Siang itu, gw bersama keempat teman gw, I, L, dan C, sedang berjalan cepat dari Gedung A RSCM lantai 7 untuk menuju ke Departemen Radiologi. Saat itu ronde telah selesai dan kami terburu-buru untuk turun melewati lift Departemen THT di lantai 7 juga.
Di depan lift, selesai memencet tombol turun, kami secara tiba-tiba bertemu dr. N, koordinator S1 kami di fakultas.
dr. N: Kamu tingkat berapa?
Gw: Tingkat V, Dok.
dr. N: Setahu saya snelli mahasiswa itu panjang lengan panjang ya, apa aturannya udah berubah?
Gw, I, L, C: (diam sambil jantung berdegup cepat tanda menyesal udah lewat jalan itu)
dr. N: Dari sini sepertinya yang benar snellinya cuma satu.
(karena C memakai snelli lengan panjang waktu itu karena snelli lengan pendeknya lagi dicuci - hoki maksimal)
(lift terbuka dan kami berlima terpaksa masuk, sialnya tidak ada orang lain di dalam lift itu, pembicaraan pun berlanjut)
dr. N: Berarti dapat saya simpulkan bahwa kalian memang suka melanggar aturan ya?
Gw, I, L, C: (masih terdiam)
dr. N: Siapa nama kamu?
I: I, Dok.
dr. N: Kamu?
L: L, Dok.
dr. N: Nama lengkap?
L: N, Dok.
dr. N: Kamu?
Gw: H, Dok.
(lift terbuka dan pembicaraan pun berakhir)
Keesokan harinya, gw sekelompok mendapat kabar kalo nama-nama mahasiswa yang tertangkap basah kemarin menggunakan snelli lengan pendek sudah tersebar di kalangan kodik S1 semua departemen.
Hikmah cerita ini:
- Snelli lengan pendek terbukti lebih mencegah infeksi nosokomial daripada snelli lengan panjang dalam studi literatur.
- Bila salah jalan dan masalah sudah di depan anda, carilah jalan lain dengan cara kabur.
- Copotlah snelli anda bila sedang tidak memeriksa pasien. Cara ini paling aman.
Thursday, March 31, 2011
Sorry, Obsgyn
Gw mestinya udah memposting ini dari 4 minggu yang lalu, namun karena berbagai kesibukan akhirnya tertunda selama sekian lama.
Kadangkala ada suatu bagian di dalam profesi dokter yang mungkin bersifat tabu bagi orang awam, namun bagi dokter itu adalah sesuatu yang lumrah dikerjakan. Hal ini sangat terkait dengan kepaniteraan yang baru gw jalani yaitu Obstetri dan Ginekologi (Obsgyn). Di sini dokter justru mendapat ucapan terima kasih dan upah pada hal yang terlarang dilakukan oleh orang lain.
Meskipun begitu, gw nggak suka Obsgyn. Saking nggak sukanya sampai gw bener-bener nggak mau baca buku, cuma nyari tindakan-tindakan aja, dan pingin keluar cepet-cepet dari stase ini. Entah apa yang mendasarinya, yang jelas gw nggak suka dengan hal-hal yang saklek seperti Obsgyn, karena ilmunya bisa dikatakan dari dulu sampai sekarang sama aja. Apalagi ditambah dengan aroma kesenioran di dalamnya. Yang membuat gw seneng dari Obsgyn cuma karena ada kebutuhan untuk melengkapi skill partus normal di pengetahuan dokter gw.
Walupun ada iming-iming kalo jadi dokter Obsgyn pasti cepet kaya, gw tetap nggak tertarik. Gw nggak tertarik juga untuk dipanggil secara cito tengah malam menjelang subuh kalo ada pasien yang mau partus.
Sejauh ini, stase di rumah-rumah sakit luar jadi favorit gw di Obsgyn. Pertama, gw mendapatkan langsung untuk terlibat dalam penanganan pasien, nggak melulu cuma tensi, cek DJJ (denyut jantung janin, dan CTG (cardiotocography) aja seperti di rumah sakit pusat. Yang kedua, bisa menjauhkan diri dari hiruk pikuk Diponegoro 71 yang dipenuhsesakkan oleh profesor, konsulen, dan residen.
Waktu ujian pasien pun gw merasa bersalah kalo gw cuma belajar dikit banget buat Obsgyn. Ditanya ini itu jawabnya belepotan dan alhasil si penguji (keduanya dari staf pengajar onkoginekologi) cuma geleng-geleng sambil berkata, "Saya tahu bakat kamu memang bukan di Obsgyn, mungkin bakat kamu di tempat lain karena setiap orang memang memiliki bakat masing-masing."
