Showing posts with label culinary. Show all posts
Showing posts with label culinary. Show all posts

Thursday, January 24, 2013

Menuju Ujung Barat Pulau Jawa

Perjalanan kali ini yang gw lakuin akhir-akhir ini adalah ke bagian barat Pulau Jawa. Yah, boleh dibilang sebenernya hampir semua bagian Pulau Jawa udah gw jamah sebelumnya, cuma daerah ini aja dan beberapa bagian lagi yang masih belum. Bisa dibilang agak over, karena dalam 2 minggu di bulan Januari gw 2 kali ke ujung Jawa ini. Yang pertama, anti-mainstream karena ngerayain tahun baru di pulau terpencil di Ujung Kulon; yang kedua, karena ikut tim relawan bencana di Pandeglang.

Gw nggak menyia-nyiakan kesempatan ketika ada ajakan dari seorang teman untuk bertahun baru di suatu tempat bernama Ujung Kulon. Sebenernya karena udah bosen ngerayain tahun baru di Jakarta. Di kebanyakan tahun-tahun baru sebelumnya gw sering menghabiskan waktu seperti malam-malam biasanya: di rumah, nonton TV sampai ngantuk, dan kemudian tidur abis ngeliat kembang api dari jauh. Pernah suatu kali, nyoba keluar ke arah Thamrin-Sudirman, macetnya luar biasa dan gw kapok untuk tahun baruan di sana. Tahun sebelumnya malah gw ngehabisin waktu jaga UGD dan nongkrong di atas gedung buat ngelihat kembang api. Jadi, nggak ada salahnya mencoba wisata yang agak beda kali ini.

Karena teman gw bawa teman bulenya juga dari Italia, kami pilih cara mudah untuk bepergian: ikut travel. Sebenarnya susah juga sih kalo mau backpacking sendiri ke Ujung Kulon, ujung-ujungnya jatuhnya mahal. Bepergian pake travel emang menyenangkan, selain nggak perlu mikir itinerary sendiri, nggak perlu mikir akomodasi dan transportnya, makan pun udah dijamin. Kekurangannya ya nggak bisa nentuin tujuan dan durasi dengan bebas, but never mind. Mau berangkat sendiri atau pake travel tempat wisata di Ujung Kulon juga sama aja. Dalam dua hari perjalanan kita bisa dapet Pulau Peucang, Cibom, mercu suar Tanjung Layar, padang rumput Cidaon, dan canoeing di Handeuleum. Begitu kata orang travel.

Perjalanan ini sepertinya nggak bakal berjalan lancar, feeling gw. Dan bener, karena kebiasaan gw packing 2 jam sebelum berangkat, kamera yang udah gw bawa ke mobil ujung-ujungnya nggak kebawa. Jadilah perjalanan ini nggak pake acara foto-foto. Udah gitu awal Januari musim hujan lagi deres-deresnya. Bener aja, perjalanan perahu dari Sumur (desa terakhir di Pulau Jawa untuk ke Ujung Kulon) sampai ke Peucang diserang sama ombak-ombak tinggi. Awalnya cuma 0,5 meter, eh kemudian jadi 1 meter, begitu udah di tengah laut jadi 1,5 meter. Antimo pun nggak bisa mencegah muntahan gw, dan seluruh penumpang beserta bawaannya basah kuyup diterpa ombak selama perjalanan 3-4 jam.

Pulau Peucang sendiri sebenernya pulau yang biasa aja (menurut gw), cuma karena lokasinya yang terisolir jadi tujuan wisata. Di sana cuma ada penginapan yang dikelola sama balai taman nasional tanpa restoran ataupun toko untuk menjual barang sehari-hari. Jadi sangat salah kalo ke Peucang tanpa bawa air minum yang cukup dan snack. Penginapannya sendiri sebenernya cukup bersih. Di tengah penginapan terdapat padang rumput tempat rusa, babi hutan cari makanan. Perjalanan selanjutnya ke Cibom sendiri nggak jauh-jauh amat, cuma ombak Selat Sunda di musim hujan memang menantang. Perjalanan trekking dari Cibom ke Tanjung Layar (the westernmost point of Java) akhirnya dibatalkan gara-gara cuaca yang nggak bersahabat, takutnya nggak bisa pulang. Padang rumput Cidaon pun sama aja. Biasanya di sana jadi tempat banteng, rusa, dan merak ngumpul, cuma gara-gara hujan semuanya menghilang. Snorkling di Selat Peucang pun juga nggak seimpresif snorkling di Flores (ya iyalah!). Apalagi hujan yang deres di tengah laut bikin laut jadi bergejolak dan jarak pandang jadi dekat. Terpaksa memang waktu harus dihabiskan di Pulau Peucang.

Perayaan malam tahun baru sendiri dirayain sederhaa sama BBQ dan kembang api bareng wisatawan lain di Peucang. Keesokan harinya, masih ada waktu untuk snorkling. Untuk pulangnya, teman yang bule udah kapok ngebayangin untuk naik kapal selama 3-4 jam dengan ombak segede gaban. Tapi begitu dikasih tau kalo jalan kaki butuh waktu seminggu akhirnya dia nyerah juga. Tujuan selanjutnya Handeuleum, tujuannya canoeing. Eh, ujung-ujungnya batal juga karena hujan deras menyerang di tengah perjalanan. Jadilah perjalanan ini sebenarnya cuma ngabisin waktu buat pengangguran seperti gw. Nggak ketemu badak juga yang jadi ikon Taman Nasional Ujung Kulon.

Perjalanan yang kedua sebenarnya nggak sejauh perjalanan pertama. Awalnya gara-gara diajak untuk ikut bantuin bencana banjir di Pandeglang. Setelah kumpul di kantor relawan di Ciputat, gw dan 5 orang lainnya berangkat ke Pandeglang cuma modal alamat. Dengan modal Blackberry map juga akhirnya setelah 4 jam nyampe juga di Desa Pagelaran, Pandeglang. Desa ini itungannya udah jau banget dari Jakarta, dekat dengan pantai Labuan. Dari yang awalnya cuma rencana pulang balik sehari, ujung-ujungnya jadi nginep karena akses ke tempat bencana yang masih tinggi ditutup banjir. Oiya, jangan lupa kalo ke daerah Labuan mampir ke rumah makan Bu Entin yang spesialis otak-otak tenggiri, dijamin nggak bakal nyesel. Begitulah, wisata kuliner tetap harus dilakuin walau ada bencana sekalipun.

Keesokan harinya dengan mobil 4WD, banjir itu bisa juga ditembus. Kasihan memang, banyak warga yang masih belum tersentuh bantuan logistik ataupun medis. Sebenarnya para relawan masih butuh tim medis untuk bantuan selama seminggu ke depan, namun apa daya karena masih ada keperluan di Jakarta keesokan harinya kami harus pulang. Banyak cerita-cerita heroik warga di balik bencana banjir ini.

Begitulah rangkuman perjalanan gw ke ujung barat Jawa kemarin. In conclusion, akibat perjalanan sebelumnya yang ke Flores, sekilas Ujung Kulon jadi nggak terlalu bagus menurut gw. Tapi yang mau mencoba terisolasi dengan jarak relatif dekat dari Jakarta, destinasi ini dapat dicoba.


