Perjalanan kali ini yang gw lakuin akhir-akhir ini adalah ke bagian barat Pulau Jawa. Yah, boleh dibilang sebenernya hampir semua bagian Pulau Jawa udah gw jamah sebelumnya, cuma daerah ini aja dan beberapa bagian lagi yang masih belum. Bisa dibilang agak over, karena dalam 2 minggu di bulan Januari gw 2 kali ke ujung Jawa ini. Yang pertama, anti-mainstream karena ngerayain tahun baru di pulau terpencil di Ujung Kulon; yang kedua, karena ikut tim relawan bencana di Pandeglang.
Gw nggak menyia-nyiakan kesempatan ketika ada ajakan dari seorang teman untuk bertahun baru di suatu tempat bernama Ujung Kulon. Sebenernya karena udah bosen ngerayain tahun baru di Jakarta. Di kebanyakan tahun-tahun baru sebelumnya gw sering menghabiskan waktu seperti malam-malam biasanya: di rumah, nonton TV sampai ngantuk, dan kemudian tidur abis ngeliat kembang api dari jauh. Pernah suatu kali, nyoba keluar ke arah Thamrin-Sudirman, macetnya luar biasa dan gw kapok untuk tahun baruan di sana. Tahun sebelumnya malah gw ngehabisin waktu jaga UGD dan nongkrong di atas gedung buat ngelihat kembang api. Jadi, nggak ada salahnya mencoba wisata yang agak beda kali ini.
Karena teman gw bawa teman bulenya juga dari Italia, kami pilih cara mudah untuk bepergian: ikut travel. Sebenarnya susah juga sih kalo mau backpacking sendiri ke Ujung Kulon, ujung-ujungnya jatuhnya mahal. Bepergian pake travel emang menyenangkan, selain nggak perlu mikir itinerary sendiri, nggak perlu mikir akomodasi dan transportnya, makan pun udah dijamin. Kekurangannya ya nggak bisa nentuin tujuan dan durasi dengan bebas, but never mind. Mau berangkat sendiri atau pake travel tempat wisata di Ujung Kulon juga sama aja. Dalam dua hari perjalanan kita bisa dapet Pulau Peucang, Cibom, mercu suar Tanjung Layar, padang rumput Cidaon, dan canoeing di Handeuleum. Begitu kata orang travel.
Perjalanan ini sepertinya nggak bakal berjalan lancar, feeling gw. Dan bener, karena kebiasaan gw packing 2 jam sebelum berangkat, kamera yang udah gw bawa ke mobil ujung-ujungnya nggak kebawa. Jadilah perjalanan ini nggak pake acara foto-foto. Udah gitu awal Januari musim hujan lagi deres-deresnya. Bener aja, perjalanan perahu dari Sumur (desa terakhir di Pulau Jawa untuk ke Ujung Kulon) sampai ke Peucang diserang sama ombak-ombak tinggi. Awalnya cuma 0,5 meter, eh kemudian jadi 1 meter, begitu udah di tengah laut jadi 1,5 meter. Antimo pun nggak bisa mencegah muntahan gw, dan seluruh penumpang beserta bawaannya basah kuyup diterpa ombak selama perjalanan 3-4 jam.
Pulau Peucang sendiri sebenernya pulau yang biasa aja (menurut gw), cuma karena lokasinya yang terisolir jadi tujuan wisata. Di sana cuma ada penginapan yang dikelola sama balai taman nasional tanpa restoran ataupun toko untuk menjual barang sehari-hari. Jadi sangat salah kalo ke Peucang tanpa bawa air minum yang cukup dan snack. Penginapannya sendiri sebenernya cukup bersih. Di tengah penginapan terdapat padang rumput tempat rusa, babi hutan cari makanan. Perjalanan selanjutnya ke Cibom sendiri nggak jauh-jauh amat, cuma ombak Selat Sunda di musim hujan memang menantang. Perjalanan trekking dari Cibom ke Tanjung Layar (the westernmost point of Java) akhirnya dibatalkan gara-gara cuaca yang nggak bersahabat, takutnya nggak bisa pulang. Padang rumput Cidaon pun sama aja. Biasanya di sana jadi tempat banteng, rusa, dan merak ngumpul, cuma gara-gara hujan semuanya menghilang. Snorkling di Selat Peucang pun juga nggak seimpresif snorkling di Flores (ya iyalah!). Apalagi hujan yang deres di tengah laut bikin laut jadi bergejolak dan jarak pandang jadi dekat. Terpaksa memang waktu harus dihabiskan di Pulau Peucang.
Perayaan malam tahun baru sendiri dirayain sederhaa sama BBQ dan kembang api bareng wisatawan lain di Peucang. Keesokan harinya, masih ada waktu untuk snorkling. Untuk pulangnya, teman yang bule udah kapok ngebayangin untuk naik kapal selama 3-4 jam dengan ombak segede gaban. Tapi begitu dikasih tau kalo jalan kaki butuh waktu seminggu akhirnya dia nyerah juga. Tujuan selanjutnya Handeuleum, tujuannya canoeing. Eh, ujung-ujungnya batal juga karena hujan deras menyerang di tengah perjalanan. Jadilah perjalanan ini sebenarnya cuma ngabisin waktu buat pengangguran seperti gw. Nggak ketemu badak juga yang jadi ikon Taman Nasional Ujung Kulon.
Perjalanan yang kedua sebenarnya nggak sejauh perjalanan pertama. Awalnya gara-gara diajak untuk ikut bantuin bencana banjir di Pandeglang. Setelah kumpul di kantor relawan di Ciputat, gw dan 5 orang lainnya berangkat ke Pandeglang cuma modal alamat. Dengan modal Blackberry map juga akhirnya setelah 4 jam nyampe juga di Desa Pagelaran, Pandeglang. Desa ini itungannya udah jau banget dari Jakarta, dekat dengan pantai Labuan. Dari yang awalnya cuma rencana pulang balik sehari, ujung-ujungnya jadi nginep karena akses ke tempat bencana yang masih tinggi ditutup banjir. Oiya, jangan lupa kalo ke daerah Labuan mampir ke rumah makan Bu Entin yang spesialis otak-otak tenggiri, dijamin nggak bakal nyesel. Begitulah, wisata kuliner tetap harus dilakuin walau ada bencana sekalipun.
Keesokan harinya dengan mobil 4WD, banjir itu bisa juga ditembus. Kasihan memang, banyak warga yang masih belum tersentuh bantuan logistik ataupun medis. Sebenarnya para relawan masih butuh tim medis untuk bantuan selama seminggu ke depan, namun apa daya karena masih ada keperluan di Jakarta keesokan harinya kami harus pulang. Banyak cerita-cerita heroik warga di balik bencana banjir ini.
Begitulah rangkuman perjalanan gw ke ujung barat Jawa kemarin. In conclusion, akibat perjalanan sebelumnya yang ke Flores, sekilas Ujung Kulon jadi nggak terlalu bagus menurut gw. Tapi yang mau mencoba terisolasi dengan jarak relatif dekat dari Jakarta, destinasi ini dapat dicoba.
Showing posts with label interest. Show all posts
Showing posts with label interest. Show all posts
Thursday, January 24, 2013
Tuesday, January 15, 2013
Flores: Kanawa
Akhirnya sampai juga di blog terakhir gw di seri Flores ini. Seperti yang udah diceritain di blog sebelumnya, tujuan terakhir setelah berpulang dari Taman Nasional Komodo adalah Pulau Kanawa, sebuah pulau kecil yang ada di tengah Selat Sape. Pulau ini sebenernya nggak berpenghuni, hanya aja ada 1 resort di sini yang dikelola sama orang Italia, jadilah pulau ini terkenal hingga ke luar negeri. Selain Kanawa ada juga pulau resort lain yang namanya Sebayur, dengan pelayanan yang lebih bagus tapi harga yang tentunya lebih 'bagus' juga. Ukuran pulaunya sendiri sebenernya nggak gede-gede amat, cukup bisa dikelilingi dalam waktu beberapa jam, walaupun gw sendiri nggak pernah nyoba untuk ngelilingi pulau.
Yang membuat wisatawan, terutama bule, datang ke Kanawa adalah kehidupan bawah airnya. Spot snorkeling Kanawa disebut-sebut sebagai spot terbaik se-Asia Tenggara. Gimana nggak? Kalo ngelihat di map pulau yang ada di restoran resort, kita bisa menemukan spot lionfish, manta, penyu, hiu karang (reef shark) di sekitar pulau. Begitu datang ke jetty Kanawa aja, kita bisa ngelihat ratusan ikan dan koral di dalam laut karena airnya yang jernih.
Menginap di Kanawa berarti bersiap untuk terisolasi dari dunia luar. Karena memang itulah tujuan sebagian orang-orang untuk menghabiskan waktu di sini: bermalas-malasan, bersantai menikmati hidup, melupakan urusan di daerah asal masing-masing, dsb. Dengan fasilitas resort yang sederhana namun nyaman semua wisatawan dijamin betah apalagi kalo menghabiskan waktu di laut seharian tiap hari. Penginapan di resort ini ada 3 macem pilihan tergantung bujet: cottage, bale-bale, dan tenda. Karena rombongan kami berempat sehingga bisa menghemat bujet, kami memilih cottage dengan 2 extra bed. Kami juga nggak nanggung-nanggung untuk nginap 2 malam di sini dengan pertimbangan untuk menghabiskan waktu 1 hari penuh di Kanawa.
Apa yang bisa dilakukan? Snorkling all the day. Itu yang gw lakukan. Snorkling paling gampang bisa dilakukan di sekitar jetty, di mana di situ ada keluarga lionfish yang hidup dengan damai. Wilayah cakupan snorkling bisa diperluas dari jetty, cukup banyak jenis-jenis ikan yang dilihat di sini walaupun gw nggak menemukan penyu. Secara umum, koleksi ikan di sini memang lebih hebat di antara spot-spot lainnya selama di Flores, cuma keindahan koralnya masih kalah sama Pink Beach. Daerah snorkling yang gw telusuri juga adalah di laut di depan deretan cottage, di mana banyak rumput laut sambil berharap nemuin penyu tapi akhirnya juga nggak ketemu, sama di daerah hutan bakau dekat bale-bale, yang katanya bisa nemuin hiu karang tapi akhirnya nggak ketemu juga. Bagi pecinta diving, seperti teman-teman gw lainnya, ada Kanawa Island Diving Center yang bisa memfasilitasi hobi. Gw nggak diving karena selain menghemat bujet, nggak punya sertifikat, dan juga punya trauma dengan diving pertama yang bisa dibaca di sini. Teman-teman gw pun sial karena belum pada ujian akhir sertifikat diving, beda sertifikasi, dan akhirnya cuma bisa diving discovery di sekitar pulau. Padahal perairan Komodo adalah salah satu daerah dengan spot diving paling beragam tapi juga terkenal arusnya yang kencang. Selain snorkling dan diving, kegiatan laut yang bisa dicoba adalah canoeing.
Kalo nggak suka laut apa yang bisa dilakukan? Bermalas-malasan. Beruntung tiap cottage punya hammock untuk gegoleran. Jadi disarankan buat yang nggak suka laut untuk bawa bahan bacaan sebanyak mungkin atau mungkin cari inspirasi. Kalo nggak suka baca gimana dong? Bisa dengan trekking keliling pulau atau naik ke bukit puncak di Kanawa. Panorama sunset di Kanawa termasuk yang paling bagus di antara tempat-tempat yang pernah gw kunjungi. Atau main voli pantai secara gratis di lapangan voli depan restoran. Kalo bener-bener nggak mau ngapa-ngapain? Bisa mainan sama anjing yang namanya Deco. Kalo nggak suka binatang? Makan enak di restoran resort, tapi tentu harus siap dengan bujet berlebih juga karena harganya yang sama kayak harga Jakarta. Kalo males juga? Mending nggak usah datang deh ke pulau ini.
Ini beberapa petunjuk untuk siap-siap menginap di Kanawa:
- Booking penginapan lebih dulu lewat kantor perwakilannya yang ada di Labuan Bajo atau langsung telepon
- Siap-siap bawa uang berlebih sejak meninggalkan Labuanbajo. Nggak ada ATM seperti di Gili Trawangan dan resort nggak menerima kartu kredit. Apalagi kalo mau menikmati makan di restorannya, suasananya malam hari benar-benar menyenangkan.
- Kalo bisa, bawa snorkel set sendiri. Atau kalo nggak memungkinkan, udah booking dari pertama datang ke pulau karena stok untuk peminjamannya dikit.
- Pulang pergi Labuanbajo-Kanawa bisa gratis. Jadwal Kanawa-Labuanbajo berangkat jam 8 pagi, sementara sebaliknya berangkat jam 12 siang.
- Bawa snack dan 'Ruteng' (merk air mineral lokal) secukupnya. Pasti nggak nyesel.
- Bawa powerbank buat yang masih ingin terkoneksi dengan dunia luar. Listrik cuma ada malam hari. Sinyal provider merah dan kuning kadang-kadang ada.
Sekian seri Flores dari gw, dan tetap makan-makan, tetap jalan-jalan!
Yang membuat wisatawan, terutama bule, datang ke Kanawa adalah kehidupan bawah airnya. Spot snorkeling Kanawa disebut-sebut sebagai spot terbaik se-Asia Tenggara. Gimana nggak? Kalo ngelihat di map pulau yang ada di restoran resort, kita bisa menemukan spot lionfish, manta, penyu, hiu karang (reef shark) di sekitar pulau. Begitu datang ke jetty Kanawa aja, kita bisa ngelihat ratusan ikan dan koral di dalam laut karena airnya yang jernih.
Menginap di Kanawa berarti bersiap untuk terisolasi dari dunia luar. Karena memang itulah tujuan sebagian orang-orang untuk menghabiskan waktu di sini: bermalas-malasan, bersantai menikmati hidup, melupakan urusan di daerah asal masing-masing, dsb. Dengan fasilitas resort yang sederhana namun nyaman semua wisatawan dijamin betah apalagi kalo menghabiskan waktu di laut seharian tiap hari. Penginapan di resort ini ada 3 macem pilihan tergantung bujet: cottage, bale-bale, dan tenda. Karena rombongan kami berempat sehingga bisa menghemat bujet, kami memilih cottage dengan 2 extra bed. Kami juga nggak nanggung-nanggung untuk nginap 2 malam di sini dengan pertimbangan untuk menghabiskan waktu 1 hari penuh di Kanawa.
Apa yang bisa dilakukan? Snorkling all the day. Itu yang gw lakukan. Snorkling paling gampang bisa dilakukan di sekitar jetty, di mana di situ ada keluarga lionfish yang hidup dengan damai. Wilayah cakupan snorkling bisa diperluas dari jetty, cukup banyak jenis-jenis ikan yang dilihat di sini walaupun gw nggak menemukan penyu. Secara umum, koleksi ikan di sini memang lebih hebat di antara spot-spot lainnya selama di Flores, cuma keindahan koralnya masih kalah sama Pink Beach. Daerah snorkling yang gw telusuri juga adalah di laut di depan deretan cottage, di mana banyak rumput laut sambil berharap nemuin penyu tapi akhirnya juga nggak ketemu, sama di daerah hutan bakau dekat bale-bale, yang katanya bisa nemuin hiu karang tapi akhirnya nggak ketemu juga. Bagi pecinta diving, seperti teman-teman gw lainnya, ada Kanawa Island Diving Center yang bisa memfasilitasi hobi. Gw nggak diving karena selain menghemat bujet, nggak punya sertifikat, dan juga punya trauma dengan diving pertama yang bisa dibaca di sini. Teman-teman gw pun sial karena belum pada ujian akhir sertifikat diving, beda sertifikasi, dan akhirnya cuma bisa diving discovery di sekitar pulau. Padahal perairan Komodo adalah salah satu daerah dengan spot diving paling beragam tapi juga terkenal arusnya yang kencang. Selain snorkling dan diving, kegiatan laut yang bisa dicoba adalah canoeing.
Kalo nggak suka laut apa yang bisa dilakukan? Bermalas-malasan. Beruntung tiap cottage punya hammock untuk gegoleran. Jadi disarankan buat yang nggak suka laut untuk bawa bahan bacaan sebanyak mungkin atau mungkin cari inspirasi. Kalo nggak suka baca gimana dong? Bisa dengan trekking keliling pulau atau naik ke bukit puncak di Kanawa. Panorama sunset di Kanawa termasuk yang paling bagus di antara tempat-tempat yang pernah gw kunjungi. Atau main voli pantai secara gratis di lapangan voli depan restoran. Kalo bener-bener nggak mau ngapa-ngapain? Bisa mainan sama anjing yang namanya Deco. Kalo nggak suka binatang? Makan enak di restoran resort, tapi tentu harus siap dengan bujet berlebih juga karena harganya yang sama kayak harga Jakarta. Kalo males juga? Mending nggak usah datang deh ke pulau ini.
Ini beberapa petunjuk untuk siap-siap menginap di Kanawa:
- Booking penginapan lebih dulu lewat kantor perwakilannya yang ada di Labuan Bajo atau langsung telepon
- Siap-siap bawa uang berlebih sejak meninggalkan Labuanbajo. Nggak ada ATM seperti di Gili Trawangan dan resort nggak menerima kartu kredit. Apalagi kalo mau menikmati makan di restorannya, suasananya malam hari benar-benar menyenangkan.