Kadangkala ada suatu bagian di dalam profesi dokter yang mungkin bersifat tabu bagi orang awam, namun bagi dokter itu adalah sesuatu yang lumrah dikerjakan. Hal ini sangat terkait dengan kepaniteraan yang baru gw jalani yaitu Obstetri dan Ginekologi (Obsgyn). Di sini dokter justru mendapat ucapan terima kasih dan upah pada hal yang terlarang dilakukan oleh orang lain.
Meskipun begitu, gw nggak suka Obsgyn. Saking nggak sukanya sampai gw bener-bener nggak mau baca buku, cuma nyari tindakan-tindakan aja, dan pingin keluar cepet-cepet dari stase ini. Entah apa yang mendasarinya, yang jelas gw nggak suka dengan hal-hal yang saklek seperti Obsgyn, karena ilmunya bisa dikatakan dari dulu sampai sekarang sama aja. Apalagi ditambah dengan aroma kesenioran di dalamnya. Yang membuat gw seneng dari Obsgyn cuma karena ada kebutuhan untuk melengkapi skill partus normal di pengetahuan dokter gw.
Walupun ada iming-iming kalo jadi dokter Obsgyn pasti cepet kaya, gw tetap nggak tertarik. Gw nggak tertarik juga untuk dipanggil secara cito tengah malam menjelang subuh kalo ada pasien yang mau partus.
Sejauh ini, stase di rumah-rumah sakit luar jadi favorit gw di Obsgyn. Pertama, gw mendapatkan langsung untuk terlibat dalam penanganan pasien, nggak melulu cuma tensi, cek DJJ (denyut jantung janin, dan CTG (cardiotocography) aja seperti di rumah sakit pusat. Yang kedua, bisa menjauhkan diri dari hiruk pikuk Diponegoro 71 yang dipenuhsesakkan oleh profesor, konsulen, dan residen.
Waktu ujian pasien pun gw merasa bersalah kalo gw cuma belajar dikit banget buat Obsgyn. Ditanya ini itu jawabnya belepotan dan alhasil si penguji (keduanya dari staf pengajar onkoginekologi) cuma geleng-geleng sambil berkata, "Saya tahu bakat kamu memang bukan di Obsgyn, mungkin bakat kamu di tempat lain karena setiap orang memang memiliki bakat masing-masing."
Monday, February 7, 2011
TBM
This posting is dedicated for TBM
Ya, udah hampir 4 tahun gw jadi anggota TBM (Tim Bantuan Medis) FKUI dan sekarang, ketika gw hampir ninggalin, mungkin saat yang tepat buat nulis semuanya. Buat gw TBM mungkin udah jadi tempat seperti keluarga kedua gw: tempat tidur pas lagi ngantuk, tempat makan pas kafe lagi penuh, tempat ngerjain tugas pas kosong, dan kerjaan-kerjaan penting dan nggak penting lainnya.
Tahun ke-0
Saat pertama diumumin pendaftaran badan-badan dibuka, gw sempat bingung waktu mau milih. Urusan tempat yang gede, kayaknya MA dan BFM bisa jadi pilihan, tapi apa daya gw nggak suka nulis dan nggak nyeni. Kalo milih Kafe atau Bursa kok kayaknya nggak keren gitu. Kalo milih FSI, gw kayaknya juga nggak sealim yang orang duga. LPP? Pilihan terakhir. TBM, yang kerjaannya gw pikir waktu itu cuma pake otot dan dikit pake otak, sama Senat sebagai formalitas. Pertama masuk sebagai caang (calon anggota) TBM kesannya adalah capek dan ribet awalnya. Tentu, karena aturannya membuat para caang harus dateng jam 6 pagi saat dikdas. Belum lagi harus bercapek-capekan lari pagi keliling Cikini dan push-up yang nggak keitung jumlahnya. Puncak capek-capeknya adalah pas outbound, yang jaman gw masih keliling hutan UI Depok, dan pelantikannya di Gunung Gede. Tapi di dalem prosesnya ternyata nggak secapek yang gw duga, mungkin karena faktor sugesti badan gw terlatih di tengah-tengah kaderisasi, atau memang angkatan gw yang kompak yang bikin semua menikmati kaderisasi ini.
Tahun ke-1
Semua orang yang mau masuk ke TBM pada dasarnya pingin dapat skill medis praktis sama ingin kenal senior-senior, keduanya gw sebut sebagai alasan klasik. Padahal, begitu masuk ke TBM yang banyak gw dapat adalah bagaimana mengelola waktu secara aktif, bagaimana menyelesaikan pekerjaan, dan terutama bagaimana bersenang-senang. Pilihan bidang gw saat itu nggak salah, yaitu Operasional, bidang yang khusus bertugas untuk melakukan pelayanan publik dalam penyediaan tenaga medis. Sabagai bawahan waktu itu, gw termasuk sering untuk terlibat dengan pihak-pihak luar yang mau bekerja sama, dan ternyata cukup enak dengan tantangan baru ini. Operasional sendiri bisa dibilang adalah mesin uangnya TBM, jadi tugas untuk cari duit juga merupakan tantangan baru buat gw, padahal sebelumnya gw selalu menghindari yang namanya seksi dana. Selain itu, bidang gw juga banyak berperan sebagai event organizer. Banyak hal yg gw pelajari di tahun pertama ini.