Saturday, December 29, 2012

Flores: Labuanbajo

Kota persinggahan terakhir yang kami kunjungi di Flores adalah Labuanbajo, Fiuuuhh... akhirnya sampai juga di ujung barat Flores setelah sebelumnya perjalanan dari Maumere. Seneng? Nggak sama sekali, karena udah deket-deket mau pulang. Labuanbajo dulunya adalah desa nelayan yang merupakan bagian dar Kab. Manggarai. Tapi berhubung perkembangan pariwisata di Pulau Komodo, kota ini mengalami perkembangan yang signifikan dan akhirnya baru-baru ini dapat jatah pemekaran kabupaten. Perjalanan Ruteng - Labuanbajo memakan waktu 4 jam dengan jalan yang lagi-lagi kelok-kelok. Jalan yang lurus cuma bagian jalan yang ada di wilayah Lembor. Untuk mencapai Labuanbajo dari Lembor harus menembus gunung lagi.

Kota Labuanbajo sendiri nggak terlalu besar. Ada bagian kota baru yang terletak lebih tinggi, di situ terletak kantor-kantor pemerintahan dan juga Bandara Komodo. Sementara kota lama yang bekas desa nelayan ada di bagian bawah. Di situ terdapat jalan 1 arah (Jl. Soekarno-Hatta) yang dimulai dari pasar ikan Labuanbajo. Suasana Labuanbajo sendiri benar-benar beda sama kota lainnya di Flores, banyak kafe, hotel, rumah makan, agen wisata dan dive, pokoknya udah seperti kota internasional karena banyaknya bule di sini. Tapi ya jangan bayangkan Labuanbajo seperti Kuta, kota ini kalo udah malam ya nggak ada aktivitas juga.

Kami sendiri nggak banyak berkesempatan eksplorasi tempat-tempat wisata di sekitar Labuanbajo, karena fokus ke kepulauan Komodo. Jadi yang dilakukan di sini adalah makaaaaan! Maklum, udah beberapa hari nggak ngerasain makanan modern. Yang pertama kami kunjungi adalah warung kaki lima yang ada di pantai sebelah pasar ikan Komodo. Namanya gw lupa, mungkin warung Jawa atau semacam itu lah. Sebenernya nggak susah nyarinya, warung ini paling jauh dari pasar ikan, dekat dengan persimpangan dari atas. Warungnya pun kalo malam paling rame. Di sini yang harus dicoba adalah ikan kerapu bakarnya, cuma 25 ribu rupiah per ekor bokk. Satu orang bisa nyantap 1 ikan bakar + nasi hangat.

Makanan lain yang kami coba adalah rumah makan Arto Moro yang letaknya di Jl. Soekarno-Hatta. Tempat makan ini ada di lantai 2, jadi harus naik tangga dulu dari depan. Menu yang ada di sini adalah semacam pecel ayam di Jakarta, atau kalo gw makannya pecel cumi-cumi. Rasanyaaa? Yah lumayan lah, semacam bayar kekangenan makanan Jawa. Nah, untuk makanan, yang paling gw rekomendasikan adalah kafe yang bernama Tree Top. Kafe ini menyajikan pemandangan sunset yang paling bagus se-Bajo. Jadi buat yang mau hangout, ngabuburit, atau yang mau romantis-romantisan tempat ini cocok. Makanannya juga bervariasi dari western, chinese, hingga Indonesia, tapi enak-enak! Coba kunjungi page-nya di Trip Advisor pasti tanggapannya positif semua. Pelayanannya pun juga memuaskan, ada biliar di lantai bawah yang bisa dipake secara gratis, restoran di lantai 2, dan lounge untuk menginap gratis di lantai 3. Ada wi-fi gratis yang cepet pula. Sebenernya gw masih belum pantes sih untuk rekomendasi tempat makan di Labuanbajo karena gw nggak nyicipin semuanya. Ada Mediterraneo dan MadeInItaly yang nyajiin makanan Italia, Paradise Bar, Bajo Bakery, The Corner, Gelato & U yang semuanya nggak sempet gw coba. Setelah gw browsing lagi sih, La Veria yang tempatnya agak jauh dari kota bisa jadi pilihan untuk makan enak :)

Untuk hotel ada banyak pilihan di kota ini. Untuk eksekutif yang mengutamakan kenyamanan tentu bisa memilih Bintang Flores atau Jayakarta. Kalo seperti kami-kami ini yang budget traveler, tentu harus pilih-pilih, bujet mentok 200 ribu per kamar per malem. Gardena sebenernya bisa jadi pilihan karena tempatnya yang enak dan ada view yang bagus dari atas, cuma waktu ke sana kamarnya penuh. Mutiara merupakan pilihan yang reasonable: kamarnya cukup bersih, harganya murah, lumayan adem, deket sama pelabuhan, dan pengelolanya ramah, cuma waktu hari pertama ke sana kamarnya udah penuh, jadi pastiin dulu untuk booking sebelumnya. Hari pertama kami nginep di Wisata yang letaknya jauh dari pelabuhan dan kamarnya gerah abis. Kalo kepaksa sih boleh aja kalo mau nginep di sana. Satu hal yang pasti, walaupun kepaksa jangan nginep di hotel namanya Matahari. Teman kami, Yudi, yang sebelumnya ketemu di Wae Rebo udah pernah nginep di sana dan simply not recommended at any cost.

Tempat wisata yang banyak dikunjungi di sana adalah Gua Cermin dan juga air terjun Cunca Rami. Cuma sayang kami nggak berkesempatan ke sana.

Bandara Komodo sendiri melayani 3 maskapai: Trans Nusa, Merpati, dan juga Wings Air. Saran gw pakailah maskapai selain Merpati, karena gw udah punya pengalaman flight gw dimajuin seenaknya dan baru dikasih tau 1 jam sebelum berangkat saat gw masih terlelap di kamar hotel. Masih mending dimajuin dan gw lagi ada di kota yang cuma sekitar 5 menit dari bandara. Ada cerita bahkan Merpati kadang-kadang juga delay penerbangan sampai keesokan harinya. Hadeeehh.

Jangan lupa juga begitu nyampe di Labuanbajo adalah cari kapal untuk di-booking keesokan harinya buat yang mau tur Komodo, atau cari dive center yang cocok buat yang mau nyelem. Satu lagi, sebaiknya siapkan duit yang cukup secara tunai di Bali. Di sana sepertinya nggak ada pelayanan kartu kredit. Dan juga ATM pun yang ada cuma ATM BRI dan BNI. Jadi buat gw yang pake bank swasta harus hemat-hemat biaya biar bisa pulang balik ke Jakarta hehehe.






Sunday, October 14, 2012

Tragedi Nasi Goreng

Sudah sewajarnya gw sebagai orang Indonesia aseli menyukai masakan Indonesia aseli juga. Beneran. Mau makan di hotel bintang lima sekalipun yang all you can eat, tetep makanan yang paling pas di lidah gw adalah menu Indonesianya.

Salah satu makanan Indonesia favorit gw adalah nasi goreng. Alesannya simpel: gw nggak perlu ribet-ribet makan nasi pake lauk dan sayur kalo gw makan nasi goreng. Sebenernya nasi goreng itu mungkin asli Cina, yang menyebar ke Asia bagian lainnya dan jadi makanan favorit di negara masing-masing. Personally, gw paling suka nasi goreng merah yang asalnya dari Malang atau Makassar. Varian nasi goreng lainnya juga gw suka.

