Saturday, May 15, 2010

Sedated in Anesthesiology

Halo! Ketemu lagi!! Di hari yang cerah ini, dengan bangga gw akan mengumumkan bahwa masa pembelajaran klinik tingkat 4 telah berakhir. Dan apa artinya itu? Libur! Hehehe. Bukan libur yang sebenarnya sih, tapi paling nggak bisa mengistirahatkan otak yang penat ini selama seminggu.

Sebulan kemarin ini gw masuk ke stase terakhir klinik gw di Departemen Anestesiologi dan Intensive Care. Rasanya berat banget habis forensik yang bagaikan surga masuk ke anestesi yang nuntut kerja cepet biar pasien nggak mati. Tapi begitu masuk, ternyata gw nggak rugi memilih stase ini sebagai penutup tingkat 4. Kenapa? Desain ruangan paling bagus, residen dan konsulen baik-baik, dan meteri yang aplikatif bikin gw seneng sama ilmu ini. Mungkin gw akan mempertimbangkan anestesi sebagai pilihan buat spesialis nantinya.

Untuk urusan ilmu yang aplikatif, anestesi sangatlah enak. Bayangkan dimana lagi kita belajar teori RJP pagi harinya, trus malemnya saat jaga langsung dipraktekin ke pasien serangan jantung beneran (selain di kardio tentunya). Di sini juga gw untuk pertama kalinya melakukan RJP dan defib yang berhasil. Di sini juga koass diajarin intubasi pasien secara beneran (dan ternyata emang susah!) dan juga bius-biusan. Mengenai bius-membius ini sebenernya hanya nice to know buat koass dan gw pun hanya dapat mengucap terima kasih bila ditawari untuk diajarin farmakologi obat anestesi.

Dokter anestesi sendiri juga termasuk dalam dokter yang rawan dituntut sama pasien. Gimana nggak? Pasien masuk OK dengan keadaan sehat walafiat, terus dibius, bisa aja meninggal karena nggak bisa nafas kalo dokter anestesinya dodol. Tapi secara penghasilan mungkin bisa dibilang termasuk yang tinggi. Kalo di Indonesia mungkin masih dibawah Obgyn, tapi kalo di AS berdasarkan Forbes yang paling tinggi adalah anesthesiologist dengan rerata gaji tahunan $184,340 atau sebulannya $15,000 + sisanya dibuat amal. Tapi tingkat stressnya juga tinggi, dilihat dari angka harapan hidup yang rendah. Huh!

Kegiatan di sini juga banyak diisi dengan kegiatan hiruk pikuknya jaga di ruang resus IGD dan bengong di OK, nyatetin ini, nyatetin itu, suntik ini, monitor itu. Voila, jadilah koass anestesi yang kurang kerjaan, pengantuk (karena terhirup gas anestesi), dan nggak ada semangat (karena kecipratan obat sedasi dan pingin liburan). Itulah kegiatan gw selama di anestesi. Jam terbang sedikit, jam tidur banyak.

Sekian aja liputan selama klinik tingkat 4. Bagian-bagian gede di tingkat 5 dan riset telah menunggu! Tapi bodo amat, gw mau liburan dulu. Bye!

Tuesday, April 20, 2010

Suka Duka Forensik (part 2)

Huaahhh... nggak kerasa stase forensik udah masuk minggu ketiga alias udah mau selesai. Gw mau berlama-lama di sini!! Bangun jam 6, masuk jam 8, keluar jam 12, diulang-ulang aja jadwal gini selama 3 minggu, ditandai dengan sempatnya gw ke Atrium, GI, ataupun berobat ke dokter gigi di antara rutinitas kesibukan modul. Gimana forensik ini nggak jadi bagian surga! Ditambah lagi jaga cuma sampai jam 9 malem, beban belajar nggak berat, nggak ada preskas, nggak ada tugas pribadi, nggak ada MAKALAH!, dosen baik-baik, kamar jaga oke, sebutin deh semua yang enak-enak pasti ada di forensik.

