Wednesday, December 8, 2010

Night Shi(f)t

Jarum jam sudah menginjak pukul 2 malam, dan gw masih terpaku di depan laptop. Bila detail tempatnya diperluas lagi, saat gw menulis ini gw ada di dalam ruang diskusi di kompleks nurse station ruang rawat Anyelir atas di RSU Tangerang. Sudah biasa jika di atas jam 2, maka itu sudah menginjak jam bego bagi dokter, koass, atau perawat yang jaga malam; menangani pasien secara lebih singkat daripada di siang hari sambil berharap pasien nggak datang lagi (gw dan teman gw sudah menerima 5 pasien baru di bangsal).

Beruntunglah coass yang memiliki hoki menolak pasien, sehingga dia bisa santai sepanjang malam dan hanya meninggalkan nomor telepon untuk dihubungi perawat bila perlu. Dan sial lah coass yang tidak memiliki hoki, sehingga dia terus menerima pasien baru atau pasiennya banyak yang bermasalah sehingga tidak bisa keluar dari ruang rawat, seperti gw ini. Walaupun kesialan gw tidak terlalu ekstrim, tapi cukup terbukti dengan tidak bisa santainya gw setiap jaga malam, entah karena pasien yang sedikit-namun-datang-terus-menerus atau pasien yang membutuhkan-kontrol-intensif. Seperti malam ini yang beraroma pilihan pertama. Apalagi, kesibukan malam ini masih ditandai juga dengan adanya tuntutan penyelesaian makalah presentasi kasus dan laporan jaga yang harus selesai keesokan harinya, begadang adalah jawaban akhir. 

Jaga dan deadline tugas adalah kombinasi terburuk bagi seorang coass.

Stase RSUT tampaknya telah gw ceritakan berkali-kali di blog ini, bagaimana coass disini berperan sebagai dokter beneran, paling tidak naik level menjadi residen. Apalagi saat jaga malam ini, semua tata laksana pasien anak menjadi otoritas penuh coass, seperti halnya coass IPD di sini. Ada pelajaran yang sederhana namun penting di rumah sakit jejaring FKUI untuk coass, yaitu pengalaman menata laksana pasien secara komprehensif. Hal yang sederhana namun sulit dipraktekkan tanpa latihan. Ya, kami diajar untuk bertanggung jawab terhadap pasien masing-masing dari masuk hingga sembuh. Semua demi tanggung jawab yang lebih besar di masa depan.

Tuesday, November 9, 2010

Welcome to the Real 5th Grade

Inilah nasibnya kalo ngambil stase yang mudah dulu di awal: kurva kesibukan akan naik secara perlahan/drastis sampai kita nggak tahu turunnya kapan lagi. Boleh dibilang stase bedah merupakan stase surga di tingkat V. Nggak ada tuntutan baca banyak bahan, nggak ada laporan jaga, penulisan status yang super simpel, dan sebagainya. Stase 9 minggu di bedah bagaikan hampir libur selama 9 minggu, kecuali memang beberapa stase bedah yang menuntut untuk capek dan banyak ngerjain tugas. Sisanya? Anda bisa hanya datang, dengar, dan pulang.

Beda banget sama stase Ilmu Kesehatan Anak (IKA) yang gw jalani sekarang ini. 2 minggu pertama memang seperti kegiatan preklinik: kuliah atau bedside teaching dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore, sehingga efek sedatif hampir muncul setiap hari. Lalu begitu minggu ke-3, kita diberdayakan untuk kerja klinik di rumah sakit. Beberapa rumah sakit yang menjadi mitra FKUI dalam stase IKA ini adalah RSCM, RSP, RSHK, RSF, dan RSUT. Saking banyaknya RS mitra sehingga kelompok kecil dapet 3 RS jejaring selama 5 minggu ke depan.

Efek dari dapet jackpot RS jejaring seperti itu adalah jaga malam makin banyak, ditambah harus juga jaga malam di RSCM juga. Inilah tingkat V teman-teman! Tingkat di mana tanggung jawab semakin membesar, tingkat di mana ekspektasi dosen terhadap kita semakin meninggi, tingkat di mana kita dituntut untuk mengelola waktu dengan baik, tingkat di mana sakit lama tidak menjadi alasan untuk absen.

