Gw saat ini sedang stase di Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal, yang notabene pasti berhubungan sama mayat, undang-undang, dan satu-satunya spesialistik yang nggak ada unsur ngobatin pasien sama sekali. Jadi udah kebayang kalo masuk di sini adalah menyentuh badan yang dingin, kadang lembek kadang kaku, kadang juga warnanya merah kuning hijau biru ungu, dan semua yang membuat panca indera jadi tersiksa. Secara umum modul ini menyenangkan buat semua koass bahkan sampai dijuluki surganya perkoassan karena banyak faktor. Boleh dibilang surga, sampai gw masuk di hari ketiga modul ini.
7 April 2010
7 AM
Seperti biasa gw masih di rumah siap-siap berangkat, karena jadwal dimulai 8 AM dan sebelum itu pintu departemen masih ditutup. Jadi bagi mahasiswa yang rajin dipersilakan masuk duluan lewat kamar autopsi. Gw sih ogah dan memutuskan untuk tidur-tiduran dulu di TBM sebelum katanya ada jadwal pemeriksaan luar mayat. Perlu diingat, pemeriksaan luar sama sekali berbeda dengan autopsi (bedah mayat) dan cuma dilakukan dengan melihat bagian superfisial dari tubuh mayat.
8.30 AM
Serombongan dipanggil oleh teknisi forensik buat ikut jadwal pemeriksaan mayat. Berhubung udah tau ada pemeriksaan mayat hari itu, gw bawa jas lab bukan snelli. Jalan dari ruang kuliah ke ruang autopsi, mendekati pintunya lalu tercium bau seperti pasar ikan. Begitu dilihat ke dalam, eh ada 2 mayat lagi nangkring di meja, bentukannya hitam kehijauan, membesar, yang satu matanya kebuka sambil menganga (kayak wajah histeris), yang satu matanya ketutup. Dua-duanya ditemukan di sungai yang berbeda, jadi kemungkinan sebab kematiannya asfiksia karena tenggelam kira-kira 5 hari yang lalu. Pake apron, masker, sama (ini yang salah) 1 lapis hanskun, lalu mengelilingi mayat. Eh, ternyata yang dilakuin autopsi (sialan, ditipu!). Jadilah bau semerbak kayak bangkai tikus mati menyebar seruangan. Temen-temen gw yang ambang enegnya sedikit langsung mengeluarkan refleks vagal.
10.30 AM
Autopsi selesai dengan proses berikut: kulit, subkutis dan otot dari leher sampai pinggul dibuka, tulang dada diangkat, tenggorokan diangkat dari rongga mulut sampai terangkat juga jantung dan paru-paru, organ perut dan pinggul diambil, tengkorak dibuka, otak diambil (nggak bisa karena otaknya udah jadi bubur abu-abu), dideskripsikan satu-satu per organ, dikembalikan lagi ke rongga itu secara acak, dan dijahit lagi. Ingat, semua itu dilakukan dengan kondisi mayat yang sudah membusuk, jadi bisa dibayangkan sendiri baunya. Gambaran organnya sendiri memang sudah nggak jelas. Dan parahnya, karena kelalaian hanya memakai 1 lapis hanskun saat autopsi, bau mayat itu nggak ilang walaupun sudah dicuci pake sabun 3 kali, alkohol 2 kali, dan jeruk nipis 1 kali. Baju juga ada sedikit bau mayat. Keluar dari ruangan itu, gw berniat untuk jadi vegetarian sehari itu aja.
1 PM
Seperti biasa, kuliah ala forensik yang dibumbui dengan cerita-cerita konsulennya sampai sore.
5 PM
Cari hiburan dulu dengan main futsal di kala hari jaga. Ini dia salah satu enaknya stase forensik, jaganya adalah on call.
6.30 PM
Dapet panggilan ke IGD buat forensik klinik periksa korban penganiayaan berat. Dengan penuh keringat sehabis main futsal, gw jalan cepet ke IGD. Korbannya dapet luka bacokan di dahi sampai bawah telinga dan juga di tangan kanan, hingga putus di pergelangan tangannya. Luka-luka itu dideskripsikan secara detil untuk nanti dibuat visum et repertum untuk polisi.
7 PM
Disuruh balik lagi ke kamar autopsi, ada 2 mayat baru: 1 pindahan dari IGD karena ketabrak kereta, 1 lagi mayat tenggelam lagi-lagi. Walaupun baunya masih kalah sama yang tadi pagi dan masih fresh tetep aja ada baunya. Untungnya kali ini, nggak perlu autopsi karena belum ada keluarga yang datang. Ternyata setelah pemeriksaan luar 2 mayat itu selesai, di sebelahnya, tertutup kain putih sejak pemeriksaan pertama ada lagi-lagi mayat tenggelam, yang baunya naudzubillah lebih parah dari yang tadi pagi setelah penutupnya dibuka. Badannya udah hijau semua dan menggembung. Kalo disuruh autopsi yang ini: hoekkks!!
10 PM
Akhirnya bisa pulang dan sampai rumah dengan selamat, dengan total dapet 1 mayat kecelakaan, 3 mayat tenggelam, 1 korban tangan putus, dan bau mayat di tangan yang masih belum hilang.
Tidak tertarik dengan forensik? Siapa suruh masuk kedokteran!
Pasal 22 KUHP:
Barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
Wednesday, April 7, 2010
Friday, April 2, 2010
Short Holiday!
Akhirnya setelah ditunggu-tunggu, datang juga liburan di tengah rutinitas gw. Walaupun cuma 3 hari sih, itu juga termasuk weekend, tapi bagi gw itu bagaikan oasis di tengah sahara yang panas (lebay!). Beneran! Baru sekarang gw menikmati weekend tanpa adanya tugas-tugas jaga malam ataupun makalah malam-menjelang pagi yang nista itu.