- Kalo bisa, bawa snorkel set sendiri. Atau kalo nggak memungkinkan, udah booking dari pertama datang ke pulau karena stok untuk peminjamannya dikit.
- Pulang pergi Labuanbajo-Kanawa bisa gratis. Jadwal Kanawa-Labuanbajo berangkat jam 8 pagi, sementara sebaliknya berangkat jam 12 siang.
- Bawa snack dan 'Ruteng' (merk air mineral lokal) secukupnya. Pasti nggak nyesel.
- Bawa powerbank buat yang masih ingin terkoneksi dengan dunia luar. Listrik cuma ada malam hari. Sinyal provider merah dan kuning kadang-kadang ada.
Sekian seri Flores dari gw, dan tetap makan-makan, tetap jalan-jalan!
Friday, January 11, 2013
Flores: Komodo & Rinca
Oke, balik lagi ke topik Flores. Jadi, obyek wisata utama kalo ke Labuanbajo nggak lain dan nggak bukan pastinya Taman Nasional Komodo. Taman nasional ini terdiri atas 3 pulau gede: Komodo, Rinca, dan Padar, dan pastinya di dalamnya ada si komo. Disarankan, begitu nyampe ke Labuanbajo, langsung cari kapal nelayan untuk nganter ke kepulauan itu, tentunya kalo Anda nggak punya yacht pribadi sendiri. Penyewaan ini bisa dicari di sekitar pelabuhan atau di sekitar pasar ikan. Kami sih kemarin beruntung dapat kapal sewaan di sore hari, berkat bantuan supir travel, dengan harga yang relatif murah. Mungkin harga sekarang adalah minimal 2 juta rupiah per kapal untuk 2 hari 1 malam trip di kapal udah termasuk 4 kali makan besar. Berangkat biasanya pagi hari sehingga kami harus menginap dulu semalam di Labuanbajo.
Trip taman nasional dimulai jam 8 pagi di pelabuhan Labuanbajo. Kami menaiki kapal KM Tokek, lengkap dengan logo tokek di lambungnya. Disarankan sih bawa minum-minuman manis dan cemilan sebelum berangkat, selebihnya konsumsi udah dijamin sama awak kapal. Kecuali kalo ingin pulangnya didrop di salah satu pulau di kepulauan Komodo, bukannya di Labuanbajo lagi, tentu harus bawa konsumsi berlebih dan uang yang cukup. Pelabuhan Labuanbajo sendiri lumayan rame dengan kapal-kapal wisata dan juga kapal phinisi. Begitu kapal mulai keluar dari pelabuhan, barulah kelihatan indahnya Selat Sape.
Beruntung Selat Sape hari itu nggak terlalu berangin, sehingga ombaknya juga tenang-tenang aja. Kapal yang kami naiki ini juga sangat nyaman, ada kursi dan meja untuk ngobrol dan makan di haluan, sementara di buritan ada tingkat 2 yang bisa buat tidur dengan matras, bantal, dan guling. Jadi untuk kenyamanan tidur pasti terjamin walaupun ada hujan gede atau ombak yang tinggi. Di buritan juga ada toilet dengan air tawar, ruangan awak, dan dapur. Butuh sekitar 2-3 jam buat nyampe ke tujuan pertama yaitu Loh Buaya di Pulau Rinca. Kata orang sih, komodo lebih banyak ditemuin di Pulau Rinca karena ukurannya yang lebih kecil. Loh Buaya adalah dermaga pusat kegiatan ranger di Pulau Rinca. Di situ wajib lapor dan juga bayar tiket masuk ke taman nasional. Di sini kita bisa trekking dengan 3 variasi jalur, yaitu pendek, menengah, dan panjang. Berhubung kami masih muda-muda tentu malu kalo milih pendek, tapi berhubung waktu yang tersedia terbatas, jadi kami milih yang menengah aja *alesan. Oke, kami cukup beruntung di Rinca bisa ngelihat si komo yang lagi di alam liar, nggak cuma melulu yang nongkrong di bawah rumah panggung. Satu hal lagi yang mengganggu kalo di sini adalah jumlah wisatawan domestiknya masih dikit banget, kalah sama wisatawan mancanegara. Selepas keliling jalur, trekking dilanjutkan naik ke bukit panorama untuk lihat Loh Buaya dari atas. Kayaknya ini adalah foto panorama wajib kalo berkunjung ke kepulauan Komodo. Di pulau ini juga kami bertemu lagi sama turis Swiss yang sebelumnya ketemu di Wae Rebo.
Selepas dari Rinca, perjalanan dilanjutkan ke Pulau Komodo, tepatnya ke pantainya yang terkenal: Pink Beach. Yang nggak disangka-sangka, selepas trekking kami disajikan minuman dingin jus pisang+nanas oleh awak kapal. Kayaknya perjalanan ini makanannya paling terjamin selama kami berada di Flores. Pink Beach sebenernya cuma pantai kecil di pesisir Pulau Komodo, hanya aja pasirnya terkenal berwarna merah muda. Di sini kapal nggak boleh pasang jangkar, karena atraksi utamanya, selain pasir merah muda tentunya, adalah taman lautnya. Boleh dibilang, selama trip ke Flores ini, koral di Pink Beach adalah yang paling bagus, warna-warnanya bergradasi ada yang merah, biru, hijau, dll. Ikan clownfish? Udah biasa. Starfish? Bertebaran. Bahkan gw bisa nemuin ular laut di sini. Sayang, snorkling di Pink Beach kemarin terganggu sama cuaca hujan dan juga serangan ubur-ubur kecil yang bikin gatel seluruh badan. Menjelang senja, baru kami selasai snorkling di sini. Bisa dibilang, kunjungan ke Pink Beach itu wajib. Titik.
Menginap malam itu dihabiskan di atas kapal yang melabuhkan jangkar di Teluk Kalong. Katanya sih, kalo sunset bisa ngelihat ribuan kelelawar terbang dari Pulau Komodo. Tapi saat itu kami nggak ngelihat. No problemo. Snack sore dan makan malam udah disajikan sama awak kapal, sinyal HP yang hilang selepas jam 7 malam, dan pemandangan kapal-kapal serupa dan juga Desa Komodo di kejauhan udah bikin malam itu menyenangkan. Selepas makan yang enak, gw juga minta ke awak kapal buat nyoba mancing malam-malam di atas kapal. Lumayan, teman gw bisa dapat 2 ikan yang bisa dimakan esok paginya. Akumulasi senang dan capek bikin tidur nyenyak.
Keesokan pagi, setelah sarapan, kapal menuju ke Loh Liang di Pulau Komodo. Sama seperti Loh Buaya, Loh Liang adalah pusat kegiatan ranger di Pulau Komodo. Pilihan trekking-nya lebih banyak, karena Pulau Komodo juga ukurannya lebih gede. Seperti biasa, kami pilih jalur trekking menengah. Nggak seperti di Rinca, susah untuk ketemu si komo di Komodo. Yang banyak justru rusa, babi hutan, dan pohon-pohon yang mungkin baru gw tau untuk pertama kalinya. Perjalanannya juga panjang banget: melintasi hutan, melintasi sabana, naik bukit, turun bukit, lewat jalan berbatu, menyeberang sungai kering, dan lainnya. Hal yang paling ngeselin adalah, begitu nyampe di bukit Sulphurea Hill dengan capek, di atas malah ada papan reklame provider merah dengan gedenya menghalangi pemandangan. Memang biasa, kata si ranger, reklame itu jadi sasaran jumroh wisatawan-wisatawan yang kesel. Setelah turun-naik bukit lagi, akhirnya sampai juga di basecamp Loh Liang lagi. Di dekat dermaga ada toko oleh-oleh Komodo bagi yang berminat. Selepas dari sana kami ke kapal dan disuguhi jus lagi.
Setelah itu, kami berniat ke Manta Point untuk snorkling dengan ikan manta (pari). Cuaca sangat cerah, ombak juga tenang, cuma arus aja yang agak mayan. Begitu nyampe di tempatnya, luar biasa! Beberapa manta udah menyambut dengan renang dekat dengan permukaan. Saking nggak sabarnya, kami langsung ngambil snorkling set dan nyebur. Oh, menyenangkan! Kadang-kadang manta ada di depan, kadang-kadang di samping, kadang-kadang juga nongol langsung di bawah kita. Gw sih berharap aja nggak ada ubur-ubur lagi yang menyerang seperti di Pink Beach. Berhubung di sini nggak perlu diving untuk ketemu sama manta, maka snorkling di Manta Point adalah poin wajib selanjutnya kalo berkunjung ke sana.
Sebenernya ada obyek selanjutnya yang nggak kalah menarik, yaitu Gili Laba. Pulau ini harus dilalui dengan trekking sampai ke puncaknya baru kemudian dapat panorama selat yang luar biasa. Cuma sayang, tempatnya terlalu jauh untuk paket yang kami jalani, sehingga siang itu kami harus segera pulang ke Labuanbajo. Sebenernya kami nggak akan ke Labuanbajo, tapi minta didrop di Pulau Kanawa, sekitar 1 jam dari Labuanbajo. Pulau Kanawa ini akan gw ceritakan di blog selanjutnya.
Intinya, luangkanlah waktu untuk berkunjung ke Taman Nasional Komodo. Sungguh, worth it!
Saturday, December 29, 2012
Flores: Labuanbajo
Kota persinggahan terakhir yang kami kunjungi di Flores adalah Labuanbajo, Fiuuuhh... akhirnya sampai juga di ujung barat Flores setelah sebelumnya perjalanan dari Maumere. Seneng? Nggak sama sekali, karena udah deket-deket mau pulang. Labuanbajo dulunya adalah desa nelayan yang merupakan bagian dar Kab. Manggarai. Tapi berhubung perkembangan pariwisata di Pulau Komodo, kota ini mengalami perkembangan yang signifikan dan akhirnya baru-baru ini dapat jatah pemekaran kabupaten. Perjalanan Ruteng - Labuanbajo memakan waktu 4 jam dengan jalan yang lagi-lagi kelok-kelok. Jalan yang lurus cuma bagian jalan yang ada di wilayah Lembor. Untuk mencapai Labuanbajo dari Lembor harus menembus gunung lagi.
Kota Labuanbajo sendiri nggak terlalu besar. Ada bagian kota baru yang terletak lebih tinggi, di situ terletak kantor-kantor pemerintahan dan juga Bandara Komodo. Sementara kota lama yang bekas desa nelayan ada di bagian bawah. Di situ terdapat jalan 1 arah (Jl. Soekarno-Hatta) yang dimulai dari pasar ikan Labuanbajo. Suasana Labuanbajo sendiri benar-benar beda sama kota lainnya di Flores, banyak kafe, hotel, rumah makan, agen wisata dan dive, pokoknya udah seperti kota internasional karena banyaknya bule di sini. Tapi ya jangan bayangkan Labuanbajo seperti Kuta, kota ini kalo udah malam ya nggak ada aktivitas juga.
Kami sendiri nggak banyak berkesempatan eksplorasi tempat-tempat wisata di sekitar Labuanbajo, karena fokus ke kepulauan Komodo. Jadi yang dilakukan di sini adalah makaaaaan! Maklum, udah beberapa hari nggak ngerasain makanan modern. Yang pertama kami kunjungi adalah warung kaki lima yang ada di pantai sebelah pasar ikan Komodo. Namanya gw lupa, mungkin warung Jawa atau semacam itu lah. Sebenernya nggak susah nyarinya, warung ini paling jauh dari pasar ikan, dekat dengan persimpangan dari atas. Warungnya pun kalo malam paling rame. Di sini yang harus dicoba adalah ikan kerapu bakarnya, cuma 25 ribu rupiah per ekor bokk. Satu orang bisa nyantap 1 ikan bakar + nasi hangat.
Makanan lain yang kami coba adalah rumah makan Arto Moro yang letaknya di Jl. Soekarno-Hatta. Tempat makan ini ada di lantai 2, jadi harus naik tangga dulu dari depan. Menu yang ada di sini adalah semacam pecel ayam di Jakarta, atau kalo gw makannya pecel cumi-cumi. Rasanyaaa? Yah lumayan lah, semacam bayar kekangenan makanan Jawa. Nah, untuk makanan, yang paling gw rekomendasikan adalah kafe yang bernama Tree Top. Kafe ini menyajikan pemandangan sunset yang paling bagus se-Bajo. Jadi buat yang mau hangout, ngabuburit, atau yang mau romantis-romantisan tempat ini cocok. Makanannya juga bervariasi dari western, chinese, hingga Indonesia, tapi enak-enak! Coba kunjungi page-nya di Trip Advisor pasti tanggapannya positif semua. Pelayanannya pun juga memuaskan, ada biliar di lantai bawah yang bisa dipake secara gratis, restoran di lantai 2, dan lounge untuk menginap gratis di lantai 3. Ada wi-fi gratis yang cepet pula. Sebenernya gw masih belum pantes sih untuk rekomendasi tempat makan di Labuanbajo karena gw nggak nyicipin semuanya. Ada Mediterraneo dan MadeInItaly yang nyajiin makanan Italia, Paradise Bar, Bajo Bakery, The Corner, Gelato & U yang semuanya nggak sempet gw coba. Setelah gw browsing lagi sih, La Veria yang tempatnya agak jauh dari kota bisa jadi pilihan untuk makan enak :)
Untuk hotel ada banyak pilihan di kota ini. Untuk eksekutif yang mengutamakan kenyamanan tentu bisa memilih Bintang Flores atau Jayakarta. Kalo seperti kami-kami ini yang budget traveler, tentu harus pilih-pilih, bujet mentok 200 ribu per kamar per malem. Gardena sebenernya bisa jadi pilihan karena tempatnya yang enak dan ada view yang bagus dari atas, cuma waktu ke sana kamarnya penuh. Mutiara merupakan pilihan yang reasonable: kamarnya cukup bersih, harganya murah, lumayan adem, deket sama pelabuhan, dan pengelolanya ramah, cuma waktu hari pertama ke sana kamarnya udah penuh, jadi pastiin dulu untuk booking sebelumnya. Hari pertama kami nginep di Wisata yang letaknya jauh dari pelabuhan dan kamarnya gerah abis. Kalo kepaksa sih boleh aja kalo mau nginep di sana. Satu hal yang pasti, walaupun kepaksa jangan nginep di hotel namanya Matahari. Teman kami, Yudi, yang sebelumnya ketemu di Wae Rebo udah pernah nginep di sana dan simply not recommended at any cost.
Tempat wisata yang banyak dikunjungi di sana adalah Gua Cermin dan juga air terjun Cunca Rami. Cuma sayang kami nggak berkesempatan ke sana.
Bandara Komodo sendiri melayani 3 maskapai: Trans Nusa, Merpati, dan juga Wings Air. Saran gw pakailah maskapai selain Merpati, karena gw udah punya pengalaman flight gw dimajuin seenaknya dan baru dikasih tau 1 jam sebelum berangkat saat gw masih terlelap di kamar hotel. Masih mending dimajuin dan gw lagi ada di kota yang cuma sekitar 5 menit dari bandara. Ada cerita bahkan Merpati kadang-kadang juga delay penerbangan sampai keesokan harinya. Hadeeehh.
Jangan lupa juga begitu nyampe di Labuanbajo adalah cari kapal untuk di-booking keesokan harinya buat yang mau tur Komodo, atau cari dive center yang cocok buat yang mau nyelem. Satu lagi, sebaiknya siapkan duit yang cukup secara tunai di Bali. Di sana sepertinya nggak ada pelayanan kartu kredit. Dan juga ATM pun yang ada cuma ATM BRI dan BNI. Jadi buat gw yang pake bank swasta harus hemat-hemat biaya biar bisa pulang balik ke Jakarta hehehe.
Kota Labuanbajo sendiri nggak terlalu besar. Ada bagian kota baru yang terletak lebih tinggi, di situ terletak kantor-kantor pemerintahan dan juga Bandara Komodo. Sementara kota lama yang bekas desa nelayan ada di bagian bawah. Di situ terdapat jalan 1 arah (Jl. Soekarno-Hatta) yang dimulai dari pasar ikan Labuanbajo. Suasana Labuanbajo sendiri benar-benar beda sama kota lainnya di Flores, banyak kafe, hotel, rumah makan, agen wisata dan dive, pokoknya udah seperti kota internasional karena banyaknya bule di sini. Tapi ya jangan bayangkan Labuanbajo seperti Kuta, kota ini kalo udah malam ya nggak ada aktivitas juga.
Kami sendiri nggak banyak berkesempatan eksplorasi tempat-tempat wisata di sekitar Labuanbajo, karena fokus ke kepulauan Komodo. Jadi yang dilakukan di sini adalah makaaaaan! Maklum, udah beberapa hari nggak ngerasain makanan modern. Yang pertama kami kunjungi adalah warung kaki lima yang ada di pantai sebelah pasar ikan Komodo. Namanya gw lupa, mungkin warung Jawa atau semacam itu lah. Sebenernya nggak susah nyarinya, warung ini paling jauh dari pasar ikan, dekat dengan persimpangan dari atas. Warungnya pun kalo malam paling rame. Di sini yang harus dicoba adalah ikan kerapu bakarnya, cuma 25 ribu rupiah per ekor bokk. Satu orang bisa nyantap 1 ikan bakar + nasi hangat.