Dan saat gw menulis blog ini, dalam seminggu ke depan, akan ada 4 kali jaga malam yang menunggu gw.

Jangan Remehkan Nametag Anda

Mungkin sebagian orang suka meremehkan nametag-nya sendiri, termasuk gw. Nametag yang dimaksud di sini tentu saja tanda pengenal yang berisi nama yang suka terpampang di barang pribadi kita sendiri, misalnya tas, jersey olahraga, atau pernak-pernik pribadi lainnya. Alasannya simpel: kelupaan, ataupun menganggap nametag tersebut tidak penting, atau ada saja yang nggak suka menyebarkan identitas pribadi ke orang lain (sok privasi). Memang, ada benarnya juga kalo barang itu nggak kemana, tapi bukankah kita baru menganggap barang itu berharga kalo udah ilang?

Kejadian yang melibatkan gw dan nametag terjadi minggu lalu, saat dala perjalanan ke Jogja via bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Saat itu gw dan rombongan tengah berangkat dalam rangka misi kemanusiaan untuk korban Merapi di Jogja. Namanya juga misi kemanusiaan, pasti barang-barang yang dibawa banyak banget, terutama obat-obatan. Nah di saat pemeriksaan barang masuk terminal lah, tas jaga gw yang berisi alat pemeriksaan fisik lengkap dan kamera hilang terselip di antara barang-barang penumpang yang rame di pagi hari itu. Menyadari gw kehilangan tas jaga itu, kontan gw langsung lapor petugas keamanan bandara yang nggak jauh dari mesin sinar-X itu.

Beruntung hilangnya di bandara Soekarno-Hatta, bandara yang tercanggih di Indonesia (menurut gw). Petugas keamanan langsung merespon dengan menggunakan kamera CCTV yang ternyata nggak cuma jadi hiasan seperti di beberapa tempat umum. Dengan melihat identitas gw di CCTV dan menyebutkan jam kehilangan dan jenis barang, petugas CCTV yang nggak tau di mana mulai mencari tas jaga gw yang raib. Dengan muka kesel, gw mulai menurunkan ekspektasi dan meninggalkan petugas keamanan di pintu terminal karena pesawat gw udah mulai boarding.

Nah, di saat gw akan boarding lah, tiba-tiba gw mendapatkan telepon dari ibu-ibu yang tiba-tiba menyebut nama gw dan menanyakan apakah gw kehilangan tas. Langsung saja gw menanyakan posisi ibu tersebut yang ternyata baru menyadari ngebawa tas gw setelah dia di atas pesawat. Wahhh berabe!! Yang kepikiran di ingatan gw saat itu adalah nyamperin ibu itu ke atas pesawatnya, yang tujuannya ke Solo (nggak jauh dari Jogja), dan balik lagi ke gate gw. Sialnya, waktu itu berbarengan juga dengan dibukanya gate gw untuk masuk ke pesawat. Gw panik, ibu itu juga panik, bilang kalo nanti tasnya nggak bisa dititipin ke kru maskapai bakal dikirimin dari Solo ke Jogja. Akhirnya ada juga kru maskapai yang berbaik hati mau nganterin tas itu, dari gate si ibu ke gate gw.

Telepon gw ke mas kru maskapai yang gw inget adalah nggak diangkat, cuma disambut sama RBT-nya Armada. Gw SMS aja ke orang itu pesawat dan seat tempat gw duduk. Kalo nggak nyampe, bakal gw teror nih orang, batin gw. Cerita akhirnya, mas kru tersebut akhirnya bisa mengantarkan tas tersebut ke gw pas gw udah ada di seat gw. Heboh, karena karena kayak kejadian di film-film gitu yang suka ada kejadian last minute  menjelang keberangkatan.

Hingga saat gw SMS ke ibu itu untuk berterima kasih, si ibu hanya membalas, "Untung bpk mencantumkan no hp, jd memudahkan kt he he."

Sunday, October 24, 2010

I'm an Uncle Now!

