Hampir 4 bulan sudah gw menjalani pekerjaan di Cibitung, tepatnya di RSUD Kabupaten Bekasi. Sebenarnya RS itu bukan masuk ke kecamatan Cibitung melainkan ke kecamatan Tambun, tapi berhubung lebih dekat ke gerbang tol Cibitung jadinya gw sah-kan RS itu adanya di Cibitung. Apa yang anda ekspektasikan untuk sebuah rumah sakit daerah di kabupaten Bekasi dengan jumlah penduduk sebanyak 2.193.776 jiwa (2008)? Tentu pastinya sama seperti gw saat pertama kali tau akan ditempatkan di sini: kapasitasnya lebih dari 100 bed, fasilitas lengkap, gedung bagus. Karena apa? Kabupaten Bekasi sendiri pasti punya pemasukan yang besar (46.480.292 juta rupiah PDB di tahun 2008) karena adanya jajaran-jajaran pabrik di dalamnya, termasuk kawasan industri Jababeka dan Cikarang yang akhir-akhir ini terkenal akan demo buruhnya.
Nyatanya, RSUD Kabupaten Bekasi itu hanyalah RS tipe C. Gedungnya masih kecil yang gw bilang kurang layak untuk jadi bangunan RS, walaupun sekarang masih dalam tahap pembangunan gedung baru. Kapasitas resminya adalah 95 bed. Fasilitas-fasilitas yang mestinya ada di RS untuk masyarakat kabupaten Bekasi masih belum bisa terakomodir dengan baik, miris bila dibandingkan dengan pendapatan pemdanya. Coba aja 1% dari pendapatan bruto tahunan (kurang lebih Rp 400 milyar) diinvestasikan ke fasilitas kesehatan, wah RS ini mungkin udah jadi RS rujukan regional dengan fasilitas superkomplit. CT-scan? Pemeriksaan AGD? Pemeriksaan elektrolit? Fasilitas hemodialisis? Fasilitas kateterisasi jantung? Semuanya belum ada, memang semua masih dalam tahap pengembangan. Ruangan ICU hanya ada cuma 2 bed, yang artinya 1 bed diperebutkan sama 1 juta penduduk. Memang RS-RS swasta lain buanyak buanget di Bekasi, tapi rata-rata pasien gw di RSUD adalah pasien-pasien nggak mampu. Sebagian beruntung karena punya kartu Jamkesmas yang notabene dibiayai pemerintah pusat. Sebagian lagi agak beruntung karena masih dapat jaminan Jamkesda yang ada limit kunjungan dan RS rujukannya terbatas. Sebagian besar yang lain benar-benar sial karena nggak punya jaminan sama sekali. Baru saja kemarin gw dapat pasien sesak akibat gagal jantung karena jantungnya udah bocor dan butuh ruangan ICU, keluarga menolak rawat karena masalah biaya. Lain kasus, banyak juga pasien yang sudah mengurus jaminan segala macam, tapi terpaksa dirujuk karena fasilitas nggak lengkap atau karena kamarnya penuh. Terpaksa pasien seperti itu dirujuk ke RSUD Kota Bekasi, RSHS Bandung, RS di Jakarta, atau malah RS-RS swasta lain yang ada di sini. Jadilah RS tempat gw sekarang memang jadi spesialisasi ngerujuk. Lain halnya lagi kalo ada pasien trauma di ekstremitas sehingga butuh operasi segera karena di Bekasi ada jalan tol Jakarta-Cikampek dan banyak pabrik sehingga memperbesar risiko kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan kerja, RSUD Bekasi nggak bisa melayani karena nggak ada dokter bedah tulang (adanya cuma dokter bedah umum) dan nggak bisa operasi cito.
Kemarin juga gw nonton sebuah dialog yang menarik di TV. Topiknya tentang permasalahan korupsi di Indonesia, terutama yang menyangkut menteri. Menariknya, pembicara yang juga mantan menteri tersebut bilang bahwa sekitar 20% anggaran negara dikorupsi di tingkat penganggaran, sementara 30% dikorupsi di tingkat pelaksanaan. Itu angka rata-rata. Apa hubungannya sama topik yang gw tulis sebelumnya? Gw tidak bilang bahwa pemda kabupaten Bekasi itu korup. Gw cuma pingin menyampaikan kepada bupati Bekasi dan calon-calon bupati yang lain (berhubung mau ada pilkada Bekasi) bahwa alokasikanlah anggaran daerah dengan baik, khususnya anggaran kesehatan karena gw berkecimpung di dunia kesehatan. Bagaimana cara membentuk sarana kesehatan yang baik? Salah satunya adalah membuat RS yang layak dan mampu melayani seluruh masyarakatnya.
Btw, akhirnya gw resmi juga terdaftar sebagai anggota IDI dari cabang kabupaten Bekasi. Walaupun keanggotaan ini cuma sementara tetep, thanks untuk semuanya... :)
*nulis postingan apa sih gw barusan??
Thursday, February 23, 2012
Sunday, February 12, 2012
Random Trip
Perjalanan gw baru-baru ini benar-benar random. Libur 3 hari hasil tuker-tukeran jadwal sama teman menghasilkan ide jalan-jalan singkat kali ini yang tujuannya nggak jauh-jauh: Kota Tua Jakarta. Entah kenapa gw kesambet untuk jalan-jalan ke daerah sini, sendirian pula. Sebenarnya gw udah termasuk sering untuk pergi ke Kota, terakhir kali mungkin tahun 2010 (bukan sering ini namanya sih!). Rata-rata hampir pasti selalu tiap ke sini ngunjungi Museum Sejarah Jakarta, yang dari tahun ke tahun ya gitu-gitu aja. Makanya perjalanan ke Kota kali ini gw targetkan untuk jalan-jalan ke tempat yang belum pernah gw datengin dengan jalan kaki, mumpung badan masih kuat untuk diajak jalan jauh.
Perjalanan dimulai di stasiun Tebet, gw akan menggunakan kereta commuter line menuju ke stasiun Jakartakota. Hari itu, Kamis, 9 Februari 2012, memang cocok untuk jalan-jalan ke Kota. Matahari cukup cerah (baca: panas) untuk jalan-jalan. Wisatawan masih sepi, justru yang banyak adalah pedagang-pedagang yang mau ke daerah Mangga Dua. Commuter line cukup sepi karena gw emang sengaja nunggu untuk berangkat agak siangan biar nggak ikut-ikutan urbanisasi orang Bogor ke Jakarta. Begitu masuk kereta gw udah disajikan pemandangan yang super aneh, ada pedagang rambutan dengan 3 bakul gedenya di dalem kereta ber-AC ini. Gw jepret-jepret dulu deh dia sambil cuek, lumayan untuk koleksi foto. Kira-kira 20 menit perjalanan Tebet-Kota, hal yang mungkin dicapai kalo pake mobil.