Kesempatan ini juga gw rayakan untuk memperingati lepasnya gw dari cengkeraman The Fantastic Four - julukan untuk 4 modul selama 12 minggu yang disertai dengan keringat, air mata, dan darah (beneran lho!) di dalamnya: Kardiologi & Kedokteran Vaskular, Pulmonologi & Kedokteran Respirasi, Neurologi, dan Geriatri. Apalagi 2 modul terakhir ini beneran bikin gw stress. Neurologi yang jadwalnya ribet dan jaganya nggak banget, sama geriatri yang tugas-tugasnya bikin muntah. Dalam 13 hari efektif masing-masing mahasiswa dapat 10 tugas. Gw sendiri nggak suka akan banyaknya tugas ngetik.
Setelah berkutat dengan makalah-makalah tersebut akhirnya pada hari terakhir modul bisa juga nonton bareng sama anak-anak kelompok gw dan temen-temen yang lain. Sudah diputuskan untuk nonton film 3 Idiots yang ada di Blitz Pacific Place Jakarta. Perayaan lepas dari The Fantastic Four ini juga merupakan perayaan gw dari keautisan selama ini, yang jarang banget main-main dan nonton selama 4 modul biadab ini. Seminggu kemarin udah gw habiskan dengan melahap langsung 3 film yang agaknya rada out of date buat gw tonton: My Name Is Khan, How to Train Your Dragon, sama 3 Idiots.
Khusus untuk film yang terakhir (3 Idiots) gw acungin 4 jempol (kalo 20 jari gw adalah jempol bakal gw acungin semua!). Peduli amat gw jadi idiot setelah nonton ini. Gila nih film, bener-bener menggambarkan perjuangan kuliah, dan yang gw suka menggambarkan arti persahabatan. Intinya film ini sangat direkomendasikan sekali. Rugi deh lo yang nggak sempet nonton!
Dan setelah ini, akhirnya juga, selama 3 minggu gw masuk ke dalam modul Kedokteran Forensik yang kalo diterjemahkan sama dengan modul hura-hura di fase klinik. Makin senang deh gw weekend ini. Mudah-mudahan aja nggak banyak mayat aneh-aneh yang masuk ke RSCM selama 3 minggu ke depan.
Kesempatan ini juga gw rayakan untuk memperingati lepasnya gw dari cengkeraman The Fantastic Four - julukan untuk 4 modul selama 12 minggu yang disertai dengan keringat, air mata, dan darah (beneran lho!) di dalamnya: Kardiologi & Kedokteran Vaskular, Pulmonologi & Kedokteran Respirasi, Neurologi, dan Geriatri. Apalagi 2 modul terakhir ini beneran bikin gw stress. Neurologi yang jadwalnya ribet dan jaganya nggak banget, sama geriatri yang tugas-tugasnya bikin muntah. Dalam 13 hari efektif masing-masing mahasiswa dapat 10 tugas. Gw sendiri nggak suka akan banyaknya tugas ngetik.
Setelah berkutat dengan makalah-makalah tersebut akhirnya pada hari terakhir modul bisa juga nonton bareng sama anak-anak kelompok gw dan temen-temen yang lain. Sudah diputuskan untuk nonton film 3 Idiots yang ada di Blitz Pacific Place Jakarta. Perayaan lepas dari The Fantastic Four ini juga merupakan perayaan gw dari keautisan selama ini, yang jarang banget main-main dan nonton selama 4 modul biadab ini. Seminggu kemarin udah gw habiskan dengan melahap langsung 3 film yang agaknya rada out of date buat gw tonton: My Name Is Khan, How to Train Your Dragon, sama 3 Idiots.
Khusus untuk film yang terakhir (3 Idiots) gw acungin 4 jempol (kalo 20 jari gw adalah jempol bakal gw acungin semua!). Peduli amat gw jadi idiot setelah nonton ini. Gila nih film, bener-bener menggambarkan perjuangan kuliah, dan yang gw suka menggambarkan arti persahabatan. Intinya film ini sangat direkomendasikan sekali. Rugi deh lo yang nggak sempet nonton!
Dan setelah ini, akhirnya juga, selama 3 minggu gw masuk ke dalam modul Kedokteran Forensik yang kalo diterjemahkan sama dengan modul hura-hura di fase klinik. Makin senang deh gw weekend ini. Mudah-mudahan aja nggak banyak mayat aneh-aneh yang masuk ke RSCM selama 3 minggu ke depan.
Sunday, March 21, 2010
Let's Dreaming!
Everyone has a dream! Blog kali ini agaknya diilhami dari serial Kick Andy yang baru gw tonton tentang anak orang miskin bisa jadi S3. Ya udah pasti semua orang punya mimpi atau cita-cita. Nggak mungkin sebaliknya, kalo seseorang nggak punya suatu mimpi mungkin status Homo sapiens-nya perlu dipertanyakan.
Omong-omong tentang cita-cita, gw sendiri punya beberapa cita-cita sejak gw kecil. Malahan beberapa di antaranya mungkin rada aneh buat dipikir-pikir jadi cita-cita, lucu juga kalo diinget.
Dimulai dari cita-cita pertama gw. Ini dia cita-cita gw yang paling natural mungkin: jadi pengantin! Hahaha. Padahal gw sendiri nggak pernah nyadar, cuma gw sendiri dikasih tau sama orang tua kalo masa kecil gw waktu ikut pesta pengantin suka minta duduk di kursi pengantin. Kenapa sampe terpikirkan oleh gw waktu itu! I don't know. Mungkin gw waktu itu membayangkan jadi pengantin enak soalnya disalamin orang banyak. Hahaha.
Cita-cita kedua gw, waktu gw agak gedean sedikit (TK-SD) adalah yang paling aneh dan nggak masuk akal: jadi penjaga pom bensin! Hahaha. Kalo yang ini gw udah sadar kalo gw memilih cita-cita itu. Alasannya simpel. Gw waktu itu iri sama penjaga pom bensin soalnya mereka dapat duit terus. So, that's realistic. Anak kecil memang gampang ditipu sama situasi.