Anyway, masuk ke forensik berarti udah siap menghadapi yang belum pernah kita hadapi sebelumnya (lihat juga postingan sebelumnya). Kebetulan waktu gw nulis ini adalah sehabis gw jaga di kamar mayat RSCM juga. Setelah 2 minggu berleha-leha di forensik, akhirnya gw dapet juga kesempatan autopsi lagi (akhirnya!). Kali ini dibandingkan dengan autopsi yang pertama (di postingan sebelumnya), mayat yang sekarang 'rada' seger (kata 'rada' di sini berarti berbeda dikit) dan untungnya lagi bukan mayat tenggelam. Dibuka sana, dibuka sini, ternyata another jackpot, mayat dengan suspek SIDA dengan tanda-tanda infeksi di seluruh tubuh. Yang namanya tanda infeksi kalo di forensik itu perlu diketahui adalah perlekatan di mana-mana, bercak perdarahan di mana-mana, cairan aneh di mana-mana, dan bau yang lagi-lagi di mana-mana. Beruntung gw kali ini memakai 3 lapis handskun dan tangan gw selamat dari percobaan ini.

Menjelang jaga, ujug-ujug ada 1 mayat lagi datang. Dan tebak apakah ini?! Mayat busuk sodara-sodara! Hijau, besar (kayak Hulk), dan bau di seluruh pelosok negeri forensik. Menurut keterangan saksi mata sih korban jatuh dari lantai 2 dan langsung wafat di tempat. Yang aneh adalah kenapa mayat udah busuk? Kenapa nggak ditolong dulu sama saksi? Dibuka-buka yang ketemu adalah nggak ada patah tulang sama sekali, dan setelah dicek-cekin mungkin penyebab lukanya adalah pankreatitis hemoragik akut dengan waktu kematian lebih dari 48 jam. Wow! Inilah kehebatan dunia forensik.

Intermezzo dulu, bicara soal waktu kematian emang belajar di forensik bagaikan jadi detektif yang ada di komik-komik atau di film-film. Bisa nentuin waktu kematian, sebab kematian, tanda khas diracunin, dsb. Jadi bisa juga ngebantu polisi nentuin korbannya dibunuh, bunuh diri, atau kecelakaan.

Setelah autopsi mayat kadaluarsa itu setelah 2 jam, datanglah panggilan dari IGD karena ada korban pengeroyokan. Setelah dateng rame-rame, eh ternyata si korban cuma punya 1 luka lecet di bahu. Ceritanya pun aneh, katanya dia lagi duduk di depan tiba-tiba 5 orang ngedatengin dia sambil mukul-mukulin pake helm di dalam rumah. Cerita paling aneh yang pernah gw dapat selama ini.

Balik lagi ke kamar autopsi malamnya, ada 1 mayat baru lagi, kali ini masih bener-bener fresh from the road, korban kecelakaan. Berhubung luka-lukanya banyak dan patah tulangnya juga banyak ceritanya langsung di-skip aja. Dari sisi canggihnya forensik, penyebab kematiannya mungkin patah tulang di daerah dasar kepala.

Dan akhirnya senang juga! Kasus yang gw dapatkan di jaga kali ini akhirnya diujianin kasus juga sama dokternya. Walaupun pulang lebih malam dari yang seharusnya, tapi yang penting beban udah berlalu satu. Dan tangan gw atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa tidak berbau mayat lagi, sehingga gw bisa leluasa makan di keesokan hari tanpa rasa eneg. Tampaknya 1 minggu ke depan gw akan banyak waktu kosong.

Tuesday, April 13, 2010

RIP My Old Laptop

Setelah 4 tahun lamanya menyertai akhirnya laptop gw yang lama, Fujitsu S6240, resmi dipensiunkan karena alasan teknis. Berikut ini gw ceritakan kronologis dari kejadian tersebut.