Begitu sampai Kota, tujuan pertama adalah makan pagi yang telat. Searching wisata kuliner di Kota gampang-gampang susah terutama untuk muslim seperti gw. Sebenernya banyak banget review tapi kebanyakan mengandung babi, dari mie ayam sampai ke bubur hampir semuanya berbabi. Dan pilihan kuliner enak dan halal juga terbatas. Dari hasil searching wisata kuliner Kota yang agak susah, gw berencana untuk brunch di daerah pasar Asemka, tepatnya di warung soto tangkar di dalam pasar. Entah kenapa, soto tangkar (iga sapi) di sini terkenal banget. Nyarinya pun setengah mati, hampir 30 menit gw jalan-jalan kepanasan sebelum menemukan Soto Tangkar H. Diding di dalem pasar Asemka. Warungnya kecil banget, cuma ada 6 kursi. Menu yang gw coba ada 2: soto tangkar dan sate sapi. Kuah soto tangkar ini seperti kuah soto betawi. Enak? Jelas karena gw juga sedang lapar-laparnya.
Selesai makan di Asemka, gw langsung jalan ke kawasan Kalibesar untuk hunting foto. Dimulai dari jl. Kalibesar Barat gw mulai menyusuri kali kebanggaan orang VOC jaman dulu sambil lihat-lihat gedung tua di kawasan itu. Sayang, kalinya udah kotor dan bau, dan gedung-gedungnya udah kotor nggak terawat, tapi arsitekturnya masih bisa dinikmati. Mungkin satu-satunya gedung yang masih bagus terawat adalah Toko Merah, kediaman gubernur van Imhoff jaman dulu yang sekarang menjadi cagar budaya. Jalan gw terusin ke arah utara untuk ke jembatan Kota Intan, yang dulunya menjadi jembatan tempat perahu-perahu dagang lewat kanal Kalibesar, mirip fungsinya seperti Tower Bridge di London. Sayang lagi-lagi, jembatan ini sekitarnya udah kumuh, walaupun masuknya gratis. Engsel untuk ngangkat jembatan sudah dinonfungsikan permanen. Apalagi kali dibawahnya pun bau sampah. Selesai kunjungan ke jembatan, sambil kehausan ec. kepanasan gw jalan ke alun-alun Batavia lama untuk ngadem sebentar di museum-museum di sekitaran Museum Sejarah Jakarta. Gw memilih untuk masuk ke museum wayang yang gw kunjungi untuk kedua kalinya. Gw bingung sama pengelola museum, gimana bisa nyari untung dari kunjungan museum, sementara untuk masuk cuma ditarik Rp 2 ribu dan dikasih guidebook yang lumayan tebal.
Selesai ngadem, sambil berbekal sebotol minuman isotonik, gw jalan agak jauh dari alun-alun menuju ke arah pelabuhan Sunda Kelapa, melewati jembatan Kota Intan lagi. Tujuan kali ini adalah ke museum bahari yang ada di sekitaran pasar ikan Luar Batang. Jalan menuju ke daerah ini lumayan jauh dan panas menyengat, tapi melewati bangunan-bangunan yang dulunya galangan kapal VOC yang sekarang udah beralih fungsi menjadi restoran-restoran Cina. Sebelum ke museum, gw menyempatkan mampir ke menara syahbandar Sunda Kelapa yang bangunannya miring hampir menyerupai menara Pisa di Italia. Tempat ini adalah tempat patok 0 km Jakarta. Sesampainya di puncak menara gw memang bisa melihat pemandangan pelabuhan Sunda Kelapa dan sekitarnya, tapi berada di puncak menara ini cukup serem karena menara goyang kalo ada truk lewat di jalanan di bawahnya. Apalagi menaranya miring pula. Mudah-mudahan sih pengunjungnya tetap sedikit biar menaranya nggak cepet ambruk. Di bawah menara ada bekas tembok benteng lengkap dengan meriam-meriamnya yang diarahkan ke perkampungan kumuh warga. Sesampainya di museum bahari, gw kaget pengungjungnya cuma gw seorang. Berada di bekas gudang VOC dengan ruangan besar nan senyap sendirian memang agak creepy. Tapi secara keseluruhan museum ini agak jelek koleksinya, karena kebanyakan berupa miniatur dan maket. Nilai historisnya malah lebih bernilai di gedung tempat museum ini daripada koleksinya.
Gw pun balik ke kawasan alun-alun untuk menelusuri museum yang belum gw jamah. Pinginnya ke museum seni rupa & keramik tapi museum ini hari itu lagi tutup. Akhirnya gw masuk ke museum Bank Indonesia yang dulunya bekas kantor pusat bank sentral di Batavia. Overall, museum ini adalah yang paling tertata bagus dan modern di seluruh kawasan Kota Tua. Berbanding terbalik sama museum-museum lain yang dikelola sama pemerintah provinsi. Selesai dari museum ini, sekitar jam 3 sore gw bertolak ke ITC Mangga Dua. Tujuan gw ke ITC ini bukan untuk borong sepatu atau baju, melainkan cuma untuk makan siang telat di kios restoran Mama Kitchen yang cuma jual 1 menu: tomyam. Kiosnya cuma ada sekitar 15-20 kursi tapi untungnya gw datang di saat bukan jam makan siang. Selesai nyantap nasi goreng tomyam seafood dan bawa oleh-oleh buat orang rumah, gw pun balik ke Stasiun Jakartakota sebelum jam pulang kantor dimulai.
Perjalanan dimulai di stasiun Tebet, gw akan menggunakan kereta commuter line menuju ke stasiun Jakartakota. Hari itu, Kamis, 9 Februari 2012, memang cocok untuk jalan-jalan ke Kota. Matahari cukup cerah (baca: panas) untuk jalan-jalan. Wisatawan masih sepi, justru yang banyak adalah pedagang-pedagang yang mau ke daerah Mangga Dua. Commuter line cukup sepi karena gw emang sengaja nunggu untuk berangkat agak siangan biar nggak ikut-ikutan urbanisasi orang Bogor ke Jakarta. Begitu masuk kereta gw udah disajikan pemandangan yang super aneh, ada pedagang rambutan dengan 3 bakul gedenya di dalem kereta ber-AC ini. Gw jepret-jepret dulu deh dia sambil cuek, lumayan untuk koleksi foto. Kira-kira 20 menit perjalanan Tebet-Kota, hal yang mungkin dicapai kalo pake mobil.
| Cuma di Indonesia |
Begitu sampai Kota, tujuan pertama adalah makan pagi yang telat. Searching wisata kuliner di Kota gampang-gampang susah terutama untuk muslim seperti gw. Sebenernya banyak banget review tapi kebanyakan mengandung babi, dari mie ayam sampai ke bubur hampir semuanya berbabi. Dan pilihan kuliner enak dan halal juga terbatas. Dari hasil searching wisata kuliner Kota yang agak susah, gw berencana untuk brunch di daerah pasar Asemka, tepatnya di warung soto tangkar di dalam pasar. Entah kenapa, soto tangkar (iga sapi) di sini terkenal banget. Nyarinya pun setengah mati, hampir 30 menit gw jalan-jalan kepanasan sebelum menemukan Soto Tangkar H. Diding di dalem pasar Asemka. Warungnya kecil banget, cuma ada 6 kursi. Menu yang gw coba ada 2: soto tangkar dan sate sapi. Kuah soto tangkar ini seperti kuah soto betawi. Enak? Jelas karena gw juga sedang lapar-laparnya.
