu, 24 September 2011 kemarin, menjadi hari yang paling menggembirakan sekaligus menyedihkan bagi FKUI angkatan 2006. Betapa tidak, di hari yang menjadi titik tumpu bagi kami semua untuk meneruskan masa depan, teman kami, dr. Steven Wijata, justru meninggalkan dunia yang fana ini.

Memang gw nggak sedekat seperti teman-teman lainnya ke W (begitu Steven biasa dipanggil). Tapi gw berkesan banget selama dia menjadi wakil ketua rombongan gw semasa stase klinik di bagian Ilmu Kesehatan Anak. Kepeduliannya, tanggung jawabnya, kepintarannya selalu menjadi panutan bagi teman-teman sekelas. Gw masih ingat bagaimana status pasien W menjadi status pasien paling holistik, komprehensif, dan panjang selama kepaniteraan di modul Ilmu Kedokteran Komunitas (IKK). Bagaimana dia selalu duduk paling depan, membaca bahan kuliah terlebih dahulu, menyiapkan laptop, mencatat materi kuliah dosen, serta siap dengan pertanyaan kritisnya. Bagaimana dia selalu konsisten dengan snelli lengan panjangnya bahkan ketika modul klinik sudah berakhir, tanda bahwa dia adalah murid yang menghormati gurunya. Bagaimana dia membuat dirinya menjadi drummer  nomer 1 di kampus FKUI. Bagaimana dia secara konsisten mencoba meraih ilmu sebanyak-banyaknya hingga mengikuti konferensi kedokteran di luar negeri. Bagaimana dia selalu bersedia membantu teman-temannya

Hal-hal di atas menjadi bukti bahwa hampir sangat tidak mungkin W melakukan bunuh diri, sesuatu yang banyak diberitakan dan dibicarakan orang lain di luar sana yang hanya bisa gw panggil sebagai penggosip murahan.

Kepergiannya adalah kerugian besar bagi FKUI 2006, Indonesia, bahkan dunia kedokteran yang telah kehilangan calon dokter yang hebat.

Selamat jalan W... Kenangan itu tidak akan pernah terhapus dari kami.

Sunday, June 26, 2011

Pelajaran Terakhir

Hampir mengakhiri masa pendidikan kedokteran, gw kembali stase di Puskesmas. Kali ini di Puskesmas Pisangan Timur 2, suatu tempat yang belum pernah gw datangin sebelumnya. Datang ke sana, ternyata banyak orang jualan pisang, nggak heran kalo dinamain Pisangan. Masuk ke daerah sana harus lewat jalan-jalan tikus yang saingan sama angkot-angkot warna biru yang sering ngetem. Puskesmas gw terletak di pojokan jalan, deket sama kantor lurah dan, ini dia ciri khasnya puskesmas di Jakarta, deket sama SD. Alhasil, kalo menjelang jam pulang anak sekolah pedagang-pedagang jajanan SD ngumpul di depan puskesmas.

Akhir-akhir ini gw semakin jarang nulis blog di sini karena ke-nggak-sempet-an gw gara-gara kerjaan yang nggak kelar-kelar. Minggu kemarin gw baru bikin seminar kedokteran yang lumayan gede di hotel bintang lima, yang menguras waktu gw 3 minggu terakhir. Gw juga punya banyak tugas di modul yang sekarang, berkutat sama yang namanya deadline. Gw cuma bisa menunggu libur.

Salah satu program yang gw salut dari puskesmas adalah program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilakukan tiap hari Jumat. Dokter atau perawat puskesmas rutin mengunjungi RW-RW untuk mengawasi PSN ini, ditemenin sama kader-kader dari tiap RT, suatu hal yang nggak pernah gw rasakan di lingkungan gw. Sekalian berbarengan sama kegiatan ini, gw sama salah satu perawat kunjungan rumah ke pasien bayi gizi buruk yang kemarinnya datang ke puskesmas.