Makanan lain yang kami coba adalah rumah makan Arto Moro yang letaknya di Jl. Soekarno-Hatta. Tempat makan ini ada di lantai 2, jadi harus naik tangga dulu dari depan. Menu yang ada di sini adalah semacam pecel ayam di Jakarta, atau kalo gw makannya pecel cumi-cumi. Rasanyaaa? Yah lumayan lah, semacam bayar kekangenan makanan Jawa. Nah, untuk makanan, yang paling gw rekomendasikan adalah kafe yang bernama Tree Top. Kafe ini menyajikan pemandangan sunset yang paling bagus se-Bajo. Jadi buat yang mau hangout, ngabuburit, atau yang mau romantis-romantisan tempat ini cocok. Makanannya juga bervariasi dari western, chinese, hingga Indonesia, tapi enak-enak! Coba kunjungi page-nya di Trip Advisor pasti tanggapannya positif semua. Pelayanannya pun juga memuaskan, ada biliar di lantai bawah yang bisa dipake secara gratis, restoran di lantai 2, dan lounge untuk menginap gratis di lantai 3. Ada wi-fi gratis yang cepet pula. Sebenernya gw masih belum pantes sih untuk rekomendasi tempat makan di Labuanbajo karena gw nggak nyicipin semuanya. Ada Mediterraneo dan MadeInItaly yang nyajiin makanan Italia, Paradise Bar, Bajo Bakery, The Corner, Gelato & U yang semuanya nggak sempet gw coba. Setelah gw browsing lagi sih, La Veria yang tempatnya agak jauh dari kota bisa jadi pilihan untuk makan enak :)
Untuk hotel ada banyak pilihan di kota ini. Untuk eksekutif yang mengutamakan kenyamanan tentu bisa memilih Bintang Flores atau Jayakarta. Kalo seperti kami-kami ini yang budget traveler, tentu harus pilih-pilih, bujet mentok 200 ribu per kamar per malem. Gardena sebenernya bisa jadi pilihan karena tempatnya yang enak dan ada view yang bagus dari atas, cuma waktu ke sana kamarnya penuh. Mutiara merupakan pilihan yang reasonable: kamarnya cukup bersih, harganya murah, lumayan adem, deket sama pelabuhan, dan pengelolanya ramah, cuma waktu hari pertama ke sana kamarnya udah penuh, jadi pastiin dulu untuk booking sebelumnya. Hari pertama kami nginep di Wisata yang letaknya jauh dari pelabuhan dan kamarnya gerah abis. Kalo kepaksa sih boleh aja kalo mau nginep di sana. Satu hal yang pasti, walaupun kepaksa jangan nginep di hotel namanya Matahari. Teman kami, Yudi, yang sebelumnya ketemu di Wae Rebo udah pernah nginep di sana dan simply not recommended at any cost.
Tempat wisata yang banyak dikunjungi di sana adalah Gua Cermin dan juga air terjun Cunca Rami. Cuma sayang kami nggak berkesempatan ke sana.
Bandara Komodo sendiri melayani 3 maskapai: Trans Nusa, Merpati, dan juga Wings Air. Saran gw pakailah maskapai selain Merpati, karena gw udah punya pengalaman flight gw dimajuin seenaknya dan baru dikasih tau 1 jam sebelum berangkat saat gw masih terlelap di kamar hotel. Masih mending dimajuin dan gw lagi ada di kota yang cuma sekitar 5 menit dari bandara. Ada cerita bahkan Merpati kadang-kadang juga delay penerbangan sampai keesokan harinya. Hadeeehh.
Jangan lupa juga begitu nyampe di Labuanbajo adalah cari kapal untuk di-booking keesokan harinya buat yang mau tur Komodo, atau cari dive center yang cocok buat yang mau nyelem. Satu lagi, sebaiknya siapkan duit yang cukup secara tunai di Bali. Di sana sepertinya nggak ada pelayanan kartu kredit. Dan juga ATM pun yang ada cuma ATM BRI dan BNI. Jadi buat gw yang pake bank swasta harus hemat-hemat biaya biar bisa pulang balik ke Jakarta hehehe.
Flores: Wae Rebo
Boleh dibilang, perjalanan ke Desa Wae Rebo merupakan gong dari perjalanan overland Flores dari timur ke barat kemarin. Gimana nggak? Desa ini udah mencaplok penghargaan UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation baru-baru ini. Kalo orang luar negeri udah menghargai desa itu, sebaliknya dengan orang negeri sendiri. Jumlah wisatawan domestik yang gw lihat di buku tamu Wae Rebo kalah jauh sama wisatawan luar. Bukan apa-apa. Kabarnya jalan menuju ke desa itu susah bukan main. Kami sih modal nekat aja maksa-maksain Pak Lexi (supir travel) untuk mau ke sana, padahal dia sendiri juga belum pernah ke sana. Hahaha, dasar bonek.
Perjalanan ke Wae Rebo hampir selalu dimulai dari Ruteng, soalnya perjalanannya sendiri lumayan nyapekin jadi disaranin istirahat dulu di Ruteng terus jalan pagi hari. Nggak lupa, kami beli bungkusan nasi padang dulu buat makan siang di tengah jalan. Dan bener, perjalanan Ruteng - Wae Rebo meliuk-liuk dengan patahan-patahan tajam. Kami beriringan sama 1 travel pasangan bule dari Swiss. Beberapa ruas jalan bahkan cuma bisa dilaluin 1 mobil. Untung jalanannya udah lumayan bagus dan diaspal, jadi nggak nyusahin kami. Ya iyalah, orang tinggal tidur di mobil doang hahaha, bahkan gw sendiri minum 2 antimo sebelum naik mobil. Sempet tidur, bangun, baca novel bentar, trus tidur lagi, bangun lagi. Singkat cerita, akhirnya kami sampai di jalanan pinggir laut, menandakan udah sampai di jalanan pesisir selatan Flores. Jalanan ini bukan jalan raya provinsi yang gede, bahkan kalo ada 2 mobil papasan salah satunya harus berhenti. Jalanan ini lumayan panjang juga. Dan yang nggak diduga-duga jalan ini makan korban ban mobil kami. Salah satu ban pecah dan ketika mau diganti ban serepnya juga kempes dan bocor alus juga. Jadilah akhirnya minta bantuan motor yang lewat buat nambalin ban ke tambal ban 'terdekat', sambil kami makan siang di pinggir laut diliatin sama anak SD yang baru pulang jalan kaki bermil-mil jauhnya. Singkat cerita lagi, tambal ban 'terdekat' itu nggak punya tubles, jadilah kita jalan dengan ban yang udah-dipompa-tapi-masih-bocor itu cepat-cepat ke tambal ban lain yang katanya punya tubles di Desa Dintor. Desa Dintor adalah desa pesisir terdekat untuk transit ke Wae Rebo. Desa ini ditandai sama adanya papan penunjuk jalan ke Wae Rebo dan juga Pulau Mules di seberangnya. FYI, kalo naik ojek dari Ruteng ke Dintor per orang kena 150 ribu rupiah.
Perjalanan Dintor - Denge nggak terlalu jauh, tapi menanjak. Desa Denge adalah desa terakhir untuk transit sebelum Wae Rebo. Pemandangan sepanjang jalan ajib banget, bahkan Pak Lexi yang orang Flores asli pun bilang pemandangannya bagus. Di Denge, kami menginap di penginapan milik Pak Guru Blasius Monta, bersama pasangan bule Swiss tadi, Michel & Maggie. Penginapan Pak Blasius itu yang satu-satunya di Denge, adanya di sebelah SDN Denge. Penginapannya sederhana banget, di depan ada beberapa kamar yang dijadikan 2 tingkat, sementara di belakang ada 2 kamar. Sebaiknya kalo peak season reservasi dulu ke Pak Blasius sebelum datang ke sana. Listrik cuma ada malam hari sampai jam 9 malam, sinyal nggak ada sama sekali, atau kalopun ada harus jalan ke kebun cengkeh yang ada di belakang rumah. Nice place to get isolated. Pak Blasius dan istrinya ramah banget, mereka selalu menekankan kalo nginap di sini anggap aja rumah sendiri. Jadi kalo butuh air tinggal ambil ke belakang, kalo butuh air panas boleh masak sendiri pake kompor kayu, kalo mau teh/kopi tinggal minta. Bahkan Bu Blasius nawarin ke gw untuk nyembelih ayam sendiri buat makan malam karena dia ngehormatin tamu-tamunya yang muslim. Sore hari, gara-gara ngantuk gw udah abis di perjalanan, gw emilih untuk main-main ke SDN Denge ngelihat anak-anak SD yang main sore. Hmmm... mengingatkan gw akan enaknya masa kecil yang nggak perlu mikir apa-apa. Malam itu kami habisin dengan ngeliatin sunset di halaman rumah, ngobrol sama supir, sama bule, sama Pak Blasius, makan malam pake ayam sembelihan sendiri, yah pokoknya melupakan semua masalah hahaha.
Perjalanan Denge - Wae Rebo harus dilakukan dengan trekking, nggak ada cara lain. Pak Blasius bilang jalannya enak kok, butuh sekitar 3,5 jam untuk sampai ke Wae Rebo. Denge ada di ketinggian 500 m sementara Wae Rebo ada di ketinggian 1.200 m. Kami berangkat pagi-pagi dianterin sama porter yang udah dipesen sama Pak Blasius sebelumnya. Soalnya kami berencana turun siang hari dan sore udah nyampe di Ruteng lagi. Perjalanan dimulai dari SDN Denge ke arah bukit belakang sekolah. Rute pertama melewati kebun-kebun, aliran sungai, dan penuh sama batu-batu di tengah jalan. Etape ini udah bikin ngos-ngosan karena batunya yang gede-gede. Rute kedua udah nggak ada bebatuan lagi tapi bener-bener panjang dan seperti jalan tiada akhir. Kemiringannya sih nggak seberapa, paling curam cuma sekitar 30 derajat. Pos dua ditandai dengan adanya tebing berpagar yang dari situ bisa dapat sinyal si merah. Perjalanan dilanjutkan dengan menanjak lagi sampai akhirnya keliatan ada ujung atap Mbaru Niang yang mulai nongol. Nah dari situ perjalanan menurun sampai ke Desa Wae Rebo, melewati kebun kopi milik warga.
Sesampainya di Wae Rebo setelah 3,5 jam jalan, hal yang pertama harus dilakukan sebagai tamu adalah minta ijin ke tetua adat di sana, simbolis pake duit. Setelah diijinin baru boleh keliling desa, yang mau istirahat ada Mbaru Niang khusus untuk tamu. Di sana disajiin kopi robusta asli Wae Rebo yang rasanya memang mantap untuk ngusir capek setelah trekking. Warga sana cukup welcome untuk menyambut para tamu, yang hari itu cuma ada 7 orang: kami berempat, pasangan bule Swiss, dan seorang traveller photographer dari Jakarta yang ternyata sebaya sama kami bernama Yudi. Kami baru tahu juga kalo di Wae Rebo bisa nginep juga, tentu dengan tarif beda. Kalo seperti kami yang cuma singgah sehari dikenakan 100 ribu rupiah per kepala, kalo yang nginep dikenakan 225 ribu rupiah per kepala. Sayangnya hal ini ngak sebanding sama makanan yang disajikan di sana, kami cuma dapat nasi, mie goreng, dan tumis sayur di sana. Sejauh ini di Wae Rebo merupakan expense termahal selama di Flores. Sampai siang kami bercengkerama sama penduduk lokal, tanpa lupa kebiasaan sosialita, ambil foto-foto ciamik untuk dipamerin begitu nyampe di Jakarta. Selepas siang, kami harus segera turun ke bawah soalnya langit udah mulai gelap. Kalo turun gunung barengan sama hujan, bakal lama nyampe di Denge.
Perjalanan turun memang lebih cepat. Tapi ngebayangin harus jalan turun gunung lewat jalan yang dilewatin saat naik tadi lumayan bikin mual. Gw nggak terlalu suka lewat jalan yang sama kalo turun gunung. Belum lagi gw kena serangan lintah 4 kali selama perjalanan turun ini, alhasil kaki gw merah kehitaman gara-gara darah sendiri. Perjalanan turun ini 'cuma' 3 jam saja. Sesampainya di rumah Pak Blasius sore hari, langsung disajiin lagi kopi Wae Rebo yang nikmat itu dan bersiap untuk jalan ke Ruteng biar nggak kemaleman. Pak Lexi udah fresh habis istirahat seharian.
Perjalanan turun dari Denge ke Dintor menyajikan pemandangan yang lagi-lagi spektakuler, jalanan lurus turun ke bawah dengan panorama Pulau Mules di kejauhan dengan latar belakang langit sore. Perjalanan Dintor - Ruteng kami tempuh lewat jalan yang berbeda, menembus gunung tapi lebih cepat. Nggak disangka jam 7 malam kami udah tiba di Ruteng dan siap untuk petualangan berikutnya.
Untuk detil tentang Wae Rebo bisa mengunjungi sini, sini, dan sini.
Untuk menghubungi Pak Blasius, cukup SMS ke +6281339350775
Perjalanan ke Wae Rebo hampir selalu dimulai dari Ruteng, soalnya perjalanannya sendiri lumayan nyapekin jadi disaranin istirahat dulu di Ruteng terus jalan pagi hari. Nggak lupa, kami beli bungkusan nasi padang dulu buat makan siang di tengah jalan. Dan bener, perjalanan Ruteng - Wae Rebo meliuk-liuk dengan patahan-patahan tajam. Kami beriringan sama 1 travel pasangan bule dari Swiss. Beberapa ruas jalan bahkan cuma bisa dilaluin 1 mobil. Untung jalanannya udah lumayan bagus dan diaspal, jadi nggak nyusahin kami. Ya iyalah, orang tinggal tidur di mobil doang hahaha, bahkan gw sendiri minum 2 antimo sebelum naik mobil. Sempet tidur, bangun, baca novel bentar, trus tidur lagi, bangun lagi. Singkat cerita, akhirnya kami sampai di jalanan pinggir laut, menandakan udah sampai di jalanan pesisir selatan Flores. Jalanan ini bukan jalan raya provinsi yang gede, bahkan kalo ada 2 mobil papasan salah satunya harus berhenti. Jalanan ini lumayan panjang juga. Dan yang nggak diduga-duga jalan ini makan korban ban mobil kami. Salah satu ban pecah dan ketika mau diganti ban serepnya juga kempes dan bocor alus juga. Jadilah akhirnya minta bantuan motor yang lewat buat nambalin ban ke tambal ban 'terdekat', sambil kami makan siang di pinggir laut diliatin sama anak SD yang baru pulang jalan kaki bermil-mil jauhnya. Singkat cerita lagi, tambal ban 'terdekat' itu nggak punya tubles, jadilah kita jalan dengan ban yang udah-dipompa-tapi-masih-bocor itu cepat-cepat ke tambal ban lain yang katanya punya tubles di Desa Dintor. Desa Dintor adalah desa pesisir terdekat untuk transit ke Wae Rebo. Desa ini ditandai sama adanya papan penunjuk jalan ke Wae Rebo dan juga Pulau Mules di seberangnya. FYI, kalo naik ojek dari Ruteng ke Dintor per orang kena 150 ribu rupiah.
Perjalanan Dintor - Denge nggak terlalu jauh, tapi menanjak. Desa Denge adalah desa terakhir untuk transit sebelum Wae Rebo. Pemandangan sepanjang jalan ajib banget, bahkan Pak Lexi yang orang Flores asli pun bilang pemandangannya bagus. Di Denge, kami menginap di penginapan milik Pak Guru Blasius Monta, bersama pasangan bule Swiss tadi, Michel & Maggie. Penginapan Pak Blasius itu yang satu-satunya di Denge, adanya di sebelah SDN Denge. Penginapannya sederhana banget, di depan ada beberapa kamar yang dijadikan 2 tingkat, sementara di belakang ada 2 kamar. Sebaiknya kalo peak season reservasi dulu ke Pak Blasius sebelum datang ke sana. Listrik cuma ada malam hari sampai jam 9 malam, sinyal nggak ada sama sekali, atau kalopun ada harus jalan ke kebun cengkeh yang ada di belakang rumah. Nice place to get isolated. Pak Blasius dan istrinya ramah banget, mereka selalu menekankan kalo nginap di sini anggap aja rumah sendiri. Jadi kalo butuh air tinggal ambil ke belakang, kalo butuh air panas boleh masak sendiri pake kompor kayu, kalo mau teh/kopi tinggal minta. Bahkan Bu Blasius nawarin ke gw untuk nyembelih ayam sendiri buat makan malam karena dia ngehormatin tamu-tamunya yang muslim. Sore hari, gara-gara ngantuk gw udah abis di perjalanan, gw emilih untuk main-main ke SDN Denge ngelihat anak-anak SD yang main sore. Hmmm... mengingatkan gw akan enaknya masa kecil yang nggak perlu mikir apa-apa. Malam itu kami habisin dengan ngeliatin sunset di halaman rumah, ngobrol sama supir, sama bule, sama Pak Blasius, makan malam pake ayam sembelihan sendiri, yah pokoknya melupakan semua masalah hahaha.