Tahun ke-2
Di tahun ini, gw dapat amanah sebagai ketua bidang Operasional. Sebagai ketua bidang, hal yang harus dipelajari lebih banyak lagi, terutama dalam mengatur anak buah dan segala urusan bidang. Awalnya mudah, tapi di tengah dan menjelang akhir kepengurusan semuanya telihat makin sulit. Mencari duit untuk sebuah organisasi itu ternyata nggak mudah. Waktu harus selalu tersedia di akhir pekan dan hari-hari menjelang pertanggungjawaban selalu jadi hari paling sulit. Di saat sekolah libur, di situlah kami bekerja mengais duit dari anak sekolah yang mau disunat. Di saat orang lain asyik nonton konser atau acara apapun itu, di situlah kami lagi bersusah payah jadi tim medis. Kami juga pernah melayani pendidikan bantuan hidup dasar dari anak kuliah hingga anak SD yang bahkan nggak tau jantung itu gunanya buat apa. Tapi dibalik itu, kami juga nggak lupa untuk bersenang-senang. Setiap kerjaan, pasti ada selipan acara senang-senang.
Tahun ke-3
Gw meninggalkan Operasional untuk sejenak di tahun ini untuk masuk ke SPOG (Staf Pengembangan Organisasi). Awalnya gw pikir SPOG itu kerjaannya nggak ribet, nggak seperti bidang yang selalu disibukkan oleh prokernya. Ternyata gw salah besar. SPOG yang tugasnya adalah mengamati, mengevaluasi, dan memberi masukan ternyata nggak sesederhana itu. Gw dan teman-teman berusaha untuk menstandardisasi evaluasi akhirnya dibuat pusing sendiri dengan evaluasi itu sendiri, karena kami berusaha untuk seobjektif mungkin dengan penilaian yang ada. Belum lagi karena gw harus masuk ke fase klinik sehingga waktu gw untuk TBM juga berkurang. Untuk menjadi teladan, memulai teladan di dalam diri sendiri itu yang paling sulit.
Tahun ke-4
Inilah gw sekarang, setelah menyelesaikan tugas di SPOG, gw dihadapkan pada 3 pilihan: tetap di bidang gw dahulu, pindah ke bidang lain, atau cuti dari TBM. Gw rasa cuti bukan pilihan yang logis untuk sekarang bagi gw karena gw masih membutuhkan tempat di TBM.
Pada akhirnya gw merasa bersyukur, punya keluarga di TBM. Gw bisa membayangkan seandainya gw nggak masuk TBM atau badan apapun lainnya, gw nggak bakal jadi seperti sekarang.
Ya, udah hampir 4 tahun gw jadi anggota TBM (Tim Bantuan Medis) FKUI dan sekarang, ketika gw hampir ninggalin, mungkin saat yang tepat buat nulis semuanya. Buat gw TBM mungkin udah jadi tempat seperti keluarga kedua gw: tempat tidur pas lagi ngantuk, tempat makan pas kafe lagi penuh, tempat ngerjain tugas pas kosong, dan kerjaan-kerjaan penting dan nggak penting lainnya.
Tahun ke-0
Saat pertama diumumin pendaftaran badan-badan dibuka, gw sempat bingung waktu mau milih. Urusan tempat yang gede, kayaknya MA dan BFM bisa jadi pilihan, tapi apa daya gw nggak suka nulis dan nggak nyeni. Kalo milih Kafe atau Bursa kok kayaknya nggak keren gitu. Kalo milih FSI, gw kayaknya juga nggak sealim yang orang duga. LPP? Pilihan terakhir. TBM, yang kerjaannya gw pikir waktu itu cuma pake otot dan dikit pake otak, sama Senat sebagai formalitas. Pertama masuk sebagai caang (calon anggota) TBM kesannya adalah capek dan ribet awalnya. Tentu, karena aturannya membuat para caang harus dateng jam 6 pagi saat dikdas. Belum lagi harus bercapek-capekan lari pagi keliling Cikini dan push-up yang nggak keitung jumlahnya. Puncak capek-capeknya adalah pas outbound, yang jaman gw masih keliling hutan UI Depok, dan pelantikannya di Gunung Gede. Tapi di dalem prosesnya ternyata nggak secapek yang gw duga, mungkin karena faktor sugesti badan gw terlatih di tengah-tengah kaderisasi, atau memang angkatan gw yang kompak yang bikin semua menikmati kaderisasi ini.