Cita-cita ketiga gw (waktu di SD) adalah standar sama kayak anak-anak kecil lainnya: pilot. Kenapa memilih ini gw juga bingung. Sama aja kayak anak-anak kalo punya cita-cita jadi dokter atau jadi tentara, STD alias standar.
Cita-cita keempat gw, waktu gw masuk SMP, adalah cita-cita paling spontan dari gw. Gw inget waktu gw orientasi ditanyain satu-satu tentang cita-cita, gw jawab aja cita-cita gw: profesor. Alasannya keren aja sama yang namanya profesor, bisa seperti Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie yang pernah datang ke SD gw, walaupun gw nggak tau apa sebenernya arti profesor hingga gw masuk kuliah.
Cita-cita kelima: insinyur. Mungkin ini cita-cita pertama gw yg gw pikirkan secara serius. Dan yang satu ini bertahan dari jaman akhir SMP sampe akhir SMA. Dulu waktu SMP memang gw pernah berkunjung ke ITB dan kepincut sama kampus yang adem itu. Waktu masuk SMA pun gw masih pingin masuk ITB, apalagi gw juga 'lumayan' suka itung-itungan. Dulu gw bermimpi untuk bisa bikin pesawat seperti pak Habibie. Dan masa akhir SMA jadi masa penentuan cita-cita gw.
Cita-cita terakhir gw dan masih bertahan hingga saat ini adalah jadi dokter. Sebenernya gw termasuk lemah soal hafalan. Profesi dokter juga nggak kepikiran dari dulu. Alasan gw mau jadi dokter simpel juga: karena kampus kedokteran ratingnya paling tinggi di Indonesia. Dan sampe sekarang pun gw juga masih bingung kalo ditanya, "Kenapa pingin jadi dokter?" Sama seperti saat gw diuji di modul pulmonologi kebetulan sama ketua Konsil Kedokteran Indonesia. Tapi dari pertama gw memilih cita-cita ini sampe sekarang, gw semakin suka dengan profesi kedokteran.
Berarti kalo dirunut dari awal, gw mungkin punya cita-cita seperti ini: dokter, yang menjadi pengantin, yang punya usaha pom bensin, yang bisa nyetir pesawat, yang akhirnya punya usaha pabrik pesawat, yang selanjutnya jadi profesor. Dan gw termasuk salah satu dari orang yang beruntung bisa sejalan dengan cita-cita gw sekarang. So keep being thankful of your life!
Omong-omong tentang cita-cita, gw sendiri punya beberapa cita-cita sejak gw kecil. Malahan beberapa di antaranya mungkin rada aneh buat dipikir-pikir jadi cita-cita, lucu juga kalo diinget.
Dimulai dari cita-cita pertama gw. Ini dia cita-cita gw yang paling natural mungkin: jadi pengantin! Hahaha. Padahal gw sendiri nggak pernah nyadar, cuma gw sendiri dikasih tau sama orang tua kalo masa kecil gw waktu ikut pesta pengantin suka minta duduk di kursi pengantin. Kenapa sampe terpikirkan oleh gw waktu itu! I don't know. Mungkin gw waktu itu membayangkan jadi pengantin enak soalnya disalamin orang banyak. Hahaha.
Cita-cita kedua gw, waktu gw agak gedean sedikit (TK-SD) adalah yang paling aneh dan nggak masuk akal: jadi penjaga pom bensin! Hahaha. Kalo yang ini gw udah sadar kalo gw memilih cita-cita itu. Alasannya simpel. Gw waktu itu iri sama penjaga pom bensin soalnya mereka dapat duit terus. So, that's realistic. Anak kecil memang gampang ditipu sama situasi.
Cita-cita ketiga gw (waktu di SD) adalah standar sama kayak anak-anak kecil lainnya: pilot. Kenapa memilih ini gw juga bingung. Sama aja kayak anak-anak kalo punya cita-cita jadi dokter atau jadi tentara, STD alias standar.
Cita-cita keempat gw, waktu gw masuk SMP, adalah cita-cita paling spontan dari gw. Gw inget waktu gw orientasi ditanyain satu-satu tentang cita-cita, gw jawab aja cita-cita gw: profesor. Alasannya keren aja sama yang namanya profesor, bisa seperti Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie yang pernah datang ke SD gw, walaupun gw nggak tau apa sebenernya arti profesor hingga gw masuk kuliah.
Cita-cita kelima: insinyur. Mungkin ini cita-cita pertama gw yg gw pikirkan secara serius. Dan yang satu ini bertahan dari jaman akhir SMP sampe akhir SMA. Dulu waktu SMP memang gw pernah berkunjung ke ITB dan kepincut sama kampus yang adem itu. Waktu masuk SMA pun gw masih pingin masuk ITB, apalagi gw juga 'lumayan' suka itung-itungan. Dulu gw bermimpi untuk bisa bikin pesawat seperti pak Habibie. Dan masa akhir SMA jadi masa penentuan cita-cita gw.
Cita-cita terakhir gw dan masih bertahan hingga saat ini adalah jadi dokter. Sebenernya gw termasuk lemah soal hafalan. Profesi dokter juga nggak kepikiran dari dulu. Alasan gw mau jadi dokter simpel juga: karena kampus kedokteran ratingnya paling tinggi di Indonesia. Dan sampe sekarang pun gw juga masih bingung kalo ditanya, "Kenapa pingin jadi dokter?" Sama seperti saat gw diuji di modul pulmonologi kebetulan sama ketua Konsil Kedokteran Indonesia. Tapi dari pertama gw memilih cita-cita ini sampe sekarang, gw semakin suka dengan profesi kedokteran.
Berarti kalo dirunut dari awal, gw mungkin punya cita-cita seperti ini: dokter, yang menjadi pengantin, yang punya usaha pom bensin, yang bisa nyetir pesawat, yang akhirnya punya usaha pabrik pesawat, yang selanjutnya jadi profesor. Dan gw termasuk salah satu dari orang yang beruntung bisa sejalan dengan cita-cita gw sekarang. So keep being thankful of your life!
