Friday, June 25, 2010

It's a World Cup Time! (part 2)

Kebetulan di pertengahan gelaran Piala Dunia 2010, gw lagi liburan ke Bali. Ada yang berbeda dari suasananya. Kalo biasanya kita ke Bali cuma nikmatin alam-alamnya yang memang ajaib, sekarang ini orang-orang Bali lagi tergila-gila sama yang namanya Piala Dunia.

Pertama kali gw datang ke Bali di liburan ini, gw nginep di kota Denpasar. Kalo sore, seperti biasa, kota Denpasar isinya macet semua. Beda rasanya kesel karena macet di Jakarta sama di Denpasar. Kalo di Jakarta gw kesel karena macet yang nggak jalan-jalan, tapi di Denpasar gw kesel karena macet yang merambat tapi nggak tau ujungnya di mana. Ajaibnya, begitu jam 8 malem ke atas, jalanan mulai sepi, lebih sepi dari biasanya (ini kata supir yang biasa di sini). Pengaruh Piala Dunia barangkali. Di Jakarta sih kayak gini juga biasa.

Selanjutnya beralih ke kawasan Kuta. Kuta ini kebalikannya Denpasar. Kalo Denpasar macet di siang hingga sore, di Kuta macet dimulai dari sore sampai pagi dini hari. Macetnya Kuta lebih menjijikkan daripada macet Denpasar ataupun Jakarta. Udah nggak gerak, nggak tau ujungnya di mana. Apalagi waktu peak season seperti sekarang ini. Tapi seolah majik, macet di Kuta waktu Piala Dunia sekarang ini berhenti waktu jam 10-12 malem, waktunya pertandingan Piala Dunia. Turis-turis Kuta berhenti sejenak di kafe-kafe untuk nonton Piala Dunia, begitu pula gw.

Ini yang lebih ajaib lagi. Di Bali biasanya kita melihat jajaran pura-pura di sepanjang jalan. Tapi waktu Piala Dunia ini ada tambahan satu lagi: jajaran bendera-bendera raksasa di tepi jalan, yang bahkan di Jakarta pun nggak gw lihat. Bendera itu ukurannya raksasa banget, banyak yang panjangnya mencapai 5 meter. Dan jumlahnya banyak banget, bisa dilihat rata-rata belasan bendera di hampir setiap banjar yang dilewati. Rata-rata negara-negara yang banyak dipasang benderanya yaitu Inggris, Jerman, Italia, Argentina, dan Spanyol. Dan tempatnya bukan cuma di kota aja, bahkan di desa pun nggak berbeda. Dalam perjalanan gw ke Bedugul hari ini, gw ngelihat itu hampir di semua banjar di tiap desa, bercampur sama pura-pura dan persawahan. Dan uniknya lagi, bendera-bendera tim yang udah nggak lolos, semacam Afsel, Prancis, maupun Italia, nggak diturunin sama warga, melainkan malah dikerek setengah tiang (sayang gw nggak sempet foto!). Susah menemukan bendera Australia maupun Jepang (yang turisnya paling banyak di Bali) dipasang di jalan-jalan. Uniknya lagi, gw menemukan satu bendera Israel, yang notabene nggak ikut Piala Dunia, dipasang di jalan.

Mungkin euforia Piala Dunia yang paling heboh nomer dua setelah di Afsel adalah di Bali. Gimana ya kalo Piala Dunia sendiri dimainkan di Indonesia. Pasti orang-orang sudah mulai lupa kerja, kuliah, atau sekolah. Yang jelas orang Bali sendiri sudah heboh sama gelaran Piala Dunia sekarang. Bener-bener seperti lagunya K'naan: When I get older, I will be stronger, they'll call me freedom, just like a Wavin' Flag.

Wednesday, June 23, 2010

Ooh Perut...

Inilah yang paling gw benci kalo lagi bepergian, kalo perut lagi bermasalah. Entah kenapa bulan-bulan terakhir ini kekerapan gw untuk sakit perut jadi semakin sering. Nggak jarang gw harus bolos di jam pertama kuliah demi menuntaskan hasrat si perut ini di rumah dulu. Padahal gw juga nggak punya riwayat genetik sakit perut lho! Dan sialnya juga gw masih belum punya obat yang manjur buat keluhan gw yang satu ini.