Tahun ke-1
Semua orang yang mau masuk ke TBM pada dasarnya pingin dapat skill medis praktis sama ingin kenal senior-senior, keduanya gw sebut sebagai alasan klasik. Padahal, begitu masuk ke TBM yang banyak gw dapat adalah bagaimana mengelola waktu secara aktif, bagaimana menyelesaikan pekerjaan, dan terutama bagaimana bersenang-senang. Pilihan bidang gw saat itu nggak salah, yaitu Operasional, bidang yang khusus bertugas untuk melakukan pelayanan publik dalam penyediaan tenaga medis. Sabagai bawahan waktu itu, gw termasuk sering untuk terlibat dengan pihak-pihak luar yang mau bekerja sama, dan ternyata cukup enak dengan tantangan baru ini. Operasional sendiri bisa dibilang adalah mesin uangnya TBM, jadi tugas untuk cari duit juga merupakan tantangan baru buat gw, padahal sebelumnya gw selalu menghindari yang namanya seksi dana. Selain itu, bidang gw juga banyak berperan sebagai event organizer. Banyak hal yg gw pelajari di tahun pertama ini.
Tahun ke-2
Di tahun ini, gw dapat amanah sebagai ketua bidang Operasional. Sebagai ketua bidang, hal yang harus dipelajari lebih banyak lagi, terutama dalam mengatur anak buah dan segala urusan bidang. Awalnya mudah, tapi di tengah dan menjelang akhir kepengurusan semuanya telihat makin sulit. Mencari duit untuk sebuah organisasi itu ternyata nggak mudah. Waktu harus selalu tersedia di akhir pekan dan hari-hari menjelang pertanggungjawaban selalu jadi hari paling sulit. Di saat sekolah libur, di situlah kami bekerja mengais duit dari anak sekolah yang mau disunat. Di saat orang lain asyik nonton konser atau acara apapun itu, di situlah kami lagi bersusah payah jadi tim medis. Kami juga pernah melayani pendidikan bantuan hidup dasar dari anak kuliah hingga anak SD yang bahkan nggak tau jantung itu gunanya buat apa. Tapi dibalik itu, kami juga nggak lupa untuk bersenang-senang. Setiap kerjaan, pasti ada selipan acara senang-senang.
Tahun ke-3
Gw meninggalkan Operasional untuk sejenak di tahun ini untuk masuk ke SPOG (Staf Pengembangan Organisasi). Awalnya gw pikir SPOG itu kerjaannya nggak ribet, nggak seperti bidang yang selalu disibukkan oleh prokernya. Ternyata gw salah besar. SPOG yang tugasnya adalah mengamati, mengevaluasi, dan memberi masukan ternyata nggak sesederhana itu. Gw dan teman-teman berusaha untuk menstandardisasi evaluasi akhirnya dibuat pusing sendiri dengan evaluasi itu sendiri, karena kami berusaha untuk seobjektif mungkin dengan penilaian yang ada. Belum lagi karena gw harus masuk ke fase klinik sehingga waktu gw untuk TBM juga berkurang. Untuk menjadi teladan, memulai teladan di dalam diri sendiri itu yang paling sulit.
Tahun ke-4
Inilah gw sekarang, setelah menyelesaikan tugas di SPOG, gw dihadapkan pada 3 pilihan: tetap di bidang gw dahulu, pindah ke bidang lain, atau cuti dari TBM. Gw rasa cuti bukan pilihan yang logis untuk sekarang bagi gw karena gw masih membutuhkan tempat di TBM.
Pada akhirnya gw merasa bersyukur, punya keluarga di TBM. Gw bisa membayangkan seandainya gw nggak masuk TBM atau badan apapun lainnya, gw nggak bakal jadi seperti sekarang.
Tuesday, January 11, 2011
500 Internal Server Error
Sebulan lebih gw nggak posting sesuatu ke blog gw ini karena kesibukan ini-itu, kemalasan, dan juga karena rusaknya router rumah baru-baru ini karena kesambar petir. Paling tidak masih ada waktu sekarang ini buat gw menulis.
Gw bersyukur masuk ke Fakultas Kedokteran, apalagi di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Bangga karena standar pendidikannya yang tinggi? Tentu. Karena pengajarnya yang berkualitas? Tentu juga. Yang nggak kalah pentingnya adalah karena gw nggak harus berebut-rebutan mengisi IRS (gw nggak tahu apa kepanjangannya!) untuk suatu mata kuliah seperti fakultas-fakultas lainnya di Depok. Mengapa begitu? Karena pengisian semacam itu penuh dengan kolonialisme dan imperialisme terutama bagi mahasiswa yang buta dengan internet, tidak memiliki fasilitas internet yang memadai, ataupun uang SPP yang belum dikirim dari kampung. Yah, setidaknya dalam 3 tahun pertama angkatan gw dikenalin sama yang namanya sistem IRS ini, tidak ada masalah dalam pengisiannya.