Perjalanan Denge - Wae Rebo harus dilakukan dengan trekking, nggak ada cara lain. Pak Blasius bilang jalannya enak kok, butuh sekitar 3,5 jam untuk sampai ke Wae Rebo. Denge ada di ketinggian 500 m sementara Wae Rebo ada di ketinggian 1.200 m. Kami berangkat pagi-pagi dianterin sama porter yang udah dipesen sama Pak Blasius sebelumnya. Soalnya kami berencana turun siang hari dan sore udah nyampe di Ruteng lagi. Perjalanan dimulai dari SDN Denge ke arah bukit belakang sekolah. Rute pertama melewati kebun-kebun, aliran sungai, dan penuh sama batu-batu di tengah jalan. Etape ini udah bikin ngos-ngosan karena batunya yang gede-gede. Rute kedua udah nggak ada bebatuan lagi tapi bener-bener panjang dan seperti jalan tiada akhir. Kemiringannya sih nggak seberapa, paling curam cuma sekitar 30 derajat. Pos dua ditandai dengan adanya tebing berpagar yang dari situ bisa dapat sinyal si merah. Perjalanan dilanjutkan dengan menanjak lagi sampai akhirnya keliatan ada ujung atap Mbaru Niang yang mulai nongol. Nah dari situ perjalanan menurun sampai ke Desa Wae Rebo, melewati kebun kopi milik warga.
Sesampainya di Wae Rebo setelah 3,5 jam jalan, hal yang pertama harus dilakukan sebagai tamu adalah minta ijin ke tetua adat di sana, simbolis pake duit. Setelah diijinin baru boleh keliling desa, yang mau istirahat ada Mbaru Niang khusus untuk tamu. Di sana disajiin kopi robusta asli Wae Rebo yang rasanya memang mantap untuk ngusir capek setelah trekking. Warga sana cukup welcome untuk menyambut para tamu, yang hari itu cuma ada 7 orang: kami berempat, pasangan bule Swiss, dan seorang traveller photographer dari Jakarta yang ternyata sebaya sama kami bernama Yudi. Kami baru tahu juga kalo di Wae Rebo bisa nginep juga, tentu dengan tarif beda. Kalo seperti kami yang cuma singgah sehari dikenakan 100 ribu rupiah per kepala, kalo yang nginep dikenakan 225 ribu rupiah per kepala. Sayangnya hal ini ngak sebanding sama makanan yang disajikan di sana, kami cuma dapat nasi, mie goreng, dan tumis sayur di sana. Sejauh ini di Wae Rebo merupakan expense termahal selama di Flores. Sampai siang kami bercengkerama sama penduduk lokal, tanpa lupa kebiasaan sosialita, ambil foto-foto ciamik untuk dipamerin begitu nyampe di Jakarta. Selepas siang, kami harus segera turun ke bawah soalnya langit udah mulai gelap. Kalo turun gunung barengan sama hujan, bakal lama nyampe di Denge.
Perjalanan turun memang lebih cepat. Tapi ngebayangin harus jalan turun gunung lewat jalan yang dilewatin saat naik tadi lumayan bikin mual. Gw nggak terlalu suka lewat jalan yang sama kalo turun gunung. Belum lagi gw kena serangan lintah 4 kali selama perjalanan turun ini, alhasil kaki gw merah kehitaman gara-gara darah sendiri. Perjalanan turun ini 'cuma' 3 jam saja. Sesampainya di rumah Pak Blasius sore hari, langsung disajiin lagi kopi Wae Rebo yang nikmat itu dan bersiap untuk jalan ke Ruteng biar nggak kemaleman. Pak Lexi udah fresh habis istirahat seharian.
Perjalanan turun dari Denge ke Dintor menyajikan pemandangan yang lagi-lagi spektakuler, jalanan lurus turun ke bawah dengan panorama Pulau Mules di kejauhan dengan latar belakang langit sore. Perjalanan Dintor - Ruteng kami tempuh lewat jalan yang berbeda, menembus gunung tapi lebih cepat. Nggak disangka jam 7 malam kami udah tiba di Ruteng dan siap untuk petualangan berikutnya.
Untuk detil tentang Wae Rebo bisa mengunjungi sini, sini, dan sini.
Untuk menghubungi Pak Blasius, cukup SMS ke +6281339350775
Sunday, December 23, 2012
Flores: Bajawa & Ruteng
Perjalanan selanjutnya dimulai dengan perubahan pola transportasi geng Flores (kami berempat) dari yang sebelumnya pake transportasi umum ke perjalanan pake travel. Sebenernya bukan kami yang menginginkan perubahan itu, tapi gara-garanya ada travel dengan base di Labuanbajo yang lagi ada di Maumere dan butuh penumpang buat balik ke Labuanbajo biar nggak rugi. Dan hebatnya, si supir travel itu bisa tahu lokasi persis kami di Riung hanya dengan nanya-nanya orang di Moni. Singkat kata, jadilah kami nge-deal supir travel itu buat ke Labuanbajo dengan waktu selama 4 hari dengan harga 500 ribu rupiah perhari nett, udah nggak perlu mikirin bensin, makan supir, nginep supir, dsb. dan hanya tinggal nempelin badan di kursi. Tentu udah dengan perhitungan kalo kami berempat naik angkutan umum sampai ke Labuanbajo total cuma hemat 200 ribu dibandingin sama naik travel. Bingung? Nggak usah dipikirin.
Oke, perjalanan selanjutnya ke kota Bajawa disupiri Pak Lexi yang ternyata dari Riung lumayan jauh, melewati jalanan yang lagi-lagi berkelok-kelok dan jalanan yang aspalnya setengah jadi. Kira-kira butuh waktu 3 jam perjalanan Riung-Bajawa. Bajawa sendiri adalah kota yang letaknya di tengah Flores dan terkenal berhawa paling dingin. Sebenernya tempat wisata di Bajawa juga nggak terlalu banyak, cuma pemandian air panas yang kami skip karena keterbatasan waktu, dan juga yang paling terkenal adalah desa wisata Bena.
Desa Bena sendiri butuh waktu setengah jam perjalanan dari Bajawa. Untuk mencapai ke sana kalo nggak pake travel bisa menggunakan angkutan umum atau ojek. Sebelum masuk ke desa, wajib nulis buku tamu dulu sambil ngasih uang sukarela. Kemudian bisa keliling-keliling desa sepuasnya, motret-motret, atau berburu kain tenun khas Bena. Objeknya lumayan menarik, ada batu-batu menhir besar di tengah desa yang dipake untuk pemujaan, ada kuburan-kuburan batu, ada ibu-ibu yang lagi menenun, dan banyak lagi lainnya. Dari puncak tertinggi di Bena, kita bisa lihat pemandangan gunung-gunung di sekitar Bajawa hingga pantai selatan Flores. Cukup menyenangkan!
Selepas dari Bena, mampir sebentar di Bajawa untuk isi bensin dan makan. Lagi-lagi pilihan makanan di Flores itu kalo nggak seafood, makanan Padang, atau makanan Jawa. Abis makan, cabut lagi ke kota selanjutnya Ruteng dengan waktu perjalanan 4 jam, itu pun dengan ngebut banget ala Pak Lexi.
Ruteng adalah kota favorit gw di Flores. Gimana nggak? Kotanya relatif lebih lengkap daripada kota lainnya di Flores, udaranya adem sepanjang masa kadang-kadang berkabut, letaknya di kaki gunung, lalu lintasnya juga tenang-tenang aja, pokoknya tipe kota yang tenang buat ditinggali tanpa stress. Ruteng sendiri adalah ibukota Kab. Manggarai dan terkenal sebagai pintu gerbang ke tempat-tempat wisata di sekitarnya yang lumayan banyak. Sayangnya, selepas jam 7 malam, kota ini seperti kota mati. Kami baru berkesempatan keliling wisata di sekitar Ruteng hanya ke 2 tempat wisata: sawah spider-web dan gua Liang Bua.
Sawah spider-web letaknya sekitar seperempat jam dari kota Ruteng. Letaknya gw sendiri nggak tau ada di mananya karena pake supir travel ke sana. Untuk mencapai pemandangan sawah, dibutuhkan naik bukit yang nggak terlalu tinggi dan kemudian hamparan sawah dengan pola sirkular terbentang di depan. Di belakang, panorama Ruteng dengan gunung di belakangnya. Berhubung tempatnya cukup terjangkau, direkomendasikan ke daerah ini.
Sementara Liang Bua terletak sekitar setengah jam dari Ruteng. Setelah jalan yang lagi-lagi berkelok-kelok Liang Bua ditandai dengan adanya gerbang selamat datang. Dari situ di sebelah kanan terdapat musium untuk edukasi tentang gua ini, berhubung tempat ini adalah tempat ditemukannya manusia hobbit dari Flores Homo floresiensis, yang katanya sempat mengguncang dunia perarkeologian. Nggak jauh dari musium terdapat pintu masuk gua yang lebar. Di dalem gua sih sebenernya nggak ada apa-apa, cuma bisa lihat tempat tinggalnya manusia primitif jaman dulu. Kalo ke Flores dalam jangka waktu terbatas, sebaiknya nggak usah ke tempat ini. Tapi kalo waktunya lama seperti kami-kami ini, boleh juga ke sana soalnya tanggung udah jauh-jauh pergi.
Pilihan penginapan dan restoran di Ruteng juga terbatas, nggak seperti di Labuanbajo.Untuk penginapan kami menginap di Susteran Maria Berduka Cita (MBC) yang tempatnya nyaman abis dan yang penting ada air panasnya. Jangan harap bisa nginep dengan enak di Ruteng tanpa air panas. Bahkan katanya kalo ada menteri yang nginep di Ruteng, dia akan nginep di susteran ini. Untuk makanan, selain restoran Padang tentunya, bisa dicoba restoran Pade Doang atau restoran Agape yang jual variasi makanan yang lumayan banyak. Bahkan di Ruteng, kami sempet coba kedai pizza yang tentunya nggak bisa ditemukan dari perjalanan Maumere ke Ruteng sebelumnya.
Oke, perjalanan selanjutnya ke kota Bajawa disupiri Pak Lexi yang ternyata dari Riung lumayan jauh, melewati jalanan yang lagi-lagi berkelok-kelok dan jalanan yang aspalnya setengah jadi. Kira-kira butuh waktu 3 jam perjalanan Riung-Bajawa. Bajawa sendiri adalah kota yang letaknya di tengah Flores dan terkenal berhawa paling dingin. Sebenernya tempat wisata di Bajawa juga nggak terlalu banyak, cuma pemandian air panas yang kami skip karena keterbatasan waktu, dan juga yang paling terkenal adalah desa wisata Bena.
Desa Bena sendiri butuh waktu setengah jam perjalanan dari Bajawa. Untuk mencapai ke sana kalo nggak pake travel bisa menggunakan angkutan umum atau ojek. Sebelum masuk ke desa, wajib nulis buku tamu dulu sambil ngasih uang sukarela. Kemudian bisa keliling-keliling desa sepuasnya, motret-motret, atau berburu kain tenun khas Bena. Objeknya lumayan menarik, ada batu-batu menhir besar di tengah desa yang dipake untuk pemujaan, ada kuburan-kuburan batu, ada ibu-ibu yang lagi menenun, dan banyak lagi lainnya. Dari puncak tertinggi di Bena, kita bisa lihat pemandangan gunung-gunung di sekitar Bajawa hingga pantai selatan Flores. Cukup menyenangkan!
Selepas dari Bena, mampir sebentar di Bajawa untuk isi bensin dan makan. Lagi-lagi pilihan makanan di Flores itu kalo nggak seafood, makanan Padang, atau makanan Jawa. Abis makan, cabut lagi ke kota selanjutnya Ruteng dengan waktu perjalanan 4 jam, itu pun dengan ngebut banget ala Pak Lexi.
Ruteng adalah kota favorit gw di Flores. Gimana nggak? Kotanya relatif lebih lengkap daripada kota lainnya di Flores, udaranya adem sepanjang masa kadang-kadang berkabut, letaknya di kaki gunung, lalu lintasnya juga tenang-tenang aja, pokoknya tipe kota yang tenang buat ditinggali tanpa stress. Ruteng sendiri adalah ibukota Kab. Manggarai dan terkenal sebagai pintu gerbang ke tempat-tempat wisata di sekitarnya yang lumayan banyak. Sayangnya, selepas jam 7 malam, kota ini seperti kota mati. Kami baru berkesempatan keliling wisata di sekitar Ruteng hanya ke 2 tempat wisata: sawah spider-web dan gua Liang Bua.
Sawah spider-web letaknya sekitar seperempat jam dari kota Ruteng. Letaknya gw sendiri nggak tau ada di mananya karena pake supir travel ke sana. Untuk mencapai pemandangan sawah, dibutuhkan naik bukit yang nggak terlalu tinggi dan kemudian hamparan sawah dengan pola sirkular terbentang di depan. Di belakang, panorama Ruteng dengan gunung di belakangnya. Berhubung tempatnya cukup terjangkau, direkomendasikan ke daerah ini.
Sementara Liang Bua terletak sekitar setengah jam dari Ruteng. Setelah jalan yang lagi-lagi berkelok-kelok Liang Bua ditandai dengan adanya gerbang selamat datang. Dari situ di sebelah kanan terdapat musium untuk edukasi tentang gua ini, berhubung tempat ini adalah tempat ditemukannya manusia hobbit dari Flores Homo floresiensis, yang katanya sempat mengguncang dunia perarkeologian. Nggak jauh dari musium terdapat pintu masuk gua yang lebar. Di dalem gua sih sebenernya nggak ada apa-apa, cuma bisa lihat tempat tinggalnya manusia primitif jaman dulu. Kalo ke Flores dalam jangka waktu terbatas, sebaiknya nggak usah ke tempat ini. Tapi kalo waktunya lama seperti kami-kami ini, boleh juga ke sana soalnya tanggung udah jauh-jauh pergi.
Pilihan penginapan dan restoran di Ruteng juga terbatas, nggak seperti di Labuanbajo.Untuk penginapan kami menginap di Susteran Maria Berduka Cita (MBC) yang tempatnya nyaman abis dan yang penting ada air panasnya. Jangan harap bisa nginep dengan enak di Ruteng tanpa air panas. Bahkan katanya kalo ada menteri yang nginep di Ruteng, dia akan nginep di susteran ini. Untuk makanan, selain restoran Padang tentunya, bisa dicoba restoran Pade Doang atau restoran Agape yang jual variasi makanan yang lumayan banyak. Bahkan di Ruteng, kami sempet coba kedai pizza yang tentunya nggak bisa ditemukan dari perjalanan Maumere ke Ruteng sebelumnya.
Sunday, December 16, 2012
Flores: Riung
Jadi pilihan ke Riung itu sebenernya nggak diduga-duga sebelumnya. Dari hasil riset itinerary sebelumnya untuk mencapai Riung itu harus lewat kota Bajawa. Ternyata baru di Moni kami tahu kalo bisa langsung jalan dari Ende ke Riung tanpa harus lewat Bajawa, dan tentu jarak tempuhnya lebih pendek. Nah masalahnya angkutan dari Moni ke Riung itu katanya harus pake angkutan Moni-Ende dulu, trus pindah terminal di Ende, baru naik angkutan ke Riung yang katanya terakhir jam 10 pagi dari Ende. Sementara itu, jam 9 pagi kami masih santai-santai di teras Pak John. Alternatif kalo nggak mau pilihan itu adalah langsung ke Bajawa naik angkutan dari Moni yang katanya datang siang hari, dari situ baru naik angkutan ke utara ke arah Riung. Bingung nggak? Sama.
Buat yang belum tahu, Riung itu adalah kawasan wisata pantai yang ada di Kab. Nagakeo di sisi pantai utara Flores. Memang kawasannya sendiri masih dalam pengembangan dan jauh dari jalan utama lintas Flores sehingga turis yang ke sana juga baru dikit. Denger-denger sih pantainya masih bagus, obyek wisata yang dijual adalah taman laut yang terdiri atas 17 pulau. Hmm menarik.
Si tengah penimbangan mau naik yang mana di terasnya Pak John, tiba-tiba ada tukang ojek yang ngasih tau kalo ada angkutan yang langsung ke Mbay, ibukota Kab. Nagakeo. Dari situ bisa naik angkutan ke Riung yang katanya cuma 15-20 menit dari Mbay. Begitu gw tanya angkutannya seperti apa, eh dia udah nunjuk di depan rumah. Waduh! Dengan keadaan belum packing, belum mandi, angkutannya udah nongol depan hidung aja. Tenang aja katanya, bisa disuruh nunggu, apalagi buat turis lokal seperti kita ini yang jumlahnya 4 orang. Si supir awalnya minta 120 ribu per orang, setelah ditawar jadi 90 ribu per orang. Setelah panik-panik packing dan gw nggak sempet mandi sejak dari Jakarta akhirnya naiklah kita ke bis antar kota tersebut.
Bentukan bis itu mirip elf, cuma isinya bisa macem-macem. Yang turis cuma kami berempat dan dapet kursi nyaman di bangku belakang. Penumpang lain harus rela berdesak-desakan duduk di tengah. Supirnya beda 180 derajat sama supir travel sebelumnya: ugal-ugalan, kenceng, dan pastinya bikin mabok. Untung gw udah minum antimo 2 biji sebelum berangkat. Lagu yang disetel juga lagu yang nge-beat dengan bass speaker yang adanya di bangku belakang. Makin komplit lah penderitaan perjalanan ini. Jalanan berkelok-kelok Moni-Ende memang bikin puyeng, untung bis itu berhenti di Ende buat makan siang di restoran Padang.