Sungguh memprihatinkan melihat keadaan keluarganya. Keluarganya menyewa 1 kamar kontrakan kecil di mana di 1 tempat tersebut terdapat 26 kamar. Ayahnya bekerja nggak tentu, ibunya sibuk mengurus 3 anak lainnya. Pasien tersebut menderita TB dengan gizi buruk. Umur 9 bulan, berat badan masih 6,7 kg. Dokter sebelumnya sudah membujuk ibu tersebut untuk dirujuk ke rumah sakit, gw pun juga, tapi ibu tersebut menolak. Yang bikin miris adalah alasannya, sang ibu nggak mau mengobati anaknya ke rumah sakit karena nggak ada ongkos untuk bolak-balik ke rumah sakit dan sibuk mengurusi anak-anak lainnya juga. Padahal kartu Gakin udah dipunyai. Ngobatin pasien seperti itu di RSCM aja udah susah, apalagi ngobatin sendiri di rumah. Gw nggak habis pikir masih ada keadaan yang seperti itu di Jakarta.

Banyak banget perbedaan antara pengobatan di perifer sama pengobatan di rumah sakit seperti RSCM. Kalo di rumah sakit gw nggak terlalu memperhatikan keadaan sosioekonomi pasien, di perifer kebalikannya. Bukan pengalaman medis yang dikejar di stase puskesmas ini, tapi pengalaman terjun langsung ke pasien lah yang paling penting.

Friday, May 27, 2011

Sports Medicine





Akhir-akhir ini gw menjalani modul tambahan elektif setelah menyelesaikan seluruh kegiatan perkoassan di kampus gw. Bagaikan jatuh ke jurang, mungkin itu yang  menggambarkan perubahan kesibukan gw selama masa transisi ini. Dari IPD yang pontang-panting sibuk, masuk ke dalam modul Sports and Exercise as an Active Lifestyle (SEAL) di departemen Ilmu Kedokteran Olahraga (IKO) yang luar biasa berbeda. Tapi yang namanya mahasiswa FKUI tentu nggak sesantai itu. Karena gw harus mengadakan 2 seminar kedokteran yang waktunya berdempetan dan mengambil waktu senggang gw.


Secara umum, gw masuk modul ini karena memang gw senang olahraga, semuanya selama masih bisa gw lakukan akan gw jabanin. Yang kedua, gw masuk ke modul ini karena gw ingin bisa edukasi orang tentang olahraga, nggak cuma kalo ngadepin pasien DM cuma bilang, "Pak, olahraga yang teratur ya!" Yang ketiga, tempatnya yang nyaman di dalam lingkungan Salemba 6 serta ada fasilitas Exercise Clinic yang OK. Yang keempat, jadwalnya yang fleksibel serta nggak berhubungan dengan yang namanya rumah sakit, karena gw udah bosen dengan stase perklinikan di rumah sakit.


Jadwal sehari-hari pun diisi sama yang namanya diskusi, diskusi, dan diskusi, ditambah dengan internet searching atau belajar mandiri. Bahkan kita bisa memanfaatkan fasilitas untuk melakukan exercise sekaligus membuat program sendiri ke diri sendiri. Maklum, badan udah semakin melar sejak pertama gw masuk ke kampus ini.

Kegiatan exercise mandiri

Bahkan dalam minggu-minggu terakhir ini, gw bersama kelompok gw malah banyak jalan-jalan keluar kampus sebagai bagian dari modul. Betapa bahagianya kuliah selama 3 minggu terakhir ini!

Observasi ke latihan SM di Britama Arena


Sunday, April 24, 2011

Hari Sial

Sabtu kemarin jadi salah satu hari tersial gw. Mulanya diawali dengan keharusan gw untuk jaga pagi di RS Kanker Dharmais di daerah Slipi, Jakarta Barat. Overall, jaga di RS ini terbilang sangat nyantai, terlalu santai malah, karena perawat-perawatnya tanggap dan juga kasusnya adalah semuanya kanker yang kemoterapinya tentu bukan kompetensi koass. Berasa ngabisin waktu juga jaga di sini karena gw udah selesai ujian IPD dan juga logbook  RSKD juga udah penuh, dokter jaga pun ilang entah ke mana. Akhirnya jaga yang dimulai jam 10 pagi gw selesaikan jam 1 siang, sambil beli makanan kecil buat di mobil. Tujuan selanjutnya: nyebarin poster seminar ke daerah Jakarta Selatan dan Depok.