Maka oleh karena daripada itu, pas gw main-selepas-kerja bareng teman-teman gw di salah satu mall elit di Jakarta, gw memesan nasi goreng. Kebetulan restorannya cukup kelihatan mewah dan enak buat ngumpul bareng. Restorannya sendiri mengandalkan menu bawang putih sebagai temanya, hmmm penasaran, gw sendiri adalah salah satu fans berat bawang putih. Teman-teman gw udah pada mesen dan katanya makanannya enak-enak. Definisi makanan yang gw pesen kayak gini: special fried rice with garlic pickles, shrimp, and asparagus. Ditambah lagi dengan tanda khusus chef recommendation di belakangnya. Oke, pesanan diminta, dibuat, dan diantar dan voila keluarlah makanan yang bentukannya seperti gini:



Buat gw yang udah mencicipi berbagai nasi goreng yang rasanya enak-enak, menurut gw rasanya standar. Malah cenderung aneh agak asem (bukan awesome) gara-gara ada acar bawang putih yang nyampur di dalemnya. Protein yang ada di dalem nasi goreng cuma 4 ekor udang berukuran sedang, sisanya cuma sayuran belaka.

Mau tahu berapa harganya? Rp 110.000,00 belum termasuk pajak restoran dan service charge.

Gw sendiri nggak masalah sekali makan buat gw ngehabisin duit segitu, tapi untuk sepiring nasi goreng??

Oh meeen... Dibandingin sama nasi goreng chinese food yang ada di Setu, Bekasi rasanya hampir sama. Dibandingin sama nasi goreng yang dijual restoran Cina yang ada di mall yang sama dan lebih murah rasanya beda jauh. Jangan dibandingin sama rasa nasi goreng merah berharga Rp 7.000,00 yang dijual di jalanan seantero Malang.

Gw jadi inget ada istilah menu nasi goreng yang dijual di deket kampus gw dulu di Salemba, si penjual menamakan menunya nasi goreng santri. Isinya cuma nasi + sayuran. Konon dinamakan santri gara-gara makanan para santri di pesantren emang rata-rata cuma nasi + sayur nggak pake protein. Nah, menu nasi goreng bawang putih yang gw pesen barusan rasanya hampir sama, agak plain, isi sayuran (bedanya si kangkung diganti sama si asparagus), dan ditambah sama 4 ekor udang.

Sunday, July 15, 2012

8 Months in Short Story

Setelah lama gw nggak nulis blog, gw balik lagi dengan kesibukan yang baru lagi. Tepat seminggu yang lalu gw resmi dipindahtugaskan dari RSUD Kabupaten Bekasi ke Puskesmas Kecamatan Setu 1 yang letaknya sekitar 10 km lebih jauh. Jadi secara total gw harus bolak-balik sepanjang 35 km x 2 dari hari Senin-Sabtu. Belum lagi ditambah macet khas Jakarta-Bekasi yang didominasi sama truk trailer.

Macet di daerah ini memang sifatnya progresif. Dulu waktu gw pertama tugas di Cibitung, macet cuma terjadi kalo berangkat sore ke Cibitung atau pulang pagi ke Jakarta. Sekarang tambah parah. Macet pasti terjadi sebelum interchange Cikunir sama ruas Bekasi Timur-Cibitung, nggak peduli mau berangkat jam berapa. Pernah gw pulang jam 12 malam dari Cibitung ke arah Jakarta, di arah sebaliknya masih macet. Entah karena banyak perbaikan jalan, karena kecelakaan, atau gara-gara demo buruh, tapi yang pasti penyebab utamanya itu karena makin banyak mobil dan truk.

Secara umum tugas di rumah sakit itu ya gitu-gitu aja: jaga UGD, jaga poli, visit ruangan. Variasi pasiennya banyak banget dan kapasitas pasiennya kurang banget. Rumah sakit ini juga terkenal suka ngerujuk pasien gara-gara kamarnya penuh. Ya iyalah, kapasitasnya untuk pasien jaminan cuma 54 bed. Jadi maafkan gw ya pasien-pasienku, dokter-dokter yang ada di RS rujukan kalo jadi susah. Jaga UGD-nya kadang-kadang santai, kadang-kadang juga nggak bisa istirahat dari pertama masuk sampai ganti shift. Oiya, di RS ini juga dijadikan tempat pendidikan koass dari Yarsi. Dibandingkan sama kehidupan koass gw dulu, gw ngerasa kehidupan mereka jauh lebih bahagia dan minim tekanan. Dan gw juga baru ngerasa kalo pressure seorang DPJP UGD atau residen itu lebih berat dari yang gw bayangin selama gw koass dulu. Pernah teman gw kena marah-marah sama pasien sampai dilaporin ke komite medik, pernah juga debat sama pasien anggota DPRD yang sok penting, dan informed consent  ke keluarga pasien kalo pasien ini harus dirujuk, ternyata nggak segampang teorinya. Belum lagi dimarahin sama spesialis kalo konsulnya sembarangan. Mungkin itu ilmu paling berharga yang gw dapat di Cibitung.

Anyway, bila anda berkunjung ke Cibitung, jangan harapkan anda akan mendapatkan sajian kuliner yang otentik dari daerah ini. Makanan di sini hampir sama dengan Jakarta, bahkan dengan harga yang kadang-kadang lebih mahal dari standar Jakarta yang penyebabnya entah kenapa. Untuk pengunjung RSUD, jangan lewatkan untuk makan di warung Mak Gambreng yang ada di sebelah UGD. Warung ini menurut gw adalah tempat yang menyajikan makanan terenak di seluruh Cibitung. Makanannya bervariasi: lontong sayur, nasi uduk, dan nasi dengan lauk rumahan.

Bila dibandingkan dengan Cibitung, kecamatan Setu lebih pedalaman lagi. Seperti biasa, kalo gw masuk ke daerah baru salah satu hal pertama yang gw tanyakan adalah makanan apa yang enak di daerah itu. Banyak orang bilang ada warung masakan Sunda dan warung Padang yang enak di daerah dekat Puskesmas, tapi setelah gw coba rasanya nggak lebih enak dari yang ada di Cibitung. Tampaknya strategi diet bisa gw lakukan di stase puskesmas apalagi ditambah nantinya bulan puasa.

Selain hal-hal berkaitan sama internship dan makan-memakan di atas, gw juga punya kesibukan tambahan sebagai pengajar di salah satu bimbel UKDI. Itung-itung nambah penghasilan dan refresh ilmu selama masa internship. Soalnya jujur, selama masa internship kami nggak bakal dapat ilmu terbaru sebanyak masa koass. Sebenernya, di Bekasi sendiri udah terkenal sebagai kotanya klinik-klinik kecil, sehingga tawaran jaga klinik itu sangat banyak. Tapi berhubung gwnya sendiri yang males ngabisin 12 jam demi 100 ribu rupiah rata-rata, menurut gw bayaran segitu masih nggak worth dengan pekerjaannya.

Sunday, April 8, 2012

Kuliner Lagi di Jawa

2 minggu yang lalu, akhirnya libur yang gw tunggu-tunggu datang juga. Bukan libur seperti hari-hari biasa karena saat internship sebenernya banyak hari libur kalo bisa ngatur jadwal, tapi libur yang bener-bener liburan ke luar kota. Lokasinya pun agak jauh walaupun masih di dalam pulau Jawa: kota Solo. Tujuan ini dipilih karena berbagai alasan: 1. Tempat yang relatif dekat dengan Jawa Barat karena gw dan temen-temen cuma punya waktu terbatas untuk liburan; 2. Kebetulan ada temen yang lagi internship di sana; 3. Moda transportasi ke sana yang beragam, yang akhirnya memisahkan rombongan jadi 2 kloter kereta api dan pesawat; 4. Pilihan jenis wisata yang beragam, antara lain kuliner, wisata kota, wisata budaya, hingga wisata alam.

