Sunday, October 14, 2012

Tragedi Nasi Goreng

Sudah sewajarnya gw sebagai orang Indonesia aseli menyukai masakan Indonesia aseli juga. Beneran. Mau makan di hotel bintang lima sekalipun yang all you can eat, tetep makanan yang paling pas di lidah gw adalah menu Indonesianya.

Salah satu makanan Indonesia favorit gw adalah nasi goreng. Alesannya simpel: gw nggak perlu ribet-ribet makan nasi pake lauk dan sayur kalo gw makan nasi goreng. Sebenernya nasi goreng itu mungkin asli Cina, yang menyebar ke Asia bagian lainnya dan jadi makanan favorit di negara masing-masing. Personally, gw paling suka nasi goreng merah yang asalnya dari Malang atau Makassar. Varian nasi goreng lainnya juga gw suka.

Maka oleh karena daripada itu, pas gw main-selepas-kerja bareng teman-teman gw di salah satu mall elit di Jakarta, gw memesan nasi goreng. Kebetulan restorannya cukup kelihatan mewah dan enak buat ngumpul bareng. Restorannya sendiri mengandalkan menu bawang putih sebagai temanya, hmmm penasaran, gw sendiri adalah salah satu fans berat bawang putih. Teman-teman gw udah pada mesen dan katanya makanannya enak-enak. Definisi makanan yang gw pesen kayak gini: special fried rice with garlic pickles, shrimp, and asparagus. Ditambah lagi dengan tanda khusus chef recommendation di belakangnya. Oke, pesanan diminta, dibuat, dan diantar dan voila keluarlah makanan yang bentukannya seperti gini:



Buat gw yang udah mencicipi berbagai nasi goreng yang rasanya enak-enak, menurut gw rasanya standar. Malah cenderung aneh agak asem (bukan awesome) gara-gara ada acar bawang putih yang nyampur di dalemnya. Protein yang ada di dalem nasi goreng cuma 4 ekor udang berukuran sedang, sisanya cuma sayuran belaka.

Mau tahu berapa harganya? Rp 110.000,00 belum termasuk pajak restoran dan service charge.

Gw sendiri nggak masalah sekali makan buat gw ngehabisin duit segitu, tapi untuk sepiring nasi goreng??

Oh meeen... Dibandingin sama nasi goreng chinese food yang ada di Setu, Bekasi rasanya hampir sama. Dibandingin sama nasi goreng yang dijual restoran Cina yang ada di mall yang sama dan lebih murah rasanya beda jauh. Jangan dibandingin sama rasa nasi goreng merah berharga Rp 7.000,00 yang dijual di jalanan seantero Malang.

Gw jadi inget ada istilah menu nasi goreng yang dijual di deket kampus gw dulu di Salemba, si penjual menamakan menunya nasi goreng santri. Isinya cuma nasi + sayuran. Konon dinamakan santri gara-gara makanan para santri di pesantren emang rata-rata cuma nasi + sayur nggak pake protein. Nah, menu nasi goreng bawang putih yang gw pesen barusan rasanya hampir sama, agak plain, isi sayuran (bedanya si kangkung diganti sama si asparagus), dan ditambah sama 4 ekor udang.

Tuesday, September 25, 2012

1 Tahun Menjadi Dokter

Kemarin tepat setahun gw telah menjadi seorang dokter. Dan masa sekarang ini adalah masa yang tepat untuk berkontemplasi perjalanan setahun ini dan ke depannya.

"Devotio non mox promissio."
"Pengabdian bukan sekedar janji."

Itu kalimat yang diucapkan gw dan teman-teman saat disumpah menjadi dokter. Sebuah kalimat yang simpel, tapi setelah menjalani setahun profesi ini terasa berat untuk dijalani. Pengabdian sendiri merujuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah proses, perbuatan, cara mengabdi atau mengabdikan. Sementara mengabdi sendiri berarti menghamba; menghambakan diri; berbakti. Jadi pengabdian itu sendiri secara harfiah berarti suatu proses menghambakan diri kepada sesuatu. Tentu yang dimaksud dalam pengabdian di sumpah di atas tentu pengabdian kepada masyarakat. Kenapa gw bilang susah? Karena ternyata hidup itu tidak bisa hanya dengan mengabdi. Apalagi di zaman sekarang, menjadi dokter itu ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi dokter berurusan dengan nyawa seorang makhluk Tuhan, di sisi lain profesi dokter semakin tergradasi di mata masyarakat. Oleh karena itu pengabdian seorang dokter seakan mudah dilupakan orang, semakin kurang dihargai, namun wajib untuk dijalankan.