Menjelang akhir kuliah, gw sedang disibukkan oleh yang namanya seminar. Total ada 2 seminar yang gw pegang: 1 seminar emergensi anak dan 1 seminar emergensi umum. Dan siang itu gw berencana nyebarin poster ke daerah selatan Jakarta. Gw harus ngambil poster tersebut di rumah teman gw di Fatmawati, Jakarta Selatan, terus menuju ke RS pertama di daerah Buncit, Jakarta Selatan. Habis men-drop poster di situ gw langsung ke Depok. Di sini cerita dimulai.

Di daerah Lenteng Agung, gw merasa mobil gw melindas sesuatu, tapi gw nggak nyadar itu apaan. Sampai di tengah Margonda barulah gw nyadar ban gw kempes total. Sh*t! Kesialan pertama. Setelah menepi  di tempat yang agak kosong, gw berencana untuk mengganti ban mobil. Begitu dongkrak udah selesai gw keluarin dan mau gw pasang di bawah mobil, hujan mulai turun! Kesialan kedua. Memang waktu mau jalan ke arah Depok, langit di atasnya udah hitam banget. Terpaksa gw masukin lagi alat-alat ganti ban ke bagasi sambil ninggalin dongkrak di bawah mobil. Gw harus menunggu hingga hujan agak reda ± 1,5 jam kemudian. Untung ada sandwich dan Aqua yang gw beli sebelum gw berangkat ke Depok jadi bisa lumayan mengisi perut, selebihnya hanya ada BB, radio, dan kursi buat tidur.

Menjelang hujan mau reda, gw ambil payung dan alat ganti ban dari bagasi, dan mulai mendongkrak. Di tengah mendongkrak, gw didatangin sama orang yang nawarin bantuan. Penawaran pertama, dia nawarin untuk masukin ke bengkel, gw tolak dengan halus karena gw bisa ganti ban sendiri. Kedua kali, dia nawarin penawaran yang sama, diulang lagi untuk ketiga kalinya, begitu juga yang keempat, kelima, dst. Setelah gw amatin ternyata dia adalah orang skizofrenia alias orang nggak waras! Kesialan ketiga. Dia merasa bahwa gw adalah kakaknya. Oh, kenapa di saat gw butuh waktu dan konsentrasi untuk ganti ban, malah ada orang seperti ini yang cerita segala macam di samping gw. Gw cuma menanggapi dia ngomong selama 15 menit, udah berasa jadi psikiater dadakan. Begitu gw dan dia selesai mengakhiri percakapan, dia pindah ngomong ke pengendara motor yang menepi di belakang gw untuk memakai jas hujan. Dengan topik pembicaraan yang sama. Haduuh...

Akhirnya gw selesai mengganti ban dan men-drop semua poster ke tempat tujuan. Pulang dari Depok masih harus disambut dengan kemacetan menjelang malam minggu ditambah hujan yang masih mengguyur Depok dan Jakarta Selatan. Total dalam sehari gw menghabiskan waktu menyetir dan diam di mobil 6 jam. Bukan sesuatu yang ingin diulang lagi.

Tuesday, April 19, 2011

IPD = Ilmu Pengkajian & DD

Fiuhhh... Tepat malam ini gw baru aja menyelesaikan ujian pasien IPD gw tadi pagi (ujian pasien terakhir gw sebagai koass), yang berarti hampir lengkap sudah pembelajaran gw di stase IPD. Berarti juga selama 2 minggu ke depan gw bakal stase makan gaji buta (magabut) di sisa modul sambil nunggu ujian tulis. Akan tetapi, itu juga berarti hampir selesai juga sekolah gw dan sebentar lagi bakal nyandang gelar dr. di depan nama gw. Aihhh... Ini dia yang namanya hidup segan, mati tak mau. Jadi coass penat, jadi dokter pun ragu. Daripada pusing, lebih baik ngeblog. (nggak nyambung).