Minggu kemarin, lebih tepatnya 19 Oktober 2010, lebih tepatnya lagi pukul 10.57, gw telah resmi mempunyai keponakan baru dari kakak perempuan gw satu-satunya. Keponakan yang lucu, imut, mungil itu bernama panggilan Jehan, dengan nama lengkap Jehan Aqila Rai, anak dari kakak gw, Yasmin Aulia Hayyu, dan suaminya Yogi Tujuliarto. Bayi itu lahir di RSAB Harapan Kita dengan dokter kandungannya adalah bokap dari temen gw sendiri. Panjang lahir 45 cm dengan berat lahir 2945 gram. Alhamdulillah, bayinya dan ibunya lahir dengan selamat, langsung nangis, walaupun sempet kuning, nggak ada cacat bawaan, dengan operasi SC, tentunya dengan indikasi medis karena usia kandungan yang udah masuk ke minggu-41.

Usia 9 jam

Praktis, dengan adanya bayi baru di keluarga gw, sistem panggilannya jadi berubah. Kakak gw dan suaminya lebih memilih untuk nantinya dipanggil Bunda dan Abi. Bokap dan nyokap gw lebih memilih untuk dipanggil Eyang. Sementara gw masih bingung nantinya mau dipanggil apa. Dipanggil Om kesannya kayak om-om gitu, dipanggil Paman juga kesannya kaku banget, dipanggil Uncle kesannya sok internasional, sementara itu dipanggil Paklik (singkatan dari bapak cilik) kesannya kok ndeso gitu. Jadilah gw belum menentukan panggilan yang tepat buat si kecil Jehan ini.

Keasikan disinar

Sejak adanya Jehan di rumah gw juga, mood orang-orang serumah jadi ceria semua. Singkatnya adanya bayi baru berarti ada mainan baru yang harus dijaga. Walaupun sekarang si bayi masih nggak bisa melek karena belum berumur seminggu, tetep aja bikin betah untuk diliatin terus-terusan. Semua perhatian serumah tertuju ke dia, kalo nangis orang serumah ikut sibuk. Kalo lagi nggak tidur orang serumah rebutan ngegendong, pokoknya happy banget ada si Jehan di rumah. Weekend ini yang dipenuhi banyak tamu yang datang ke rumah gw buat menyambangi si Jehan terasa nggak capek gara-gara dia.

Kehebohan sebelum dia lahir juga nggak kalah serunya. Menjelang usia gestasi 38 minggu, semua orang di rumah panik kalo kakak gw tiba-tiba mules. Eh, bukannya kakak gw aware di rumah, malah lebih sering keluar jalan-jalan waktu itu. Sempet gw belajar buku Williams Obstetrics untuk mempelajari persalinan normal doang. Sempet juga gw melakukan pemeriksaan obstetri dan VT ke kakak gw sendiri. Nggak ada pasien, keluarga sendiri pun jadi. Setelah 2 minggu ditunggu-tunggu nggak nongol juga bayinya akhirnya diputuskan untuk SC.

Kebetulan juga saat ini, gw udah selesai stase di modul bedah dan bersiap untuk masuk ke modul anak yang artinya apa? Artinya adalah gw bisa menjadikan Jehan sebagai bahan ajar gw (maafin ya ponakanku). Pas banget gw bisa mempelajari dia sejak jaman neonatus sampe nanti usia sekitar 3 bulan. Itung-itung untungnya buat si Jehan adalah nanti dia punya dokter (muda) anak pribadi. She is truly a lucky girl.


Monday, October 11, 2010

Another Dream: Exploring Indonesia

Setelah minggu kemarin perhelatan Garuda Indonesia Travel Fair diselenggarain, gw jadi ingin sekali mewujudkan cita-cita keliling Indonesia. Seperti kata pepatah: explore your home country first before travel abroad!. Walaupun itungannya lebih mahal dibandingin dengan jalan-jalan ke luar negeri yang tinggal naik pesawat itu, tapi perasaan bangga dan kekayaan alam negeri sendiri rasanya nggak ternilai. Jujur, kalo boleh dibilang, Jawa dan Bali masihlah tempat yang paling nyaman untuk dieksplorasi di Indonesia, karena selain sarana transportasi yang memadai, kekayaan budaya dan kulinernya masih dapat diterima semua orang. Tapi ya bosen juga kalo udah 22 tahun jadi WNI masih Jawa-Bali aja yang diubek-ubek, ditambah Madura, Lombok dan sebagian kecil Sumatera (Lampung). Sisa 17.475 pulau lainnya masih nol, belum pernah gw kunjungi.