Di terminologi kedokteran, sakit perut didefinisikan sebagai suatu gejala (symptom), bukan suatu entitas penyakit (disease). Jadi mestinya namanya bukan sakit perut dong, mestinya gejala perut atau keluhan perut. Penyebabnya bisa bermacam-macam, dari iritasi, iskemik, obstruksi, atau pengaruh toksin. Berhubung gw masih ko-ass gw nggak tau yang mana jenis sakit perut gw.

Penyebabnya terutama kalo gw abis makan pedes. Entah kenapa juga, gw yang dari dulu suka pedes tiba-tiba jadi nggak tahan pedes karena sakit perut ini selalu muncul, yang diikuti sama perut yang kembung. Nah kalo udah gitu, alamat aja beberapa saat kemudian gw langganan WC. Mukosa usus gw menjadi mukosa yang paling lemah di antara mukosa-mukosa gw yang lain.

Saking parahnya keluhan ini, kalo dipikir-pikir, gw lebih memilih sakit pusing atau sakit batuk pilek daripada sakit perut. Sakit pusing kalo minum parasetamol sembuh. Sakit batuk pilek beres dengan bawa sapu tangan atau minum antihistamin. Nah kalo sakit perut? Boro-boro langsung sembuh pake obat diare, ujung-ujungnya harus ke WC juga. Selain itu juga sakit perut bisa bikin keluhan-keluhan lain, mulai dari keringat dingin, pusing, badan lemes, dehidrasi, dan lainnya. Intinya kalo sakit perut, terutama kalo lagi liburan ke luar kota itu jaminan pasti menderita.

Tuesday, June 22, 2010

It's a World Cup Time!

Mari kita sejenak melupakan yang namanya perkuliahan (karena memang gw udah masuk ke modul liburan) dan beralih ke yang namanya Piala Dunia 2010! Piala Dunia memang obat mujarab buat abang becak, tukang parkir, satpam, supir angkot, maupun mahasiswa kedokteran buat melupakan susahnya dunia.

Piala Dunia pertama kali gw tonton di TV adalah waktu Piala Dunia 1998 di Prancis, yang saat itu dijuarain sama tuan rumah. Turnamen yang satu ini nggak bakal gw lupain karena gw sendiri tersihir oleh gocekannya Zinedine Zidane yang terkenal banget saat itu.

Piala Dunia paling berkesan? Mungkin Piala Dunia 2006 di Jerman. Saat itu gw lagi libur-yang-nggak-libur dengan mengisi liburan kelulusan SMA gw dengan nonton Piala Dunia dan belajar SPMB. Apalagi waktu pertandingan semifinal Italia vs Jerman yang gw bela-belain tonton dini hari sebelum SPMB hari pertama. Nggak nyesel juga karena selain gw diterima di pilihan gw, jagoan gw juga menang.

Gw sendiri punya asumsi kalo Piala Dunia enak dinikmati kalo kita menjagokan tim tertentu, sesuatu yang masih terbukti benar hingga saat ini. Dan memang terbuti, kalo temen-temen gw yang aslinya nggak suka sama sepakbola mendadak jadi fanatik bola karena ngedukung tim kesayangannya di Piala Dunia. Gw sendiri ngejagoin Italia dari pertama kali gw nonton Piala Dunia. Alasannya, mungkin karena gw terpapar pertama kali sama sepakbola Italia di TV, jadinya gw juga ngejagoin klub Italia juga saat ini. Beda mungkin kalo gw lahir di jaman sekarang, pasti gw jagoin klub-klub Inggris atau Spanyol. So what's yours?

Sunday, May 30, 2010

Riset Buset

Inilah susahnya mahasiswa kedokteran jaman sekarang, udah susah ngejalanin kuliahnya masih dipersusah lagi sama yang namanya riset. Yak riset! Salah satu hal yang harus gw lakuin sebelum lulus sarjana. Sialnya, gw masuk di angkatan kedua yang dapat kewajiban ini. Memang nggak semua dokter nantinya jadi klinisi, tapi pekerjaan periset masih nggak berkembang di negara kita selama dana yang disediakan sedikit dan ada komitmen, tanggung jawab, dan disiplin yang tinggi dari para ilmuwan. Selain itu juga aplikasi di negara ini masih sedikit.

Back on the track, singkat kata gw sebenernya mau cerita soal kelompok riset gw, bukan soal materi riset gw (karena nggak ada kemajuan yang berarti). Setelah pilih sana pilih sini akhirnya gw sekelompok sama (diurut berdasarkan abjad): Fadhil, Fatia, Maruto, Ciko - kelompok yang menamakan dirinya GemBel (singkatan dari Gemar Belajar). Topik yang diambil pun nggak kalah seru: Berbagai Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kesembuhan Pengobatan TB Menggunakan DOTS. Pembimbingnya juga nggak kalah gokil: profesor paru yang kelak jadi Dirjen di Depkes.