Balik lagi ke topik IPD. Kenapa gw namain IPD sebagai Ilmu Pengkajian & DD (diagnosis diferensial)? Bahkan teman gw secara frontal dan lebay menyebut Ilmu Penuh Derita. Karena memang begitulah adanya. Tugas kami sebagai koass hanyalah anamnesis sebanyak mungkin, PF setajam mungkin, pikirkan semua masalah yang mungkin timbul beserta semua DD-DD-nya dan etiologi-etiologinya, semua perencanaannya baik diagnostik maupun terapi per masalah, serta yang terakhir: tulislah semua di status. Ada yang bilang satu pulpen habis dalam seminggu, tapi saya tegaskan cerita itu berlebihan. Ada yang bilang tangannya kesemutan nulis hingga hampir carpal tunnel syndrome, saya tegaskan cerita itu hampir benar. Menulis 3 status portofolio setiap minggunya hingga pengkajian per masalah dan followup tuntas per hari sudah bikin gw gelagapan di stase ini. Padahal ini nggak ada apa-apanya sama residen yang bisa nulis sampai 16 pasien per hari. Tapi dibanding Obsgyn? Gw lebih suka IPD. Serius.

Masuk IPD berarti juga gw bertemu sama yang namanya pasien dengan prognosis hidup tak lama lagi. Begitu banyak pasien dengan end-stage organ failure di stase ini, dimulai dari CHF (jantung), fibrosis paru dan PPOK (paru), CKD (ginjal), dan sirosis (hati). Jika disuruh milih, sakit mana yang paling mematikan, gw akan memilih sirosis hati sebagai penyakit nomer satu. Padahal gw di masa preklinik menganggap sirosis adalah suatu hal yang nggak berat-berat banget, namun kenyataannya pasien dengan sirosis gampang sekali mengalami perburukan. Apalagi penyebabnya terbanyaknya adalah hepatitis viral kronik yang banyak di masyarakat, nggak ada gejala saat infeksi, dan berjalan progresif dalam waktu lama. Gw pernah punya pengalaman pasien baru didiagnosis sirosis, dua hari kemudian pasien mengalami enselafopati, dan keesokan harinya meninggal. Obatnya pun cuma satu yang paling tepat: transplantasi hati yang baru pertama kali dikerjakan di Indonesia tahun ini. Kebetulan makalah pribadi gw juga bertemakan hepatitis C jadinya gw tertarik sama bidang hepatologi ini.

Yang bikin gw menyerah lagi sama IPD adalah banyak yang harus dipikirkan. Ternyata yang selama ini dibilang diabetes nggak segampang cuma tusuk jari, ambil darah, dan voila  anda diabetes. Pemilihan obat-obatnya pake pertimbangan semua dari yang oral sampai insulin. Sayangnya, nggak cuma DM yang begitu, hipertensi pun nggak sekedar orang ditensi dan voila  diberi captopril. Semua pakai pertimbangan. Pneumonia pun beda dari orang biasa sama orang tua. Bahkan mual pun yang hampir semua dokter ngasih ranitidine dan omeprazole pakai pertimbangan juga. Huaaah capek deh... Tangan kerja berat, otak pun harus kerja lebih berat.

Thursday, March 31, 2011

Lengan Pendek vs Lengan Panjang

Siang itu, gw bersama keempat teman gw, I, L, dan C, sedang berjalan cepat dari Gedung A RSCM lantai 7 untuk menuju ke Departemen Radiologi. Saat itu ronde telah selesai dan kami terburu-buru untuk turun melewati lift Departemen THT di lantai 7 juga.

Di depan lift, selesai memencet tombol turun, kami secara tiba-tiba bertemu dr. N, koordinator S1 kami di fakultas.

dr. N: Kamu tingkat berapa?
Gw: Tingkat V, Dok.
dr. N: Setahu saya snelli mahasiswa itu panjang lengan panjang ya, apa aturannya udah berubah?
Gw, I, L, C: (diam sambil jantung berdegup cepat tanda menyesal udah lewat jalan itu)
dr. N: Dari sini sepertinya yang benar snellinya cuma satu.
(karena C memakai snelli lengan panjang waktu itu karena snelli lengan pendeknya lagi dicuci - hoki maksimal)
(lift terbuka dan kami berlima terpaksa masuk, sialnya tidak ada orang lain di dalam lift itu, pembicaraan pun berlanjut)
dr. N: Berarti dapat saya simpulkan bahwa kalian memang suka melanggar aturan ya?
Gw, I, L, C: (masih terdiam)
dr. N: Siapa nama kamu?
I: I, Dok.
dr. N: Kamu?
L: L, Dok.
dr. N: Nama lengkap?
L: N, Dok.
dr. N: Kamu?
Gw: H, Dok.
(lift terbuka dan pembicaraan pun berakhir)