Akhirnya setelah muter-muter lagi sampai juga di terminal Mbay sekitar jam 2 siang. Jangan bayangin terminalnya mirip terminal bis di Jawa. Setelah angkotnya nunggu penumpang juga akhirnya cabut ke Riung yang katanya cuma 15-20 menit itu dengan harga 15 ribu per orang. Pret! Perjalanan ke Riung butuh waktu 1 jam lebih. Sore hari barulah nyampe ke kecamatan yang bernama Riung. Setelah menimbang-nimbang, mikir-mikir bujet juga kami memilih hotel Bintang Wisata.
Nggak ada hiburan di Riung ketika sore sampai malam hari. Hotel kami pun nggak ada TV-nya. Semua hotel yang kami tinggali di Flores juga nggak ada TV-nya karena sedang dalam budget travelling. Jadi kalo malem di Riung, yang dilakukan adalah ngumpul di rumah makan Padang satu-satunya di daerah itu yang dimiliki oleh Uda Burhanis sambil ngobrol-ngobrol nggak jelas, ngomongin itinerary, dan hal-hal nggak penting lainnya. Wisata di Riung paling bagus dilakuin seharian dengan nyewa kapal seharga Rp 250 ribu sepuasnya buat keliling taman laut Riung. Uda Burhanis juga yang ngajarin biar hemat konsumsi di atas kapal, yaitu dengan beli nasi bungkusnya buat dimakan siang hari. Dasar orang Padang memang otak bisnisnya jalan.
Pagi hari, setelah beli nasi Padang, kami jalan kaki ke dermaga. Malam sebelumnya gw udah ngehubungin salah satu pemilik kapal yaitu Pak Adam. Nah buat perjalanan kami ini dinahkodain sama Mas Abri. Tujuan pertama ke Pulau Tiga. Pulau Tiga ini terkenal dengan spot surfingnya di pinggir pantai. Oke, jadi kami nyebur sepuasnya di sana. Lumayan bagus. Kami bisa nangkap ikan fugu buat dimain-mainin, ketemu sama lionfish, dan beratus-ratus starfish. Karang-karangnya masih perawan karena jarangnya turis ke sana.
Tujuan selanjutnya adalah Pulau Rutong. Pulau ini adalah pulau yang berbukit, jadi agendanya adalah trekking ke atas bukit. Rutenya sih nggak jauh-jauh amat, cuma berhubung panas terik jadinya butuh tenaga lebih. Tapi begitu sampai di atas pemandangannya Subhanallah. Jernih birunya laut Riung kelihatan dari puncak ini dengan latar belakang lanskap Pulau Flores. Setelah berpuas-puas trekking dan tentunya renang lagi di Pulau Rutong, baru kami jalan ke taman laut di dekat Pulau Bakau. Nah di taman laut inilah tempat snorkling yang paling ajib. Karena tempatnya bukan di tepi pantai, tapi di benar-benar di tengah laut dangkal, keanekaragaman ikannya sungguh bagus. Sangat direkomendasikan buat snorkling di sini.
Nah menjelang sore baru kami bertolak ke Pulau Kelelawar yang agak jauh. Sebenernya udah capek juga tapi masih penasaran sama Pulau Kelelawar. Di sini jutaan kelelawar masih tidur menggantung di dahan-dahan pohon bakau. Dengan sedikit gangguan mesin kapal sama tepukan tangan, jutaan itu kaget dibangunin dan langsung terbang nggak tentu arah cari tempat yang lebih tenang. Dengan kami cuma satu-satunya turis di sana tentunya pemandangan itu sangat eksklusif.
Dengan ini, gw simpul dan sarankan bahwa Riung termasuk tempat wisata yang nggak boleh dilewatin selama ke Flores. Terima kasih.
Buat yang belum tahu, Riung itu adalah kawasan wisata pantai yang ada di Kab. Nagakeo di sisi pantai utara Flores. Memang kawasannya sendiri masih dalam pengembangan dan jauh dari jalan utama lintas Flores sehingga turis yang ke sana juga baru dikit. Denger-denger sih pantainya masih bagus, obyek wisata yang dijual adalah taman laut yang terdiri atas 17 pulau. Hmm menarik.
Si tengah penimbangan mau naik yang mana di terasnya Pak John, tiba-tiba ada tukang ojek yang ngasih tau kalo ada angkutan yang langsung ke Mbay, ibukota Kab. Nagakeo. Dari situ bisa naik angkutan ke Riung yang katanya cuma 15-20 menit dari Mbay. Begitu gw tanya angkutannya seperti apa, eh dia udah nunjuk di depan rumah. Waduh! Dengan keadaan belum packing, belum mandi, angkutannya udah nongol depan hidung aja. Tenang aja katanya, bisa disuruh nunggu, apalagi buat turis lokal seperti kita ini yang jumlahnya 4 orang. Si supir awalnya minta 120 ribu per orang, setelah ditawar jadi 90 ribu per orang. Setelah panik-panik packing dan gw nggak sempet mandi sejak dari Jakarta akhirnya naiklah kita ke bis antar kota tersebut.
Bentukan bis itu mirip elf, cuma isinya bisa macem-macem. Yang turis cuma kami berempat dan dapet kursi nyaman di bangku belakang. Penumpang lain harus rela berdesak-desakan duduk di tengah. Supirnya beda 180 derajat sama supir travel sebelumnya: ugal-ugalan, kenceng, dan pastinya bikin mabok. Untung gw udah minum antimo 2 biji sebelum berangkat. Lagu yang disetel juga lagu yang nge-beat dengan bass speaker yang adanya di bangku belakang. Makin komplit lah penderitaan perjalanan ini. Jalanan berkelok-kelok Moni-Ende memang bikin puyeng, untung bis itu berhenti di Ende buat makan siang di restoran Padang.
Akhirnya setelah muter-muter lagi sampai juga di terminal Mbay sekitar jam 2 siang. Jangan bayangin terminalnya mirip terminal bis di Jawa. Setelah angkotnya nunggu penumpang juga akhirnya cabut ke Riung yang katanya cuma 15-20 menit itu dengan harga 15 ribu per orang. Pret! Perjalanan ke Riung butuh waktu 1 jam lebih. Sore hari barulah nyampe ke kecamatan yang bernama Riung. Setelah menimbang-nimbang, mikir-mikir bujet juga kami memilih hotel Bintang Wisata.
Nggak ada hiburan di Riung ketika sore sampai malam hari. Hotel kami pun nggak ada TV-nya. Semua hotel yang kami tinggali di Flores juga nggak ada TV-nya karena sedang dalam budget travelling. Jadi kalo malem di Riung, yang dilakukan adalah ngumpul di rumah makan Padang satu-satunya di daerah itu yang dimiliki oleh Uda Burhanis sambil ngobrol-ngobrol nggak jelas, ngomongin itinerary, dan hal-hal nggak penting lainnya. Wisata di Riung paling bagus dilakuin seharian dengan nyewa kapal seharga Rp 250 ribu sepuasnya buat keliling taman laut Riung. Uda Burhanis juga yang ngajarin biar hemat konsumsi di atas kapal, yaitu dengan beli nasi bungkusnya buat dimakan siang hari. Dasar orang Padang memang otak bisnisnya jalan.
Pagi hari, setelah beli nasi Padang, kami jalan kaki ke dermaga. Malam sebelumnya gw udah ngehubungin salah satu pemilik kapal yaitu Pak Adam. Nah buat perjalanan kami ini dinahkodain sama Mas Abri. Tujuan pertama ke Pulau Tiga. Pulau Tiga ini terkenal dengan spot surfingnya di pinggir pantai. Oke, jadi kami nyebur sepuasnya di sana. Lumayan bagus. Kami bisa nangkap ikan fugu buat dimain-mainin, ketemu sama lionfish, dan beratus-ratus starfish. Karang-karangnya masih perawan karena jarangnya turis ke sana.
Tujuan selanjutnya adalah Pulau Rutong. Pulau ini adalah pulau yang berbukit, jadi agendanya adalah trekking ke atas bukit. Rutenya sih nggak jauh-jauh amat, cuma berhubung panas terik jadinya butuh tenaga lebih. Tapi begitu sampai di atas pemandangannya Subhanallah. Jernih birunya laut Riung kelihatan dari puncak ini dengan latar belakang lanskap Pulau Flores. Setelah berpuas-puas trekking dan tentunya renang lagi di Pulau Rutong, baru kami jalan ke taman laut di dekat Pulau Bakau. Nah di taman laut inilah tempat snorkling yang paling ajib. Karena tempatnya bukan di tepi pantai, tapi di benar-benar di tengah laut dangkal, keanekaragaman ikannya sungguh bagus. Sangat direkomendasikan buat snorkling di sini.
Nah menjelang sore baru kami bertolak ke Pulau Kelelawar yang agak jauh. Sebenernya udah capek juga tapi masih penasaran sama Pulau Kelelawar. Di sini jutaan kelelawar masih tidur menggantung di dahan-dahan pohon bakau. Dengan sedikit gangguan mesin kapal sama tepukan tangan, jutaan itu kaget dibangunin dan langsung terbang nggak tentu arah cari tempat yang lebih tenang. Dengan kami cuma satu-satunya turis di sana tentunya pemandangan itu sangat eksklusif.
Dengan ini, gw simpul dan sarankan bahwa Riung termasuk tempat wisata yang nggak boleh dilewatin selama ke Flores. Terima kasih.
Flores: Moni & Kelimutu
Perjalanan dimulai dari Jakarta, transit di Denpasar, lanjut ke bandara Frans Seda (Waioti) Maumere sore. Maumere sendiri adalah kota paling gede sejagat Flores. Tentu jangan dibandingin sama Jakarta. Hal pertama yang harus dilakukan sebelum nyampe Maumere sebenarnya adalah pastikan moda transportasi apa yang akan membawa anda ke pusat kota. Jangan kayak kami berempat, begitu nyampe di bandara langsung bingung mau ngapain. Alhasil langsung dikerubutin sama agen-agen travel. FYI, di sana nggak ada taksi. Jadi pilihannya adalah travel, ojek atau naik angkot ke pusat kota yang harus jalan dulu lumayan jauh ke gerbang depan bandara. Oke karena nggak ada pilihan, travel minta 50 ribu rupiah buat nganter dari bandara ke pusat kota. Sebenernya dia sanggup nganterin pake Innova ke Moni seharga 500 ribu, tapi bujet kami nggak sanggup.
Entah ditipu apa nggak, dia nganterin cuma sampe deket gerbang depan bandara. Sebenernya nggak ditipu juga sih soalnya dia cariin travel yang nganter penumpang ke Moni. Tapi perbandingan harga dan jaraknya mahal amet! Yasudahlah yang penting dapat angkutan ke Moni. Travel ini harganya Rp 70 ribu per kepala naik mobil Avanza dengan penumpang 7 orang. Supirnya the best, jalan dengan penuh kehati-hatian, sangat nyaman, nggak bikin mabok, walaupun jalanan Maumere ke Ende via Moni itu terkenal meliuk-liuk dan banyak longsor. Sekitar jam 9 malem nyampe di Moni setelah sempat singgah ke peristirahatan di tepi jalan, dan nginep di homestaynya Pak John yang direkomendasiin sama adek kelas yang trip ke sini sebelumnya. Kamarnya nyaman, bednya asik, kamar mandinya standar, Pak John-nya ramah banget. Sebaiknya kalo mau ke Kelimutu berangkatnya pagi hari abis subuh. Kayaknya ini nasihat yang agak salah.
Jadi subuh-subuh kami naik ke Kelimutu ditemenin ojek seharga 70 ribu per ojek pulang pergi. Satu-satunya hal berguna dari bawa jaket di trip ini adalah untuk naik ke Kelimutu ini karena anginnya emang dingin bener. Gw nggak bisa nikmatin pemandangan jalan ke puncak gara-gara sibuk berurusan sama dingin. Sampai di gerbang taman nasional, bayar untuk kendaraan, orang dan kamera yang menurut gw murah banget lalu ditemenin ojek lagi sampai ke parkiran. Nah dari parkiran baru jalan kaki sampai ke summit.
Kelimutu sendiri ada 3 danau yang namanya susah banget dilafalin dan nggak mungkin dihafalin juga. Katanya sih ya, ada danau yang warnanya biru turquoise, ada yang hijau lumut, ada yang coklat kehitaman. Gw sih percaya aja belum ngeliat, cuma ngeliat lewat duit goceng pas masa kecil dulu. Eh begitu ngeliat sendiri bener lho. Hebat ya yang ngasih tau gw! Dan dengan begitu gw juga tau kalo gambar yang ada di duit goceng dulu itu bohong. Danaunya nggak berjejer 3 berbarengan, tapi danau yang coklat kehitaman itu ada di sisi yang berbeda sama 2 danau lainnya.
Katanya juga nih ya, Kelimutu itu tempat baliknya roh-roh orang Flores. Nah kalo yang ini gw masih belum percaya soalnya gw nggak ngelihat ada 1 roh pun yang lagi melayang-layang ke arah danau.
Jadi setelah puas berkeliling kompleks danau dan foto-foto (itu yang terpenting!) kami pun balik ke parkiran. Soal foto-foto, kami pun menemukan istilah sesi foto baru yang dinamain socialita, yaitu foto pake blackberry masing-masing buat diupdate dan membuat iri teman lainnya, yang tradisi ini berlanjut terus sampai akhir trip. Di parkiran mau nggak mau kami harus mampir ke salah satu warung soalnya kami satu-satunya turis yang datang pagi itu. Ternyata nyobain kopi di sana rasanya enak gila. Kopi Flores memang top. Setelah minum nyemil sebentar kami harus cepet-cepet turun ke Moni lagi soalnya belum packing dan belum tau harus naik apa ke tujuan selanjutnya. Bahkan tujuan selanjutnya pun masih abstrak.
Di Moni, hasil nanya-nanya lagi sama Pak John dan bapak-bapak ojek yang baik hati masih belum tau juga cara nyampe ke tujuan selanjutnya. Pilihannya 2: ke kota Bajawa atau ke pantai Riung, tergantung faktor ekonomis, jarak tempuh, sama ada atau nggaknya angkutan yang praktis dari Moni. Dua-duanya pasti lewat kota Ende. Inilah enaknya backpacking, bisa nentuin sendiri ke mana tujuan selanjutnya.
Entah ditipu apa nggak, dia nganterin cuma sampe deket gerbang depan bandara. Sebenernya nggak ditipu juga sih soalnya dia cariin travel yang nganter penumpang ke Moni. Tapi perbandingan harga dan jaraknya mahal amet! Yasudahlah yang penting dapat angkutan ke Moni. Travel ini harganya Rp 70 ribu per kepala naik mobil Avanza dengan penumpang 7 orang. Supirnya the best, jalan dengan penuh kehati-hatian, sangat nyaman, nggak bikin mabok, walaupun jalanan Maumere ke Ende via Moni itu terkenal meliuk-liuk dan banyak longsor. Sekitar jam 9 malem nyampe di Moni setelah sempat singgah ke peristirahatan di tepi jalan, dan nginep di homestaynya Pak John yang direkomendasiin sama adek kelas yang trip ke sini sebelumnya. Kamarnya nyaman, bednya asik, kamar mandinya standar, Pak John-nya ramah banget. Sebaiknya kalo mau ke Kelimutu berangkatnya pagi hari abis subuh. Kayaknya ini nasihat yang agak salah.
Jadi subuh-subuh kami naik ke Kelimutu ditemenin ojek seharga 70 ribu per ojek pulang pergi. Satu-satunya hal berguna dari bawa jaket di trip ini adalah untuk naik ke Kelimutu ini karena anginnya emang dingin bener. Gw nggak bisa nikmatin pemandangan jalan ke puncak gara-gara sibuk berurusan sama dingin. Sampai di gerbang taman nasional, bayar untuk kendaraan, orang dan kamera yang menurut gw murah banget lalu ditemenin ojek lagi sampai ke parkiran. Nah dari parkiran baru jalan kaki sampai ke summit.
Kelimutu sendiri ada 3 danau yang namanya susah banget dilafalin dan nggak mungkin dihafalin juga. Katanya sih ya, ada danau yang warnanya biru turquoise, ada yang hijau lumut, ada yang coklat kehitaman. Gw sih percaya aja belum ngeliat, cuma ngeliat lewat duit goceng pas masa kecil dulu. Eh begitu ngeliat sendiri bener lho. Hebat ya yang ngasih tau gw! Dan dengan begitu gw juga tau kalo gambar yang ada di duit goceng dulu itu bohong. Danaunya nggak berjejer 3 berbarengan, tapi danau yang coklat kehitaman itu ada di sisi yang berbeda sama 2 danau lainnya.
Katanya juga nih ya, Kelimutu itu tempat baliknya roh-roh orang Flores. Nah kalo yang ini gw masih belum percaya soalnya gw nggak ngelihat ada 1 roh pun yang lagi melayang-layang ke arah danau.