Tuesday, March 9, 2010
Nyeri Bahu
Hari ini gw dapat kuliah yang sangat interaktif dan menyenangkan dari dosen gw, dr. Salim Harris, SpS(K) yang ngomong dengan aksen arab yang kental bener. Topiknya sekilas biasa aja: nyeri kepala aka headache.
Memang kesannya pertama biasa, belajar anatomi otak dan pembuluh darahnya yang kecil & amit-amit di kepala. Terus nyambung ke jenis sakit-sakit kepalanya. Topik makin menghangat setelah ngomongin tentang migrain dan akhirnya nyambung juga ke nyeri leher dan bahu. Nah ini dia yang seru!
Tiba-tiba semua mahasiswa cowok disuruh berdiri, terus diliat satu-satu. Setelah diliat bahunya satu-satu, akhirnya dengan yakin, si dosen nyuruh gw berdiri sambil ngomong, "Maaf ya Himawan, kamu dibuat belajar dulu ya!" Whaattt??!!
Gw disuruh maju ke depan kelas, buka kemeja luar, buka kaos dalem (huh!) dan akhirnya disuruh ngadep ke depan kelas, sambil punggung gw diliatin ke teman-teman sekelas.
"Nah, disini bisa dilihat, bahunya terlihat tidak simetris. Yang kiri lebih tinggi sedikit dan lebih gemuk daripada yang kanan. Ini adalah contoh spasme dari otot bahu (trapezius) kiri. Pasti kamu sering sakit bahu kiri ya, Wan?"
Buset ajaib amat nih dokter, cuma ngeliat aja bisa tau kalo gw suka sakit bahu kiri. walaupun nggak gw sadari sih, tapi memang selama ini gw ngerasa bahu kiri agak kurang nyaman dan cepet pegel. "Iya sih, dok!" jawab gw.
"Coba kamu rentangkan tangan kamu ke depan, terus digerakkan ke atas bawah berulang kali!"
"Nah bisa dilihat kan otot di kiri terlihat lebih gemuk daripada di kanan, ini yang disebut spasme. Terus coba lihat skapula (tulang belikat) kiri lebih menonjol. Kondisi ini yang dinamakan spondyloarthrosis cervicalis."
GILAAAA!!! *sembah-sembah ke dokter tersebut
Teman-teman gw juga terheran-heran dengan fenomena di bahu gw, sampai ada yang berpikir mau memvideokannya. Gw sendiri bingung, pingin liat, tapi adanya di punggung gw. Memang derita orang percobaan (OP).
"Kondisi ini bisa dikarenakan trauma, degeneratif, diturunkan dari orang tua yang seperti ini juga, ataupun sering terjadi pada orang yang sering bekerja menunduk di depan komputer (seperti gw ini), dan pijat maupun obat-obatan itu hanya akan meredakan gejalanya aja, tetapi nantinya akan muncul terus-menerus. Karena nyeri yang terjadi itu adalah campuran dari nosiseptif dan neuropati, maka obat-obatan yang bisa diberikan adalah kombinasi NSAID dan anti-epilepsi"
Terus apa obatnya dong dok? Ternyata obatnya hanya satu: berenang. Dan renangnya juga cuma boleh satu gaya: gaya punggung. Duh, susah amat obatnya. Dulu boleh aja sering renang, tapi dengan waktu sekarang ini mana sempet?! Oiya, kalo nggak mau renang bisa juga sih obatnya dengan masang collar neck biar leher nggak terbebani, atau sering mendongakkan kepala. Obat yang susah. Memang sehat itu susah, sehat itu anugrah.
Sebenernya nggak cuma ini aja sih gw didiagnosis penyakit saat belajar di kedokteran. Dulu pernah juga didiagnosis myopia (rabun jauh) -1,25 mata kiri ditambah astigmatisma. Tapi gw nggak pake kacamata karena gw merasa tidak terganggu. Memang, dokter adalah pasien yang paling bandel.
Buat yang mengeluh keluhan yang sama seperti gw, mungkin bisa dicoba resep berenang tersebut. Mudah-mudahan keluhannya bisa hilang total.
Mungkin gw juga akan mencoba berenang kembali.
Memang kesannya pertama biasa, belajar anatomi otak dan pembuluh darahnya yang kecil & amit-amit di kepala. Terus nyambung ke jenis sakit-sakit kepalanya. Topik makin menghangat setelah ngomongin tentang migrain dan akhirnya nyambung juga ke nyeri leher dan bahu. Nah ini dia yang seru!
Tiba-tiba semua mahasiswa cowok disuruh berdiri, terus diliat satu-satu. Setelah diliat bahunya satu-satu, akhirnya dengan yakin, si dosen nyuruh gw berdiri sambil ngomong, "Maaf ya Himawan, kamu dibuat belajar dulu ya!" Whaattt??!!
Gw disuruh maju ke depan kelas, buka kemeja luar, buka kaos dalem (huh!) dan akhirnya disuruh ngadep ke depan kelas, sambil punggung gw diliatin ke teman-teman sekelas.
"Nah, disini bisa dilihat, bahunya terlihat tidak simetris. Yang kiri lebih tinggi sedikit dan lebih gemuk daripada yang kanan. Ini adalah contoh spasme dari otot bahu (trapezius) kiri. Pasti kamu sering sakit bahu kiri ya, Wan?"
Buset ajaib amat nih dokter, cuma ngeliat aja bisa tau kalo gw suka sakit bahu kiri. walaupun nggak gw sadari sih, tapi memang selama ini gw ngerasa bahu kiri agak kurang nyaman dan cepet pegel. "Iya sih, dok!" jawab gw.
"Coba kamu rentangkan tangan kamu ke depan, terus digerakkan ke atas bawah berulang kali!"