Selesai ngadem, sambil berbekal sebotol minuman isotonik, gw jalan agak jauh dari alun-alun menuju ke arah pelabuhan Sunda Kelapa, melewati jembatan Kota Intan lagi. Tujuan kali ini adalah ke museum bahari yang ada di sekitaran pasar ikan Luar Batang. Jalan menuju ke daerah ini lumayan jauh dan panas menyengat, tapi melewati bangunan-bangunan yang dulunya galangan kapal VOC yang sekarang udah beralih fungsi menjadi restoran-restoran Cina. Sebelum ke museum, gw menyempatkan mampir ke menara syahbandar Sunda Kelapa yang bangunannya miring hampir menyerupai menara Pisa di Italia. Tempat ini adalah tempat patok 0 km Jakarta. Sesampainya di puncak menara gw memang bisa melihat pemandangan pelabuhan Sunda Kelapa dan sekitarnya, tapi berada di puncak menara ini cukup serem karena menara goyang kalo ada truk lewat di jalanan di bawahnya. Apalagi menaranya miring pula. Mudah-mudahan sih pengunjungnya tetap sedikit biar menaranya nggak cepet ambruk. Di bawah menara ada bekas tembok benteng lengkap dengan meriam-meriamnya yang diarahkan ke perkampungan kumuh warga. Sesampainya di museum bahari, gw kaget pengungjungnya cuma gw seorang. Berada di bekas gudang VOC dengan ruangan besar nan senyap sendirian memang agak creepy. Tapi secara keseluruhan museum ini agak jelek koleksinya, karena kebanyakan berupa miniatur dan maket. Nilai historisnya malah lebih bernilai di gedung tempat museum ini daripada koleksinya.
Gw pun balik ke kawasan alun-alun untuk menelusuri museum yang belum gw jamah. Pinginnya ke museum seni rupa & keramik tapi museum ini hari itu lagi tutup. Akhirnya gw masuk ke museum Bank Indonesia yang dulunya bekas kantor pusat bank sentral di Batavia. Overall, museum ini adalah yang paling tertata bagus dan modern di seluruh kawasan Kota Tua. Berbanding terbalik sama museum-museum lain yang dikelola sama pemerintah provinsi. Selesai dari museum ini, sekitar jam 3 sore gw bertolak ke ITC Mangga Dua. Tujuan gw ke ITC ini bukan untuk borong sepatu atau baju, melainkan cuma untuk makan siang telat di kios restoran Mama Kitchen yang cuma jual 1 menu: tomyam. Kiosnya cuma ada sekitar 15-20 kursi tapi untungnya gw datang di saat bukan jam makan siang. Selesai nyantap nasi goreng tomyam seafood dan bawa oleh-oleh buat orang rumah, gw pun balik ke Stasiun Jakartakota sebelum jam pulang kantor dimulai.
Saturday, January 28, 2012
Perjalanan Singkat ke Sawarna
Pekerjaan sebagai dokter itu kadang penuh tantangan, kadang juga membosankan. Penuh tantangan gw rasa semua dokter juga merasakan kalo pekerjaannya itu menyerempet maut orang lain dan rawan dituntut. Sementara membosankan itu sebaliknya, mungkin cuma sedikit dokter termasuk gw yang udah merasa bosan sama rutinitas di rumah sakit, macet di jalan, padahal baru 2 bulan gw menjalani pekerjaan baru gw di RSUD Kabupaten Bekasi. Dokter juga manusia, butuh libur, cuti, dan refreshing untuk sekedar nge-charge mental.
Maka oleh karena daripada itu, di pertengahan Januari ini gw sangat beruntung dapat jadwal kosong yang lumayan banyak hasil transaksi tuker jadwal jaga sama teman. Dan gw nggak akan menyia-nyiakannya untuk liburan yang pendek tapi padat. Pilihan jatuh ke Jawa Barat bagian selatan, gw belum pernah ke sana kecuali ke Pangandaran yang ceritanya udah pernah gw tulis di blog ini. Basecamp untuk perjalanan kali ini gw tetapkan di kota kecil Palabuhanratu, karena ada teman-teman gw yang internship juga di sana. Pilihan destinasi ada 2: Ujung Genteng dan Sawarna. Keduanya nggak mungkin dijalani bareng kecuali perjalanan mau dilakukan seminggu lebih. Setelah searching, akhirnya pilihan jatuh ke Sawarna. Semula gw mau jalan sendiri, ngerasain backpacking sendiri, nggak disangka teman gw Fatia ikut juga gara-gara diajak sama cowoknya Fadhil yang emang kebetulan di Palabuhanratu. Jadilah Fatia gw paksa ikut naik kendaraan umum dari Jakarta ke Palabuhanratu.
Perjalanan dimulai di stasiun Cawang. Berbekal tiket commuter line seharga Rp 7 ribu, perjalanan Jakarta-Bogor cuma ditempuh 40 menit. Dari stasiun Bogor naik angkot 03 jurusan Bubulak-Baranangsiang untuk selanjutnya naik bus MGI jurusan Bogor-Palabuhanratu di terminal Baranangsiang seharga Rp 25 ribu. Berhubung waktu udah makin sore, jadilah kami berdua nggak sempet makan siang di Bogor. Bus MGI ini full AC dan full music, tapi tarikannya lambat banget dan nggak bisa ngebut. Alhasil perjalanan Bogor-Palabuhanratu ditempuh dalam waktu 4 jam. Untung gw sempet tidur gara-gara efek jaga malam sebelum berangkat. Sampai di Palabuhanratu, ngasih surprise buat teman gw Diko yang lagi ultah, kami semua makan dan langsung tidur.