Jadi setelah puas berkeliling kompleks danau dan foto-foto (itu yang terpenting!) kami pun balik ke parkiran. Soal foto-foto, kami pun menemukan istilah sesi foto baru yang dinamain socialita, yaitu foto pake blackberry masing-masing buat diupdate dan membuat iri teman lainnya, yang tradisi ini berlanjut terus sampai akhir trip. Di parkiran mau nggak mau kami harus mampir ke salah satu warung soalnya kami satu-satunya turis yang datang pagi itu. Ternyata nyobain kopi di sana rasanya enak gila. Kopi Flores memang top. Setelah minum nyemil sebentar kami harus cepet-cepet turun ke Moni lagi soalnya belum packing dan belum tau harus naik apa ke tujuan selanjutnya. Bahkan tujuan selanjutnya pun masih abstrak.
Di Moni, hasil nanya-nanya lagi sama Pak John dan bapak-bapak ojek yang baik hati masih belum tau juga cara nyampe ke tujuan selanjutnya. Pilihannya 2: ke kota Bajawa atau ke pantai Riung, tergantung faktor ekonomis, jarak tempuh, sama ada atau nggaknya angkutan yang praktis dari Moni. Dua-duanya pasti lewat kota Ende. Inilah enaknya backpacking, bisa nentuin sendiri ke mana tujuan selanjutnya.
Monday, December 3, 2012
Flores: Preambule
Yak saatnya untuk berbagi perjalanan gw kemarin. Tujuan liburan gw kemarin adalah ke Flores. Yah, masih banyak orang Indonesia sendiri yang nggak tau Flores itu ada di mana. Padahal sekarang ini pulau itu adalah salah satu fokus promosi wisata Indonesia ke luar negeri. Menurut gw yang baru aja ke sana, sangat worth untuk menjadikan Flores tujuan wisata karena beberapa alasan. Landscape Flores bener-bener beda banget sama yang ada di Jawa atau Bali. Pulau itu juga menawarkan wisata gunung dan laut secara komplit. Wisata budaya di sana juga nggak kalah menarik. Yah, yang kurang di Flores mungkin cuma wisata kuliner karena orang Flores boleh dibilang nggak punya makanan khas. Tapi itu nggak mengurangi keelokan Flores, seperti artinya sendiri yang berarti bunga. Apalagi tahun depan juga bakal diadakan Sail Komodo 2013, jadi be prepared untuk menyiapkan perjalanan kalian ke sana!
Liburan gw kemarin berlangsung selama 12 hari 11 malam. Dengan jangka waktu segitu, liburan sekarang jadi perjalanan gw terlama di dalam negeri, di luar mudik tentunya. Seperti sebelum-sebelumnya para pionir perjalanan ini riset kecil-kecilan dulu dan nyiapain itinerary yang pas, serta mulai ngajak orang-orang yang mau berpetualang. Yak, berpetualang! Karena perjalanan ke Flores jangan diharapkan bisa menikmati akomodasi dan transportasi yang enak. Singkat kata, yang mau ikut harus backpacking. Setelah tarik ulur nawarin kesana-sini hampir sebulanan, jadilah yang terkumpul cuma 4 orang, yaitu Fadhil, Fatia, dan Dina.
Walaupun itinerary udah mateng, persiapan sebelum perjalanan pun nggak kalah ribet tapi seru. Tentu packing itu bagi gw termasuk yang paling ribet. Stok obat gw di perjalanan yang sekarang tergolong yang paling banyak. Belum lagi kami nggak booking transportasi atau penginapan yang bakal didiami lebih dulu. Singkat kata, ini bener-bener perjalanan yang mungkin bakal banyak perubahan di tengah jalan. Tiket pesawat demi hemat bener-bener dibeli beda maskapai biar jatuhnya yang paling murah.
Total biaya perjalanan untuk 12 hari ini cuma sekitar 6-7 juta rupiah. Relatif lebih murah dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan kalo bepergian ke daerah lain di Indonesia.
Hmmm... untuk perjalanannya gw bingung mau gw ceritain seberapa banyak. Hahaha! Mungkin nanti akan gw bagi ke beberapa postingan dan agak panjang. Jadi jangan bosan-bosan untuk ngikutin blog gw.
Sunday, April 8, 2012
Kuliner Lagi di Jawa
2 minggu yang lalu, akhirnya libur yang gw tunggu-tunggu datang juga. Bukan libur seperti hari-hari biasa karena saat internship sebenernya banyak hari libur kalo bisa ngatur jadwal, tapi libur yang bener-bener liburan ke luar kota. Lokasinya pun agak jauh walaupun masih di dalam pulau Jawa: kota Solo. Tujuan ini dipilih karena berbagai alasan: 1. Tempat yang relatif dekat dengan Jawa Barat karena gw dan temen-temen cuma punya waktu terbatas untuk liburan; 2. Kebetulan ada temen yang lagi internship di sana; 3. Moda transportasi ke sana yang beragam, yang akhirnya memisahkan rombongan jadi 2 kloter kereta api dan pesawat; 4. Pilihan jenis wisata yang beragam, antara lain kuliner, wisata kota, wisata budaya, hingga wisata alam.
Akhirnya itinerary pula yang membawa gw selain ke Solo juga ke Jogja dan Dieng. Tapi yang tetep jadi fokus utama di itinerary itu tetep adalah wisata kuliner. Demi kuliner juga gw bela-belain diet dan riset kuliner sebelum liburan untuk persiapan dan hasilnya berat badan gw naik 2 kg selama liburan. Berikut ini daftar makanan yang gw hajar selama liburan kemarin:
1. Gudeg ceker Bu Kasno
Ini dia pilihan pertama gw begitu turun di stasiun Solobalapan jam 2 dini hari. Lokasinya nggak jauh dari stasiun, tepatnya di Jl. Monginsidi. Gampang untuk dicari, tinggal lihat aja tempat paling rame saat dini hari tersebut. Banyak orang yang bela-belain datang ke sini hanya untuk mencicipi cekernya. Gw sendiri sebenernya nggak suka ceker, tapi kalo udah datang ke tempat kuliner dan andalannya adalah ceker maka makanan itu harus gw coba. Gudegnya? Yaa hampir sama dengan rasa gudeg di tempat lain. Tapi cekernya memang harus gw akui enak dan empuk.
2. Sate kere
Sesuai dengan namanya, sate kere berarti satenya 'orang miskin'. Bukan tanpa alasan, ate kere adalah sate yang bahannya dari tempe gembus dan juga jeroan sapi. Gw nggak berkesempatan ke tempat penjualannya, karena gw dibawain sate ini sama temen. Rasanya? Karena gw nggak suka sama yang namanya jeroan, jadi yang gw makan cuma sate tempe gembusnya. Bumbu bacemnya terlalu manis, apalagi kalo ditambah kuah kacang yang manis juga.
3. Nasi liwet
Yang namanya nasi liwet di Solo itu sama aja dengan penjual nasi uduk di Jakarta. Kalo di Jakarta biasa dijumpai warung nasi uduk di jalan-jalan, nah di Solo nasi liwet sama seperti itu. Ada beberapa yang terkenal, seperti nasi liwet Wongso Lemu Keprabon. Tapi dari beberapa kali makan nasi liwet ya rasanya hampir sama semua. Yang terkenal berarti lebih mahal juga harganya.
4. Serabi Notosuman
Serabi ini memang nggak ada tandingannya. Rasa yang lembut bercampur rasa manis-asin pasti bikin mulut pingin makan terus, apalagi kalo disajikan hangat. Kata orang Solo, walaupun ada saingannya, serabi ini masih belum ada yang ngalahin.
5. Timlo Sastro
Timlo adalah makanan khas Solo yang kuahnya mirip sop ayam. Gw kira timlo itu isinya macam-macam seperti timlo yang gw makan selama ini, ada bihunnya. Ternyata timlo di tempat ini isinya cukup simpel: potongan daging ayam, ati ampela, pindang telor dan sosis solo. Rasanya? Luar biasa! Apalagi ditambah dengan sambel kecap dan dimakan siang hari. Lokasinya yang terletak di belakang Pasar Gede selalu dipenuhi orang kalo jam makan siang.
6. Selat Solo Vien's
Selat solo mungkin adalah hidangan warisan Belanda yang dimodifikasi sama orang lokal. Sekilas penampakannya mirip bistik tapi berkuah. Kuahnya rasa manis gurih, berisi kentang goreng, buncis, wortel, bola daging, telor dan acar yang dicampur mayonais. Walaupun penampilannya yang terkesan mahal, harga per porsinya cuma Rp 7 ribu dan bikin kenyang. Ada juga makanan lain yang baru pertama gw coba, yaotu sop matahari dan sop manten, semacam sop ayam yang diisi dengan semacam martabak isi/rolade. Nggak heran kalo makan siang di sini selalu rame. Sebenernya ada juga tempat menjual selat solo yang terkenal di RM Kusuma Sari, tapi harganya lebih mahal.
6. Sate buntel Tambak Segaran
Sate buntel adalah sate daging kambing yang luarnya dilapisi dengan lemak kambing. Nggak heran bau kambingnya masih semerbak. Yang terkenal adalah sate Tambak Segaran di Jl. Sutan Syahrir. Porsinya gede banget, sehingga cukup untuk dimakan berame-rame. Selain sate, di restoran ini juga dijual gule dan tongseng.
7. Angkringan
Angkringan adalah istilah yang khas di daerah Jogja & Solo untuk warung ngopi malam hari. Hampir di setiap kampung pasti terdapat angkringan. Biasanya menjual nasi kucing + lauk-lauknya yang unik seperti sate keong, sate bekicot, sate telor puyuh, sate jeroan, gorengan dan juga cemilan-cemilan seperti sosis solo dan pisang coklat. Jangan lupa juga untuk nyicip wedang jahe, cocok untuk mengusir ngantuk dan capek.
8. Restoran Bale Raos
Restoran Bale Raosadalah restoran yang spesialisasinya jual makanan khas dapur kraton Jogja. Nggak heran kalo isinya adalah makanan-makanan kesukaan Sri Sultan dari jaman dulu. Makanannya bervariasi, dari bistik, bebek, ayam, hingga sup, tapi yang pasti minuman andalannya adalah bir jawa. Lokasinya agak nyempil di belakang kraton. Sebenernya ada restoran lain yang menjual makanan serupa yaitu Gadri yang lebih dekat dengan alun-alun utara, tapi menurut gw Bale Raos lebih enak. Kekurangannya cuma satu: mahal!
9. Susu segar
Kaki lima yang menjual susu segar dan olahannya tersebar di jalanan kota Solo. Lengkap dengan makanan pelengkap lain seperti mie instan atau roti & tape bakar. Mungkin salah satu warung yang terkenal adalah Shi Jack.
10. Pecel Mbok Kami
Kali ini agak keluar dari Solo-Jogja, tepatnya di Ambarawa. Pecel Mbok Kami ini sangat terkenal hingga mobil-mobil luar kota pada mampir cuma untuk sekedar makan siang. Tempatnya pas di tengah perjalanan gw dan teman-teman dari Solo ke Dieng. Lokasinya nggak susah dicari, yaitu di jalan depan RS Ambarawa. Hampir sama dengan pecel lain, pecel ini berisi nasi, sayur dan gorengan yang disiram kuah kacang. Tapi rasanya enak bener, mungkin juga karena efek laper di tengah perjalanan. Apalagi kalo ditutup dengan es dawet.
11. Mie Ongklok
Inilah makanan khas Wonosobo dan Dieng: mie ongklok. Gw sendiri baru merasakan makanan ini pertama kali. Mie ongklok adalah makanan yang berupa mie kuning dengan sayur sawi yang disiram kuah kanji yang manis-pedas. Nggak disangka rasanya ternyata enak apalagi kalo dimakan bersama sate sapi, cocok buat melawan hawa dingin Dieng. Minuman khas Dieng adalah purwaceng, semacam kopi yang diseduh bersama rempah-rempah.
12. Nasi goreng jawa Pak Pele
Lokasi kaki lima nasi goreng jawa yang terkenal ini tepat di depan kraton Jogja di alun-alun utara. Pengunjungnya selalu rame, nggak heran kalo tempat yang disediakan juga luas hingga ke lesehan-lesehan di trotoar walaupun cuma dilayani oleh dua gerobak. Makanan yang disajikan standar ala nasi gorang jawa pada umumnya dengan andalan magelangan dan mi godhog. Tapi rasanya memang enak walaupun harganya agak mahal pada standar makanan Jogja.
13. RM Adem Ayem
Rumah makan ini terkenal seantero Solo karena menjual hampir semua makanan khas Solo di restorannya. Gw sendiri mengunjungi restoran ini bukan untuk makan tapi untuk beli oleh-oleh gudeg kendil Solo. Gudeg Solo memang sedikit beda dibandingkan gudeg Jogja, gw cuma bisa membedakan rasanya yang kurang manis dibandingkan gudeg Jogja. Selain gudeg dan makanan Solo sebagai andalannya, restoran ini juga menjual makanan ala barat. Harganya juga sedikit mahal karena namaya udah terkenal.
Akhirnya itinerary pula yang membawa gw selain ke Solo juga ke Jogja dan Dieng. Tapi yang tetep jadi fokus utama di itinerary itu tetep adalah wisata kuliner. Demi kuliner juga gw bela-belain diet dan riset kuliner sebelum liburan untuk persiapan dan hasilnya berat badan gw naik 2 kg selama liburan. Berikut ini daftar makanan yang gw hajar selama liburan kemarin:
1. Gudeg ceker Bu Kasno
Ini dia pilihan pertama gw begitu turun di stasiun Solobalapan jam 2 dini hari. Lokasinya nggak jauh dari stasiun, tepatnya di Jl. Monginsidi. Gampang untuk dicari, tinggal lihat aja tempat paling rame saat dini hari tersebut. Banyak orang yang bela-belain datang ke sini hanya untuk mencicipi cekernya. Gw sendiri sebenernya nggak suka ceker, tapi kalo udah datang ke tempat kuliner dan andalannya adalah ceker maka makanan itu harus gw coba. Gudegnya? Yaa hampir sama dengan rasa gudeg di tempat lain. Tapi cekernya memang harus gw akui enak dan empuk.
2. Sate kere
Sesuai dengan namanya, sate kere berarti satenya 'orang miskin'. Bukan tanpa alasan, ate kere adalah sate yang bahannya dari tempe gembus dan juga jeroan sapi. Gw nggak berkesempatan ke tempat penjualannya, karena gw dibawain sate ini sama temen. Rasanya? Karena gw nggak suka sama yang namanya jeroan, jadi yang gw makan cuma sate tempe gembusnya. Bumbu bacemnya terlalu manis, apalagi kalo ditambah kuah kacang yang manis juga.
3. Nasi liwet
Yang namanya nasi liwet di Solo itu sama aja dengan penjual nasi uduk di Jakarta. Kalo di Jakarta biasa dijumpai warung nasi uduk di jalan-jalan, nah di Solo nasi liwet sama seperti itu. Ada beberapa yang terkenal, seperti nasi liwet Wongso Lemu Keprabon. Tapi dari beberapa kali makan nasi liwet ya rasanya hampir sama semua. Yang terkenal berarti lebih mahal juga harganya.
4. Serabi Notosuman
Serabi ini memang nggak ada tandingannya. Rasa yang lembut bercampur rasa manis-asin pasti bikin mulut pingin makan terus, apalagi kalo disajikan hangat. Kata orang Solo, walaupun ada saingannya, serabi ini masih belum ada yang ngalahin.
5. Timlo Sastro
Timlo adalah makanan khas Solo yang kuahnya mirip sop ayam. Gw kira timlo itu isinya macam-macam seperti timlo yang gw makan selama ini, ada bihunnya. Ternyata timlo di tempat ini isinya cukup simpel: potongan daging ayam, ati ampela, pindang telor dan sosis solo. Rasanya? Luar biasa! Apalagi ditambah dengan sambel kecap dan dimakan siang hari. Lokasinya yang terletak di belakang Pasar Gede selalu dipenuhi orang kalo jam makan siang.
6. Selat Solo Vien's
Selat solo mungkin adalah hidangan warisan Belanda yang dimodifikasi sama orang lokal. Sekilas penampakannya mirip bistik tapi berkuah. Kuahnya rasa manis gurih, berisi kentang goreng, buncis, wortel, bola daging, telor dan acar yang dicampur mayonais. Walaupun penampilannya yang terkesan mahal, harga per porsinya cuma Rp 7 ribu dan bikin kenyang. Ada juga makanan lain yang baru pertama gw coba, yaotu sop matahari dan sop manten, semacam sop ayam yang diisi dengan semacam martabak isi/rolade. Nggak heran kalo makan siang di sini selalu rame. Sebenernya ada juga tempat menjual selat solo yang terkenal di RM Kusuma Sari, tapi harganya lebih mahal.
6. Sate buntel Tambak Segaran
Sate buntel adalah sate daging kambing yang luarnya dilapisi dengan lemak kambing. Nggak heran bau kambingnya masih semerbak. Yang terkenal adalah sate Tambak Segaran di Jl. Sutan Syahrir. Porsinya gede banget, sehingga cukup untuk dimakan berame-rame. Selain sate, di restoran ini juga dijual gule dan tongseng.
7. Angkringan
Angkringan adalah istilah yang khas di daerah Jogja & Solo untuk warung ngopi malam hari. Hampir di setiap kampung pasti terdapat angkringan. Biasanya menjual nasi kucing + lauk-lauknya yang unik seperti sate keong, sate bekicot, sate telor puyuh, sate jeroan, gorengan dan juga cemilan-cemilan seperti sosis solo dan pisang coklat. Jangan lupa juga untuk nyicip wedang jahe, cocok untuk mengusir ngantuk dan capek.