Mungkin yang perlu gw risetkan di sini adalah berbagai faktor yang berhubungan dengan kemunduran riset berjudul blablabla...

Gw mau cerita dari pertama. Dari segi anggota, mungkin sudah banyak yang tahu bahwa kelak kelompok ini jadi kelompok main-main, bukannya kelompok yang benar-benar 'gemar belajar'. Tradisinya, kelompok ini selalu makan bersama tiap ada yang ulang tahun, dimulai dari makan bersama di Bandar Djakarta hingga nggak kehitung jumlahnya sampai saat ini. Bahkan saking hebatnya, anggota komunitas makan-makan ini terus bertambah hingga ada julukan Kelompok Riset ++. Singkat kata kegiatannya makan-makan 90%, riset 10%. Apalagi ditambah salah satu anggota ke luar negeri buat mengulang ilmu fisiologi yang masih belum dia pahami, sehingga progress dari riset ini tersendat-sendat.

Kedua, dari segi materi. Materi riset kelompok gw sebenarnya gampang, aplikatif, dan banyak sumbernya. Bahkan kalo dicari di koleksi jurnal, sudah banyak penelitian mengenai ini tapi di negara-negara bawah seperti Gambia, Bangladesh, dll. Jadi apa yang mempengaruhi perlambatan ini? Faktor tempat penelitian di RS Persahabatan jadi soal.

Soal pembimbing juga salah dari awal. Sejak sang profesor jadi Dirjen, beliau jadi sering menjalankan tugas negara di dalam maupun luar negeri. Jadinya, kelompok riset gw juga terbengkalai.

Akhirnya, dalam sebulan terakhir ini gw dan teman-teman harus mengebut riset supaya dapat gelar sarjana. Tempat favorit selama riset adalah di rumah profesor, perpus Shiozawa, ataupun di tempat paling nyaman: Cafe Au Lait. Soal kafe ini memang paling enak, ada koneksi internet gratis, sofa nyaman, ada musola dan ada colokan listrik! Tentunya selain biar dapat gelar sarjana, juga agar bermanfaat bagi nusa dan bangsa. Semoga!

Saturday, May 15, 2010

Sedated in Anesthesiology

Halo! Ketemu lagi!! Di hari yang cerah ini, dengan bangga gw akan mengumumkan bahwa masa pembelajaran klinik tingkat 4 telah berakhir. Dan apa artinya itu? Libur! Hehehe. Bukan libur yang sebenarnya sih, tapi paling nggak bisa mengistirahatkan otak yang penat ini selama seminggu.

Sebulan kemarin ini gw masuk ke stase terakhir klinik gw di Departemen Anestesiologi dan Intensive Care. Rasanya berat banget habis forensik yang bagaikan surga masuk ke anestesi yang nuntut kerja cepet biar pasien nggak mati. Tapi begitu masuk, ternyata gw nggak rugi memilih stase ini sebagai penutup tingkat 4. Kenapa? Desain ruangan paling bagus, residen dan konsulen baik-baik, dan meteri yang aplikatif bikin gw seneng sama ilmu ini. Mungkin gw akan mempertimbangkan anestesi sebagai pilihan buat spesialis nantinya.

Untuk urusan ilmu yang aplikatif, anestesi sangatlah enak. Bayangkan dimana lagi kita belajar teori RJP pagi harinya, trus malemnya saat jaga langsung dipraktekin ke pasien serangan jantung beneran (selain di kardio tentunya). Di sini juga gw untuk pertama kalinya melakukan RJP dan defib yang berhasil. Di sini juga koass diajarin intubasi pasien secara beneran (dan ternyata emang susah!) dan juga bius-biusan. Mengenai bius-membius ini sebenernya hanya nice to know buat koass dan gw pun hanya dapat mengucap terima kasih bila ditawari untuk diajarin farmakologi obat anestesi.