Akhirnya itinerary pula yang membawa gw selain ke Solo juga ke Jogja dan Dieng. Tapi yang tetep jadi fokus utama di itinerary itu tetep adalah wisata kuliner. Demi kuliner juga gw bela-belain diet dan riset kuliner sebelum liburan untuk persiapan dan hasilnya berat badan gw naik 2 kg selama liburan. Berikut ini daftar makanan yang gw hajar selama liburan kemarin:

1. Gudeg ceker Bu Kasno
Ini dia pilihan pertama gw begitu turun di stasiun Solobalapan jam 2 dini hari. Lokasinya nggak jauh dari stasiun, tepatnya di Jl. Monginsidi. Gampang untuk dicari, tinggal lihat aja tempat paling rame saat dini hari tersebut. Banyak orang yang bela-belain datang ke sini hanya untuk mencicipi cekernya. Gw sendiri sebenernya nggak suka ceker, tapi kalo udah datang ke tempat kuliner dan andalannya adalah ceker maka makanan itu harus gw coba. Gudegnya? Yaa hampir sama dengan rasa gudeg di tempat lain. Tapi cekernya memang harus gw akui enak dan empuk.

2. Sate kere
 Sesuai dengan namanya, sate kere berarti satenya 'orang miskin'. Bukan tanpa alasan, ate kere adalah sate yang bahannya dari tempe gembus dan juga jeroan sapi. Gw nggak berkesempatan ke tempat penjualannya, karena gw dibawain sate ini sama temen. Rasanya? Karena gw nggak suka sama yang namanya jeroan, jadi yang gw makan cuma sate tempe gembusnya. Bumbu bacemnya terlalu manis, apalagi kalo ditambah kuah kacang yang manis juga.

3. Nasi liwet
Yang namanya nasi liwet di Solo itu sama aja dengan penjual nasi uduk di Jakarta. Kalo di Jakarta biasa dijumpai warung nasi uduk di jalan-jalan, nah di Solo nasi liwet sama seperti itu. Ada beberapa yang terkenal, seperti nasi liwet Wongso Lemu Keprabon. Tapi dari beberapa kali makan nasi liwet ya rasanya hampir sama semua. Yang terkenal berarti lebih mahal juga harganya.

4. Serabi Notosuman
Serabi ini memang nggak ada tandingannya. Rasa yang lembut bercampur rasa manis-asin pasti bikin mulut pingin makan terus, apalagi kalo disajikan hangat. Kata orang Solo, walaupun ada saingannya, serabi ini masih belum ada yang ngalahin.

5. Timlo Sastro

Timlo adalah makanan khas Solo yang kuahnya mirip sop ayam. Gw kira timlo itu isinya macam-macam seperti timlo yang gw makan selama ini, ada bihunnya. Ternyata timlo di tempat ini isinya cukup simpel: potongan daging ayam, ati ampela, pindang telor dan sosis solo. Rasanya? Luar biasa! Apalagi ditambah dengan sambel kecap dan dimakan siang hari. Lokasinya yang terletak di belakang Pasar Gede selalu dipenuhi orang kalo jam makan siang.

6. Selat Solo Vien's
 Selat solo mungkin adalah hidangan warisan Belanda yang dimodifikasi sama orang lokal. Sekilas penampakannya mirip bistik tapi berkuah. Kuahnya rasa manis gurih, berisi kentang goreng, buncis, wortel, bola daging, telor dan acar yang dicampur mayonais. Walaupun penampilannya yang terkesan mahal, harga per porsinya cuma Rp 7 ribu dan bikin kenyang. Ada juga makanan lain yang baru pertama gw coba, yaotu sop matahari dan sop manten, semacam sop ayam yang diisi dengan semacam martabak isi/rolade. Nggak heran kalo makan siang di sini selalu rame. Sebenernya ada juga tempat menjual selat solo yang terkenal di RM Kusuma Sari, tapi harganya lebih mahal.

6. Sate buntel Tambak Segaran
Sate buntel adalah sate daging kambing yang luarnya dilapisi dengan lemak kambing. Nggak heran bau kambingnya masih semerbak. Yang terkenal adalah sate Tambak Segaran di Jl. Sutan Syahrir. Porsinya gede banget, sehingga cukup untuk dimakan berame-rame. Selain sate, di restoran ini juga dijual gule dan tongseng.

7. Angkringan
Angkringan adalah istilah yang khas di daerah Jogja & Solo untuk warung ngopi malam hari. Hampir di setiap kampung pasti terdapat angkringan. Biasanya menjual nasi kucing + lauk-lauknya yang unik seperti sate keong, sate bekicot, sate telor puyuh, sate jeroan, gorengan dan juga cemilan-cemilan seperti sosis solo dan pisang coklat. Jangan lupa juga untuk nyicip wedang jahe, cocok untuk mengusir ngantuk dan capek.

8. Restoran Bale Raos
 Restoran Bale Raosadalah restoran yang spesialisasinya jual makanan khas dapur kraton Jogja. Nggak heran kalo isinya adalah makanan-makanan kesukaan Sri Sultan dari jaman dulu. Makanannya bervariasi, dari bistik, bebek, ayam, hingga sup, tapi yang pasti minuman andalannya adalah bir jawa. Lokasinya agak nyempil di belakang kraton. Sebenernya ada restoran lain yang menjual makanan serupa yaitu Gadri yang lebih dekat dengan alun-alun utara, tapi menurut gw Bale Raos lebih enak. Kekurangannya cuma satu: mahal!

9. Susu segar
Kaki lima yang menjual susu segar dan olahannya tersebar di jalanan kota Solo. Lengkap dengan makanan pelengkap lain seperti mie instan atau roti & tape bakar. Mungkin salah satu warung yang terkenal adalah Shi Jack.

10. Pecel Mbok Kami

Kali ini agak keluar dari Solo-Jogja, tepatnya di Ambarawa. Pecel Mbok Kami ini sangat terkenal hingga mobil-mobil luar kota pada mampir cuma untuk sekedar makan siang. Tempatnya pas di tengah perjalanan gw dan teman-teman dari Solo ke Dieng. Lokasinya nggak susah dicari, yaitu di jalan depan RS Ambarawa. Hampir sama dengan pecel lain, pecel ini berisi nasi, sayur dan gorengan yang disiram kuah kacang. Tapi rasanya enak bener, mungkin juga karena efek laper di tengah perjalanan. Apalagi kalo ditutup dengan es dawet.

11. Mie Ongklok

Inilah makanan khas Wonosobo dan Dieng: mie ongklok. Gw sendiri baru merasakan makanan ini pertama kali. Mie ongklok adalah makanan yang berupa mie kuning  dengan sayur sawi yang disiram kuah kanji yang manis-pedas. Nggak disangka rasanya ternyata enak apalagi kalo dimakan bersama sate sapi, cocok buat melawan hawa dingin Dieng. Minuman khas Dieng adalah purwaceng, semacam kopi yang diseduh bersama rempah-rempah.