Sebenernya laptop itu sebelumnya masih cukup kuat buat dipake sekarang ini, tapi memang kendalanya sedikit lemot. Problemnya dimulai kira-kira beberapa bulan yang lalu (gw lupa), di mana bunyinya jadi agak keras (mungkin karena fan-nya yang udah mulai bermasalah). Akibat dari fan yang bermasalah itu, mungkin laptop itu jadi gampang panas dan akhirnya jadi masalah kronik sebelum masuk ke fase akut. Fase akutnya sendiri dimulai 1,5 bulan yang lalu, tiba-tiba laptop gw mati sendiri tanpa sebab yang jelas. Lama-lama mati sendiri itu intervalnya jadi makin pendek dengan saat pertama nyalain, jadinya sangat mengganggu pekerjaan gw yang menuntut banyak kerjaan di depan aplikasi Microsoft Office. Akibatnya juga gw harus save sering-sering di kerjaan gw.

Lama-lama gw malah nggak bisa ngerjain di laptop gw karena keburu mati kurang dari 10 menit setelah gw nyalain, dan gw akhirnya terpaksa pinjem MacBook Pro bokap untuk ngerjain tugas-tugas gw sambil coba servis di gerai resmi Fujitsu di Setiabudi Building. Setelah cek, kesimpulannya adalah kesalahan terletak pada mainboard laptop gw (semacam chip utama di komputer buat dicolokin perangkat lain seperti prosesor, adapter, dll). Usut punya usut, mainboard baru laptop seri gw harganya kira-kira 10 juta, itupun harus inden dulu. WTF! Gw tetep ninggalin laptop itu di sana sambil berharap ada mainboard second yang murah, sambil juga liat-liat laptop lain yang harganya sekarang jauh lebih murah daripada dulu.

Setelah 2 minggu diservis, ada mainboard second yang harganya 2 juta. It was difficult to choose the best option antara benerin atau ganti laptop baru. Akhirnya setelah melalui pertimbangan yang matang dan survei ke Ratu Plaza selama 2 minggu akhirnya gw resmi ganti laptop baru HP Pavilion dv2 yang ukurannya lebih kecil daripada yang lama, tapi lebih gede dari segi prosesor, RAM, grafis, atau memori daripada yang lama. OS-nya pun sudah Windows 7, dibandingin sama Windows XP di laptop lama. Ternyata perkembangan teknologi sekarang memang lebih cepat.

Laptop gw yang lama akhirnya gw tarik dengan cuma bayar 88 ribu sebagai ongkos pengecekan (istilah kedokterannya: diagnosis). Gw coba minta mas-masnya buat backup data di laptop lama dia juga nggak bisa. Akhirnya gw bisa simpulkan kalo tukang komputer di gerai resmi (dalam kasus gw) itu sama aja kayak dokter yang ketemu pasien dengan sirosis hati, nggak bisa diobatin dan bisanya cuma ganti baru dengan transplantasi. Sempet ditawar 1 juta untuk dilepas, tapi gw nggak mau. Dan akhirnya laptop itu gw bawa pulang kembali.


RIP the old one :(



welcome the new one!

Wednesday, April 7, 2010

Suka Duka Forensik

Gw saat ini sedang stase di Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal, yang notabene pasti berhubungan sama mayat, undang-undang, dan satu-satunya spesialistik yang nggak ada unsur ngobatin pasien sama sekali. Jadi udah kebayang kalo masuk di sini adalah menyentuh badan yang dingin, kadang lembek kadang kaku, kadang juga warnanya merah kuning hijau biru ungu, dan semua yang membuat panca indera jadi tersiksa. Secara umum modul ini menyenangkan buat semua koass bahkan sampai dijuluki surganya perkoassan karena banyak faktor. Boleh dibilang surga, sampai gw masuk di hari ketiga modul ini.