Lain cerita saat sudah masuk ke tingkat IV, di mana sudah mulai dipecah jadi beberapa bagian kecil. Gw mulai dikenalkan oleh sistem IRS yang kolonialis-imperialis itu. Telat sebentar pun, dijamin sudah kehabisan tempat untuk mata kuliah yang diinginkan. (cerita ini sudah pernah gw ceritakan di edisi Singkong dan Keju).
Sudah menjadi tradisi, apabila pengisian IRS secara berebutan ini selalu ditunggu-tunggu oleh seluruh mahasiswa. Bila jadwalnya dibuka tengah malam, dipastikan semua orang akan rela begadang agar tidak ketinggalan mengisi. Bila jadwalnya pagi hari, dipastikan pula semua orang tidak ada yang bangun kesiangan. Bila jadwalnya dibuka jam 9 pagi, bisa dipastikan jam 8.50 situs SIAK-NG akan terlalu overload dan akibatnya keluar halaman yang bertuliskan 500 Internal Server Error. Hati-hati, dalam keadaan seperti ini tombol Ctrl+R anda bisa rusak karena terlalu sering dipencet. Belum lagi cara pengisiannya yang ribet dan juga harus dengan persetujuan PA.
Untunglah biasanya pengisian IRS dilakukan di hari Sabtu/Minggu yang tenang, sehingga kita bisa mempersiapkan laptop, modem, duduk dengan tenang sambil melihat jam dan juga mempersiapkan cemilan dan HP di tangan. Namun tidak untuk hari ini, pengisian IRS untuk modul elektif di angkatan gw dilaksanakan di hari kerja biasa. Persiapannya pun beda, ada yang bawa laptop + modemnya, ada yang nongkrong di tempat wifi gratis, ada juga yang modal HP dan doa doang. Selain itu ada juga yang pasrah. Walaupun gw udah modal kabur dari kuliah demi mengisi IRS ini tetap aja yang keluar di monitor saat login adalah tebak apa? 500 Internal Server Error.
Gw bersyukur masuk ke Fakultas Kedokteran, apalagi di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Bangga karena standar pendidikannya yang tinggi? Tentu. Karena pengajarnya yang berkualitas? Tentu juga. Yang nggak kalah pentingnya adalah karena gw nggak harus berebut-rebutan mengisi IRS (gw nggak tahu apa kepanjangannya!) untuk suatu mata kuliah seperti fakultas-fakultas lainnya di Depok. Mengapa begitu? Karena pengisian semacam itu penuh dengan kolonialisme dan imperialisme terutama bagi mahasiswa yang buta dengan internet, tidak memiliki fasilitas internet yang memadai, ataupun uang SPP yang belum dikirim dari kampung. Yah, setidaknya dalam 3 tahun pertama angkatan gw dikenalin sama yang namanya sistem IRS ini, tidak ada masalah dalam pengisiannya.
Lain cerita saat sudah masuk ke tingkat IV, di mana sudah mulai dipecah jadi beberapa bagian kecil. Gw mulai dikenalkan oleh sistem IRS yang kolonialis-imperialis itu. Telat sebentar pun, dijamin sudah kehabisan tempat untuk mata kuliah yang diinginkan. (cerita ini sudah pernah gw ceritakan di edisi Singkong dan Keju).
Sudah menjadi tradisi, apabila pengisian IRS secara berebutan ini selalu ditunggu-tunggu oleh seluruh mahasiswa. Bila jadwalnya dibuka tengah malam, dipastikan semua orang akan rela begadang agar tidak ketinggalan mengisi. Bila jadwalnya pagi hari, dipastikan pula semua orang tidak ada yang bangun kesiangan. Bila jadwalnya dibuka jam 9 pagi, bisa dipastikan jam 8.50 situs SIAK-NG akan terlalu overload dan akibatnya keluar halaman yang bertuliskan 500 Internal Server Error. Hati-hati, dalam keadaan seperti ini tombol Ctrl+R anda bisa rusak karena terlalu sering dipencet. Belum lagi cara pengisiannya yang ribet dan juga harus dengan persetujuan PA.
Untunglah biasanya pengisian IRS dilakukan di hari Sabtu/Minggu yang tenang, sehingga kita bisa mempersiapkan laptop, modem, duduk dengan tenang sambil melihat jam dan juga mempersiapkan cemilan dan HP di tangan. Namun tidak untuk hari ini, pengisian IRS untuk modul elektif di angkatan gw dilaksanakan di hari kerja biasa. Persiapannya pun beda, ada yang bawa laptop + modemnya, ada yang nongkrong di tempat wifi gratis, ada juga yang modal HP dan doa doang. Selain itu ada juga yang pasrah. Walaupun gw udah modal kabur dari kuliah demi mengisi IRS ini tetap aja yang keluar di monitor saat login adalah tebak apa? 500 Internal Server Error.