12. Nasi goreng jawa Pak Pele

Lokasi kaki lima nasi goreng jawa yang terkenal ini tepat di depan kraton Jogja di alun-alun utara. Pengunjungnya selalu rame, nggak heran kalo tempat yang disediakan juga luas hingga ke lesehan-lesehan di trotoar walaupun cuma dilayani oleh dua gerobak. Makanan yang disajikan standar ala nasi gorang jawa pada umumnya dengan andalan magelangan dan mi godhog. Tapi rasanya memang enak walaupun harganya agak mahal pada standar makanan Jogja.

13. RM Adem Ayem
Rumah makan ini terkenal seantero Solo karena menjual hampir semua makanan khas Solo di restorannya. Gw sendiri mengunjungi restoran ini bukan untuk makan tapi untuk beli oleh-oleh gudeg kendil Solo. Gudeg Solo memang sedikit beda dibandingkan gudeg Jogja, gw cuma bisa membedakan rasanya yang kurang manis dibandingkan gudeg Jogja. Selain gudeg dan makanan Solo sebagai andalannya, restoran ini juga menjual makanan ala barat. Harganya juga sedikit mahal karena namaya udah terkenal.



Sunday, February 12, 2012

Random Trip

Perjalanan gw baru-baru ini benar-benar random. Libur 3 hari hasil tuker-tukeran jadwal sama teman menghasilkan ide jalan-jalan singkat kali ini yang tujuannya nggak jauh-jauh: Kota Tua Jakarta. Entah kenapa gw kesambet untuk jalan-jalan ke daerah sini, sendirian pula. Sebenarnya gw udah termasuk sering untuk pergi ke Kota, terakhir kali mungkin tahun 2010 (bukan sering ini namanya sih!). Rata-rata hampir pasti selalu tiap ke sini ngunjungi Museum Sejarah Jakarta, yang dari tahun ke tahun ya gitu-gitu aja. Makanya perjalanan ke Kota kali ini gw targetkan untuk jalan-jalan ke tempat yang belum pernah gw datengin dengan jalan kaki, mumpung badan masih kuat untuk diajak jalan jauh.

Perjalanan dimulai di stasiun Tebet, gw akan menggunakan kereta commuter line menuju ke stasiun Jakartakota. Hari itu, Kamis, 9 Februari 2012, memang cocok untuk jalan-jalan ke Kota. Matahari cukup cerah (baca: panas) untuk jalan-jalan. Wisatawan masih sepi, justru yang banyak adalah pedagang-pedagang yang mau ke daerah Mangga Dua. Commuter line cukup sepi karena gw emang sengaja nunggu untuk berangkat agak siangan biar nggak ikut-ikutan urbanisasi orang Bogor ke Jakarta. Begitu masuk kereta gw udah disajikan pemandangan yang super aneh, ada pedagang rambutan dengan 3 bakul gedenya di dalem kereta ber-AC ini. Gw jepret-jepret dulu deh dia sambil cuek, lumayan untuk koleksi foto. Kira-kira 20 menit perjalanan Tebet-Kota, hal yang mungkin dicapai kalo pake mobil.
Cuma di Indonesia

Begitu sampai Kota, tujuan pertama adalah makan pagi yang telat. Searching wisata kuliner di Kota gampang-gampang susah terutama untuk muslim seperti gw. Sebenernya banyak banget review tapi kebanyakan mengandung babi, dari mie ayam sampai ke bubur hampir semuanya berbabi. Dan pilihan kuliner enak dan halal juga terbatas. Dari hasil searching wisata kuliner Kota yang agak susah, gw berencana untuk brunch  di daerah pasar Asemka, tepatnya di warung soto tangkar di dalam pasar. Entah kenapa, soto tangkar (iga sapi) di sini terkenal banget. Nyarinya pun setengah mati, hampir 30 menit gw jalan-jalan kepanasan sebelum menemukan Soto Tangkar H. Diding di dalem pasar Asemka. Warungnya kecil banget, cuma ada 6 kursi. Menu yang gw coba ada 2: soto tangkar dan sate sapi. Kuah soto tangkar ini seperti kuah soto betawi. Enak? Jelas karena gw juga sedang lapar-laparnya.

Selesai makan di Asemka, gw langsung jalan ke kawasan Kalibesar untuk hunting foto. Dimulai dari jl. Kalibesar Barat gw mulai menyusuri kali kebanggaan orang VOC jaman dulu sambil lihat-lihat gedung tua di kawasan itu. Sayang, kalinya udah kotor dan bau, dan gedung-gedungnya udah kotor nggak terawat, tapi arsitekturnya masih bisa dinikmati. Mungkin satu-satunya gedung yang masih bagus terawat adalah Toko Merah, kediaman gubernur van Imhoff jaman dulu yang sekarang menjadi cagar budaya. Jalan gw terusin ke arah utara untuk ke jembatan Kota Intan, yang dulunya menjadi jembatan tempat perahu-perahu dagang lewat kanal Kalibesar, mirip fungsinya seperti Tower Bridge di London. Sayang lagi-lagi, jembatan ini sekitarnya udah kumuh, walaupun masuknya gratis. Engsel untuk ngangkat jembatan sudah dinonfungsikan permanen. Apalagi kali dibawahnya pun bau sampah. Selesai kunjungan ke jembatan, sambil kehausan ec. kepanasan gw jalan ke alun-alun Batavia lama untuk ngadem sebentar di museum-museum di sekitaran Museum Sejarah Jakarta. Gw memilih untuk masuk ke museum wayang yang gw kunjungi untuk kedua kalinya. Gw bingung sama pengelola museum, gimana bisa nyari untung dari kunjungan museum, sementara untuk masuk cuma ditarik Rp 2 ribu dan dikasih guidebook  yang lumayan tebal.

Selesai ngadem, sambil berbekal sebotol minuman isotonik, gw jalan agak jauh dari alun-alun menuju ke arah pelabuhan Sunda Kelapa, melewati jembatan Kota Intan lagi. Tujuan kali ini adalah ke museum bahari yang ada di sekitaran pasar ikan Luar Batang. Jalan menuju ke daerah ini lumayan jauh dan panas menyengat, tapi melewati bangunan-bangunan yang dulunya galangan kapal VOC yang sekarang udah beralih fungsi menjadi restoran-restoran Cina. Sebelum ke museum, gw menyempatkan mampir ke menara syahbandar Sunda Kelapa yang bangunannya miring hampir menyerupai menara Pisa di Italia. Tempat ini adalah tempat patok 0 km Jakarta. Sesampainya di puncak menara gw memang bisa melihat pemandangan pelabuhan Sunda Kelapa dan sekitarnya, tapi berada di puncak menara ini cukup serem karena menara goyang kalo ada truk lewat di jalanan di bawahnya. Apalagi menaranya miring pula. Mudah-mudahan sih pengunjungnya tetap sedikit biar menaranya nggak cepet ambruk. Di bawah menara ada bekas tembok benteng lengkap dengan meriam-meriamnya yang diarahkan ke perkampungan kumuh warga. Sesampainya di museum bahari, gw kaget pengungjungnya cuma gw seorang. Berada di bekas gudang VOC dengan ruangan besar nan senyap sendirian memang agak creepy. Tapi secara keseluruhan museum ini agak jelek koleksinya, karena kebanyakan berupa miniatur dan maket. Nilai historisnya malah lebih bernilai di gedung tempat museum ini daripada koleksinya.