Keesokan harinya gw diajak trip di RSUD Palabuhanratu sama Fadhil. RS-nya lebih luas daripada RS gw, jumlah spesialis lebih sedikit, suasananya lebih tenang, dan udaranya masih seger. Setelah makan pagi di RS, kami bertiga berangkat naik sedannya Fadhil. Gw menyetir. Di tengah jalan menjelang Bayah, gw melintasi rombongan anak SD di kiri gw yang lagi pulang sekolah, tiba-tiba ada 1 anak yang nyebrang sambil lari tiba-tiba di depan mobil. Sempat ngerem, gw pun menabrak anak ini dan dia kelempar sekitar 5 meter. Habis jatuh, si Asep ini langsung lari ke rumahnya, gw teriak manggil dia dan nyamperin tapi dia tetep kabur sambil nangis. Dibantu warga gw berhasil ke rumahnya anak itu. Setelah ngenalin kalo gw dokter (inilah salah satu enaknya dokter) dan periksa-periksa dikit untuk menyingkirkan fraktur, gw menyarankan kalo Asep dibawa ke puskesmas untuk dibersihin lukanya. Gw cuma bawa obat asam mefenamat dan loratadine, Fatia bawa stetoskop, nggak ada yang bawa amoxicillin atau bahkan kasa dan betadine. Gw bawalah anak itu ke Puskesmas Bayah untuk diobatin dengan gratis (mungkin karena gw ngenalin ke sana sebagai dokter), dan dengan delay 1 jam, kami langsung cabut ke Sawarna.
Perjalanan ke Sawarna diawali naik bukit dulu dengan jalanan yang rusak terus langsung turun ke Sawarna. Jarak dari jalan raya mungkin sekitar 10 km. Pintu gerbang Sawarna langsung dapat dikenali dari adanya jembatan gantung di atas sungai. Setelah parkir, gw langsung masuk untuk survey sekaligus cari penginapan. Hari itu bukan hari libur jadi desa Sawarna sepi banget, yang ada cuma penduduk asli. Gw sendiri begitu masuk sempat kecewa ternyata desa Sawarna sekilas seperti desa-desa lainnya di Jawa. Lebih dekat ke pantai, baru mulai banyak homestay yang masih kosong karena bukan hari libur. Setelah pilih-pilih akhirnya gw memilih homestay Javabeach yang satu-satunya punya lantai 2 dan ada beranda yang langsung hadap ke sawah. Penginapan di Sawarna sistemnya bukan bayar per kamar, tapi bayar per orang dengan layanan makan 3 kali sehari.
Kekecewaan itu terobati keesokan harinya. Berbekal browsing di internet saat di Jakarta, gw memutuskan untuk berkeliling sambil nyewa guide bernama Bimbim dengan biaya Rp 100 ribu, lebih baik bayar agak mahal daripada tersesat di Sawarna. Perjalanan pertama ke gua Lalay, sebutan kelelawar dalam bahasa Sunda, ditempuh dengan menyusuri jalan utama di depan jembatan Sawarna ke arah timur. Setelah melewati tiang telekomunikasi, belok ke jalan kecil di kanan jalan dan menyusuri pematang sawah, jalan di pinggir kali, menyeberang jembatan gantung, menyusuri pematang sawah lagi, baru sampai di pintu masuk gua yang ada di sungai kecil. Peralatan wajib yang kudu dibawa: senter, karena masuk ke dalam gua bisa dalam banget sampai 200 meter secara horizontal melewati sungai kecil dan lumpur. Makin ke dalam, bau kotoran kelelawar makin menyengat. Sebenarnya bisa juga masuk ke lebih dalam lagi asal perlengkapan caving yang dibawa lengkap. Setelah 30 menit menyusuri gua baru kami keluar dan menuju tujuan selanjutnya yaitu pantai Lagoan Pari.
Jalan dari gua Lalay ke pantai Lagoan Pari cukup jauh, mungkin sekitar 4-5 km. Dari gua Lalay harus jalan lewat pematang sawah lagi, menyeberangi sungai yang dangkal, kemudian naik bukit mengikuti aliran air, menyusuri pematang sawah lagi, terus turun bukit dan melewati kebun kelapa. Kecapekan, kepanasan, dan sakit di kaki, bukan karena betis yang sakit tapi karena sandal berlumpur terobati begitu sampai di pantai Lagoan Pari. Saat kami datang, hanya kami bertiga pengunjung pantai tersebut, sehingga seperti pantai pribadi. Pasirnya landai dan ombaknya relatif lebih tenang nggak seperti pantai selatan lainnya membuat gw ikut nyemplung di pantai. Apalagi ditambah kelapa muda yang baru dipetik. Di sisi timur Lagoan Pari ada deretan karang yang membatasi Lagoan Pari dengan samudera yang disebut Karang Taraje, salah satu titik sunrise. Setelah puas bermain pantai, akhirnya gw harus jalan ke pantai Tanjung Layar yang harus ditempuh melalui pinggir pantai dan kebun kelapa sejauh 2 km. Perjalanan ini juga menantang karena kadang harus melewati karang di pantai, dan lebih susah kalo laut sedang pasang. Sesampainya di pantai Tanjung Layar, yang ditandai sama 2 batu besar di tengah laut dan dibatasi sama jejeran karang di belakangnya, gw istirahat lagi untuk menikmati pantai Sawarna. Lagi-lagi kami satu-satunya pengunjung di sana. Setalah makan siang sebentar, kami pun balik ke pantai Ciantir sejauh 2 km menyusuri pantai melewati surfing spot yang disebut Sawarna Point. Pantai Ciantir merupakan pantai terdekat ke desa Sawarna, jaraknya kira-kira 500 meter dari penginapan kami. Sunset dapat dinikmati di pantai Ciantir ini. Malam hari karena nggak ada TV sama sekali kami habiskan dengan bermain badminton dan menikmati angin malam di penginapan.
Keesokan paginya kami jalan ke muara sungai Sawarna yang bentuknya berkelok. Pemandangannya cukup bagus walaupun saat itu cuaca mendung. Kami pun pulang cepat dari Sawarna agar bisa makan siang di Palabuhanratu. 1,5 jam lamanya perjalanan Sawarna-Palabuhanratu, tentu tanpa insiden menabrak anak kecil lagi. Di Palabuhanratu ada warung makan enak yang menghidangkan ikan jangilus (marlin) bakar seukuran steak, warung Geksor, terletak di dalam terminal Palabuhanratu. Dengan harga yang relatif murah, gw dapat makan dengan kenyang dan enak. Fadhil dan Fatia pulang duluan ke Jakarta karena harus mengejar jadwal jaganya Fatia di malamnya, sementara gw karena masih capek dan males pulang menunggu keesokan harinya. Esoknya gw pulang bareng teman gw Darrell yang dengan baik hati mengantar gw ke Ciawi. Dari situ gw jalan sendiri ke Bogor untuk keliling sekaligus wisata kuliner sendiri, dan pulang sendiri dengan commuter line.
Perjalanan ini berhasil menghitamkan seluruh kulit gw, kecuali di bagian baju, celana, jam tangan, sama tali sandal, mencoba destinasi baru, dan menghilangkan kebosanan gw untuk sementara.