Wednesday, December 8, 2010
Night Shi(f)t
Jarum jam sudah menginjak pukul 2 malam, dan gw masih terpaku di depan laptop. Bila detail tempatnya diperluas lagi, saat gw menulis ini gw ada di dalam ruang diskusi di kompleks nurse station ruang rawat Anyelir atas di RSU Tangerang. Sudah biasa jika di atas jam 2, maka itu sudah menginjak jam bego bagi dokter, koass, atau perawat yang jaga malam; menangani pasien secara lebih singkat daripada di siang hari sambil berharap pasien nggak datang lagi (gw dan teman gw sudah menerima 5 pasien baru di bangsal).
Beruntunglah coass yang memiliki hoki menolak pasien, sehingga dia bisa santai sepanjang malam dan hanya meninggalkan nomor telepon untuk dihubungi perawat bila perlu. Dan sial lah coass yang tidak memiliki hoki, sehingga dia terus menerima pasien baru atau pasiennya banyak yang bermasalah sehingga tidak bisa keluar dari ruang rawat, seperti gw ini. Walaupun kesialan gw tidak terlalu ekstrim, tapi cukup terbukti dengan tidak bisa santainya gw setiap jaga malam, entah karena pasien yang sedikit-namun-datang-terus-menerus atau pasien yang membutuhkan-kontrol-intensif. Seperti malam ini yang beraroma pilihan pertama. Apalagi, kesibukan malam ini masih ditandai juga dengan adanya tuntutan penyelesaian makalah presentasi kasus dan laporan jaga yang harus selesai keesokan harinya, begadang adalah jawaban akhir.
Jaga dan deadline tugas adalah kombinasi terburuk bagi seorang coass.
Stase RSUT tampaknya telah gw ceritakan berkali-kali di blog ini, bagaimana coass disini berperan sebagai dokter beneran, paling tidak naik level menjadi residen. Apalagi saat jaga malam ini, semua tata laksana pasien anak menjadi otoritas penuh coass, seperti halnya coass IPD di sini. Ada pelajaran yang sederhana namun penting di rumah sakit jejaring FKUI untuk coass, yaitu pengalaman menata laksana pasien secara komprehensif. Hal yang sederhana namun sulit dipraktekkan tanpa latihan. Ya, kami diajar untuk bertanggung jawab terhadap pasien masing-masing dari masuk hingga sembuh. Semua demi tanggung jawab yang lebih besar di masa depan.
Beruntunglah coass yang memiliki hoki menolak pasien, sehingga dia bisa santai sepanjang malam dan hanya meninggalkan nomor telepon untuk dihubungi perawat bila perlu. Dan sial lah coass yang tidak memiliki hoki, sehingga dia terus menerima pasien baru atau pasiennya banyak yang bermasalah sehingga tidak bisa keluar dari ruang rawat, seperti gw ini. Walaupun kesialan gw tidak terlalu ekstrim, tapi cukup terbukti dengan tidak bisa santainya gw setiap jaga malam, entah karena pasien yang sedikit-namun-datang-terus-menerus atau pasien yang membutuhkan-kontrol-intensif. Seperti malam ini yang beraroma pilihan pertama. Apalagi, kesibukan malam ini masih ditandai juga dengan adanya tuntutan penyelesaian makalah presentasi kasus dan laporan jaga yang harus selesai keesokan harinya, begadang adalah jawaban akhir.
Jaga dan deadline tugas adalah kombinasi terburuk bagi seorang coass.
Stase RSUT tampaknya telah gw ceritakan berkali-kali di blog ini, bagaimana coass disini berperan sebagai dokter beneran, paling tidak naik level menjadi residen. Apalagi saat jaga malam ini, semua tata laksana pasien anak menjadi otoritas penuh coass, seperti halnya coass IPD di sini. Ada pelajaran yang sederhana namun penting di rumah sakit jejaring FKUI untuk coass, yaitu pengalaman menata laksana pasien secara komprehensif. Hal yang sederhana namun sulit dipraktekkan tanpa latihan. Ya, kami diajar untuk bertanggung jawab terhadap pasien masing-masing dari masuk hingga sembuh. Semua demi tanggung jawab yang lebih besar di masa depan.
Tuesday, November 9, 2010
Welcome to the Real 5th Grade
Inilah nasibnya kalo ngambil stase yang mudah dulu di awal: kurva kesibukan akan naik secara perlahan/drastis sampai kita nggak tahu turunnya kapan lagi. Boleh dibilang stase bedah merupakan stase surga di tingkat V. Nggak ada tuntutan baca banyak bahan, nggak ada laporan jaga, penulisan status yang super simpel, dan sebagainya. Stase 9 minggu di bedah bagaikan hampir libur selama 9 minggu, kecuali memang beberapa stase bedah yang menuntut untuk capek dan banyak ngerjain tugas. Sisanya? Anda bisa hanya datang, dengar, dan pulang.