Balik lagi ke event tadi, ujung-ujungnya gw cuma lihat-lihat aja tanpa beli tiket. Lha wong jadwal libur gw sendiri susah ditebak, selain itu gw dan teman-teman gw udah beli tiket liburan tahun depan dengan harga super duper murah ke (lagi-lagi) Bali-Lombok. Selain itu juga harga tiket Garuda Indonesia nggak cocok buat traveling murah, mendingan uang sisanya dibuat wisata kuliner di tempat tujuan. However, gw salut ke Garuda Indonesia yang armada barunya cakep bener, bikin maskapai lain serasa bajaj yang ditandingin sama taksi.

Kalo ditanya tujuan apa yang paling ingin dikunjungi di Indonesia, sebenernya ada banyak banget. Kalo mau disebutin bisa aja gw nyebutin sejumlah propinsi yang ada di Indonesia. Tapi setelah dinilai sana-sini akhirnya gw memilih. Inilah 3 destinasi-yang-paling-ingin-dikunjungi dari daftar tempat-tempat di Indonesia yang belum pernah gw jamah:

1. Komodo-Ende-Maumere
Inilah destinasi utama gw kalo seandainya gw mampu untuk keliling Indonesia. Daerah ini serasa surganya backpacker, walaupun sarana transportasi di sini masih kayak di Afrika. Yang makin bikin gw ngiler adalah tempat ini juga pernah kena syuting program backpacking-nya National Geographic. Kenapa daerah ini jadi pilihan utama? Pertama, alamnya masih bagus banget, ada kombinasi antara pantai yang biru sama pegunungan sama Danau Kelimutu. Kedua, apalagi kalo bukan kuliner seafood  yang fresh from the sea, yang bahkan kita tinggal pesen ikan apa aja ke nelayan, trus nelayan itu melaut sebentar dan datang lagi untuk membawakan santapan kita. Ketiga, orangnya kelihatannya ramah-ramah. Kalo udah menginjakkan kaki ke Pulau Flores, rasanya nggak afdol juga untuk menyeberang ke Pulau Komodo.
 
2. Raja Ampat
Inilah dia tujuan wisata yang paling banyak dicari orang di Indonesia akhir-akhir ini. Sayang sekali nggak ada penerbangan langsung ke daerah ini. Menurut Conservation International, Kepulauan Raja Ampat memiliki keragaman bawah laut terkaya di dunia. Bisa dibayangkan kan? Begitu nyemplung ke lautnya langsung disambut sama ratusan makhluk bawah laut. Hanya saja, pergi ke sini berarti cuma wisata alam aja, karena wisata budaya sama wisata kuliner belum digarap secara serius oleh pemerintah daerahnya. Yang pasti dilengkapin sebelum pergi ke sini adalah: diving license!
 
3. Manado-Bunaken
Diver luar negeri lebih mengenal Bunaken daripada Indonesia, sebagaimana orang luar negeri juga lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Itu udah cukup menandakan bahwa Bunaken wajib dikunjungi kalo ada kesempatan keliling Indonesia. Sempat diklaim sebagai salah satu spot diving atau snorkeling terbaik di dunia, wilayah itu (Sulawesi Utara) juga memiliki kuliner yang enak banget. Lagi-lagi, diving license menjadi hambatan.

Untuk tempat-tempat lainnya yang nggak kepilih dari Sabang sampai Merauke, jangan bersedih hati. Gw akan usahain untuk menjelajahi seluruh Indonesia suatu hari nanti.

Thursday, September 30, 2010

Awas, Batu!

(Calon) Dokter adalah pasien yang paling bandel. Ya itulah pernyataan yang gw yakini sampe sekarang, karena apa? Karena teori ini gw anut. Saat ini gw stase di Divisi Urologi Departemen Bedah, dan begitu banyaknya pasien yang datang ke poliklinik sebagian besar menderita batu saluran kemih. Sebagai individu, gw mungkin termasuk orang yang punya faktor risiko untuk itu. Tapi apa? Berkali-kali gw menasihati pasien untuk mencegah terulangnya batu saluran kemih, namun gw sendiri nggak melakukannya. Sebut saja contoh, gw minum sehari rata-rata cuma 6-8 gelas, itu pun kebanyakan minuman jadi yang hampir semuanya berpengawet. Gw banyak beraktivitas yang membuat gw banyak berkeringat. Dan yang terakhir gw kencing hanya sebanyak 2-3 kali per hari. Belum lagi ditambah dengan faktor risiko yang lain. Kayaknya hanya tinggal menunggu waktu walaupun mudah-mudahan nggak. Paling tidak, kesadaran ini cukup mahal sehingga gw masih bisa mencegahnya.