"Nah bisa dilihat kan otot di kiri terlihat lebih gemuk daripada di kanan, ini yang disebut spasme. Terus coba lihat skapula (tulang belikat) kiri lebih menonjol. Kondisi ini yang dinamakan spondyloarthrosis cervicalis."
GILAAAA!!! *sembah-sembah ke dokter tersebut
Teman-teman gw juga terheran-heran dengan fenomena di bahu gw, sampai ada yang berpikir mau memvideokannya. Gw sendiri bingung, pingin liat, tapi adanya di punggung gw. Memang derita orang percobaan (OP).
"Kondisi ini bisa dikarenakan trauma, degeneratif, diturunkan dari orang tua yang seperti ini juga, ataupun sering terjadi pada orang yang sering bekerja menunduk di depan komputer (seperti gw ini), dan pijat maupun obat-obatan itu hanya akan meredakan gejalanya aja, tetapi nantinya akan muncul terus-menerus. Karena nyeri yang terjadi itu adalah campuran dari nosiseptif dan neuropati, maka obat-obatan yang bisa diberikan adalah kombinasi NSAID dan anti-epilepsi"
Terus apa obatnya dong dok? Ternyata obatnya hanya satu: berenang. Dan renangnya juga cuma boleh satu gaya: gaya punggung. Duh, susah amat obatnya. Dulu boleh aja sering renang, tapi dengan waktu sekarang ini mana sempet?! Oiya, kalo nggak mau renang bisa juga sih obatnya dengan masang collar neck biar leher nggak terbebani, atau sering mendongakkan kepala. Obat yang susah. Memang sehat itu susah, sehat itu anugrah.
Sebenernya nggak cuma ini aja sih gw didiagnosis penyakit saat belajar di kedokteran. Dulu pernah juga didiagnosis myopia (rabun jauh) -1,25 mata kiri ditambah astigmatisma. Tapi gw nggak pake kacamata karena gw merasa tidak terganggu. Memang, dokter adalah pasien yang paling bandel.
Buat yang mengeluh keluhan yang sama seperti gw, mungkin bisa dicoba resep berenang tersebut. Mudah-mudahan keluhannya bisa hilang total.
Mungkin gw juga akan mencoba berenang kembali.
Friday, February 26, 2010
Welcome Back to Salemba!
Setelah sekian lama gw nggak menjejakkan kaki di Salemba tercinta akhirnya gw balik juga ke kampus ini. Ternyata banyak juga cerita-cerita kampus yang gw tinggalin selama masa pengasingan itu. Yang paling heboh tentu aja hilangnya patung Pak Karbol di depan kampus gw. Patung perunggu segede gitu bisa banget dicuri orang, pastinya kl gw ketemu pencurinya yang pertama gw lakukan adalah gw bakal melakukan salam hormat ke dia selama sebulan penuh. Back to the topic, banyak hal yang gw kangenin dari Salemba. Pertama, gw bisa kembali ketemu sama temen-temen kuliah gw. Kedua, balik ke habitat artinya gw bisa ngelakuin hal-hal yang nggak bisa gw lakuin di RS jejaring lain, seperti main bola di sore hari dll. Ketiga, jaraknya dari rumah gw yang nggak terlalu jauh jadi alasan kenapa gw cinta Salemba.
Ternyata selain perubahan-perubahan positif setelah balik kandang, gw juga ngerasa ada nggak enaknya juga meninggalkan dunia luar. Jalan-jalan di RS Harkit maupun RSP adalah jalan sekalian wisata kuliner dadakan lho!! Pilihan makanannya sangat banyak dan enak pastinya. Gw pasti bakal kangen sama kantin/minimarket yang ada di Harkit atau RSP. Harganya juga murah daripada di RSCM (mentang-mentang daerahnya di Jakarta Pusat jadi lebih mahal!). Yang lebih parah lagi tentunya adalah soal parkir. Sejak jaman dulu daerah Salemba dan sekitarnya terkenal daerah rawan macet, banyak asap, parkiran terbatas, pokoknya neraka buat para penghuninya. Itu juga yg gw rasakan, berpindah dari RSP yang kaya oksigen ke RSCM yang kaya karbon monoksida. Hasilnya adalah gw batuk-batuk seminggu pertama gw di Salemba lagi. Ternyata juga stase di RSCM itu lebih hectic dibandingin sama stase di RS luar. Mungkin karena kebanyakan mahasiswa/dosen/pasien kali ya?!
6 minggu stase di luar jg membuat gw jadi anak rada ansos. Bayangkan, gw nggak nonton bioskop selama 2 bulan lebih. Begitu sampai di rumah, hal pertama yang gw pikirkan adalah tidur! Yak waktu buat tidur, harta yang paling berharga buat seorang ko-ass. Sisanya waktu dihabiskan dengan menghabiskan waktu di jalan, kuliah, jaga...
Anyway, paling nggak balik kandang membuat gw cukup senang. But still, I'm craving for holiday!
Ternyata selain perubahan-perubahan positif setelah balik kandang, gw juga ngerasa ada nggak enaknya juga meninggalkan dunia luar. Jalan-jalan di RS Harkit maupun RSP adalah jalan sekalian wisata kuliner dadakan lho!! Pilihan makanannya sangat banyak dan enak pastinya. Gw pasti bakal kangen sama kantin/minimarket yang ada di Harkit atau RSP. Harganya juga murah daripada di RSCM (mentang-mentang daerahnya di Jakarta Pusat jadi lebih mahal!). Yang lebih parah lagi tentunya adalah soal parkir. Sejak jaman dulu daerah Salemba dan sekitarnya terkenal daerah rawan macet, banyak asap, parkiran terbatas, pokoknya neraka buat para penghuninya. Itu juga yg gw rasakan, berpindah dari RSP yang kaya oksigen ke RSCM yang kaya karbon monoksida. Hasilnya adalah gw batuk-batuk seminggu pertama gw di Salemba lagi. Ternyata juga stase di RSCM itu lebih hectic dibandingin sama stase di RS luar. Mungkin karena kebanyakan mahasiswa/dosen/pasien kali ya?!