Jadi gw nggak heran kalo masa-masa sekarang ini banyak dokter yang dianggap 'matre' atau 'komersil'. Bukannya gw setuju dengan sikap 'matre' yang berlebihan dan tidak beralasan, namun penghargaan terhadap profesi dokter di Indonesia memang semakin menurun, in my opinion. Katakanlah, biaya kuliah kedokteran saat ini saat mahal dengan sudah menyentuh angka uang masuk Rp 100 juta di Fakultas Kedokteran (FK) swasta, jumlah FK di Indonesia saat ini mencapai 72 buah dengan tingkat kesetaraan yang berbeda-beda, jumlah lulusan semakin banyak, dan faktor lainnya; hal ini membuat kompetisi di dalam profesi ini juga makin ketat. Memang dengan jumlah penduduk Indonesia hampir 250 juta dan jumlah dokter terdaftar sebanyak 100.000 orang, rasio ini masih sangat kecil, jauh lebih kecil dari negara tetangga yang bahkan baru merdeka setelah kita merdeka. Akan tetapi jangan lupa bahwa dokter-dokter banyak yang berpusat di kota besar, terutama Jawa. Jadi menurut gw wajar saja kalo para dokter baru yang kuliah dengan biaya semahal itu berlomba-lomba untuk istilahnya 'mengembalikan modal' mereka yang telah dikeluarkan.

Itulah sebabnya pengabdian sudah semakin susah di zaman sekarang ini. Para dokter yang baru lulus saat ini diwajibkan untuk menjalani program internship oleh pemerintah. Tahukah anda berapa bayaran seorang dokter internship per bulan? Rp 1,2 juta per bulan. Itupun sempat dipertanyakan di dalam salah satu sesi sidang di komisi VII DPR mengapa dokter internship harus dibayar. Berapakah bayaran per bulan rata-rata untuk seorang dokter jaga UGD RS di masa-masa pertama dia kerja? Lebih banyak dari bayaran dokter internship namun tidak jauh berbeda. Gaji seorang dokter puskesmas? Hanya Rp 3,5 juta per bulan. Sebagai perbandingan, teman gw yang internship di negara tetangga mendapat bayaran sekitar Rp 14 juta per bulan. Gaji pertama untuk seorang insinyur yang bekerja di perusahaan? Jelas rata-rata lebih besar.

Nah, kembali ke kontemplasi. Entah kenapa gw baru melihat realitas ini di saat baru saja lulus menjadi dokter. Memang saat kuliah, dunia terasa indah, masa depan terasa cerah jika menjadi dokter. Bukannya gw berpesimis, namun gw miris melihat teman-teman sejawat banyak yang berkeluh kesah. Gw sendiri merasa bahwa pengabdian masih banyak yang bisa gw lakukan di mana dan kapanpun gw sempat. Masih banyak resolusi yang harus gw capai. Dahulu sudah berjanji, sekarang harus ditepati.

Masih sangat banyak hal positif yang bisa diambil dari dokter Indonesia. Masih sangat banyak dokter yang berniat mengabdi kepada masyarakat. Pengabdian seorang dokter yang terkecil bisa digambarkan dari kalimat seorang bijak bahwa tugas dokter adalah to cure sometimes, to relieve often, to comfort always.

Pesan terakhir gw untuk orang tua yang ingin anaknya menjadi dokter, atau untuk anak SMA yang bercita-cita menjadi dokter: berpikirlah seribu kali sebelum menceburkan diri ke profesi yang 'katanya' mulia ini.

"A journey of a thousand miles begins with a single step." - Lao Tzu

Monday, September 3, 2012

Random Call

"Dok..."

Panggilan itu sekarang udah mulai akrab di telinga gw, yah setidaknya udah hampir 1 tahun sejak lulus jadi dokter. Paling tidak panggilan itu hampir selalu dipake oleh orang-orang saat gw ada di rumah sakit atau sarana kesehatan.

Tapi ada kalanya, gw mendapat panggilan tersebut beberapa kali di tempat-tempat yang semestinya gw nggak dapet panggilan seperti itu. Ngerasa aneh? Tentu. Soalnya gw sendiri nggak terlalu suka dipanggil "dok" kalo urusannya personal atau di luar kerjaan kedokteran.