Gw pun balik ke kawasan alun-alun untuk menelusuri museum yang belum gw jamah. Pinginnya ke museum seni rupa & keramik tapi museum ini hari itu lagi tutup. Akhirnya gw masuk ke museum Bank Indonesia yang dulunya bekas kantor pusat bank sentral di Batavia. Overall, museum ini adalah yang paling tertata bagus dan modern di seluruh kawasan Kota Tua. Berbanding terbalik sama museum-museum lain yang dikelola sama pemerintah provinsi. Selesai dari museum ini, sekitar jam 3 sore gw bertolak ke ITC Mangga Dua. Tujuan gw ke ITC ini bukan untuk borong sepatu atau baju, melainkan cuma untuk makan siang telat di kios restoran Mama Kitchen yang cuma jual 1 menu: tomyam. Kiosnya cuma ada sekitar 15-20 kursi tapi untungnya gw datang di saat bukan jam makan siang. Selesai nyantap nasi goreng tomyam seafood dan bawa oleh-oleh buat orang rumah, gw pun balik ke Stasiun Jakartakota sebelum jam pulang kantor dimulai.

Saturday, January 28, 2012

Perjalanan Singkat ke Sawarna

Pekerjaan sebagai dokter itu kadang penuh tantangan, kadang juga membosankan. Penuh tantangan gw rasa semua dokter juga merasakan kalo pekerjaannya itu menyerempet maut orang lain dan rawan dituntut. Sementara membosankan itu sebaliknya, mungkin cuma sedikit dokter termasuk gw yang udah merasa bosan sama rutinitas di rumah sakit, macet di jalan, padahal baru 2 bulan gw menjalani pekerjaan baru gw di RSUD Kabupaten Bekasi. Dokter juga manusia, butuh libur, cuti, dan refreshing untuk sekedar nge-charge mental.

Maka oleh karena daripada itu, di pertengahan Januari ini gw sangat beruntung dapat jadwal kosong yang lumayan banyak hasil transaksi tuker jadwal jaga sama teman. Dan gw nggak akan menyia-nyiakannya untuk liburan yang pendek tapi padat. Pilihan jatuh ke Jawa Barat bagian selatan, gw belum pernah ke sana kecuali ke Pangandaran yang ceritanya udah pernah gw tulis di blog ini. Basecamp untuk perjalanan kali ini gw tetapkan di kota kecil Palabuhanratu, karena ada teman-teman gw yang internship juga di sana. Pilihan destinasi ada 2: Ujung Genteng dan Sawarna. Keduanya nggak mungkin dijalani bareng kecuali perjalanan mau dilakukan seminggu lebih. Setelah searching, akhirnya pilihan jatuh ke Sawarna. Semula gw mau jalan sendiri, ngerasain backpacking sendiri, nggak disangka teman gw Fatia ikut juga gara-gara diajak sama cowoknya Fadhil yang emang kebetulan di Palabuhanratu. Jadilah Fatia gw paksa ikut naik kendaraan umum dari Jakarta ke Palabuhanratu.

Perjalanan dimulai di stasiun Cawang. Berbekal tiket commuter line seharga Rp 7 ribu, perjalanan Jakarta-Bogor cuma ditempuh 40 menit. Dari stasiun Bogor naik angkot 03 jurusan Bubulak-Baranangsiang untuk selanjutnya naik bus MGI jurusan Bogor-Palabuhanratu di terminal Baranangsiang seharga Rp 25 ribu. Berhubung waktu udah makin sore, jadilah kami berdua nggak sempet makan siang di Bogor. Bus MGI ini full AC dan full music, tapi tarikannya lambat banget dan nggak bisa ngebut. Alhasil perjalanan Bogor-Palabuhanratu ditempuh dalam waktu 4 jam. Untung gw sempet tidur gara-gara efek jaga malam sebelum berangkat. Sampai di Palabuhanratu, ngasih surprise  buat teman gw Diko yang lagi ultah, kami semua makan dan langsung tidur.

Keesokan harinya gw diajak trip  di RSUD Palabuhanratu sama Fadhil. RS-nya lebih luas daripada RS gw, jumlah spesialis lebih sedikit, suasananya lebih tenang, dan udaranya masih seger. Setelah makan pagi di RS, kami bertiga berangkat naik sedannya Fadhil. Gw menyetir. Di tengah jalan menjelang Bayah, gw melintasi rombongan anak SD di kiri gw yang lagi pulang sekolah, tiba-tiba ada 1 anak yang nyebrang sambil lari tiba-tiba di depan mobil. Sempat ngerem, gw pun menabrak anak ini dan dia kelempar sekitar 5 meter. Habis jatuh, si Asep ini langsung lari ke rumahnya, gw teriak manggil dia dan nyamperin tapi dia tetep kabur sambil nangis. Dibantu warga gw berhasil ke rumahnya anak itu. Setelah ngenalin kalo gw dokter (inilah salah satu enaknya dokter) dan periksa-periksa dikit untuk menyingkirkan fraktur, gw menyarankan kalo Asep dibawa ke puskesmas untuk dibersihin lukanya. Gw cuma bawa obat asam mefenamat dan loratadine, Fatia bawa stetoskop, nggak ada yang bawa amoxicillin atau bahkan kasa dan betadine. Gw bawalah anak itu ke Puskesmas Bayah untuk diobatin dengan gratis (mungkin karena gw ngenalin ke sana sebagai dokter), dan dengan delay 1 jam, kami langsung cabut ke Sawarna.

Perjalanan ke Sawarna diawali naik bukit dulu dengan jalanan yang rusak terus langsung turun ke Sawarna. Jarak dari jalan raya mungkin sekitar 10 km. Pintu gerbang Sawarna langsung dapat dikenali dari adanya jembatan gantung di atas sungai. Setelah parkir, gw langsung masuk untuk survey sekaligus cari penginapan. Hari itu bukan hari libur jadi desa Sawarna sepi banget, yang ada cuma penduduk asli. Gw sendiri begitu masuk sempat kecewa ternyata desa Sawarna sekilas seperti desa-desa lainnya di Jawa. Lebih dekat ke pantai, baru mulai banyak homestay yang masih kosong karena bukan hari libur. Setelah pilih-pilih akhirnya gw memilih homestay Javabeach yang satu-satunya punya lantai 2 dan ada beranda yang langsung hadap ke sawah. Penginapan di Sawarna sistemnya bukan bayar per kamar, tapi bayar per orang dengan layanan makan 3 kali sehari.

Kekecewaan itu terobati keesokan harinya. Berbekal browsing di internet saat di Jakarta, gw memutuskan untuk berkeliling sambil nyewa guide  bernama Bimbim dengan biaya Rp 100 ribu, lebih baik bayar agak mahal daripada tersesat di Sawarna. Perjalanan pertama ke gua Lalay, sebutan kelelawar dalam bahasa Sunda, ditempuh dengan menyusuri jalan utama di depan jembatan Sawarna ke arah timur. Setelah melewati tiang telekomunikasi, belok ke jalan kecil di kanan jalan dan menyusuri pematang sawah, jalan di pinggir kali, menyeberang jembatan gantung, menyusuri pematang sawah lagi, baru sampai di pintu masuk gua yang ada di sungai kecil. Peralatan wajib yang kudu dibawa: senter, karena masuk ke dalam gua bisa dalam banget sampai 200 meter secara horizontal melewati sungai kecil dan lumpur. Makin ke dalam, bau kotoran kelelawar makin menyengat. Sebenarnya bisa juga masuk ke lebih dalam lagi asal perlengkapan caving yang dibawa lengkap. Setelah 30 menit menyusuri gua baru kami keluar dan menuju tujuan selanjutnya yaitu pantai Lagoan Pari.