6 minggu stase di luar jg membuat gw jadi anak rada ansos. Bayangkan, gw nggak nonton bioskop selama 2 bulan lebih. Begitu sampai di rumah, hal pertama yang gw pikirkan adalah tidur! Yak waktu buat tidur, harta yang paling berharga buat seorang ko-ass. Sisanya waktu dihabiskan dengan menghabiskan waktu di jalan, kuliah, jaga...
Anyway, paling nggak balik kandang membuat gw cukup senang. But still, I'm craving for holiday!
Sunday, February 21, 2010
Bebek Goreng
Yeah, it's been my favorite in recent weeks. Nggak tau kenapa akhir-akhir ini jadi sering makan bebek goreng, padahal sebelumnya (baca: 2 tahun silam) gw masih anti makan makanan yang satu ini. Sama kasusnya dengan sate, tongseng, dan nasi goreng kambing; dulu gw anti, sekarang doyan banget. Menurut gw padahal bebek goreng itu sama sekali bukan makanan yang sehat. Lemak dimana-mana, daging yang liat, berbau khas, nggak kayak ayam yang netral-netral aja. Gw juga lupa siapa yang ngenalin makanan yang satu ini ke gw.
3. Bebek Barokah
4. Bebek Kaleyo
5. Bebek Kemayoran
Akhir-akhir ini gw jadi sering makan bebek goreng, mungkin gara-gara gw kebanyakan stase di RS luar jadinya gw sering wisata kuliner Jakarta. Tapi bener lho, bebek goreng di Jakarta nggak kalah sama yang ada di Surabaya. Variasinya pun macem-macem. Berikut ini ulasan 5 bebek yang gw makan, diurut dari yang paling biasa sampai yang paling enak. Bukan berarti di list ini adalah bebek yang terenak se-Jakarta, karena gw belum nyobain semua bebek di Jakarta. Dan sekali lagi, ini adalah versi gw.
1. Bebek Ginyo
Bebek Ginyo termasuk salah satu bebek branded yang cukup terkenal di Jakarta. Lokasinya di Tebet Utara, cukup deket dari rumah gw. Menurut gw sih, bebek disini banyak pilihannya. Ada bebek goreng, bebek bakar, bebek cabe ijo, dan sisanya gw lupa. Nilai plusnya tempatnya enak, walaupun parkirnya bikin stress, selalu macet kalo gw lewat situ. Nasi sepuasnya (ini yang penting!). Tapi rasa bebeknya terlalu standar, nggak ada rasa khasnya. Kalo dibawa pulang pasti jadi nggak enak deh. Harga sih murah, but still, I don't recommend it. Kalo ada yang lebih enak kenapa nggak ke tampat lain?
2. Bebek Slamet
Bebek Slamet ada di bilangan Rawamangun, deket sama UNJ. Tempatnya cukup enak. Bebek andalannya cuma satu: bebek goreng. Menurut gw, bebek gorengnya sangat berbumbu, tapi sayangnya waktu gw ke sana digoreng kurang kering. Sambelnya juga cukup enak, berminyak, banyak campuran bawangnya. Tapi secara umum, bebek sini enak buat dikunjungi. Harga sih standar. Porsinya juga cukup. Sayangnya, kadang-kadang bebek gorengnya bisa habis, padahal masih siang bolong. Lah gimana ini, restoran bebek kok bebeknya bisa habis?
3. Bebek Barokah
Bebek Barokah ada di seberang RS Persahabatan di Rawamangun. Dibilang restoran juga bukan, karena tempatnya berupa warung, di sebelah warung Padang yang punya dendeng balado paling enak se-Jakarta! Porsi bebeknya sih kecil banget, gorengannya juga biasa aja, tapi harganya juga murah banget. Walaupun warung-warung gini tapi udah banyak yang ngebahas di forum-forum di internet. Alasannya: bumbunya mantap!!! Bumbu di sini seperti bumbu rendang kering, diguyur di atas nasi panas, terus dikasih bawang goreng. Tapi awas, buat yang nggak suka pedes jangan coba-coba ke sini. Bumbunya sangat pedes!!! Habis makan pun, setelah mulut kepanasan, perut juga bisa kepanasan.
4. Bebek Kaleyo
Bebek Kaleyo termasuk bebek branded yang paling terkenal se-Jakarta. Cabangnya ada dimana-mana, tapi tetep yang paling mantap di tempat aslinya di Rawamangun, belakang Mal Arion. Bebek gorengnya sangat kering (sampai tulangnya bisa dimakan!), bumbunya enak, sambelnya mantap! Bebek gorengnya dilengkapi dengan kremes. Selain itu ada bebek bakar & cabe ijo. Pokoknya kalo dateng jam makan siang atau makan malem, pasti tempatnya penuh banget. Harganya standar. Tapi pokoknya rugi deh kalo nggak pernah ke sini dan nyicipin sambelnya yang mantap dan pedes.
5. Bebek Kemayoran
Ini dia bebek yang paling enak se-Jakarta sampai saat ini, menurut gw. Bebek Kemayoran (jeng..jeng..jeng). Berawal dari waktu stase gw di Harkit ditraktir sama salah satu dokter di sana makan nasi bebek bungkus, wah rasanya mantap skalee. Usut punya usut gw cari-cari informasi ke orang lain yang pernah ditraktir juga dan ternyata tempatnya di Kemayoran. Setelah punya telponnya, gw telpon dan ternyata lokasinya ada di sebelah RS Mitra Kemayoran. Setelah gw datengin, bukan restoran, bukan juga warung, tapi cuma gerobak dorong yang jual nasi bebek, sate ayam, dll. Tapi rasanya? Jangan ditanya. Bebeknya enak banget, dilengkapin sama bumbu serundeng (ini yang bikin enak!), plus sambel yang cukup enak, plus nasi yang banyak, plus harga yang murah! (nasi bebek porsi gede cuma 13.000). Gw pernah search di internet, belum ada yang ngebahas bebek ini. Kasian juga, makanya gw yang pertama ngebahas mungkin. Pokoknya highly recommended!