Maka oleh karena daripada itu, di pertengahan Januari ini gw sangat beruntung dapat jadwal kosong yang lumayan banyak hasil transaksi tuker jadwal jaga sama teman. Dan gw nggak akan menyia-nyiakannya untuk liburan yang pendek tapi padat. Pilihan jatuh ke Jawa Barat bagian selatan, gw belum pernah ke sana kecuali ke Pangandaran yang ceritanya udah pernah gw tulis di blog ini. Basecamp untuk perjalanan kali ini gw tetapkan di kota kecil Palabuhanratu, karena ada teman-teman gw yang internship juga di sana. Pilihan destinasi ada 2: Ujung Genteng dan Sawarna. Keduanya nggak mungkin dijalani bareng kecuali perjalanan mau dilakukan seminggu lebih. Setelah searching, akhirnya pilihan jatuh ke Sawarna. Semula gw mau jalan sendiri, ngerasain backpacking sendiri, nggak disangka teman gw Fatia ikut juga gara-gara diajak sama cowoknya Fadhil yang emang kebetulan di Palabuhanratu. Jadilah Fatia gw paksa ikut naik kendaraan umum dari Jakarta ke Palabuhanratu.
Perjalanan dimulai di stasiun Cawang. Berbekal tiket commuter line seharga Rp 7 ribu, perjalanan Jakarta-Bogor cuma ditempuh 40 menit. Dari stasiun Bogor naik angkot 03 jurusan Bubulak-Baranangsiang untuk selanjutnya naik bus MGI jurusan Bogor-Palabuhanratu di terminal Baranangsiang seharga Rp 25 ribu. Berhubung waktu udah makin sore, jadilah kami berdua nggak sempet makan siang di Bogor. Bus MGI ini full AC dan full music, tapi tarikannya lambat banget dan nggak bisa ngebut. Alhasil perjalanan Bogor-Palabuhanratu ditempuh dalam waktu 4 jam. Untung gw sempet tidur gara-gara efek jaga malam sebelum berangkat. Sampai di Palabuhanratu, ngasih surprise buat teman gw Diko yang lagi ultah, kami semua makan dan langsung tidur.
Keesokan harinya gw diajak trip di RSUD Palabuhanratu sama Fadhil. RS-nya lebih luas daripada RS gw, jumlah spesialis lebih sedikit, suasananya lebih tenang, dan udaranya masih seger. Setelah makan pagi di RS, kami bertiga berangkat naik sedannya Fadhil. Gw menyetir. Di tengah jalan menjelang Bayah, gw melintasi rombongan anak SD di kiri gw yang lagi pulang sekolah, tiba-tiba ada 1 anak yang nyebrang sambil lari tiba-tiba di depan mobil. Sempat ngerem, gw pun menabrak anak ini dan dia kelempar sekitar 5 meter. Habis jatuh, si Asep ini langsung lari ke rumahnya, gw teriak manggil dia dan nyamperin tapi dia tetep kabur sambil nangis. Dibantu warga gw berhasil ke rumahnya anak itu. Setelah ngenalin kalo gw dokter (inilah salah satu enaknya dokter) dan periksa-periksa dikit untuk menyingkirkan fraktur, gw menyarankan kalo Asep dibawa ke puskesmas untuk dibersihin lukanya. Gw cuma bawa obat asam mefenamat dan loratadine, Fatia bawa stetoskop, nggak ada yang bawa amoxicillin atau bahkan kasa dan betadine. Gw bawalah anak itu ke Puskesmas Bayah untuk diobatin dengan gratis (mungkin karena gw ngenalin ke sana sebagai dokter), dan dengan delay 1 jam, kami langsung cabut ke Sawarna.
Perjalanan ke Sawarna diawali naik bukit dulu dengan jalanan yang rusak terus langsung turun ke Sawarna. Jarak dari jalan raya mungkin sekitar 10 km. Pintu gerbang Sawarna langsung dapat dikenali dari adanya jembatan gantung di atas sungai. Setelah parkir, gw langsung masuk untuk survey sekaligus cari penginapan. Hari itu bukan hari libur jadi desa Sawarna sepi banget, yang ada cuma penduduk asli. Gw sendiri begitu masuk sempat kecewa ternyata desa Sawarna sekilas seperti desa-desa lainnya di Jawa. Lebih dekat ke pantai, baru mulai banyak homestay yang masih kosong karena bukan hari libur. Setelah pilih-pilih akhirnya gw memilih homestay Javabeach yang satu-satunya punya lantai 2 dan ada beranda yang langsung hadap ke sawah. Penginapan di Sawarna sistemnya bukan bayar per kamar, tapi bayar per orang dengan layanan makan 3 kali sehari.
Kekecewaan itu terobati keesokan harinya. Berbekal browsing di internet saat di Jakarta, gw memutuskan untuk berkeliling sambil nyewa guide bernama Bimbim dengan biaya Rp 100 ribu, lebih baik bayar agak mahal daripada tersesat di Sawarna. Perjalanan pertama ke gua Lalay, sebutan kelelawar dalam bahasa Sunda, ditempuh dengan menyusuri jalan utama di depan jembatan Sawarna ke arah timur. Setelah melewati tiang telekomunikasi, belok ke jalan kecil di kanan jalan dan menyusuri pematang sawah, jalan di pinggir kali, menyeberang jembatan gantung, menyusuri pematang sawah lagi, baru sampai di pintu masuk gua yang ada di sungai kecil. Peralatan wajib yang kudu dibawa: senter, karena masuk ke dalam gua bisa dalam banget sampai 200 meter secara horizontal melewati sungai kecil dan lumpur. Makin ke dalam, bau kotoran kelelawar makin menyengat. Sebenarnya bisa juga masuk ke lebih dalam lagi asal perlengkapan caving yang dibawa lengkap. Setelah 30 menit menyusuri gua baru kami keluar dan menuju tujuan selanjutnya yaitu pantai Lagoan Pari.