Dokter anestesi sendiri juga termasuk dalam dokter yang rawan dituntut sama pasien. Gimana nggak? Pasien masuk OK dengan keadaan sehat walafiat, terus dibius, bisa aja meninggal karena nggak bisa nafas kalo dokter anestesinya dodol. Tapi secara penghasilan mungkin bisa dibilang termasuk yang tinggi. Kalo di Indonesia mungkin masih dibawah Obgyn, tapi kalo di AS berdasarkan Forbes yang paling tinggi adalah anesthesiologist dengan rerata gaji tahunan $184,340 atau sebulannya $15,000 + sisanya dibuat amal. Tapi tingkat stressnya juga tinggi, dilihat dari angka harapan hidup yang rendah. Huh!

Kegiatan di sini juga banyak diisi dengan kegiatan hiruk pikuknya jaga di ruang resus IGD dan bengong di OK, nyatetin ini, nyatetin itu, suntik ini, monitor itu. Voila, jadilah koass anestesi yang kurang kerjaan, pengantuk (karena terhirup gas anestesi), dan nggak ada semangat (karena kecipratan obat sedasi dan pingin liburan). Itulah kegiatan gw selama di anestesi. Jam terbang sedikit, jam tidur banyak.

Sekian aja liputan selama klinik tingkat 4. Bagian-bagian gede di tingkat 5 dan riset telah menunggu! Tapi bodo amat, gw mau liburan dulu. Bye!

Tuesday, April 20, 2010

Suka Duka Forensik (part 2)

Huaahhh... nggak kerasa stase forensik udah masuk minggu ketiga alias udah mau selesai. Gw mau berlama-lama di sini!! Bangun jam 6, masuk jam 8, keluar jam 12, diulang-ulang aja jadwal gini selama 3 minggu, ditandai dengan sempatnya gw ke Atrium, GI, ataupun berobat ke dokter gigi di antara rutinitas kesibukan modul. Gimana forensik ini nggak jadi bagian surga! Ditambah lagi jaga cuma sampai jam 9 malem, beban belajar nggak berat, nggak ada preskas, nggak ada tugas pribadi, nggak ada MAKALAH!, dosen baik-baik, kamar jaga oke, sebutin deh semua yang enak-enak pasti ada di forensik.

Anyway, masuk ke forensik berarti udah siap menghadapi yang belum pernah kita hadapi sebelumnya (lihat juga postingan sebelumnya). Kebetulan waktu gw nulis ini adalah sehabis gw jaga di kamar mayat RSCM juga. Setelah 2 minggu berleha-leha di forensik, akhirnya gw dapet juga kesempatan autopsi lagi (akhirnya!). Kali ini dibandingkan dengan autopsi yang pertama (di postingan sebelumnya), mayat yang sekarang 'rada' seger (kata 'rada' di sini berarti berbeda dikit) dan untungnya lagi bukan mayat tenggelam. Dibuka sana, dibuka sini, ternyata another jackpot, mayat dengan suspek SIDA dengan tanda-tanda infeksi di seluruh tubuh. Yang namanya tanda infeksi kalo di forensik itu perlu diketahui adalah perlekatan di mana-mana, bercak perdarahan di mana-mana, cairan aneh di mana-mana, dan bau yang lagi-lagi di mana-mana. Beruntung gw kali ini memakai 3 lapis handskun dan tangan gw selamat dari percobaan ini.

Menjelang jaga, ujug-ujug ada 1 mayat lagi datang. Dan tebak apakah ini?! Mayat busuk sodara-sodara! Hijau, besar (kayak Hulk), dan bau di seluruh pelosok negeri forensik. Menurut keterangan saksi mata sih korban jatuh dari lantai 2 dan langsung wafat di tempat. Yang aneh adalah kenapa mayat udah busuk? Kenapa nggak ditolong dulu sama saksi? Dibuka-buka yang ketemu adalah nggak ada patah tulang sama sekali, dan setelah dicek-cekin mungkin penyebab lukanya adalah pankreatitis hemoragik akut dengan waktu kematian lebih dari 48 jam. Wow! Inilah kehebatan dunia forensik.

Intermezzo dulu, bicara soal waktu kematian emang belajar di forensik bagaikan jadi detektif yang ada di komik-komik atau di film-film. Bisa nentuin waktu kematian, sebab kematian, tanda khas diracunin, dsb. Jadi bisa juga ngebantu polisi nentuin korbannya dibunuh, bunuh diri, atau kecelakaan.

Setelah autopsi mayat kadaluarsa itu setelah 2 jam, datanglah panggilan dari IGD karena ada korban pengeroyokan. Setelah dateng rame-rame, eh ternyata si korban cuma punya 1 luka lecet di bahu. Ceritanya pun aneh, katanya dia lagi duduk di depan tiba-tiba 5 orang ngedatengin dia sambil mukul-mukulin pake helm di dalam rumah. Cerita paling aneh yang pernah gw dapat selama ini.