Keesokan harinya, gw sekelompok mendapat kabar kalo nama-nama mahasiswa yang tertangkap basah kemarin menggunakan snelli lengan pendek sudah tersebar di kalangan kodik S1 semua departemen.

Hikmah cerita ini:
- Snelli lengan pendek terbukti lebih mencegah infeksi nosokomial daripada snelli lengan panjang dalam studi literatur.
- Bila salah jalan dan masalah sudah di depan anda, carilah jalan lain dengan cara kabur.
- Copotlah snelli anda bila sedang tidak memeriksa pasien. Cara ini paling aman.

Sorry, Obsgyn

Gw mestinya udah memposting ini dari 4 minggu yang lalu, namun karena berbagai kesibukan akhirnya tertunda selama sekian lama.

Kadangkala ada suatu bagian di dalam profesi dokter yang mungkin bersifat tabu bagi orang awam, namun bagi dokter itu adalah sesuatu yang lumrah dikerjakan. Hal ini sangat terkait dengan kepaniteraan yang baru gw jalani yaitu Obstetri dan Ginekologi (Obsgyn). Di sini dokter justru mendapat ucapan terima kasih dan upah pada hal yang terlarang dilakukan oleh orang lain.

Meskipun begitu, gw nggak suka Obsgyn. Saking nggak sukanya sampai gw bener-bener nggak mau baca buku, cuma nyari tindakan-tindakan aja, dan pingin keluar cepet-cepet dari stase ini. Entah apa yang mendasarinya, yang jelas gw nggak suka dengan hal-hal yang saklek seperti Obsgyn, karena ilmunya bisa dikatakan dari dulu sampai sekarang sama aja. Apalagi ditambah dengan aroma kesenioran di dalamnya. Yang membuat gw seneng dari Obsgyn cuma karena ada kebutuhan untuk melengkapi skill  partus normal di pengetahuan dokter gw.

Walupun ada iming-iming kalo jadi dokter Obsgyn pasti cepet kaya, gw tetap nggak tertarik. Gw nggak tertarik juga untuk dipanggil secara cito tengah malam menjelang subuh kalo ada pasien yang mau partus.

Sejauh ini, stase di rumah-rumah sakit luar jadi favorit gw di Obsgyn. Pertama, gw mendapatkan langsung untuk terlibat dalam penanganan pasien, nggak melulu cuma tensi, cek DJJ (denyut jantung janin, dan CTG (cardiotocography) aja seperti di rumah sakit pusat. Yang kedua, bisa menjauhkan diri dari hiruk pikuk Diponegoro 71 yang dipenuhsesakkan oleh profesor, konsulen, dan residen.

Waktu ujian pasien pun gw merasa bersalah kalo gw cuma belajar dikit banget buat Obsgyn. Ditanya ini itu jawabnya belepotan dan alhasil si penguji (keduanya dari staf pengajar onkoginekologi) cuma geleng-geleng sambil berkata, "Saya tahu bakat kamu memang bukan di Obsgyn, mungkin bakat kamu di tempat lain karena setiap orang memang memiliki bakat masing-masing."

Monday, February 7, 2011

TBM

This posting is dedicated for TBM

Ya, udah hampir 4 tahun gw jadi anggota TBM (Tim Bantuan Medis) FKUI dan sekarang, ketika gw hampir ninggalin, mungkin saat yang tepat buat nulis semuanya. Buat gw TBM mungkin udah jadi tempat seperti keluarga kedua gw: tempat tidur pas lagi ngantuk, tempat makan pas kafe lagi penuh, tempat ngerjain tugas pas kosong, dan kerjaan-kerjaan penting dan nggak penting lainnya.