Tujuan selanjutnya:
Bebek Yogi - Kebonjeruk, Jakbar
Bebek Suryo - Blok S, Jaksel
Selamat makaaan!!!
Saturday, February 13, 2010
Minggu Gila (part 2)
Minggu Gila (part 2) adalah kelanjutan dari postingan Minggu Gila sebelumnya. MG kali ini terjadi di pertengahan Februari 2010, kira-kira hampir 2 tahun setelah MG 1. Berikut ini adalah petikan salah satu kalimat terakhir dari MG 1:
"Good bye respirasi, semoga kita nggak ketemu minggu depan!!"
Ternyata nasib-oh-nasib, gw memang nggak ketemu respirasi di minggu depan setelah MG 1, tapi kayaknya itu jadi karma dan akhirnya gw harus ketemu lagi saat stase di bagian Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI (sekilas namanya keren, gw singkat aja jadi pulmo).
Stase di pulmo memang ada 2 sisi; sisi yang satu ko-ass bisa dapet kesempatan lebih buat mempraktekkan ilmunya di RS Persahabatan; di sisi lain jaga di stase ini kebanyakan! Memang RSP surga buat ko-ass yang rajin, sebaliknya neraka buat ko-ass yang magabut. Bisa dibayangkan, apabila RS Jantung Harapan Kita slogannya adalah "Patient First", kalo di RSP mungkin slogannya jadi "Co-Ass First". Mungkin juga di belakangnya ditambahin "Further complain is not accepted". Kebayang kan? Bahkan pasien baru yang masuk bangsal paru kelas ekonomi, terlebih dahulu harus difilter dulu oleh ko-ass sebelum diperiksa oleh dokter jaga.
Pernah suatu kasus, gw jaga malem di IGD RSP, ada pasien baru dengan keluhan utama sesak nafas, ditaruh di luar ruangan IGD. Pasti ko-ass disuruh periksa pertama dong, namanya juga RSP. Gw lah yang dapet kesempatan pertama periksa pasien, klinisnya sesak, nggak ada batuk, suhu juga subfebris. Kebetulan gw nggak pake masker dan sarung tangan saat itu, karena merasa gw udah kebal terhadap TB dan pneumonia (penyakit paling sering), nggak deng karena gw lupa (yak.. gw lupa beneran!!) dan pasien nggak ada batuk, jadi ngapain pake masker segala. Dengan santainya pasien gw raba-raba (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi). Pasien juga berkeringat banyak. Setelah gw balik ke dokter jaga dan mau melaporkan pasien tersebut, dengan santainya dia ngomong, "Oh itu pasien yang suspek AI (avian influenza) kan?" Sialan nih dokter. Pantesan ditaruh di luar. Gw udah terlanjur megang pasien apa mau dikata, tinggal pasrah aja, sambil ngelumurin tangan gw dengan sebanyak-banyaknya alkohol. Setelah diperiksa segala macem, taunya pasien mungkin bukan AI (syukurlah!), tapi dia positif HIV (sialan!).
Pelajaran pertama: Selalu pakai APD tiap memeriksa pasien!
Pelajaran kedua: Selalu tanya riwayat kontak unggas tiap periksa pasien sesak!
Hari pertama stase sudah biasa diawali dengan undian jaga. Berhubung kelompok gw jumlahnya relatif sedikit (dan jaganya membutuhkan orang banyak, termasuk weekend siang malem), rata-rata pada dapet 6 kali jaga dalam 3 minggu. Jumlah ini termasuk banyak dalam perkalenderan anak-anak klinik. Berhubung juga ada yang harus dapet bonus, gw kebagian bonus plus untuk jaga 7 kali. Berhubung berhubung juga gw minggu ke-2 dapet stase di RS Sulianti Saroso di Sunter-nan-jauh-di-sana, which is nggak bisa jaga saat stase itu, jaga gw ketumpuk di akhir stase.
Pelajaran ketiga: Aturlah jadwal jaga anda dengan bijak!
Secara umum, jaga di RSP menyenangkan, asal (1) dapet jaga di bangsal, (2) dapet dokter yang enak juga sekaligus gaul sekaligus rajin, (3) nggak banyak pasien, (4) nggak dapet pas weekend, dan (5) nggak dapet pasien asma atau batuk darah atau penurunan kesadaran yang harus di-followup terus-terusan. Kamar jaga ko-ass di RSP adalah yang paling bagus di antara kamar jaga lain.
Pelajaran keempat: Berdoalah supaya beruntung sebelum jaga!
Minggu I dan minggu II udah gw jalanin dan gw mau masuk minggu III, dengan catatan: gw sudah menjalani 3 kali jaga. Itu berarti gw kurang 4 kali jaga lagi dalam seminggu!
Hal ini ditambah lagi dengan sabda dari koordinator S1 bahwa mahasiswa pulmo harus ikut seminar pulmo-respirasi di hari Sabtu-Minggu.
DItambah ditambah lagi dengan minggu III di RSP gw harus follow up 2 pasien dari riwayat, PF, diagnosis kerja, dan rencana kerja setiap hari. Plus ujian yang diadakan di minggu ini pula: logbook, mini-cex, dan tulis. Gw sendiri udah nggak kebayang apa yang terjadi minggu depan. Jadi total, dalam 9 hari, gw ada 5 hari kuliah (7 am-3 pm), 2 hari seminar, 4 kali jaga (3 pm-6 am), 2 ujian logbook, 2 ujian mini-cex, 1 ujian tulis, 2 pasien follow up. Berarti juga gw harus nginep rumah & rumah sakit selang-seling dalam seminggu ini.