Jalan dari gua Lalay ke pantai Lagoan Pari cukup jauh, mungkin sekitar 4-5 km. Dari gua Lalay harus jalan lewat pematang sawah lagi, menyeberangi sungai yang dangkal, kemudian naik bukit mengikuti aliran air, menyusuri pematang sawah lagi, terus turun bukit dan melewati kebun kelapa. Kecapekan, kepanasan, dan sakit di kaki, bukan karena betis yang sakit tapi karena sandal berlumpur terobati begitu sampai di pantai Lagoan Pari. Saat kami datang, hanya kami bertiga pengunjung pantai tersebut, sehingga seperti pantai pribadi. Pasirnya landai dan ombaknya relatif lebih tenang nggak seperti pantai selatan lainnya membuat gw ikut nyemplung di pantai. Apalagi ditambah kelapa muda yang baru dipetik. Di sisi timur Lagoan Pari ada deretan karang yang membatasi Lagoan Pari dengan samudera yang disebut Karang Taraje, salah satu titik sunrise. Setelah puas bermain pantai, akhirnya gw harus jalan ke pantai Tanjung Layar yang harus ditempuh melalui pinggir pantai dan kebun kelapa sejauh 2 km. Perjalanan ini juga menantang karena kadang harus melewati karang di pantai, dan lebih susah kalo laut sedang pasang. Sesampainya di pantai Tanjung Layar, yang ditandai sama 2 batu besar di tengah laut dan dibatasi sama jejeran karang di belakangnya, gw istirahat lagi untuk menikmati pantai Sawarna. Lagi-lagi kami satu-satunya pengunjung di sana. Setalah makan siang sebentar, kami pun balik ke pantai Ciantir sejauh 2 km menyusuri pantai melewati surfing spot  yang disebut Sawarna Point. Pantai Ciantir merupakan pantai terdekat ke desa Sawarna, jaraknya kira-kira 500 meter dari penginapan kami. Sunset dapat dinikmati di pantai Ciantir ini. Malam hari karena nggak ada TV sama sekali kami habiskan dengan bermain badminton dan menikmati angin malam di penginapan.

Keesokan paginya kami jalan ke muara sungai Sawarna yang bentuknya berkelok. Pemandangannya cukup bagus walaupun saat itu cuaca mendung. Kami pun pulang cepat dari Sawarna agar bisa makan siang di Palabuhanratu. 1,5 jam lamanya perjalanan Sawarna-Palabuhanratu, tentu tanpa insiden menabrak anak kecil lagi. Di Palabuhanratu ada warung makan enak yang menghidangkan ikan jangilus (marlin) bakar seukuran steak, warung Geksor, terletak di dalam terminal Palabuhanratu. Dengan harga yang relatif murah, gw dapat makan dengan kenyang dan enak. Fadhil dan Fatia pulang duluan ke Jakarta karena harus mengejar jadwal jaganya Fatia di malamnya, sementara gw karena masih capek dan males pulang menunggu keesokan harinya. Esoknya gw pulang bareng teman gw Darrell yang dengan baik hati mengantar gw ke Ciawi. Dari situ gw jalan sendiri ke Bogor untuk keliling sekaligus wisata kuliner sendiri, dan pulang sendiri dengan commuter line.

Perjalanan ini berhasil menghitamkan seluruh kulit gw, kecuali di bagian baju, celana, jam tangan, sama tali sandal, mencoba destinasi baru, dan menghilangkan kebosanan gw untuk sementara.

Si Asep
Lagoan Pari
Tanjung Layar
Sunset di Ciantir
Penginapan Javabeach
Jembatan gantung Sawarna

Thursday, August 5, 2010

Liburan Pangandaran

Pangandaran, salah satu pantai terbaik di pulau Jawa, terletak di dekat perbatasan Jabar-Jateng tepatnya di Kabupaten Ciamis. Akhir Juli yang lalu, gw berkesempatan liburan ke sana. Ekspektasi gw berlebih karena Pangandaran adalah objek wisata andalan Jabar. Lagian, waktu itu liburan anak sekolah udah selesai. Jadi mestinya pantainya nggak kayak cendol.

Sebelumnya gw nginep di Bandung dulu, sekalian nemenin bokap yang ada kerjaan. Bandung ya seperti biasa lah harus wisata kuliner sama FO. Cuma sekarang ini gw nemuin lagi restoran favorit keluarga gw yang dulu ilang: restoran seafood Parit 9, yang dulu sempet pindah. Kepiting saus singapore-nya wuidih harus dicoba. Untuk restoran yang sekelas itu di Jakarta nggak ada yang ngalahin. Gw dijemput sama teman-teman liburan gw (Fadhil, Fatia, Haykal) di restoran itu. Maksud hati mau mesenin dulu biar makanannya cepet datang, gw lupa ada Haykal si anak Aceh yang nggak tahan pedes sedikit pun sama Fatia yang nggak bisa makan kepiting. Sore hari langsung cabut ke Pangandaran, estimasi 5 jam dengan kendaraan Avanza sama modal GPS dari Haykal. Keluar Bandung dikit aja udah macet. FYI, untuk sampe ke Pangandaran harus ngelewatin 2 gunung yang berarti jalan berkelok-kelok sebanyak 2 kali. Tengah malam sekitar jam 12 kita baru ngeliat pantai. Malam minggu ternyata daerah pantainya masih rame.

Keesokan harinya pagi-pagi gw jadi saksi Pangandaran di minggu pagi yang rame banget, bahkan kolam renang hotel juga ikut-ikutan kayak cendol. Kita jemputin satu temen lagi di pos polisi Pangandaran, Mang Juno, yang habis transit satu malam di Tasikmalaya. Terus dilanjutin sama snorkling karang di pantai Pasir Putih. Sayang sekali, gara-gara tsunami tahun 2006, terumbu karangnya jadi nggak terlalu bagus lagi dan ikan-ikannya udah jarang. Sore hari dilanjutin trekking cagar alam Pangandaran untuk ngelihat gua stalaktitnya. Malem harinya dilanjutin makan seafood di daerah pantai timur. Pantai barat sama pantai timur Pangandaran bedanya 180 derajat, bagaikan nggak ada kehidupan di pantai timur.


Pantai barat



Pantai timur



Pantai Pasir Putih


Keesokan harinya jalanan jadi lebih sepi dan tujuan kita selanjutnya adalah ke 30 km arah barat Pangandaran, tepatnya ke daerah Cijulang. Ngabisin waktu sehari di Pangandaran hari sebelumnya dirasa udah cukup dan belum dapet kesan yang wah. Begitu sampai ke objek wisata Green Canyon, kita lebih kecewa lagi begitu tahu perjalanannya dibatasi karena hujan yang terjadi kemarin malamnya. Akhirnya nggak jadi ke Green Canyon dan pergi ke pantai Batukaras yang juga nggak jauh dari situ. Ini dia pantai yang wajib dikunjungi, relatif sepi dan banyak bule! Bahkan lebih gampang nyari bule daripada pribumi di sana. Dan pantai inceran bule pasti ada nilai lebihnya: surfing! Modal 50 ribu rupiah per papan dihabisinlah waktu sampai menjelang sore hari. Sore kembali ke Pangandaran, ngelihat sunset di pantai barat, dan makan malam lagi di pantai timur. Seafood di sini memang gw akuin seger-seger walaupun masakannya biasa aja, itu yang jadi nilai plus Pangandaran. Malam hari di Pangandaran kalo nggak libur berasa seperti kota mati!