Balik lagi ke kamar autopsi malamnya, ada 1 mayat baru lagi, kali ini masih bener-bener fresh from the road, korban kecelakaan. Berhubung luka-lukanya banyak dan patah tulangnya juga banyak ceritanya langsung di-skip aja. Dari sisi canggihnya forensik, penyebab kematiannya mungkin patah tulang di daerah dasar kepala.

Dan akhirnya senang juga! Kasus yang gw dapatkan di jaga kali ini akhirnya diujianin kasus juga sama dokternya. Walaupun pulang lebih malam dari yang seharusnya, tapi yang penting beban udah berlalu satu. Dan tangan gw atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa tidak berbau mayat lagi, sehingga gw bisa leluasa makan di keesokan hari tanpa rasa eneg. Tampaknya 1 minggu ke depan gw akan banyak waktu kosong.

Tuesday, April 13, 2010

RIP My Old Laptop

Setelah 4 tahun lamanya menyertai akhirnya laptop gw yang lama, Fujitsu S6240, resmi dipensiunkan karena alasan teknis. Berikut ini gw ceritakan kronologis dari kejadian tersebut.

Sebenernya laptop itu sebelumnya masih cukup kuat buat dipake sekarang ini, tapi memang kendalanya sedikit lemot. Problemnya dimulai kira-kira beberapa bulan yang lalu (gw lupa), di mana bunyinya jadi agak keras (mungkin karena fan-nya yang udah mulai bermasalah). Akibat dari fan yang bermasalah itu, mungkin laptop itu jadi gampang panas dan akhirnya jadi masalah kronik sebelum masuk ke fase akut. Fase akutnya sendiri dimulai 1,5 bulan yang lalu, tiba-tiba laptop gw mati sendiri tanpa sebab yang jelas. Lama-lama mati sendiri itu intervalnya jadi makin pendek dengan saat pertama nyalain, jadinya sangat mengganggu pekerjaan gw yang menuntut banyak kerjaan di depan aplikasi Microsoft Office. Akibatnya juga gw harus save sering-sering di kerjaan gw.

Lama-lama gw malah nggak bisa ngerjain di laptop gw karena keburu mati kurang dari 10 menit setelah gw nyalain, dan gw akhirnya terpaksa pinjem MacBook Pro bokap untuk ngerjain tugas-tugas gw sambil coba servis di gerai resmi Fujitsu di Setiabudi Building. Setelah cek, kesimpulannya adalah kesalahan terletak pada mainboard laptop gw (semacam chip utama di komputer buat dicolokin perangkat lain seperti prosesor, adapter, dll). Usut punya usut, mainboard baru laptop seri gw harganya kira-kira 10 juta, itupun harus inden dulu. WTF! Gw tetep ninggalin laptop itu di sana sambil berharap ada mainboard second yang murah, sambil juga liat-liat laptop lain yang harganya sekarang jauh lebih murah daripada dulu.

Setelah 2 minggu diservis, ada mainboard second yang harganya 2 juta. It was difficult to choose the best option antara benerin atau ganti laptop baru. Akhirnya setelah melalui pertimbangan yang matang dan survei ke Ratu Plaza selama 2 minggu akhirnya gw resmi ganti laptop baru HP Pavilion dv2 yang ukurannya lebih kecil daripada yang lama, tapi lebih gede dari segi prosesor, RAM, grafis, atau memori daripada yang lama. OS-nya pun sudah Windows 7, dibandingin sama Windows XP di laptop lama. Ternyata perkembangan teknologi sekarang memang lebih cepat.

Laptop gw yang lama akhirnya gw tarik dengan cuma bayar 88 ribu sebagai ongkos pengecekan (istilah kedokterannya: diagnosis). Gw coba minta mas-masnya buat backup data di laptop lama dia juga nggak bisa. Akhirnya gw bisa simpulkan kalo tukang komputer di gerai resmi (dalam kasus gw) itu sama aja kayak dokter yang ketemu pasien dengan sirosis hati, nggak bisa diobatin dan bisanya cuma ganti baru dengan transplantasi. Sempet ditawar 1 juta untuk dilepas, tapi gw nggak mau. Dan akhirnya laptop itu gw bawa pulang kembali.


RIP the old one :(



welcome the new one!