Jalan dari gua Lalay ke pantai Lagoan Pari cukup jauh, mungkin sekitar 4-5 km. Dari gua Lalay harus jalan lewat pematang sawah lagi, menyeberangi sungai yang dangkal, kemudian naik bukit mengikuti aliran air, menyusuri pematang sawah lagi, terus turun bukit dan melewati kebun kelapa. Kecapekan, kepanasan, dan sakit di kaki, bukan karena betis yang sakit tapi karena sandal berlumpur terobati begitu sampai di pantai Lagoan Pari. Saat kami datang, hanya kami bertiga pengunjung pantai tersebut, sehingga seperti pantai pribadi. Pasirnya landai dan ombaknya relatif lebih tenang nggak seperti pantai selatan lainnya membuat gw ikut nyemplung di pantai. Apalagi ditambah kelapa muda yang baru dipetik. Di sisi timur Lagoan Pari ada deretan karang yang membatasi Lagoan Pari dengan samudera yang disebut Karang Taraje, salah satu titik sunrise. Setelah puas bermain pantai, akhirnya gw harus jalan ke pantai Tanjung Layar yang harus ditempuh melalui pinggir pantai dan kebun kelapa sejauh 2 km. Perjalanan ini juga menantang karena kadang harus melewati karang di pantai, dan lebih susah kalo laut sedang pasang. Sesampainya di pantai Tanjung Layar, yang ditandai sama 2 batu besar di tengah laut dan dibatasi sama jejeran karang di belakangnya, gw istirahat lagi untuk menikmati pantai Sawarna. Lagi-lagi kami satu-satunya pengunjung di sana. Setalah makan siang sebentar, kami pun balik ke pantai Ciantir sejauh 2 km menyusuri pantai melewati surfing spot yang disebut Sawarna Point. Pantai Ciantir merupakan pantai terdekat ke desa Sawarna, jaraknya kira-kira 500 meter dari penginapan kami. Sunset dapat dinikmati di pantai Ciantir ini. Malam hari karena nggak ada TV sama sekali kami habiskan dengan bermain badminton dan menikmati angin malam di penginapan.
Keesokan paginya kami jalan ke muara sungai Sawarna yang bentuknya berkelok. Pemandangannya cukup bagus walaupun saat itu cuaca mendung. Kami pun pulang cepat dari Sawarna agar bisa makan siang di Palabuhanratu. 1,5 jam lamanya perjalanan Sawarna-Palabuhanratu, tentu tanpa insiden menabrak anak kecil lagi. Di Palabuhanratu ada warung makan enak yang menghidangkan ikan jangilus (marlin) bakar seukuran steak, warung Geksor, terletak di dalam terminal Palabuhanratu. Dengan harga yang relatif murah, gw dapat makan dengan kenyang dan enak. Fadhil dan Fatia pulang duluan ke Jakarta karena harus mengejar jadwal jaganya Fatia di malamnya, sementara gw karena masih capek dan males pulang menunggu keesokan harinya. Esoknya gw pulang bareng teman gw Darrell yang dengan baik hati mengantar gw ke Ciawi. Dari situ gw jalan sendiri ke Bogor untuk keliling sekaligus wisata kuliner sendiri, dan pulang sendiri dengan commuter line.
Perjalanan ini berhasil menghitamkan seluruh kulit gw, kecuali di bagian baju, celana, jam tangan, sama tali sandal, mencoba destinasi baru, dan menghilangkan kebosanan gw untuk sementara.
| Si Asep |
| Lagoan Pari |
| Tanjung Layar |
| Sunset di Ciantir |
| Penginapan Javabeach |
| Jembatan gantung Sawarna |
Monday, January 23, 2012
It's Been A Long Time Since...
Pertama, maafkan gw sudah nggak nulis di blog ini selama hampir 7
bulan. Padahal sebelumnya gw selalu nyempetin waktu minimal sekali
sebulan untuk menulis blog.
Oke... Kali ini gw menuliskan ke mana gw menghilang selama habis kuliah selesai sampai sekarang. Bagi yang nggak berminat baca, silakan tinggalkan halaman ini.
Hal yang pertama gw lakukan setelah bebas dari perkuliahan kedokteran yang lama dan mumet itu adalah liburan ke luar Jakarta! Mungkin berbeda sama FK-FK lain yang banyak stase di luar Jakarta sehingga bisa mendinginkan hati di luar sana, tapi sekolah terus di Jakarta seperti di FKUI bisa bikin panas hati. Karena itu langkah pertama setelah bebas kuliah adalah segera menjalankan rencana liburan yang telah direncanakan sejak hampir setahun sebelumnya. Pilihan ini jatuh ke ke destinasi paling oke di Indonesia: Bali & Lombok. Berbekal tiket AirAsia yang dibeli supermurah dan dengan tanggal berangkat yang beda-beda karena beli online cepet-cepetan, gw berangkat ke Bali sebagai orang terakhir setelah sehari sebelumnya landing bersama keluarga dari Singapura. Rata-rata objek wisata yang gw kunjungi saat itu udah pernah gw kunjungi sebelumnya, seperti sunset di pantai Suluban, pantai Kuta, Ubud, Bedugul, dan Jimbaran, tapi hal itu nggak mengurangi keelokan Bali. Hal yang baru gw kunjungi untuk pertama kali hanyalah monkey forest Ubud dan sawah bertingkat di Tegalalang. Dan juga ada pengalaman menarik pas debat sama bule gara-gara tabrakan saat surfing di Kuta. Tapi tentu liburan ke Bali bersama teman-teman beda sama liburan sama keluarga, tentu bujet terbatas tapi lebih bebas.
Di tengah liburan ini rombongan nyebrang ke pulau Lombok. Terakhir kali gw mengunjungi Lombok adalah tahun sekitar tahun 2001, jadi pasti ada sesuatu yang beda di liburan ini. Tujuan pertama kami adalah sebuah pulau di selatan Lombok bernama Gili Nanggu. Pulau ini berukuran kecil, cuma ada 1 hotel di sana tapi hal ini yang menjadikan Gili Nanggu nggak seperti wisata pantai kebanyakan: nggak terorganisasi dengan baik dan kumuh. Pantai di Gili Nanggu udah seperti private beach, begitu bangun pagi, villa yang langsung menghadap ke laut diterpa angin pantai. Bujet memang terkuras di sini karena monopoli hotel, tapi nggak rugi karena snorkeling di pantai sini memang menakjubkan, terutama ikan-ikannya. Setelah 1 malam di Gili Nanggu kami pindah ke Gili Trawangan di barat laut Lombok, sambil mampir ke daerah Taliwang untuk menyicipi ayam taliwang yang terkenal enak dan pedas. Wow! Gili Trawangan udah berbeda 180 derajat sejak gw mengunjungi pulau ini dulu. Pinggiran pantai udah dipenuhi kafe-kafe internasional, bule-bule udah membludak, dan di pulau ini udah ada ATM! Tujuan utama ke Gili Trawangan adalah untuk scuba diving, jadi gw pertama kali ber-diving ria di pulau yang terkenal akan penyunya ini. Ternyata akibat kurang fit saat diving dan makan siang tepat sebelumnya, gw muntah saat diving, total 5 kali gw muntah di dalam laut.
Seminggu setelah liburan ini, gw ikutan Liga Medika 2011 sebagai kontingen basket yang berakhir jadi runner-up lagi-lagi setelah takluk sama FK Udayana. Ada jeda liburan sebulan, tepat saat bulan puasa, sebelum pergi lagi untuk mudik ke kampung halaman. Jeda liburan sebulan inilah yang sangat membosankan sekali, kadang ada keinginan untuk pingin kuliah lagi, padahal baru bebas dari perkuliahan. Untung ada mudik ke Malang & Tuban yang mengakhiri fase membosankan itu.