Tahun ke-0
Saat pertama diumumin pendaftaran badan-badan dibuka, gw sempat bingung waktu mau milih. Urusan tempat yang gede, kayaknya MA dan BFM bisa jadi pilihan, tapi apa daya gw nggak suka nulis dan nggak nyeni. Kalo milih Kafe atau Bursa kok kayaknya nggak keren gitu. Kalo milih FSI, gw kayaknya juga nggak sealim yang orang duga. LPP? Pilihan terakhir. TBM, yang kerjaannya gw pikir waktu itu cuma pake otot dan dikit pake otak, sama Senat sebagai formalitas. Pertama masuk sebagai caang (calon anggota) TBM kesannya adalah capek dan ribet awalnya. Tentu, karena aturannya membuat para caang harus dateng jam 6 pagi saat dikdas. Belum lagi harus bercapek-capekan lari pagi keliling Cikini dan push-up yang nggak keitung jumlahnya. Puncak capek-capeknya adalah pas outbound, yang jaman gw masih keliling hutan UI Depok, dan pelantikannya di Gunung Gede. Tapi di dalem prosesnya ternyata nggak secapek yang gw duga, mungkin karena faktor sugesti badan gw terlatih di tengah-tengah kaderisasi, atau memang angkatan gw yang kompak yang bikin semua menikmati kaderisasi ini.

Tahun ke-1
Semua orang yang mau masuk ke TBM pada dasarnya pingin dapat skill medis praktis sama ingin kenal senior-senior, keduanya gw sebut sebagai alasan klasik. Padahal, begitu masuk ke TBM yang banyak gw dapat adalah bagaimana mengelola waktu secara aktif, bagaimana menyelesaikan pekerjaan, dan terutama bagaimana bersenang-senang. Pilihan bidang gw saat itu nggak salah, yaitu Operasional, bidang yang khusus bertugas untuk melakukan pelayanan publik dalam penyediaan tenaga medis. Sabagai bawahan waktu itu, gw termasuk sering untuk terlibat dengan pihak-pihak luar yang mau bekerja sama, dan ternyata cukup enak dengan tantangan baru ini. Operasional sendiri bisa dibilang adalah mesin uangnya TBM, jadi tugas untuk cari duit juga merupakan tantangan baru buat gw, padahal sebelumnya gw selalu menghindari yang namanya seksi dana. Selain itu, bidang gw juga banyak berperan sebagai event organizer. Banyak hal yg gw pelajari di tahun pertama ini.


Tahun ke-2
Di tahun ini, gw dapat amanah sebagai ketua bidang Operasional. Sebagai ketua bidang, hal yang harus dipelajari lebih banyak lagi, terutama dalam mengatur anak buah dan segala urusan bidang. Awalnya mudah, tapi di tengah dan menjelang akhir kepengurusan semuanya telihat makin sulit. Mencari duit untuk sebuah organisasi itu ternyata nggak mudah. Waktu harus selalu tersedia di akhir pekan dan hari-hari menjelang pertanggungjawaban selalu jadi hari paling sulit. Di saat sekolah libur, di situlah kami bekerja mengais duit dari anak sekolah yang mau disunat. Di saat orang lain asyik nonton konser atau acara apapun itu, di situlah kami lagi bersusah payah jadi tim medis. Kami juga pernah melayani pendidikan bantuan hidup dasar dari anak kuliah hingga anak SD yang bahkan nggak tau jantung itu gunanya buat apa. Tapi dibalik itu, kami juga nggak lupa untuk bersenang-senang. Setiap kerjaan, pasti ada selipan acara senang-senang.


Tahun ke-3
Gw meninggalkan Operasional untuk sejenak di tahun ini untuk masuk ke SPOG (Staf Pengembangan Organisasi). Awalnya gw pikir SPOG itu kerjaannya nggak ribet, nggak seperti bidang yang selalu disibukkan oleh prokernya. Ternyata gw salah besar. SPOG yang tugasnya adalah mengamati, mengevaluasi, dan memberi masukan ternyata nggak sesederhana itu. Gw dan teman-teman berusaha untuk menstandardisasi evaluasi akhirnya dibuat pusing sendiri dengan evaluasi itu sendiri, karena kami berusaha untuk seobjektif mungkin dengan penilaian yang ada. Belum lagi karena gw harus masuk ke fase klinik sehingga waktu gw untuk TBM juga berkurang. Untuk menjadi teladan, memulai teladan di dalam diri sendiri itu yang paling sulit.