Beda banget sama stase Ilmu Kesehatan Anak (IKA) yang gw jalani sekarang ini. 2 minggu pertama memang seperti kegiatan preklinik: kuliah atau bedside teaching dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore, sehingga efek sedatif hampir muncul setiap hari. Lalu begitu minggu ke-3, kita diberdayakan untuk kerja klinik di rumah sakit. Beberapa rumah sakit yang menjadi mitra FKUI dalam stase IKA ini adalah RSCM, RSP, RSHK, RSF, dan RSUT. Saking banyaknya RS mitra sehingga kelompok kecil dapet 3 RS jejaring selama 5 minggu ke depan.
Efek dari dapet jackpot RS jejaring seperti itu adalah jaga malam makin banyak, ditambah harus juga jaga malam di RSCM juga. Inilah tingkat V teman-teman! Tingkat di mana tanggung jawab semakin membesar, tingkat di mana ekspektasi dosen terhadap kita semakin meninggi, tingkat di mana kita dituntut untuk mengelola waktu dengan baik, tingkat di mana sakit lama tidak menjadi alasan untuk absen.
Dan saat gw menulis blog ini, dalam seminggu ke depan, akan ada 4 kali jaga malam yang menunggu gw.
Beda banget sama stase Ilmu Kesehatan Anak (IKA) yang gw jalani sekarang ini. 2 minggu pertama memang seperti kegiatan preklinik: kuliah atau bedside teaching dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore, sehingga efek sedatif hampir muncul setiap hari. Lalu begitu minggu ke-3, kita diberdayakan untuk kerja klinik di rumah sakit. Beberapa rumah sakit yang menjadi mitra FKUI dalam stase IKA ini adalah RSCM, RSP, RSHK, RSF, dan RSUT. Saking banyaknya RS mitra sehingga kelompok kecil dapet 3 RS jejaring selama 5 minggu ke depan.
Efek dari dapet jackpot RS jejaring seperti itu adalah jaga malam makin banyak, ditambah harus juga jaga malam di RSCM juga. Inilah tingkat V teman-teman! Tingkat di mana tanggung jawab semakin membesar, tingkat di mana ekspektasi dosen terhadap kita semakin meninggi, tingkat di mana kita dituntut untuk mengelola waktu dengan baik, tingkat di mana sakit lama tidak menjadi alasan untuk absen.
Dan saat gw menulis blog ini, dalam seminggu ke depan, akan ada 4 kali jaga malam yang menunggu gw.
Jangan Remehkan Nametag Anda
Mungkin sebagian orang suka meremehkan nametag-nya sendiri, termasuk gw. Nametag yang dimaksud di sini tentu saja tanda pengenal yang berisi nama yang suka terpampang di barang pribadi kita sendiri, misalnya tas, jersey olahraga, atau pernak-pernik pribadi lainnya. Alasannya simpel: kelupaan, ataupun menganggap nametag tersebut tidak penting, atau ada saja yang nggak suka menyebarkan identitas pribadi ke orang lain (sok privasi). Memang, ada benarnya juga kalo barang itu nggak kemana, tapi bukankah kita baru menganggap barang itu berharga kalo udah ilang?
Kejadian yang melibatkan gw dan nametag terjadi minggu lalu, saat dala perjalanan ke Jogja via bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Saat itu gw dan rombongan tengah berangkat dalam rangka misi kemanusiaan untuk korban Merapi di Jogja. Namanya juga misi kemanusiaan, pasti barang-barang yang dibawa banyak banget, terutama obat-obatan. Nah di saat pemeriksaan barang masuk terminal lah, tas jaga gw yang berisi alat pemeriksaan fisik lengkap dan kamera hilang terselip di antara barang-barang penumpang yang rame di pagi hari itu. Menyadari gw kehilangan tas jaga itu, kontan gw langsung lapor petugas keamanan bandara yang nggak jauh dari mesin sinar-X itu.
Beruntung hilangnya di bandara Soekarno-Hatta, bandara yang tercanggih di Indonesia (menurut gw). Petugas keamanan langsung merespon dengan menggunakan kamera CCTV yang ternyata nggak cuma jadi hiasan seperti di beberapa tempat umum. Dengan melihat identitas gw di CCTV dan menyebutkan jam kehilangan dan jenis barang, petugas CCTV yang nggak tau di mana mulai mencari tas jaga gw yang raib. Dengan muka kesel, gw mulai menurunkan ekspektasi dan meninggalkan petugas keamanan di pintu terminal karena pesawat gw udah mulai boarding.