Pelajaran kelima: Jaga kesehatan anda dan biasakanlah pola tidur anda jika ingin menjadi dokter!
MG 1 dulu gw tulis setelah gw jalanin semua rangkaian 1 minggu. Nah sekarang MG 2 gw tulis sebelum gw menjalaninya. Siapa tau nanti habis selesainya MG 2, gw bakal kecapekan, hibernasi, dan lupa mau nulis apa.
Bismillah...
"Good bye respirasi, semoga kita nggak ketemu minggu depan!!"
Ternyata nasib-oh-nasib, gw memang nggak ketemu respirasi di minggu depan setelah MG 1, tapi kayaknya itu jadi karma dan akhirnya gw harus ketemu lagi saat stase di bagian Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI (sekilas namanya keren, gw singkat aja jadi pulmo).
Stase di pulmo memang ada 2 sisi; sisi yang satu ko-ass bisa dapet kesempatan lebih buat mempraktekkan ilmunya di RS Persahabatan; di sisi lain jaga di stase ini kebanyakan! Memang RSP surga buat ko-ass yang rajin, sebaliknya neraka buat ko-ass yang magabut. Bisa dibayangkan, apabila RS Jantung Harapan Kita slogannya adalah "Patient First", kalo di RSP mungkin slogannya jadi "Co-Ass First". Mungkin juga di belakangnya ditambahin "Further complain is not accepted". Kebayang kan? Bahkan pasien baru yang masuk bangsal paru kelas ekonomi, terlebih dahulu harus difilter dulu oleh ko-ass sebelum diperiksa oleh dokter jaga.
Pernah suatu kasus, gw jaga malem di IGD RSP, ada pasien baru dengan keluhan utama sesak nafas, ditaruh di luar ruangan IGD. Pasti ko-ass disuruh periksa pertama dong, namanya juga RSP. Gw lah yang dapet kesempatan pertama periksa pasien, klinisnya sesak, nggak ada batuk, suhu juga subfebris. Kebetulan gw nggak pake masker dan sarung tangan saat itu, karena merasa gw udah kebal terhadap TB dan pneumonia (penyakit paling sering), nggak deng karena gw lupa (yak.. gw lupa beneran!!) dan pasien nggak ada batuk, jadi ngapain pake masker segala. Dengan santainya pasien gw raba-raba (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi). Pasien juga berkeringat banyak. Setelah gw balik ke dokter jaga dan mau melaporkan pasien tersebut, dengan santainya dia ngomong, "Oh itu pasien yang suspek AI (avian influenza) kan?" Sialan nih dokter. Pantesan ditaruh di luar. Gw udah terlanjur megang pasien apa mau dikata, tinggal pasrah aja, sambil ngelumurin tangan gw dengan sebanyak-banyaknya alkohol. Setelah diperiksa segala macem, taunya pasien mungkin bukan AI (syukurlah!), tapi dia positif HIV (sialan!).
Pelajaran pertama: Selalu pakai APD tiap memeriksa pasien!
Pelajaran kedua: Selalu tanya riwayat kontak unggas tiap periksa pasien sesak!
Hari pertama stase sudah biasa diawali dengan undian jaga. Berhubung kelompok gw jumlahnya relatif sedikit (dan jaganya membutuhkan orang banyak, termasuk weekend siang malem), rata-rata pada dapet 6 kali jaga dalam 3 minggu. Jumlah ini termasuk banyak dalam perkalenderan anak-anak klinik. Berhubung juga ada yang harus dapet bonus, gw kebagian bonus plus untuk jaga 7 kali. Berhubung berhubung juga gw minggu ke-2 dapet stase di RS Sulianti Saroso di Sunter-nan-jauh-di-sana, which is nggak bisa jaga saat stase itu, jaga gw ketumpuk di akhir stase.
Pelajaran ketiga: Aturlah jadwal jaga anda dengan bijak!
Secara umum, jaga di RSP menyenangkan, asal (1) dapet jaga di bangsal, (2) dapet dokter yang enak juga sekaligus gaul sekaligus rajin, (3) nggak banyak pasien, (4) nggak dapet pas weekend, dan (5) nggak dapet pasien asma atau batuk darah atau penurunan kesadaran yang harus di-followup terus-terusan. Kamar jaga ko-ass di RSP adalah yang paling bagus di antara kamar jaga lain.
Pelajaran keempat: Berdoalah supaya beruntung sebelum jaga!
Minggu I dan minggu II udah gw jalanin dan gw mau masuk minggu III, dengan catatan: gw sudah menjalani 3 kali jaga. Itu berarti gw kurang 4 kali jaga lagi dalam seminggu!
Hal ini ditambah lagi dengan sabda dari koordinator S1 bahwa mahasiswa pulmo harus ikut seminar pulmo-respirasi di hari Sabtu-Minggu.
DItambah ditambah lagi dengan minggu III di RSP gw harus follow up 2 pasien dari riwayat, PF, diagnosis kerja, dan rencana kerja setiap hari. Plus ujian yang diadakan di minggu ini pula: logbook, mini-cex, dan tulis. Gw sendiri udah nggak kebayang apa yang terjadi minggu depan. Jadi total, dalam 9 hari, gw ada 5 hari kuliah (7 am-3 pm), 2 hari seminar, 4 kali jaga (3 pm-6 am), 2 ujian logbook, 2 ujian mini-cex, 1 ujian tulis, 2 pasien follow up. Berarti juga gw harus nginep rumah & rumah sakit selang-seling dalam seminggu ini.
Pelajaran kelima: Jaga kesehatan anda dan biasakanlah pola tidur anda jika ingin menjadi dokter!
MG 1 dulu gw tulis setelah gw jalanin semua rangkaian 1 minggu. Nah sekarang MG 2 gw tulis sebelum gw menjalaninya. Siapa tau nanti habis selesainya MG 2, gw bakal kecapekan, hibernasi, dan lupa mau nulis apa.
Bismillah...
Subscribe to:
Posts (Atom)