Suatu siang, saat menjalani bulan-bulan pertama internship di RSUD Kabupaten Bekasi, di pertigaan yang jauhnya 1 km dari RSUD, gw sedang jalan di pinggir jalan raya Cibitung setelah naik angkutan elf. Memang udah biasa kalo orang turun dari elf, ojek-ojek langsung ngerubungin biar mereka dapet pelanggan. Nah, di saat yang terik itulah, seorang tukang ojek tiba-tiba datang dan ngasih tawaran, "Ojek, Dok?"

Mungkin itu belum seberapa, baru-baru ini saat gw lepas dari RSUD dan udah tugas di puskesmas yang sekarang, gw mengisi bensin di salah satu pompa bensin di Cibitung saat jam 2 dini hari. Setelah ngisi, udah tinggal bayar, dan gw ngasih duit serta bilang makasih, penjaga pom bensin itu ikut nimpalin balik, "Makasih ya, Dok!"

Apa segitu terkenalnya gw sebagai dokter di Cibitung? Hanya Tuhan, tukang ojek, dan penjaga pom bensin yang tahu.

Friday, August 17, 2012

Kehidupan Puskesmas


Oke, hari-hari terakhir ini merupakan puncak kebosanan gw selama masa internship di Kabupaten Bekasi ini. FYI, gw saat ini lagi bertugas di Puskesmas Setu 1, salah satu dari dua puskesmas yang melayani warga Kecamatan Setu, Bekasi. Di sini gw bertugas bareng empat teman seangkatan gw, yaitu: dr. Citra Ariani, dr. Fatia Permata Sari, dr. Melinda Sari, dan dr. Paul Samuel Kris Manengkei. Penduduk di kecamatan ini juga cukup banyak dan bervariasi soalnya langsung berbatasan dengan wilayah Kota Bekasi. Pernah dengar yang namanya TPA Bantargebang? Nah, daerah gw ini lebih jauh dari situ. Total ada 70++ km yang harus gw jalani pulang-pergi tiap hari dari rumah gw yang ada di bilangan Tebet. Kalo masuk lewat jalan tol Jakarta-Cikampek, anda harus keluar di pintu tol Tambun sebelum menjalani hampir 10 km masuk ke dalam lagi. Desa yang merupakan wilayah puskesmas gw ini ada lima desa: Burangkeng, Cibening, Cijengkol, Ciledug, dan Lubang Buaya. Nah sudah kebayang sama demografi daerah ini? Gw akan lanjutkan ceritanya.

Balik lagi ke topik awal, gw telah mencapai puncak kebosanan selama di sini. Kenapa begitu? Karena memang sudah bosen aja (-__-"). Nggak deng. Sebenarnya banyak faktor yang berpengaruh. Pertama, gara-gara jaraknya yang super jauh dan butuh pengorbanan ekstra untuk menuju ke sana. Belum lagi jalanan di sana belum rata, masih ada yang berbatu-batu dan meminta ban mobil untuk bersabar menjalani cobaan.

Kedua, gara-gara irama kerja yang terlalu stagnan, bahkan saking stagnannya bisa dibilang terlalu santai. Secara pembagian kerja, tugas di puskesmas ini bisa dibagi ke lima bagian: balai pengobatan (BP), kesehatan ibu dan anak (KIA), posyandu/posbindu, puskesmas pembantu, dan puskesmas keliling/penyuluhan. Jadi selain dua orang yang melayani pengobatan di puskesmas, tiga orang lainnya mestinya harus kerja di luar puskesmas. Transportasi paling efektif tentu saja dengan sepeda motor, tapi syaratnya harus tahan sama panasnya udara Bekasi. Khusus untuk posyandu, tiap putaran di sini kami harus keliling posyandu yang tersebar di lima desa dan bagi-bagi gratis vitamin A dan imunisasi. Khusus untuk puskesmas pembantu yang letaknya nun jauh di Desa Ciledug, tugas di sini itu sangat super membosankan. Selain harus berpanas-panasan di jalanan yang jauh, kadang-kadang pasien di puskesmas pembantu itu cuma dua pasien/hari. Bisa dibayangkan betapa "krik-krik"-nya tugas di sini.