Untuk itu gw mau berbagi sedikit info tentang batu saluran kemih ini, karena saking banyaknya pasien di bedah yang hanya bisa disaingi oleh poliklinik Onkologi.

Gejala pertama yang sering muncul pada kasus batu saluran kemih adalah nyeri saat berkemih, bisa disertai dengan kencing berdarah maupun tidak, walaupun keluhan ini tidak spesifik untuk penyakit ini. Adanya riwayat kencing berpasir ataupun keluar batu dari kencing menguatkan dugaan ada batu di saluran kemih. Keluhan yang biasanya membawa pasien ke kasus gawat darurat adalah adanya nyeri kolik, yaitu nyeri yang sangat hebat, bersifat tajam (mampu ditunjuk oleh pasien lokasi nyerinya), biasanya bertahan selama beberapa jam dan kemudian hilang dengan sendirinya, dan biasanya pula disertai adanya gejala lain, seperti mual, muntah, jantung berdebar, dan berkeringat. Batu saluran kemih bisa juga menggambarkan gejala sumbatan pada saluran kemih bagian bawah, seperti kencing yang sedikit-sedikit, kencing menetes, tidak lampias dalam berkemih, dsb. Apabila memiliki gejala-gejala tersebut, segeralah konsultasi ke dokter.

Batu saluran kemih dapat diperiksa dengan berbagai modalitas, salah satu yang paling sering adalah urinalisis dan foto BNO/IVP (intravenous pyelography). Selain itu dapat juga dilakukan pemeriksaan USG ataupun pemeriksaan lainnya. Penatalaksanaannya juga dapat dilakukan dengan berbagai modalitas, salah satunya adalah ESWL (extracorporeal shock wave lithotripsy).

Untuk mencegah terjadinya batu saluran kemih perlu diperhatikan hal-hal berikut:
  1. Minum cukup. Jumlah kencing yang dikeluarkan oleh tubuh dapat diprediksi sebanyak 0,5-1 cc/kg berat badan/jam. Misalnya berat badan seseorang 60 kg, maka jumlah kencingnya 60 cc/jam atau 1440 cc/hari. Ditambahkan dengan prediksi insensible water loss melalui keringat sebanyak 500 cc/hari, maka kebutuhan cairan orang tersebut minimal 1940 cc/hari atau kurang lebih sebanyak 2 liter/hari. Oleh karena itu, dianjurkan minum air putih sebanyak 10 gelas setiap harinya.
  2. Hindari aktivitas yang membuat keringat berlebih, karena dapat meningkatkan pengeluaran air sehingga urin menjadi lebih pekat.
  3. Banyaklah kencing, paling tidak 4-6 kali per hari.
  4. Hindari makan/minum yang mengandung asam urat, teh, kopi, minuman soda, dan batasi secukupnya asupan kalsium.
Semoga postingan kali ini berguna.

Monday, September 6, 2010

(Hampir) Jadi Dokter di Tangerang

Seminggu kemarin, 7 hari tepat, gw dan teman-teman serombongan kecil gw, yang baru saja mendapat gelar sarjana, stase bedah di RSU Kab. Tangerang (RSUT) yang berjarak kurang lebih 30 km dari Jakarta. Jarak segitu bikin gw malas untuk pulang pergi Jakarta-Tangerang, selain capek di jalan tentunya juga di sana telah disediakan asrama khusus koass yang stase di sana. Di blog gw yang lalu, gw telah membahas stase di RSP maupun Harkit, sekarang saatnya RSUT.