Nah, di saat gw akan boarding lah, tiba-tiba gw mendapatkan telepon dari ibu-ibu yang tiba-tiba menyebut nama gw dan menanyakan apakah gw kehilangan tas. Langsung saja gw menanyakan posisi ibu tersebut yang ternyata baru menyadari ngebawa tas gw setelah dia di atas pesawat. Wahhh berabe!! Yang kepikiran di ingatan gw saat itu adalah nyamperin ibu itu ke atas pesawatnya, yang tujuannya ke Solo (nggak jauh dari Jogja), dan balik lagi ke gate gw. Sialnya, waktu itu berbarengan juga dengan dibukanya gate gw untuk masuk ke pesawat. Gw panik, ibu itu juga panik, bilang kalo nanti tasnya nggak bisa dititipin ke kru maskapai bakal dikirimin dari Solo ke Jogja. Akhirnya ada juga kru maskapai yang berbaik hati mau nganterin tas itu, dari gate si ibu ke gate gw.
Telepon gw ke mas kru maskapai yang gw inget adalah nggak diangkat, cuma disambut sama RBT-nya Armada. Gw SMS aja ke orang itu pesawat dan seat tempat gw duduk. Kalo nggak nyampe, bakal gw teror nih orang, batin gw. Cerita akhirnya, mas kru tersebut akhirnya bisa mengantarkan tas tersebut ke gw pas gw udah ada di seat gw. Heboh, karena karena kayak kejadian di film-film gitu yang suka ada kejadian last minute menjelang keberangkatan.
Hingga saat gw SMS ke ibu itu untuk berterima kasih, si ibu hanya membalas, "Untung bpk mencantumkan no hp, jd memudahkan kt he he."
Kejadian yang melibatkan gw dan nametag terjadi minggu lalu, saat dala perjalanan ke Jogja via bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Saat itu gw dan rombongan tengah berangkat dalam rangka misi kemanusiaan untuk korban Merapi di Jogja. Namanya juga misi kemanusiaan, pasti barang-barang yang dibawa banyak banget, terutama obat-obatan. Nah di saat pemeriksaan barang masuk terminal lah, tas jaga gw yang berisi alat pemeriksaan fisik lengkap dan kamera hilang terselip di antara barang-barang penumpang yang rame di pagi hari itu. Menyadari gw kehilangan tas jaga itu, kontan gw langsung lapor petugas keamanan bandara yang nggak jauh dari mesin sinar-X itu.
Beruntung hilangnya di bandara Soekarno-Hatta, bandara yang tercanggih di Indonesia (menurut gw). Petugas keamanan langsung merespon dengan menggunakan kamera CCTV yang ternyata nggak cuma jadi hiasan seperti di beberapa tempat umum. Dengan melihat identitas gw di CCTV dan menyebutkan jam kehilangan dan jenis barang, petugas CCTV yang nggak tau di mana mulai mencari tas jaga gw yang raib. Dengan muka kesel, gw mulai menurunkan ekspektasi dan meninggalkan petugas keamanan di pintu terminal karena pesawat gw udah mulai boarding.
Nah, di saat gw akan boarding lah, tiba-tiba gw mendapatkan telepon dari ibu-ibu yang tiba-tiba menyebut nama gw dan menanyakan apakah gw kehilangan tas. Langsung saja gw menanyakan posisi ibu tersebut yang ternyata baru menyadari ngebawa tas gw setelah dia di atas pesawat. Wahhh berabe!! Yang kepikiran di ingatan gw saat itu adalah nyamperin ibu itu ke atas pesawatnya, yang tujuannya ke Solo (nggak jauh dari Jogja), dan balik lagi ke gate gw. Sialnya, waktu itu berbarengan juga dengan dibukanya gate gw untuk masuk ke pesawat. Gw panik, ibu itu juga panik, bilang kalo nanti tasnya nggak bisa dititipin ke kru maskapai bakal dikirimin dari Solo ke Jogja. Akhirnya ada juga kru maskapai yang berbaik hati mau nganterin tas itu, dari gate si ibu ke gate gw.
Telepon gw ke mas kru maskapai yang gw inget adalah nggak diangkat, cuma disambut sama RBT-nya Armada. Gw SMS aja ke orang itu pesawat dan seat tempat gw duduk. Kalo nggak nyampe, bakal gw teror nih orang, batin gw. Cerita akhirnya, mas kru tersebut akhirnya bisa mengantarkan tas tersebut ke gw pas gw udah ada di seat gw. Heboh, karena karena kayak kejadian di film-film gitu yang suka ada kejadian last minute menjelang keberangkatan.
Hingga saat gw SMS ke ibu itu untuk berterima kasih, si ibu hanya membalas, "Untung bpk mencantumkan no hp, jd memudahkan kt he he."
Subscribe to:
Posts (Atom)