8. Restoran Bale Raos
Restoran Bale Raosadalah restoran yang spesialisasinya jual makanan khas dapur kraton Jogja. Nggak heran kalo isinya adalah makanan-makanan kesukaan Sri Sultan dari jaman dulu. Makanannya bervariasi, dari bistik, bebek, ayam, hingga sup, tapi yang pasti minuman andalannya adalah bir jawa. Lokasinya agak nyempil di belakang kraton. Sebenernya ada restoran lain yang menjual makanan serupa yaitu Gadri yang lebih dekat dengan alun-alun utara, tapi menurut gw Bale Raos lebih enak. Kekurangannya cuma satu: mahal!
9. Susu segar
Kaki lima yang menjual susu segar dan olahannya tersebar di jalanan kota Solo. Lengkap dengan makanan pelengkap lain seperti mie instan atau roti & tape bakar. Mungkin salah satu warung yang terkenal adalah Shi Jack.
10. Pecel Mbok Kami
Kali ini agak keluar dari Solo-Jogja, tepatnya di Ambarawa. Pecel Mbok Kami ini sangat terkenal hingga mobil-mobil luar kota pada mampir cuma untuk sekedar makan siang. Tempatnya pas di tengah perjalanan gw dan teman-teman dari Solo ke Dieng. Lokasinya nggak susah dicari, yaitu di jalan depan RS Ambarawa. Hampir sama dengan pecel lain, pecel ini berisi nasi, sayur dan gorengan yang disiram kuah kacang. Tapi rasanya enak bener, mungkin juga karena efek laper di tengah perjalanan. Apalagi kalo ditutup dengan es dawet.
11. Mie Ongklok
Inilah makanan khas Wonosobo dan Dieng: mie ongklok. Gw sendiri baru merasakan makanan ini pertama kali. Mie ongklok adalah makanan yang berupa mie kuning dengan sayur sawi yang disiram kuah kanji yang manis-pedas. Nggak disangka rasanya ternyata enak apalagi kalo dimakan bersama sate sapi, cocok buat melawan hawa dingin Dieng. Minuman khas Dieng adalah purwaceng, semacam kopi yang diseduh bersama rempah-rempah.
12. Nasi goreng jawa Pak Pele
Lokasi kaki lima nasi goreng jawa yang terkenal ini tepat di depan kraton Jogja di alun-alun utara. Pengunjungnya selalu rame, nggak heran kalo tempat yang disediakan juga luas hingga ke lesehan-lesehan di trotoar walaupun cuma dilayani oleh dua gerobak. Makanan yang disajikan standar ala nasi gorang jawa pada umumnya dengan andalan magelangan dan mi godhog. Tapi rasanya memang enak walaupun harganya agak mahal pada standar makanan Jogja.
13. RM Adem Ayem
Rumah makan ini terkenal seantero Solo karena menjual hampir semua makanan khas Solo di restorannya. Gw sendiri mengunjungi restoran ini bukan untuk makan tapi untuk beli oleh-oleh gudeg kendil Solo. Gudeg Solo memang sedikit beda dibandingkan gudeg Jogja, gw cuma bisa membedakan rasanya yang kurang manis dibandingkan gudeg Jogja. Selain gudeg dan makanan Solo sebagai andalannya, restoran ini juga menjual makanan ala barat. Harganya juga sedikit mahal karena namaya udah terkenal.
Sunday, February 12, 2012
Random Trip
Perjalanan gw baru-baru ini benar-benar random. Libur 3 hari hasil tuker-tukeran jadwal sama teman menghasilkan ide jalan-jalan singkat kali ini yang tujuannya nggak jauh-jauh: Kota Tua Jakarta. Entah kenapa gw kesambet untuk jalan-jalan ke daerah sini, sendirian pula. Sebenarnya gw udah termasuk sering untuk pergi ke Kota, terakhir kali mungkin tahun 2010 (bukan sering ini namanya sih!). Rata-rata hampir pasti selalu tiap ke sini ngunjungi Museum Sejarah Jakarta, yang dari tahun ke tahun ya gitu-gitu aja. Makanya perjalanan ke Kota kali ini gw targetkan untuk jalan-jalan ke tempat yang belum pernah gw datengin dengan jalan kaki, mumpung badan masih kuat untuk diajak jalan jauh.
Perjalanan dimulai di stasiun Tebet, gw akan menggunakan kereta commuter line menuju ke stasiun Jakartakota. Hari itu, Kamis, 9 Februari 2012, memang cocok untuk jalan-jalan ke Kota. Matahari cukup cerah (baca: panas) untuk jalan-jalan. Wisatawan masih sepi, justru yang banyak adalah pedagang-pedagang yang mau ke daerah Mangga Dua. Commuter line cukup sepi karena gw emang sengaja nunggu untuk berangkat agak siangan biar nggak ikut-ikutan urbanisasi orang Bogor ke Jakarta. Begitu masuk kereta gw udah disajikan pemandangan yang super aneh, ada pedagang rambutan dengan 3 bakul gedenya di dalem kereta ber-AC ini. Gw jepret-jepret dulu deh dia sambil cuek, lumayan untuk koleksi foto. Kira-kira 20 menit perjalanan Tebet-Kota, hal yang mungkin dicapai kalo pake mobil.
Begitu sampai Kota, tujuan pertama adalah makan pagi yang telat. Searching wisata kuliner di Kota gampang-gampang susah terutama untuk muslim seperti gw. Sebenernya banyak banget review tapi kebanyakan mengandung babi, dari mie ayam sampai ke bubur hampir semuanya berbabi. Dan pilihan kuliner enak dan halal juga terbatas. Dari hasil searching wisata kuliner Kota yang agak susah, gw berencana untuk brunch di daerah pasar Asemka, tepatnya di warung soto tangkar di dalam pasar. Entah kenapa, soto tangkar (iga sapi) di sini terkenal banget. Nyarinya pun setengah mati, hampir 30 menit gw jalan-jalan kepanasan sebelum menemukan Soto Tangkar H. Diding di dalem pasar Asemka. Warungnya kecil banget, cuma ada 6 kursi. Menu yang gw coba ada 2: soto tangkar dan sate sapi. Kuah soto tangkar ini seperti kuah soto betawi. Enak? Jelas karena gw juga sedang lapar-laparnya.
Selesai makan di Asemka, gw langsung jalan ke kawasan Kalibesar untuk hunting foto. Dimulai dari jl. Kalibesar Barat gw mulai menyusuri kali kebanggaan orang VOC jaman dulu sambil lihat-lihat gedung tua di kawasan itu. Sayang, kalinya udah kotor dan bau, dan gedung-gedungnya udah kotor nggak terawat, tapi arsitekturnya masih bisa dinikmati. Mungkin satu-satunya gedung yang masih bagus terawat adalah Toko Merah, kediaman gubernur van Imhoff jaman dulu yang sekarang menjadi cagar budaya. Jalan gw terusin ke arah utara untuk ke jembatan Kota Intan, yang dulunya menjadi jembatan tempat perahu-perahu dagang lewat kanal Kalibesar, mirip fungsinya seperti Tower Bridge di London. Sayang lagi-lagi, jembatan ini sekitarnya udah kumuh, walaupun masuknya gratis. Engsel untuk ngangkat jembatan sudah dinonfungsikan permanen. Apalagi kali dibawahnya pun bau sampah. Selesai kunjungan ke jembatan, sambil kehausan ec. kepanasan gw jalan ke alun-alun Batavia lama untuk ngadem sebentar di museum-museum di sekitaran Museum Sejarah Jakarta. Gw memilih untuk masuk ke museum wayang yang gw kunjungi untuk kedua kalinya. Gw bingung sama pengelola museum, gimana bisa nyari untung dari kunjungan museum, sementara untuk masuk cuma ditarik Rp 2 ribu dan dikasih guidebook yang lumayan tebal.
Selesai ngadem, sambil berbekal sebotol minuman isotonik, gw jalan agak jauh dari alun-alun menuju ke arah pelabuhan Sunda Kelapa, melewati jembatan Kota Intan lagi. Tujuan kali ini adalah ke museum bahari yang ada di sekitaran pasar ikan Luar Batang. Jalan menuju ke daerah ini lumayan jauh dan panas menyengat, tapi melewati bangunan-bangunan yang dulunya galangan kapal VOC yang sekarang udah beralih fungsi menjadi restoran-restoran Cina. Sebelum ke museum, gw menyempatkan mampir ke menara syahbandar Sunda Kelapa yang bangunannya miring hampir menyerupai menara Pisa di Italia. Tempat ini adalah tempat patok 0 km Jakarta. Sesampainya di puncak menara gw memang bisa melihat pemandangan pelabuhan Sunda Kelapa dan sekitarnya, tapi berada di puncak menara ini cukup serem karena menara goyang kalo ada truk lewat di jalanan di bawahnya. Apalagi menaranya miring pula. Mudah-mudahan sih pengunjungnya tetap sedikit biar menaranya nggak cepet ambruk. Di bawah menara ada bekas tembok benteng lengkap dengan meriam-meriamnya yang diarahkan ke perkampungan kumuh warga. Sesampainya di museum bahari, gw kaget pengungjungnya cuma gw seorang. Berada di bekas gudang VOC dengan ruangan besar nan senyap sendirian memang agak creepy. Tapi secara keseluruhan museum ini agak jelek koleksinya, karena kebanyakan berupa miniatur dan maket. Nilai historisnya malah lebih bernilai di gedung tempat museum ini daripada koleksinya.
Gw pun balik ke kawasan alun-alun untuk menelusuri museum yang belum gw jamah. Pinginnya ke museum seni rupa & keramik tapi museum ini hari itu lagi tutup. Akhirnya gw masuk ke museum Bank Indonesia yang dulunya bekas kantor pusat bank sentral di Batavia. Overall, museum ini adalah yang paling tertata bagus dan modern di seluruh kawasan Kota Tua. Berbanding terbalik sama museum-museum lain yang dikelola sama pemerintah provinsi. Selesai dari museum ini, sekitar jam 3 sore gw bertolak ke ITC Mangga Dua. Tujuan gw ke ITC ini bukan untuk borong sepatu atau baju, melainkan cuma untuk makan siang telat di kios restoran Mama Kitchen yang cuma jual 1 menu: tomyam. Kiosnya cuma ada sekitar 15-20 kursi tapi untungnya gw datang di saat bukan jam makan siang. Selesai nyantap nasi goreng tomyam seafood dan bawa oleh-oleh buat orang rumah, gw pun balik ke Stasiun Jakartakota sebelum jam pulang kantor dimulai.
Perjalanan dimulai di stasiun Tebet, gw akan menggunakan kereta commuter line menuju ke stasiun Jakartakota. Hari itu, Kamis, 9 Februari 2012, memang cocok untuk jalan-jalan ke Kota. Matahari cukup cerah (baca: panas) untuk jalan-jalan. Wisatawan masih sepi, justru yang banyak adalah pedagang-pedagang yang mau ke daerah Mangga Dua. Commuter line cukup sepi karena gw emang sengaja nunggu untuk berangkat agak siangan biar nggak ikut-ikutan urbanisasi orang Bogor ke Jakarta. Begitu masuk kereta gw udah disajikan pemandangan yang super aneh, ada pedagang rambutan dengan 3 bakul gedenya di dalem kereta ber-AC ini. Gw jepret-jepret dulu deh dia sambil cuek, lumayan untuk koleksi foto. Kira-kira 20 menit perjalanan Tebet-Kota, hal yang mungkin dicapai kalo pake mobil.
| Cuma di Indonesia |
Begitu sampai Kota, tujuan pertama adalah makan pagi yang telat. Searching wisata kuliner di Kota gampang-gampang susah terutama untuk muslim seperti gw. Sebenernya banyak banget review tapi kebanyakan mengandung babi, dari mie ayam sampai ke bubur hampir semuanya berbabi. Dan pilihan kuliner enak dan halal juga terbatas. Dari hasil searching wisata kuliner Kota yang agak susah, gw berencana untuk brunch di daerah pasar Asemka, tepatnya di warung soto tangkar di dalam pasar. Entah kenapa, soto tangkar (iga sapi) di sini terkenal banget. Nyarinya pun setengah mati, hampir 30 menit gw jalan-jalan kepanasan sebelum menemukan Soto Tangkar H. Diding di dalem pasar Asemka. Warungnya kecil banget, cuma ada 6 kursi. Menu yang gw coba ada 2: soto tangkar dan sate sapi. Kuah soto tangkar ini seperti kuah soto betawi. Enak? Jelas karena gw juga sedang lapar-laparnya.
Selesai ngadem, sambil berbekal sebotol minuman isotonik, gw jalan agak jauh dari alun-alun menuju ke arah pelabuhan Sunda Kelapa, melewati jembatan Kota Intan lagi. Tujuan kali ini adalah ke museum bahari yang ada di sekitaran pasar ikan Luar Batang. Jalan menuju ke daerah ini lumayan jauh dan panas menyengat, tapi melewati bangunan-bangunan yang dulunya galangan kapal VOC yang sekarang udah beralih fungsi menjadi restoran-restoran Cina. Sebelum ke museum, gw menyempatkan mampir ke menara syahbandar Sunda Kelapa yang bangunannya miring hampir menyerupai menara Pisa di Italia. Tempat ini adalah tempat patok 0 km Jakarta. Sesampainya di puncak menara gw memang bisa melihat pemandangan pelabuhan Sunda Kelapa dan sekitarnya, tapi berada di puncak menara ini cukup serem karena menara goyang kalo ada truk lewat di jalanan di bawahnya. Apalagi menaranya miring pula. Mudah-mudahan sih pengunjungnya tetap sedikit biar menaranya nggak cepet ambruk. Di bawah menara ada bekas tembok benteng lengkap dengan meriam-meriamnya yang diarahkan ke perkampungan kumuh warga. Sesampainya di museum bahari, gw kaget pengungjungnya cuma gw seorang. Berada di bekas gudang VOC dengan ruangan besar nan senyap sendirian memang agak creepy. Tapi secara keseluruhan museum ini agak jelek koleksinya, karena kebanyakan berupa miniatur dan maket. Nilai historisnya malah lebih bernilai di gedung tempat museum ini daripada koleksinya.
Gw pun balik ke kawasan alun-alun untuk menelusuri museum yang belum gw jamah. Pinginnya ke museum seni rupa & keramik tapi museum ini hari itu lagi tutup. Akhirnya gw masuk ke museum Bank Indonesia yang dulunya bekas kantor pusat bank sentral di Batavia. Overall, museum ini adalah yang paling tertata bagus dan modern di seluruh kawasan Kota Tua. Berbanding terbalik sama museum-museum lain yang dikelola sama pemerintah provinsi. Selesai dari museum ini, sekitar jam 3 sore gw bertolak ke ITC Mangga Dua. Tujuan gw ke ITC ini bukan untuk borong sepatu atau baju, melainkan cuma untuk makan siang telat di kios restoran Mama Kitchen yang cuma jual 1 menu: tomyam. Kiosnya cuma ada sekitar 15-20 kursi tapi untungnya gw datang di saat bukan jam makan siang. Selesai nyantap nasi goreng tomyam seafood dan bawa oleh-oleh buat orang rumah, gw pun balik ke Stasiun Jakartakota sebelum jam pulang kantor dimulai.
Saturday, January 28, 2012
Perjalanan Singkat ke Sawarna
Pekerjaan sebagai dokter itu kadang penuh tantangan, kadang juga membosankan. Penuh tantangan gw rasa semua dokter juga merasakan kalo pekerjaannya itu menyerempet maut orang lain dan rawan dituntut. Sementara membosankan itu sebaliknya, mungkin cuma sedikit dokter termasuk gw yang udah merasa bosan sama rutinitas di rumah sakit, macet di jalan, padahal baru 2 bulan gw menjalani pekerjaan baru gw di RSUD Kabupaten Bekasi. Dokter juga manusia, butuh libur, cuti, dan refreshing untuk sekedar nge-charge mental.
Maka oleh karena daripada itu, di pertengahan Januari ini gw sangat beruntung dapat jadwal kosong yang lumayan banyak hasil transaksi tuker jadwal jaga sama teman. Dan gw nggak akan menyia-nyiakannya untuk liburan yang pendek tapi padat. Pilihan jatuh ke Jawa Barat bagian selatan, gw belum pernah ke sana kecuali ke Pangandaran yang ceritanya udah pernah gw tulis di blog ini. Basecamp untuk perjalanan kali ini gw tetapkan di kota kecil Palabuhanratu, karena ada teman-teman gw yang internship juga di sana. Pilihan destinasi ada 2: Ujung Genteng dan Sawarna. Keduanya nggak mungkin dijalani bareng kecuali perjalanan mau dilakukan seminggu lebih. Setelah searching, akhirnya pilihan jatuh ke Sawarna. Semula gw mau jalan sendiri, ngerasain backpacking sendiri, nggak disangka teman gw Fatia ikut juga gara-gara diajak sama cowoknya Fadhil yang emang kebetulan di Palabuhanratu. Jadilah Fatia gw paksa ikut naik kendaraan umum dari Jakarta ke Palabuhanratu.