Ketiga, gara-gara ada kewajiban masuk tiap hari, bahkan + piket di hari Sabtu. Beda dengan di RSUD sebelumnya, jadwal gw nggak bisa gw atur sedemikian rupa sehingga jaga bisa diselingi sama liburan. Kalo sebelumnya gw bisa ambil libur hingga dua minggu, jangan harap di puskesmas itu bisa terjadi.

Keempat, gara-gara variasi pasien puskesmas yang itu-itu aja. Selama di RSUD gw bisa enjoy aja ngerjain tugas sehari-hari karena pasiennya nggak itu-itu aja. Tugas di puskesmas itu menyenangkan buat yang menyukai pengobatan preventif, tapi nggak menyenangkan buat yang menyukai pengobatan kuratif. Nggak di BP, nggak di KIA, semua pasien hampir sama: batuk pilek. Nggak heran kalo tangan gw capek nulis resep PCT, GG, CTM ke hampir semua pasien di sini. Sampai-sampai gw pingin untuk fotokopi tulisan resep yang cuma dikosongin jumlah obatnya aja, jadi gw bisa melayani pasien lebih cepat. Buat orang-orang yang haus belajar, jangan harap bisa belajar banyak penyakit di puskesmas. Puskesmas itu tempat belajar program-program kesehatan pemerintah.

Kelima dan yang terakhir, gara-gara udara Bekasi yang panas di musim kemarau ini. Awan di sini seolah bisa menipu, kadang-kadang menjelang siang awannya gelap, eeh di tengah siang matahari terik lagi. Belum lagi faktor polusi industri yang ada di kawasan Bekasi. Mungkin juga karena faktor gw memulai tugas di sini di bulan puasa, jadi udara yang panas malah bikin sedatif.

Sekian dulu aja deh, kalo ada perkembangan terbaru akan gw update di blog-blog gw yang selanjutnya. Keburu bakal mudik juga soalnya jadi gw nggak bisa berpanjang lebar di postingan ini. Selamat mudik dan selamat Idul Fitri. Mohon maaf bila ada salah, terutama kalo postingan kali ini nggak bermutu.


Wednesday, July 25, 2012

Patient Story (3)

Suatu pagi menjelang siang di poli umum RSUD Kabupaten Bekasi, seorang kakek berobat ke teman gw (seorang dokter).

Dokter: Ki, keluhannya apa?
Kakek: Ini dok, kaki saya kalo nginjek lantai rasanya dingin.

...................................


"Come on! Diagnosis, people?!" - Gregory House

Tuesday, July 24, 2012

Patient Story (2)

Saat menjelang siang, di balai pengobatan Puskesmas Setu 1, seorang pasien remaja perempuan berobat.

Gw: Kenapa neng?
Pasien: Kepala saya sakit banget nih dok kemarin malam.
Gw: Sakitnya di sebelah mana?
Pasien: Di belakang kepala dok.
Gw: Rasanya seperti ditekan gitu ya? Nggak ada sakit kepala sebelah?
Pasien: Iya dok, sampai ke seluruh kepala. Saya sih nggak pernah sakit sebelah. Saya sebelumnya udah ke 2 dokter di Jakarta dikasih beberapa obat tapi tetap aja muncul terus.
Gw: Ya udah ditensi dulu ya!

(Sambil perawat nensi pasien, gw membatin ngapain nih pasien berobat ke puskesmas ya abis berobat ke dokter swasta padahal obat puskesmas isinya ala kadarnya. Gw cuma ngasih 1 jenis obat generik)

Gw: Tensinya bagus kok. Banyakin minum aja ya. Saran saya kalo mau cek gula darah sama kolesterol. Terus ini saya kasih obat buat sakit kepalanya. Kalo mau saya resepin obat racikan biar nebus di apotik luar, soalnya obat puskesmas ya terbatas. Gimana?
Pasien: Nggak usah deh dok. Itu aja.
Gw: Kalo keluhannya masih berlanjut ke dokter spesialis saraf aja ya.
Pasien: Iya dok.

(Nggak lama kemudian)

Pasien: Dok, boleh minta surat sakit nggak?


"Beberapa pasien ujung-ujungnya surat sakit."

Sunday, July 15, 2012

8 Months in Short Story

Setelah lama gw nggak nulis blog, gw balik lagi dengan kesibukan yang baru lagi. Tepat seminggu yang lalu gw resmi dipindahtugaskan dari RSUD Kabupaten Bekasi ke Puskesmas Kecamatan Setu 1 yang letaknya sekitar 10 km lebih jauh. Jadi secara total gw harus bolak-balik sepanjang 35 km x 2 dari hari Senin-Sabtu. Belum lagi ditambah macet khas Jakarta-Bekasi yang didominasi sama truk trailer.