Selesai mudik, waktu gw terkuras untuk persiapan sumpah dokter PLD FKUI 2011. Gw kebetulan bertugas sebagai ketua seksi publikasi dan perizinan, sehingga rata-rata tugas gw udah selesai sebelumnya. Tapi persiapan PLD yang super banyak dan SDM efektif yang sedikit membuat persiapannya juga makan waktu. Beberapa kali gw terpaksa nginep kampus saat seminggu sebelum PLD. Dan akhirnya 24 September 2011 gw disumpah jadi dokter. Gw berhak untuk mencantumkan titel dr. di depan nama gw.
Sebenarnya ada rencana liburan (lagi) yang direncanakan oleh gw dan teman-teman, yaitu kunjungan ke pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur. Tiket pun sudah dibeli Jakarta-Denpasar, dilanjutkan dengan rencana perjalanan darat Denpasar-Labuan Bajo. Namun sayang, karena sebelumnya gw udah menyanggupi sebagai pembantu penelitian residen IPD di KDK Kiara dan Puskesmas Pulogadung selama 2 bulan, gw terpaksa membatalkan liburan ini sementara teman-teman gw tetap melanjutkan liburannya. Tentu kesempatan liburan ke Komodo tidak datang setiap saat dan perlu niat yang besar, mungkin suatu saat gw bisa pergi ke pulau Komodo sekalian ke Ende.
Dan kemudian, tiba saatnya gw masuk ke program internship. Sebelumnya, isu yang beredar angkatan gw bakal ditempatin di Lampung, kemudian berkembang isu di Kalimantan Barat. Gw sendiri waktu itu udah nggak masalah bakal ditempatin di mana aja, bahkan udah siap-siap untuk pergi jauh dari Jakarta. Tapi ternyata, menjelang pengumuman ternyata tempat internship diumumkan di Jawa Barat, dan gw sendiri dapat di RSUD Kabupaten Bekasi, suatu tempat yang berjarak 30 km dari rumah gw, 30 menit berkendara mobil bila lancar. Dan rutinitas gw kembali seperti semula: jaga IGD.
Oke... Kali ini gw menuliskan ke mana gw menghilang selama habis kuliah selesai sampai sekarang. Bagi yang nggak berminat baca, silakan tinggalkan halaman ini.
Hal yang pertama gw lakukan setelah bebas dari perkuliahan kedokteran yang lama dan mumet itu adalah liburan ke luar Jakarta! Mungkin berbeda sama FK-FK lain yang banyak stase di luar Jakarta sehingga bisa mendinginkan hati di luar sana, tapi sekolah terus di Jakarta seperti di FKUI bisa bikin panas hati. Karena itu langkah pertama setelah bebas kuliah adalah segera menjalankan rencana liburan yang telah direncanakan sejak hampir setahun sebelumnya. Pilihan ini jatuh ke ke destinasi paling oke di Indonesia: Bali & Lombok. Berbekal tiket AirAsia yang dibeli supermurah dan dengan tanggal berangkat yang beda-beda karena beli online cepet-cepetan, gw berangkat ke Bali sebagai orang terakhir setelah sehari sebelumnya landing bersama keluarga dari Singapura. Rata-rata objek wisata yang gw kunjungi saat itu udah pernah gw kunjungi sebelumnya, seperti sunset di pantai Suluban, pantai Kuta, Ubud, Bedugul, dan Jimbaran, tapi hal itu nggak mengurangi keelokan Bali. Hal yang baru gw kunjungi untuk pertama kali hanyalah monkey forest Ubud dan sawah bertingkat di Tegalalang. Dan juga ada pengalaman menarik pas debat sama bule gara-gara tabrakan saat surfing di Kuta. Tapi tentu liburan ke Bali bersama teman-teman beda sama liburan sama keluarga, tentu bujet terbatas tapi lebih bebas.
Di tengah liburan ini rombongan nyebrang ke pulau Lombok. Terakhir kali gw mengunjungi Lombok adalah tahun sekitar tahun 2001, jadi pasti ada sesuatu yang beda di liburan ini. Tujuan pertama kami adalah sebuah pulau di selatan Lombok bernama Gili Nanggu. Pulau ini berukuran kecil, cuma ada 1 hotel di sana tapi hal ini yang menjadikan Gili Nanggu nggak seperti wisata pantai kebanyakan: nggak terorganisasi dengan baik dan kumuh. Pantai di Gili Nanggu udah seperti private beach, begitu bangun pagi, villa yang langsung menghadap ke laut diterpa angin pantai. Bujet memang terkuras di sini karena monopoli hotel, tapi nggak rugi karena snorkeling di pantai sini memang menakjubkan, terutama ikan-ikannya. Setelah 1 malam di Gili Nanggu kami pindah ke Gili Trawangan di barat laut Lombok, sambil mampir ke daerah Taliwang untuk menyicipi ayam taliwang yang terkenal enak dan pedas. Wow! Gili Trawangan udah berbeda 180 derajat sejak gw mengunjungi pulau ini dulu. Pinggiran pantai udah dipenuhi kafe-kafe internasional, bule-bule udah membludak, dan di pulau ini udah ada ATM! Tujuan utama ke Gili Trawangan adalah untuk scuba diving, jadi gw pertama kali ber-diving ria di pulau yang terkenal akan penyunya ini. Ternyata akibat kurang fit saat diving dan makan siang tepat sebelumnya, gw muntah saat diving, total 5 kali gw muntah di dalam laut.
Seminggu setelah liburan ini, gw ikutan Liga Medika 2011 sebagai kontingen basket yang berakhir jadi runner-up lagi-lagi setelah takluk sama FK Udayana. Ada jeda liburan sebulan, tepat saat bulan puasa, sebelum pergi lagi untuk mudik ke kampung halaman. Jeda liburan sebulan inilah yang sangat membosankan sekali, kadang ada keinginan untuk pingin kuliah lagi, padahal baru bebas dari perkuliahan. Untung ada mudik ke Malang & Tuban yang mengakhiri fase membosankan itu.
Selesai mudik, waktu gw terkuras untuk persiapan sumpah dokter PLD FKUI 2011. Gw kebetulan bertugas sebagai ketua seksi publikasi dan perizinan, sehingga rata-rata tugas gw udah selesai sebelumnya. Tapi persiapan PLD yang super banyak dan SDM efektif yang sedikit membuat persiapannya juga makan waktu. Beberapa kali gw terpaksa nginep kampus saat seminggu sebelum PLD. Dan akhirnya 24 September 2011 gw disumpah jadi dokter. Gw berhak untuk mencantumkan titel dr. di depan nama gw.