Perjalanan dimulai di stasiun Cawang. Berbekal tiket commuter line seharga Rp 7 ribu, perjalanan Jakarta-Bogor cuma ditempuh 40 menit. Dari stasiun Bogor naik angkot 03 jurusan Bubulak-Baranangsiang untuk selanjutnya naik bus MGI jurusan Bogor-Palabuhanratu di terminal Baranangsiang seharga Rp 25 ribu. Berhubung waktu udah makin sore, jadilah kami berdua nggak sempet makan siang di Bogor. Bus MGI ini full AC dan full music, tapi tarikannya lambat banget dan nggak bisa ngebut. Alhasil perjalanan Bogor-Palabuhanratu ditempuh dalam waktu 4 jam. Untung gw sempet tidur gara-gara efek jaga malam sebelum berangkat. Sampai di Palabuhanratu, ngasih surprise buat teman gw Diko yang lagi ultah, kami semua makan dan langsung tidur.
Keesokan harinya gw diajak trip di RSUD Palabuhanratu sama Fadhil. RS-nya lebih luas daripada RS gw, jumlah spesialis lebih sedikit, suasananya lebih tenang, dan udaranya masih seger. Setelah makan pagi di RS, kami bertiga berangkat naik sedannya Fadhil. Gw menyetir. Di tengah jalan menjelang Bayah, gw melintasi rombongan anak SD di kiri gw yang lagi pulang sekolah, tiba-tiba ada 1 anak yang nyebrang sambil lari tiba-tiba di depan mobil. Sempat ngerem, gw pun menabrak anak ini dan dia kelempar sekitar 5 meter. Habis jatuh, si Asep ini langsung lari ke rumahnya, gw teriak manggil dia dan nyamperin tapi dia tetep kabur sambil nangis. Dibantu warga gw berhasil ke rumahnya anak itu. Setelah ngenalin kalo gw dokter (inilah salah satu enaknya dokter) dan periksa-periksa dikit untuk menyingkirkan fraktur, gw menyarankan kalo Asep dibawa ke puskesmas untuk dibersihin lukanya. Gw cuma bawa obat asam mefenamat dan loratadine, Fatia bawa stetoskop, nggak ada yang bawa amoxicillin atau bahkan kasa dan betadine. Gw bawalah anak itu ke Puskesmas Bayah untuk diobatin dengan gratis (mungkin karena gw ngenalin ke sana sebagai dokter), dan dengan delay 1 jam, kami langsung cabut ke Sawarna.
Perjalanan ke Sawarna diawali naik bukit dulu dengan jalanan yang rusak terus langsung turun ke Sawarna. Jarak dari jalan raya mungkin sekitar 10 km. Pintu gerbang Sawarna langsung dapat dikenali dari adanya jembatan gantung di atas sungai. Setelah parkir, gw langsung masuk untuk survey sekaligus cari penginapan. Hari itu bukan hari libur jadi desa Sawarna sepi banget, yang ada cuma penduduk asli. Gw sendiri begitu masuk sempat kecewa ternyata desa Sawarna sekilas seperti desa-desa lainnya di Jawa. Lebih dekat ke pantai, baru mulai banyak homestay yang masih kosong karena bukan hari libur. Setelah pilih-pilih akhirnya gw memilih homestay Javabeach yang satu-satunya punya lantai 2 dan ada beranda yang langsung hadap ke sawah. Penginapan di Sawarna sistemnya bukan bayar per kamar, tapi bayar per orang dengan layanan makan 3 kali sehari.
Kekecewaan itu terobati keesokan harinya. Berbekal browsing di internet saat di Jakarta, gw memutuskan untuk berkeliling sambil nyewa guide bernama Bimbim dengan biaya Rp 100 ribu, lebih baik bayar agak mahal daripada tersesat di Sawarna. Perjalanan pertama ke gua Lalay, sebutan kelelawar dalam bahasa Sunda, ditempuh dengan menyusuri jalan utama di depan jembatan Sawarna ke arah timur. Setelah melewati tiang telekomunikasi, belok ke jalan kecil di kanan jalan dan menyusuri pematang sawah, jalan di pinggir kali, menyeberang jembatan gantung, menyusuri pematang sawah lagi, baru sampai di pintu masuk gua yang ada di sungai kecil. Peralatan wajib yang kudu dibawa: senter, karena masuk ke dalam gua bisa dalam banget sampai 200 meter secara horizontal melewati sungai kecil dan lumpur. Makin ke dalam, bau kotoran kelelawar makin menyengat. Sebenarnya bisa juga masuk ke lebih dalam lagi asal perlengkapan caving yang dibawa lengkap. Setelah 30 menit menyusuri gua baru kami keluar dan menuju tujuan selanjutnya yaitu pantai Lagoan Pari.
Jalan dari gua Lalay ke pantai Lagoan Pari cukup jauh, mungkin sekitar 4-5 km. Dari gua Lalay harus jalan lewat pematang sawah lagi, menyeberangi sungai yang dangkal, kemudian naik bukit mengikuti aliran air, menyusuri pematang sawah lagi, terus turun bukit dan melewati kebun kelapa. Kecapekan, kepanasan, dan sakit di kaki, bukan karena betis yang sakit tapi karena sandal berlumpur terobati begitu sampai di pantai Lagoan Pari. Saat kami datang, hanya kami bertiga pengunjung pantai tersebut, sehingga seperti pantai pribadi. Pasirnya landai dan ombaknya relatif lebih tenang nggak seperti pantai selatan lainnya membuat gw ikut nyemplung di pantai. Apalagi ditambah kelapa muda yang baru dipetik. Di sisi timur Lagoan Pari ada deretan karang yang membatasi Lagoan Pari dengan samudera yang disebut Karang Taraje, salah satu titik sunrise. Setelah puas bermain pantai, akhirnya gw harus jalan ke pantai Tanjung Layar yang harus ditempuh melalui pinggir pantai dan kebun kelapa sejauh 2 km. Perjalanan ini juga menantang karena kadang harus melewati karang di pantai, dan lebih susah kalo laut sedang pasang. Sesampainya di pantai Tanjung Layar, yang ditandai sama 2 batu besar di tengah laut dan dibatasi sama jejeran karang di belakangnya, gw istirahat lagi untuk menikmati pantai Sawarna. Lagi-lagi kami satu-satunya pengunjung di sana. Setalah makan siang sebentar, kami pun balik ke pantai Ciantir sejauh 2 km menyusuri pantai melewati surfing spot yang disebut Sawarna Point. Pantai Ciantir merupakan pantai terdekat ke desa Sawarna, jaraknya kira-kira 500 meter dari penginapan kami. Sunset dapat dinikmati di pantai Ciantir ini. Malam hari karena nggak ada TV sama sekali kami habiskan dengan bermain badminton dan menikmati angin malam di penginapan.
Keesokan paginya kami jalan ke muara sungai Sawarna yang bentuknya berkelok. Pemandangannya cukup bagus walaupun saat itu cuaca mendung. Kami pun pulang cepat dari Sawarna agar bisa makan siang di Palabuhanratu. 1,5 jam lamanya perjalanan Sawarna-Palabuhanratu, tentu tanpa insiden menabrak anak kecil lagi. Di Palabuhanratu ada warung makan enak yang menghidangkan ikan jangilus (marlin) bakar seukuran steak, warung Geksor, terletak di dalam terminal Palabuhanratu. Dengan harga yang relatif murah, gw dapat makan dengan kenyang dan enak. Fadhil dan Fatia pulang duluan ke Jakarta karena harus mengejar jadwal jaganya Fatia di malamnya, sementara gw karena masih capek dan males pulang menunggu keesokan harinya. Esoknya gw pulang bareng teman gw Darrell yang dengan baik hati mengantar gw ke Ciawi. Dari situ gw jalan sendiri ke Bogor untuk keliling sekaligus wisata kuliner sendiri, dan pulang sendiri dengan commuter line.
Perjalanan ini berhasil menghitamkan seluruh kulit gw, kecuali di bagian baju, celana, jam tangan, sama tali sandal, mencoba destinasi baru, dan menghilangkan kebosanan gw untuk sementara.
Maka oleh karena daripada itu, di pertengahan Januari ini gw sangat beruntung dapat jadwal kosong yang lumayan banyak hasil transaksi tuker jadwal jaga sama teman. Dan gw nggak akan menyia-nyiakannya untuk liburan yang pendek tapi padat. Pilihan jatuh ke Jawa Barat bagian selatan, gw belum pernah ke sana kecuali ke Pangandaran yang ceritanya udah pernah gw tulis di blog ini. Basecamp untuk perjalanan kali ini gw tetapkan di kota kecil Palabuhanratu, karena ada teman-teman gw yang internship juga di sana. Pilihan destinasi ada 2: Ujung Genteng dan Sawarna. Keduanya nggak mungkin dijalani bareng kecuali perjalanan mau dilakukan seminggu lebih. Setelah searching, akhirnya pilihan jatuh ke Sawarna. Semula gw mau jalan sendiri, ngerasain backpacking sendiri, nggak disangka teman gw Fatia ikut juga gara-gara diajak sama cowoknya Fadhil yang emang kebetulan di Palabuhanratu. Jadilah Fatia gw paksa ikut naik kendaraan umum dari Jakarta ke Palabuhanratu.
Perjalanan dimulai di stasiun Cawang. Berbekal tiket commuter line seharga Rp 7 ribu, perjalanan Jakarta-Bogor cuma ditempuh 40 menit. Dari stasiun Bogor naik angkot 03 jurusan Bubulak-Baranangsiang untuk selanjutnya naik bus MGI jurusan Bogor-Palabuhanratu di terminal Baranangsiang seharga Rp 25 ribu. Berhubung waktu udah makin sore, jadilah kami berdua nggak sempet makan siang di Bogor. Bus MGI ini full AC dan full music, tapi tarikannya lambat banget dan nggak bisa ngebut. Alhasil perjalanan Bogor-Palabuhanratu ditempuh dalam waktu 4 jam. Untung gw sempet tidur gara-gara efek jaga malam sebelum berangkat. Sampai di Palabuhanratu, ngasih surprise buat teman gw Diko yang lagi ultah, kami semua makan dan langsung tidur.
Keesokan harinya gw diajak trip di RSUD Palabuhanratu sama Fadhil. RS-nya lebih luas daripada RS gw, jumlah spesialis lebih sedikit, suasananya lebih tenang, dan udaranya masih seger. Setelah makan pagi di RS, kami bertiga berangkat naik sedannya Fadhil. Gw menyetir. Di tengah jalan menjelang Bayah, gw melintasi rombongan anak SD di kiri gw yang lagi pulang sekolah, tiba-tiba ada 1 anak yang nyebrang sambil lari tiba-tiba di depan mobil. Sempat ngerem, gw pun menabrak anak ini dan dia kelempar sekitar 5 meter. Habis jatuh, si Asep ini langsung lari ke rumahnya, gw teriak manggil dia dan nyamperin tapi dia tetep kabur sambil nangis. Dibantu warga gw berhasil ke rumahnya anak itu. Setelah ngenalin kalo gw dokter (inilah salah satu enaknya dokter) dan periksa-periksa dikit untuk menyingkirkan fraktur, gw menyarankan kalo Asep dibawa ke puskesmas untuk dibersihin lukanya. Gw cuma bawa obat asam mefenamat dan loratadine, Fatia bawa stetoskop, nggak ada yang bawa amoxicillin atau bahkan kasa dan betadine. Gw bawalah anak itu ke Puskesmas Bayah untuk diobatin dengan gratis (mungkin karena gw ngenalin ke sana sebagai dokter), dan dengan delay 1 jam, kami langsung cabut ke Sawarna.
Perjalanan ke Sawarna diawali naik bukit dulu dengan jalanan yang rusak terus langsung turun ke Sawarna. Jarak dari jalan raya mungkin sekitar 10 km. Pintu gerbang Sawarna langsung dapat dikenali dari adanya jembatan gantung di atas sungai. Setelah parkir, gw langsung masuk untuk survey sekaligus cari penginapan. Hari itu bukan hari libur jadi desa Sawarna sepi banget, yang ada cuma penduduk asli. Gw sendiri begitu masuk sempat kecewa ternyata desa Sawarna sekilas seperti desa-desa lainnya di Jawa. Lebih dekat ke pantai, baru mulai banyak homestay yang masih kosong karena bukan hari libur. Setelah pilih-pilih akhirnya gw memilih homestay Javabeach yang satu-satunya punya lantai 2 dan ada beranda yang langsung hadap ke sawah. Penginapan di Sawarna sistemnya bukan bayar per kamar, tapi bayar per orang dengan layanan makan 3 kali sehari.
Kekecewaan itu terobati keesokan harinya. Berbekal browsing di internet saat di Jakarta, gw memutuskan untuk berkeliling sambil nyewa guide bernama Bimbim dengan biaya Rp 100 ribu, lebih baik bayar agak mahal daripada tersesat di Sawarna. Perjalanan pertama ke gua Lalay, sebutan kelelawar dalam bahasa Sunda, ditempuh dengan menyusuri jalan utama di depan jembatan Sawarna ke arah timur. Setelah melewati tiang telekomunikasi, belok ke jalan kecil di kanan jalan dan menyusuri pematang sawah, jalan di pinggir kali, menyeberang jembatan gantung, menyusuri pematang sawah lagi, baru sampai di pintu masuk gua yang ada di sungai kecil. Peralatan wajib yang kudu dibawa: senter, karena masuk ke dalam gua bisa dalam banget sampai 200 meter secara horizontal melewati sungai kecil dan lumpur. Makin ke dalam, bau kotoran kelelawar makin menyengat. Sebenarnya bisa juga masuk ke lebih dalam lagi asal perlengkapan caving yang dibawa lengkap. Setelah 30 menit menyusuri gua baru kami keluar dan menuju tujuan selanjutnya yaitu pantai Lagoan Pari.
Jalan dari gua Lalay ke pantai Lagoan Pari cukup jauh, mungkin sekitar 4-5 km. Dari gua Lalay harus jalan lewat pematang sawah lagi, menyeberangi sungai yang dangkal, kemudian naik bukit mengikuti aliran air, menyusuri pematang sawah lagi, terus turun bukit dan melewati kebun kelapa. Kecapekan, kepanasan, dan sakit di kaki, bukan karena betis yang sakit tapi karena sandal berlumpur terobati begitu sampai di pantai Lagoan Pari. Saat kami datang, hanya kami bertiga pengunjung pantai tersebut, sehingga seperti pantai pribadi. Pasirnya landai dan ombaknya relatif lebih tenang nggak seperti pantai selatan lainnya membuat gw ikut nyemplung di pantai. Apalagi ditambah kelapa muda yang baru dipetik. Di sisi timur Lagoan Pari ada deretan karang yang membatasi Lagoan Pari dengan samudera yang disebut Karang Taraje, salah satu titik sunrise. Setelah puas bermain pantai, akhirnya gw harus jalan ke pantai Tanjung Layar yang harus ditempuh melalui pinggir pantai dan kebun kelapa sejauh 2 km. Perjalanan ini juga menantang karena kadang harus melewati karang di pantai, dan lebih susah kalo laut sedang pasang. Sesampainya di pantai Tanjung Layar, yang ditandai sama 2 batu besar di tengah laut dan dibatasi sama jejeran karang di belakangnya, gw istirahat lagi untuk menikmati pantai Sawarna. Lagi-lagi kami satu-satunya pengunjung di sana. Setalah makan siang sebentar, kami pun balik ke pantai Ciantir sejauh 2 km menyusuri pantai melewati surfing spot yang disebut Sawarna Point. Pantai Ciantir merupakan pantai terdekat ke desa Sawarna, jaraknya kira-kira 500 meter dari penginapan kami. Sunset dapat dinikmati di pantai Ciantir ini. Malam hari karena nggak ada TV sama sekali kami habiskan dengan bermain badminton dan menikmati angin malam di penginapan.
Keesokan paginya kami jalan ke muara sungai Sawarna yang bentuknya berkelok. Pemandangannya cukup bagus walaupun saat itu cuaca mendung. Kami pun pulang cepat dari Sawarna agar bisa makan siang di Palabuhanratu. 1,5 jam lamanya perjalanan Sawarna-Palabuhanratu, tentu tanpa insiden menabrak anak kecil lagi. Di Palabuhanratu ada warung makan enak yang menghidangkan ikan jangilus (marlin) bakar seukuran steak, warung Geksor, terletak di dalam terminal Palabuhanratu. Dengan harga yang relatif murah, gw dapat makan dengan kenyang dan enak. Fadhil dan Fatia pulang duluan ke Jakarta karena harus mengejar jadwal jaganya Fatia di malamnya, sementara gw karena masih capek dan males pulang menunggu keesokan harinya. Esoknya gw pulang bareng teman gw Darrell yang dengan baik hati mengantar gw ke Ciawi. Dari situ gw jalan sendiri ke Bogor untuk keliling sekaligus wisata kuliner sendiri, dan pulang sendiri dengan commuter line.
Perjalanan ini berhasil menghitamkan seluruh kulit gw, kecuali di bagian baju, celana, jam tangan, sama tali sandal, mencoba destinasi baru, dan menghilangkan kebosanan gw untuk sementara.
| Si Asep |
| Lagoan Pari |
| Tanjung Layar |
| Sunset di Ciantir |
| Penginapan Javabeach |
| Jembatan gantung Sawarna |
Subscribe to:
Posts (Atom)