7 April 2010

7 AM
Seperti biasa gw masih di rumah siap-siap berangkat, karena jadwal dimulai 8 AM dan sebelum itu pintu departemen masih ditutup. Jadi bagi mahasiswa yang rajin dipersilakan masuk duluan lewat kamar autopsi. Gw sih ogah dan memutuskan untuk tidur-tiduran dulu di TBM sebelum katanya ada jadwal pemeriksaan luar mayat. Perlu diingat, pemeriksaan luar sama sekali berbeda dengan autopsi (bedah mayat) dan cuma dilakukan dengan melihat bagian superfisial dari tubuh mayat.

8.30 AM
Serombongan dipanggil oleh teknisi forensik buat ikut jadwal pemeriksaan mayat. Berhubung udah tau ada pemeriksaan mayat hari itu, gw bawa jas lab bukan snelli. Jalan dari ruang kuliah ke ruang autopsi, mendekati pintunya lalu tercium bau seperti pasar ikan. Begitu dilihat ke dalam, eh ada 2 mayat lagi nangkring di meja, bentukannya hitam kehijauan, membesar, yang satu matanya kebuka sambil menganga (kayak wajah histeris), yang satu matanya ketutup. Dua-duanya ditemukan di sungai yang berbeda, jadi kemungkinan sebab kematiannya asfiksia karena tenggelam kira-kira 5 hari yang lalu. Pake apron, masker, sama (ini yang salah) 1 lapis hanskun, lalu mengelilingi mayat. Eh, ternyata yang dilakuin autopsi (sialan, ditipu!). Jadilah bau semerbak kayak bangkai tikus mati menyebar seruangan. Temen-temen gw yang ambang enegnya sedikit langsung mengeluarkan refleks vagal.

10.30 AM
Autopsi selesai dengan proses berikut: kulit, subkutis dan otot dari leher sampai pinggul dibuka, tulang dada diangkat, tenggorokan diangkat dari rongga mulut sampai terangkat juga jantung dan paru-paru, organ perut dan pinggul diambil, tengkorak dibuka, otak diambil (nggak bisa karena otaknya udah jadi bubur abu-abu), dideskripsikan satu-satu per organ, dikembalikan lagi ke rongga itu secara acak, dan dijahit lagi. Ingat, semua itu dilakukan dengan kondisi mayat yang sudah membusuk, jadi bisa dibayangkan sendiri baunya. Gambaran organnya sendiri memang sudah nggak jelas. Dan parahnya, karena kelalaian hanya memakai 1 lapis hanskun saat autopsi, bau mayat itu nggak ilang walaupun sudah dicuci pake sabun 3 kali, alkohol 2 kali, dan jeruk nipis 1 kali. Baju juga ada sedikit bau mayat. Keluar dari ruangan itu, gw berniat untuk jadi vegetarian sehari itu aja.

1 PM
Seperti biasa, kuliah ala forensik yang dibumbui dengan cerita-cerita konsulennya sampai sore.

5 PM
Cari hiburan dulu dengan main futsal di kala hari jaga. Ini dia salah satu enaknya stase forensik, jaganya adalah on call.

6.30 PM
Dapet panggilan ke IGD buat forensik klinik periksa korban penganiayaan berat. Dengan penuh keringat sehabis main futsal, gw jalan cepet ke IGD. Korbannya dapet luka bacokan di dahi sampai bawah telinga dan juga di tangan kanan, hingga putus di pergelangan tangannya. Luka-luka itu dideskripsikan secara detil untuk nanti dibuat visum et repertum untuk polisi.

7 PM
Disuruh balik lagi ke kamar autopsi, ada 2 mayat baru: 1 pindahan dari IGD karena ketabrak kereta, 1 lagi mayat tenggelam lagi-lagi. Walaupun baunya masih kalah sama yang tadi pagi dan masih fresh tetep aja ada baunya. Untungnya kali ini, nggak perlu autopsi karena belum ada keluarga yang datang. Ternyata setelah pemeriksaan luar 2 mayat itu selesai, di sebelahnya, tertutup kain putih sejak pemeriksaan pertama ada lagi-lagi mayat tenggelam, yang baunya naudzubillah lebih parah dari yang tadi pagi setelah penutupnya dibuka. Badannya udah hijau semua dan menggembung. Kalo disuruh autopsi yang ini: hoekkks!!