Ini adalah stase nginep di RSUT kedua yang gw jalani, sebelumnya gw pernah nginep di sana juga saat stase di modul IGD tingkat IV. Kalo sebelumnya gw serasa anak tiri karena stase IGD seperti nggak diakui di asrama koass RSUT, sekarang berasa seperti kampus kecil karena banyak teman seangkatan dari rombongan lain yang juga stase di sini. Lagi-lagi stase di RSUT dilakuin di bulan puasa, yang mempengaruhi tingkat belajar, tingkat kemalasan follow-up, level tidur, dll. Waktu yang paling hepi tentu aja waktu buka dan saur bareng di mana semua orang sharing cerita-cerita kocak di RSUT, dari yang baru boleh nelpon dokter kalo pasien sudah kritis banget, pasien obsgyn yang datangnya ngucur terus kayak kran seakan semua orang Tangerang partus di RS ini, sampe teman yang dapet tugas mengecek ASI seluruh pasien bangsal dengan -maaf- memencet areola-nya satu-persatu. Kalo cerita menarik dari bedah, apalagi kalo bukan operasi.

Inilah enaknya stase bedah di RSUT di mana hanya ada 7 konsulen bedah dan 3 konsulen bedah orthopedi (yang semua konsulennya hampir hanya menerima laporan pasien doang) ditambah hanya 3 orang residen, di mana kesemuanya itu harus melayani seluruh kasus bedah di Tangerang dan sekitarnya. Akibatnya kesemua 6 koass bedah harus membantu 3 residen untuk melakukan hampir seluruh operasi di RS ini. Kasus apendisitis? Dateng terus tiap hari. Kanker payudara? Bejibun di bangsal. Trauma? Nggak berhenti-berhenti datang, seakan di Tangerang tiada hari tanpa kecelakaan motor dan industri. Gw yang tadinya masih bloon soal praktek bedah-membedah jadi lumayan dapat pengalaman bedah-membedah pasien beneran. Dari total 7 hari di Tangerang, gw dapat 12 kali ikut operasi dengan 5 diantaranya jadi asisten operator (co-op), sesuatu yang mustahil didapatkan di rumah sakit pusat di Jakarta. Dari yang tadinya mupeng pingin ikut sampe mabok ikut operasi.

Pernah suatu kali pasien udah diberitahu untuk operasi keesokan harinya dan disuruh puasa, eh ternyata pasiennya minum susu jam 7 pagi dan operasinya batal. Alesannya? Karena pasien kemarinnya dikasih tau untuk puasa 5 jam dari jam 12. Ada lagi pasien dengan kecurigaan peritonitis dan mau dilakukan laparotomi eksplorasi (dibuka perutnya), eh ternyata peritonitisnya nggak ada, kandung empedunya gede, dan operasi diakhiri dengan ditutup perutnya lagi tanpa diobati apa-apa. Ada lagi operasi ORIF (open reduction internal fixation) yang serasa jadi tukang karena tarik-tarikan tulang sama operatornya dan penggunaan alat-alat berat seperti bor, baut, palu, dan lain sebagainya.

Namun cerita yang paling menyentuh adalah saat gw follow-up pasien di bangsal dengan diagnosis osteosarkoma kruris (tumor tulang di tungkai) yang ukurannya sebola futsal, keluar nanah dan darah terus-menerus, bau separah gangren yang menyebar ke seluruh ruangan, dan lalat yang muter-muter di situ terus. Miris ngelihat pasien wanita usia 30-an tersebut dengan 5 anak, ditinggal suami karena penyakitnya, berprofesi di perumahan, dan sudah mempunyai kanker ganas sebesar itu, yang gw yakin sudah bermetastasis ke bagian tubuh yang lain. Gw mendengarkan cerita ibu itu dari masalah klinis hingga ke masalah pribadi keluarganya, masalah ekonomi yang dihabiskan dalam waktu nggak kurang dari 1 jam. Semoga nanti amputasi tungkai ibu tersebut hari Senin besok dapat berjalan lancar.

Singkatnya, stase di RSUT memang makin mendekatkan kita ke pasien. Mungkin bila slogan di RSP -yang gw buat- adalah "Coass First", di RSUT adalah "Coass Only" karena memang sedikitnya tenaga dokter di sana. Bahkan gw harus membuat jawaban konsul bedah mewakili residen gw untuk dokter umum di IGD, semua dengan anamnesis dan PF yang gw lakukan. Benar-benar (hampir) jadi dokter.