Tahun ke-4
Inilah gw sekarang, setelah menyelesaikan tugas di SPOG, gw dihadapkan pada 3 pilihan: tetap di bidang gw dahulu, pindah ke bidang lain, atau cuti dari TBM. Gw rasa cuti bukan pilihan yang logis untuk sekarang bagi gw karena gw masih membutuhkan tempat di TBM.


Pada akhirnya gw merasa bersyukur, punya keluarga di TBM. Gw bisa membayangkan seandainya gw nggak masuk TBM atau badan apapun lainnya, gw nggak bakal jadi seperti sekarang.

Tuesday, January 11, 2011

500 Internal Server Error

Sebulan lebih gw nggak posting sesuatu ke blog gw ini karena kesibukan ini-itu, kemalasan, dan juga karena rusaknya router rumah baru-baru ini karena kesambar petir. Paling tidak masih ada waktu sekarang ini buat gw menulis.

Gw bersyukur masuk ke Fakultas Kedokteran, apalagi di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Bangga karena standar pendidikannya yang tinggi? Tentu. Karena pengajarnya yang berkualitas? Tentu juga. Yang nggak kalah pentingnya adalah karena gw nggak harus berebut-rebutan mengisi IRS (gw nggak tahu apa kepanjangannya!) untuk suatu mata kuliah seperti fakultas-fakultas lainnya di Depok. Mengapa begitu? Karena pengisian semacam itu penuh dengan kolonialisme dan imperialisme terutama bagi mahasiswa yang buta dengan internet, tidak memiliki fasilitas internet yang memadai, ataupun uang SPP yang belum dikirim dari kampung. Yah, setidaknya dalam 3 tahun pertama angkatan gw dikenalin sama yang namanya sistem IRS ini, tidak ada masalah dalam pengisiannya.

Lain cerita saat sudah masuk ke tingkat IV, di mana sudah mulai dipecah jadi beberapa bagian kecil. Gw mulai dikenalkan oleh sistem IRS yang kolonialis-imperialis itu. Telat sebentar pun, dijamin sudah kehabisan tempat untuk mata kuliah yang diinginkan. (cerita ini sudah pernah gw ceritakan di edisi Singkong dan Keju).

Sudah menjadi tradisi, apabila pengisian IRS secara berebutan ini selalu ditunggu-tunggu oleh seluruh mahasiswa. Bila jadwalnya dibuka tengah malam, dipastikan semua orang akan rela begadang agar tidak ketinggalan mengisi. Bila jadwalnya pagi hari, dipastikan pula semua orang tidak ada yang bangun kesiangan. Bila jadwalnya dibuka jam 9 pagi, bisa dipastikan jam 8.50 situs SIAK-NG akan terlalu overload dan akibatnya keluar halaman yang bertuliskan 500 Internal Server Error. Hati-hati, dalam keadaan seperti ini tombol Ctrl+R anda bisa rusak karena terlalu sering dipencet. Belum lagi cara pengisiannya yang ribet dan juga harus dengan persetujuan PA.

Untunglah biasanya pengisian IRS dilakukan di hari Sabtu/Minggu yang tenang, sehingga kita bisa mempersiapkan laptop, modem, duduk dengan tenang sambil melihat jam dan juga mempersiapkan cemilan dan HP di tangan. Namun tidak untuk hari ini, pengisian IRS untuk modul elektif di angkatan gw dilaksanakan di hari kerja biasa. Persiapannya pun beda, ada yang bawa laptop + modemnya, ada yang nongkrong di tempat wifi gratis, ada juga yang modal HP dan doa doang. Selain itu ada juga yang pasrah. Walaupun gw udah modal kabur dari kuliah demi mengisi IRS ini tetap aja yang keluar di monitor saat login adalah tebak apa? 500 Internal Server Error.