10 PM
Akhirnya bisa pulang dan sampai rumah dengan selamat, dengan total dapet 1 mayat kecelakaan, 3 mayat tenggelam, 1 korban tangan putus, dan bau mayat di tangan yang masih belum hilang.

Tidak tertarik dengan forensik? Siapa suruh masuk kedokteran!

Pasal 22 KUHP:
Barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Friday, April 2, 2010

Short Holiday!

Akhirnya setelah ditunggu-tunggu, datang juga liburan di tengah rutinitas gw. Walaupun cuma 3 hari sih, itu juga termasuk weekend, tapi bagi gw itu bagaikan oasis di tengah sahara yang panas (lebay!). Beneran! Baru sekarang gw menikmati weekend tanpa adanya tugas-tugas jaga malam ataupun makalah malam-menjelang pagi yang nista itu.

Kesempatan ini juga gw rayakan untuk memperingati lepasnya gw dari cengkeraman The Fantastic Four - julukan untuk 4 modul selama 12 minggu yang disertai dengan keringat, air mata, dan darah (beneran lho!) di dalamnya: Kardiologi & Kedokteran Vaskular, Pulmonologi & Kedokteran Respirasi, Neurologi, dan Geriatri. Apalagi 2 modul terakhir ini beneran bikin gw stress. Neurologi yang jadwalnya ribet dan jaganya nggak banget, sama geriatri yang tugas-tugasnya bikin muntah. Dalam 13 hari efektif masing-masing mahasiswa dapat 10 tugas. Gw sendiri nggak suka akan banyaknya tugas ngetik.

Setelah berkutat dengan makalah-makalah tersebut akhirnya pada hari terakhir modul bisa juga nonton bareng sama anak-anak kelompok gw dan temen-temen yang lain. Sudah diputuskan untuk nonton film 3 Idiots yang ada di Blitz Pacific Place Jakarta. Perayaan lepas dari The Fantastic Four ini juga merupakan perayaan gw dari keautisan selama ini, yang jarang banget main-main dan nonton selama 4 modul biadab ini. Seminggu kemarin udah gw habiskan dengan melahap langsung 3 film yang agaknya rada out of date buat gw tonton: My Name Is Khan, How to Train Your Dragon, sama 3 Idiots.

Khusus untuk film yang terakhir (3 Idiots) gw acungin 4 jempol (kalo 20 jari gw adalah jempol bakal gw acungin semua!). Peduli amat gw jadi idiot setelah nonton ini. Gila nih film, bener-bener menggambarkan perjuangan kuliah, dan yang gw suka menggambarkan arti persahabatan. Intinya film ini sangat direkomendasikan sekali. Rugi deh lo yang nggak sempet nonton!

Dan setelah ini, akhirnya juga, selama 3 minggu gw masuk ke dalam modul Kedokteran Forensik yang kalo diterjemahkan sama dengan modul hura-hura di fase klinik. Makin senang deh gw weekend ini. Mudah-mudahan aja nggak banyak mayat aneh-aneh yang masuk ke RSCM selama 3 minggu ke depan.

Sunday, March 21, 2010

Let's Dreaming!

Everyone has a dream! Blog kali ini agaknya diilhami dari serial Kick Andy yang baru gw tonton tentang anak orang miskin bisa jadi S3. Ya udah pasti semua orang punya mimpi atau cita-cita. Nggak mungkin sebaliknya, kalo seseorang nggak punya suatu mimpi mungkin status Homo sapiens-nya perlu dipertanyakan.