Pantai Batukaras


Keesokan harinya bangun pagi-pagi untuk ngelihat sunrise di pantai timur, sekaligus persiapan untuk nebus Green Canyon hari sebelumnya. Semalam hujan masih rintik-rintik, langit mendung, tapi kita masih berharap Green Canyon dibuka full karena sedari awal memang tujuannya ya ini, bukan Pangandaran. Beruntung Green Canyon dibuka penuh, bermodalkan 75 ribu rupiah satu perahu akhirnya perjalanan diteruskan. Sumpah, rugi banget kalo nggak ke sini, apalagi waktu perjalanan nyusurin dinding Green Canyon bermodalkan pelampung, kedua tangan, dan skill renang. Yup, skill renang memang wajib dikuasai untuk jalan ke sini. Tapi kecapekan itu terasa sirna saat berenang mengikuti arus, melewati jeram, dan lompat dari ketinggian 6 meter. Ini memang perjalanan yang harus diulang.


Green Canyon


Satu lagi tempat yang nggak boleh dilewati antara Jakarta-Pangandaran, restoran sunda Cibiuk yang terkenal akan sambelnya. Buat yang nggak suka pedes anda beruntung! Sambel Cibiuk bisa dihidangkan nggak pedes (agak maksa dinamain sambel). Makan di saat laper-lapernya di tengah perjalanan 7 jam di pegunungan Priangan memang nggak ada yang ngalahin.

Sunday, February 21, 2010

Bebek Goreng

Yeah, it's been my favorite in recent weeks. Nggak tau kenapa akhir-akhir ini jadi sering makan bebek goreng, padahal sebelumnya (baca: 2 tahun silam) gw masih anti makan makanan yang satu ini. Sama kasusnya dengan sate, tongseng, dan nasi goreng kambing; dulu gw anti, sekarang doyan banget. Menurut gw padahal bebek goreng itu sama sekali bukan makanan yang sehat. Lemak dimana-mana, daging yang liat, berbau khas, nggak kayak ayam yang netral-netral aja. Gw juga lupa siapa yang ngenalin makanan yang satu ini ke gw.

Akhir-akhir ini gw jadi sering makan bebek goreng, mungkin gara-gara gw kebanyakan stase di RS luar jadinya gw sering wisata kuliner Jakarta. Tapi bener lho, bebek goreng di Jakarta nggak kalah sama yang ada di Surabaya. Variasinya pun macem-macem. Berikut ini ulasan 5 bebek yang gw makan, diurut dari yang paling biasa sampai yang paling enak. Bukan berarti di list ini adalah bebek yang terenak se-Jakarta, karena gw belum nyobain semua bebek di Jakarta. Dan sekali lagi, ini adalah versi gw.

1. Bebek Ginyo
Bebek Ginyo termasuk salah satu bebek branded yang cukup terkenal di Jakarta. Lokasinya di Tebet Utara, cukup deket dari rumah gw. Menurut gw sih, bebek disini banyak pilihannya. Ada bebek goreng, bebek bakar, bebek cabe ijo, dan sisanya gw lupa. Nilai plusnya tempatnya enak, walaupun parkirnya bikin stress, selalu macet kalo gw lewat situ. Nasi sepuasnya (ini yang penting!). Tapi rasa bebeknya terlalu standar, nggak ada rasa khasnya. Kalo dibawa pulang pasti jadi nggak enak deh. Harga sih murah, but still, I don't recommend it. Kalo ada yang lebih enak kenapa nggak ke tampat lain?

2. Bebek Slamet
Bebek Slamet ada di bilangan Rawamangun, deket sama UNJ. Tempatnya cukup enak. Bebek andalannya cuma satu: bebek goreng. Menurut gw, bebek gorengnya sangat berbumbu, tapi sayangnya waktu gw ke sana digoreng kurang kering. Sambelnya juga cukup enak, berminyak, banyak campuran bawangnya. Tapi secara umum, bebek sini enak buat dikunjungi. Harga sih standar. Porsinya juga cukup. Sayangnya, kadang-kadang bebek gorengnya bisa habis, padahal masih siang bolong. Lah gimana ini, restoran bebek kok bebeknya bisa habis?

3. Bebek Barokah
Bebek Barokah ada di seberang RS Persahabatan di Rawamangun. Dibilang restoran juga bukan, karena tempatnya berupa warung, di sebelah warung Padang yang punya dendeng balado paling enak se-Jakarta! Porsi bebeknya sih kecil banget, gorengannya juga biasa aja, tapi harganya juga murah banget. Walaupun warung-warung gini tapi udah banyak yang ngebahas di forum-forum di internet. Alasannya: bumbunya mantap!!! Bumbu di sini seperti bumbu rendang kering, diguyur di atas nasi panas, terus dikasih bawang goreng. Tapi awas, buat yang nggak suka pedes jangan coba-coba ke sini. Bumbunya sangat pedes!!! Habis makan pun, setelah mulut kepanasan, perut juga bisa kepanasan.

4. Bebek Kaleyo
Bebek Kaleyo termasuk bebek branded yang paling terkenal se-Jakarta. Cabangnya ada dimana-mana, tapi tetep yang paling mantap di tempat aslinya di Rawamangun, belakang Mal Arion. Bebek gorengnya sangat kering (sampai tulangnya bisa dimakan!), bumbunya enak, sambelnya mantap! Bebek gorengnya dilengkapi dengan kremes. Selain itu ada bebek bakar & cabe ijo. Pokoknya kalo dateng jam makan siang atau makan malem, pasti tempatnya penuh banget. Harganya standar. Tapi pokoknya rugi deh kalo nggak pernah ke sini dan nyicipin sambelnya yang mantap dan pedes.

5. Bebek Kemayoran
Ini dia bebek yang paling enak se-Jakarta sampai saat ini, menurut gw. Bebek Kemayoran (jeng..jeng..jeng). Berawal dari waktu stase gw di Harkit ditraktir sama salah satu dokter di sana makan nasi bebek bungkus, wah rasanya mantap skalee. Usut punya usut gw cari-cari informasi ke orang lain yang pernah ditraktir juga dan ternyata tempatnya di Kemayoran. Setelah punya telponnya, gw telpon dan ternyata lokasinya ada di sebelah RS Mitra Kemayoran. Setelah gw datengin, bukan restoran, bukan juga warung, tapi cuma gerobak dorong yang jual nasi bebek, sate ayam, dll. Tapi rasanya? Jangan ditanya. Bebeknya enak banget, dilengkapin sama bumbu serundeng (ini yang bikin enak!), plus sambel yang cukup enak, plus nasi yang banyak, plus harga yang murah! (nasi bebek porsi gede cuma 13.000). Gw pernah search di internet, belum ada yang ngebahas bebek ini. Kasian juga, makanya gw yang pertama ngebahas mungkin. Pokoknya highly recommended!

Tujuan selanjutnya:
Bebek Yogi - Kebonjeruk, Jakbar
Bebek Suryo - Blok S, Jaksel

Selamat makaaan!!!