Macet di daerah ini memang sifatnya progresif. Dulu waktu gw pertama tugas di Cibitung, macet cuma terjadi kalo berangkat sore ke Cibitung atau pulang pagi ke Jakarta. Sekarang tambah parah. Macet pasti terjadi sebelum interchange Cikunir sama ruas Bekasi Timur-Cibitung, nggak peduli mau berangkat jam berapa. Pernah gw pulang jam 12 malam dari Cibitung ke arah Jakarta, di arah sebaliknya masih macet. Entah karena banyak perbaikan jalan, karena kecelakaan, atau gara-gara demo buruh, tapi yang pasti penyebab utamanya itu karena makin banyak mobil dan truk.

Secara umum tugas di rumah sakit itu ya gitu-gitu aja: jaga UGD, jaga poli, visit ruangan. Variasi pasiennya banyak banget dan kapasitas pasiennya kurang banget. Rumah sakit ini juga terkenal suka ngerujuk pasien gara-gara kamarnya penuh. Ya iyalah, kapasitasnya untuk pasien jaminan cuma 54 bed. Jadi maafkan gw ya pasien-pasienku, dokter-dokter yang ada di RS rujukan kalo jadi susah. Jaga UGD-nya kadang-kadang santai, kadang-kadang juga nggak bisa istirahat dari pertama masuk sampai ganti shift. Oiya, di RS ini juga dijadikan tempat pendidikan koass dari Yarsi. Dibandingkan sama kehidupan koass gw dulu, gw ngerasa kehidupan mereka jauh lebih bahagia dan minim tekanan. Dan gw juga baru ngerasa kalo pressure seorang DPJP UGD atau residen itu lebih berat dari yang gw bayangin selama gw koass dulu. Pernah teman gw kena marah-marah sama pasien sampai dilaporin ke komite medik, pernah juga debat sama pasien anggota DPRD yang sok penting, dan informed consent  ke keluarga pasien kalo pasien ini harus dirujuk, ternyata nggak segampang teorinya. Belum lagi dimarahin sama spesialis kalo konsulnya sembarangan. Mungkin itu ilmu paling berharga yang gw dapat di Cibitung.

Anyway, bila anda berkunjung ke Cibitung, jangan harapkan anda akan mendapatkan sajian kuliner yang otentik dari daerah ini. Makanan di sini hampir sama dengan Jakarta, bahkan dengan harga yang kadang-kadang lebih mahal dari standar Jakarta yang penyebabnya entah kenapa. Untuk pengunjung RSUD, jangan lewatkan untuk makan di warung Mak Gambreng yang ada di sebelah UGD. Warung ini menurut gw adalah tempat yang menyajikan makanan terenak di seluruh Cibitung. Makanannya bervariasi: lontong sayur, nasi uduk, dan nasi dengan lauk rumahan.

Bila dibandingkan dengan Cibitung, kecamatan Setu lebih pedalaman lagi. Seperti biasa, kalo gw masuk ke daerah baru salah satu hal pertama yang gw tanyakan adalah makanan apa yang enak di daerah itu. Banyak orang bilang ada warung masakan Sunda dan warung Padang yang enak di daerah dekat Puskesmas, tapi setelah gw coba rasanya nggak lebih enak dari yang ada di Cibitung. Tampaknya strategi diet bisa gw lakukan di stase puskesmas apalagi ditambah nantinya bulan puasa.

Selain hal-hal berkaitan sama internship dan makan-memakan di atas, gw juga punya kesibukan tambahan sebagai pengajar di salah satu bimbel UKDI. Itung-itung nambah penghasilan dan refresh ilmu selama masa internship. Soalnya jujur, selama masa internship kami nggak bakal dapat ilmu terbaru sebanyak masa koass. Sebenernya, di Bekasi sendiri udah terkenal sebagai kotanya klinik-klinik kecil, sehingga tawaran jaga klinik itu sangat banyak. Tapi berhubung gwnya sendiri yang males ngabisin 12 jam demi 100 ribu rupiah rata-rata, menurut gw bayaran segitu masih nggak worth dengan pekerjaannya.