Omong-omong tentang cita-cita, gw sendiri punya beberapa cita-cita sejak gw kecil. Malahan beberapa di antaranya mungkin rada aneh buat dipikir-pikir jadi cita-cita, lucu juga kalo diinget.

Dimulai dari cita-cita pertama gw. Ini dia cita-cita gw yang paling natural mungkin: jadi pengantin! Hahaha. Padahal gw sendiri nggak pernah nyadar, cuma gw sendiri dikasih tau sama orang tua kalo masa kecil gw waktu ikut pesta pengantin suka minta duduk di kursi pengantin. Kenapa sampe terpikirkan oleh gw waktu itu! I don't know. Mungkin gw waktu itu membayangkan jadi pengantin enak soalnya disalamin orang banyak. Hahaha.

Cita-cita kedua gw, waktu gw agak gedean sedikit (TK-SD) adalah yang paling aneh dan nggak masuk akal: jadi penjaga pom bensin! Hahaha. Kalo yang ini gw udah sadar kalo gw memilih cita-cita itu. Alasannya simpel. Gw waktu itu iri sama penjaga pom bensin soalnya mereka dapat duit terus. So, that's realistic. Anak kecil memang gampang ditipu sama situasi.

Cita-cita ketiga gw (waktu di SD) adalah standar sama kayak anak-anak kecil lainnya: pilot. Kenapa memilih ini gw juga bingung. Sama aja kayak anak-anak kalo punya cita-cita jadi dokter atau jadi tentara, STD alias standar.

Cita-cita keempat gw, waktu gw masuk SMP, adalah cita-cita paling spontan dari gw. Gw inget waktu gw orientasi ditanyain satu-satu tentang cita-cita, gw jawab aja cita-cita gw: profesor. Alasannya keren aja sama yang namanya profesor, bisa seperti Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie yang pernah datang ke SD gw, walaupun gw nggak tau apa sebenernya arti profesor hingga gw masuk kuliah.

Cita-cita kelima: insinyur. Mungkin ini cita-cita pertama gw yg gw pikirkan secara serius. Dan yang satu ini bertahan dari jaman akhir SMP sampe akhir SMA. Dulu waktu SMP memang gw pernah berkunjung ke ITB dan kepincut sama kampus yang adem itu. Waktu masuk SMA pun gw masih pingin masuk ITB, apalagi gw juga 'lumayan' suka itung-itungan. Dulu gw bermimpi untuk bisa bikin pesawat seperti pak Habibie. Dan masa akhir SMA jadi masa penentuan cita-cita gw.

Cita-cita terakhir gw dan masih bertahan hingga saat ini adalah jadi dokter. Sebenernya gw termasuk lemah soal hafalan. Profesi dokter juga nggak kepikiran dari dulu. Alasan gw mau jadi dokter simpel juga: karena kampus kedokteran ratingnya paling tinggi di Indonesia. Dan sampe sekarang pun gw juga masih bingung kalo ditanya, "Kenapa pingin jadi dokter?" Sama seperti saat gw diuji di modul pulmonologi kebetulan sama ketua Konsil Kedokteran Indonesia. Tapi dari pertama gw memilih cita-cita ini sampe sekarang, gw semakin suka dengan profesi kedokteran.

Berarti kalo dirunut dari awal, gw mungkin punya cita-cita seperti ini: dokter, yang menjadi pengantin, yang punya usaha pom bensin, yang bisa nyetir pesawat, yang akhirnya punya usaha pabrik pesawat, yang selanjutnya jadi profesor. Dan gw termasuk salah satu dari orang yang beruntung bisa sejalan dengan cita-cita gw sekarang. So keep being thankful of your life!

Tuesday, March 9, 2010

Nyeri Bahu

Hari ini gw dapat kuliah yang sangat interaktif dan menyenangkan dari dosen gw, dr. Salim Harris, SpS(K) yang ngomong dengan aksen arab yang kental bener. Topiknya sekilas biasa aja: nyeri kepala aka headache.

Memang kesannya pertama biasa, belajar anatomi otak dan pembuluh darahnya yang kecil & amit-amit di kepala. Terus nyambung ke jenis sakit-sakit kepalanya. Topik makin menghangat setelah ngomongin tentang migrain dan akhirnya nyambung juga ke nyeri leher dan bahu. Nah ini dia yang seru!

Tiba-tiba semua mahasiswa cowok disuruh berdiri, terus diliat satu-satu. Setelah diliat bahunya satu-satu, akhirnya dengan yakin, si dosen nyuruh gw berdiri sambil ngomong, "Maaf ya Himawan, kamu dibuat belajar dulu ya!" Whaattt??!!

Gw disuruh maju ke depan kelas, buka kemeja luar, buka kaos dalem (huh!) dan akhirnya disuruh ngadep ke depan kelas, sambil punggung gw diliatin ke teman-teman sekelas.

"Nah, disini bisa dilihat, bahunya terlihat tidak simetris. Yang kiri lebih tinggi sedikit dan lebih gemuk daripada yang kanan. Ini adalah contoh spasme dari otot bahu (trapezius) kiri. Pasti kamu sering sakit bahu kiri ya, Wan?"

Buset ajaib amat nih dokter, cuma ngeliat aja bisa tau kalo gw suka sakit bahu kiri. walaupun nggak gw sadari sih, tapi memang selama ini gw ngerasa bahu kiri agak kurang nyaman dan cepet pegel. "Iya sih, dok!" jawab gw.

"Coba kamu rentangkan tangan kamu ke depan, terus digerakkan ke atas bawah berulang kali!"
"Nah bisa dilihat kan otot di kiri terlihat lebih gemuk daripada di kanan, ini yang disebut spasme. Terus coba lihat skapula (tulang belikat) kiri lebih menonjol. Kondisi ini yang dinamakan spondyloarthrosis cervicalis."

GILAAAA!!! *sembah-sembah ke dokter tersebut

Teman-teman gw juga terheran-heran dengan fenomena di bahu gw, sampai ada yang berpikir mau memvideokannya. Gw sendiri bingung, pingin liat, tapi adanya di punggung gw. Memang derita orang percobaan (OP).

"Kondisi ini bisa dikarenakan trauma, degeneratif, diturunkan dari orang tua yang seperti ini juga, ataupun sering terjadi pada orang yang sering bekerja menunduk di depan komputer (seperti gw ini), dan pijat maupun obat-obatan itu hanya akan meredakan gejalanya aja, tetapi nantinya akan muncul terus-menerus. Karena nyeri yang terjadi itu adalah campuran dari nosiseptif dan neuropati, maka obat-obatan yang bisa diberikan adalah kombinasi NSAID dan anti-epilepsi"

Terus apa obatnya dong dok? Ternyata obatnya hanya satu: berenang. Dan renangnya juga cuma boleh satu gaya: gaya punggung. Duh, susah amat obatnya. Dulu boleh aja sering renang, tapi dengan waktu sekarang ini mana sempet?! Oiya, kalo nggak mau renang bisa juga sih obatnya dengan masang collar neck biar leher nggak terbebani, atau sering mendongakkan kepala. Obat yang susah. Memang sehat itu susah, sehat itu anugrah.

Sebenernya nggak cuma ini aja sih gw didiagnosis penyakit saat belajar di kedokteran. Dulu pernah juga didiagnosis myopia (rabun jauh) -1,25 mata kiri ditambah astigmatisma. Tapi gw nggak pake kacamata karena gw merasa tidak terganggu. Memang, dokter adalah pasien yang paling bandel.

Buat yang mengeluh keluhan yang sama seperti gw, mungkin bisa dicoba resep berenang tersebut. Mudah-mudahan keluhannya bisa hilang total.

Mungkin gw juga akan mencoba berenang kembali.