Sebenarnya ada rencana liburan (lagi) yang direncanakan oleh gw dan teman-teman, yaitu kunjungan ke pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur. Tiket pun sudah dibeli Jakarta-Denpasar, dilanjutkan dengan rencana perjalanan darat Denpasar-Labuan Bajo. Namun sayang, karena sebelumnya gw udah menyanggupi sebagai pembantu penelitian residen IPD di KDK Kiara dan Puskesmas Pulogadung selama 2 bulan, gw terpaksa membatalkan liburan ini sementara teman-teman gw tetap melanjutkan liburannya. Tentu kesempatan liburan ke Komodo tidak datang setiap saat dan perlu niat yang besar, mungkin suatu saat gw bisa pergi ke pulau Komodo sekalian ke Ende.
Dan kemudian, tiba saatnya gw masuk ke program internship. Sebelumnya, isu yang beredar angkatan gw bakal ditempatin di Lampung, kemudian berkembang isu di Kalimantan Barat. Gw sendiri waktu itu udah nggak masalah bakal ditempatin di mana aja, bahkan udah siap-siap untuk pergi jauh dari Jakarta. Tapi ternyata, menjelang pengumuman ternyata tempat internship diumumkan di Jawa Barat, dan gw sendiri dapat di RSUD Kabupaten Bekasi, suatu tempat yang berjarak 30 km dari rumah gw, 30 menit berkendara mobil bila lancar. Dan rutinitas gw kembali seperti semula: jaga IGD.
Monday, September 26, 2011
Goodbye, Young Doctor!
Sabtu, 24 September 2011 kemarin, menjadi hari yang paling menggembirakan sekaligus menyedihkan bagi FKUI angkatan 2006. Betapa tidak, di hari yang menjadi titik tumpu bagi kami semua untuk meneruskan masa depan, teman kami, dr. Steven Wijata, justru meninggalkan dunia yang fana ini.
Memang gw nggak sedekat seperti teman-teman lainnya ke W (begitu Steven biasa dipanggil). Tapi gw berkesan banget selama dia menjadi wakil ketua rombongan gw semasa stase klinik di bagian Ilmu Kesehatan Anak. Kepeduliannya, tanggung jawabnya, kepintarannya selalu menjadi panutan bagi teman-teman sekelas. Gw masih ingat bagaimana status pasien W menjadi status pasien paling holistik, komprehensif, dan panjang selama kepaniteraan di modul Ilmu Kedokteran Komunitas (IKK). Bagaimana dia selalu duduk paling depan, membaca bahan kuliah terlebih dahulu, menyiapkan laptop, mencatat materi kuliah dosen, serta siap dengan pertanyaan kritisnya. Bagaimana dia selalu konsisten dengan snelli lengan panjangnya bahkan ketika modul klinik sudah berakhir, tanda bahwa dia adalah murid yang menghormati gurunya. Bagaimana dia membuat dirinya menjadi drummer nomer 1 di kampus FKUI. Bagaimana dia secara konsisten mencoba meraih ilmu sebanyak-banyaknya hingga mengikuti konferensi kedokteran di luar negeri. Bagaimana dia selalu bersedia membantu teman-temannya
Hal-hal di atas menjadi bukti bahwa hampir sangat tidak mungkin W melakukan bunuh diri, sesuatu yang banyak diberitakan dan dibicarakan orang lain di luar sana yang hanya bisa gw panggil sebagai penggosip murahan.
Kepergiannya adalah kerugian besar bagi FKUI 2006, Indonesia, bahkan dunia kedokteran yang telah kehilangan calon dokter yang hebat.
Selamat jalan W... Kenangan itu tidak akan pernah terhapus dari kami.
Memang gw nggak sedekat seperti teman-teman lainnya ke W (begitu Steven biasa dipanggil). Tapi gw berkesan banget selama dia menjadi wakil ketua rombongan gw semasa stase klinik di bagian Ilmu Kesehatan Anak. Kepeduliannya, tanggung jawabnya, kepintarannya selalu menjadi panutan bagi teman-teman sekelas. Gw masih ingat bagaimana status pasien W menjadi status pasien paling holistik, komprehensif, dan panjang selama kepaniteraan di modul Ilmu Kedokteran Komunitas (IKK). Bagaimana dia selalu duduk paling depan, membaca bahan kuliah terlebih dahulu, menyiapkan laptop, mencatat materi kuliah dosen, serta siap dengan pertanyaan kritisnya. Bagaimana dia selalu konsisten dengan snelli lengan panjangnya bahkan ketika modul klinik sudah berakhir, tanda bahwa dia adalah murid yang menghormati gurunya. Bagaimana dia membuat dirinya menjadi drummer nomer 1 di kampus FKUI. Bagaimana dia secara konsisten mencoba meraih ilmu sebanyak-banyaknya hingga mengikuti konferensi kedokteran di luar negeri. Bagaimana dia selalu bersedia membantu teman-temannya
Hal-hal di atas menjadi bukti bahwa hampir sangat tidak mungkin W melakukan bunuh diri, sesuatu yang banyak diberitakan dan dibicarakan orang lain di luar sana yang hanya bisa gw panggil sebagai penggosip murahan.
Kepergiannya adalah kerugian besar bagi FKUI 2006, Indonesia, bahkan dunia kedokteran yang telah kehilangan calon dokter yang hebat.
Selamat jalan W... Kenangan itu tidak akan pernah terhapus dari kami.
Sunday, June 26, 2011
Pelajaran Terakhir
Hampir mengakhiri masa pendidikan kedokteran, gw kembali stase di Puskesmas. Kali ini di Puskesmas Pisangan Timur 2, suatu tempat yang belum pernah gw datangin sebelumnya. Datang ke sana, ternyata banyak orang jualan pisang, nggak heran kalo dinamain Pisangan. Masuk ke daerah sana harus lewat jalan-jalan tikus yang saingan sama angkot-angkot warna biru yang sering ngetem. Puskesmas gw terletak di pojokan jalan, deket sama kantor lurah dan, ini dia ciri khasnya puskesmas di Jakarta, deket sama SD. Alhasil, kalo menjelang jam pulang anak sekolah pedagang-pedagang jajanan SD ngumpul di depan puskesmas.
Akhir-akhir ini gw semakin jarang nulis blog di sini karena ke-nggak-sempet-an gw gara-gara kerjaan yang nggak kelar-kelar. Minggu kemarin gw baru bikin seminar kedokteran yang lumayan gede di hotel bintang lima, yang menguras waktu gw 3 minggu terakhir. Gw juga punya banyak tugas di modul yang sekarang, berkutat sama yang namanya deadline. Gw cuma bisa menunggu libur.
Salah satu program yang gw salut dari puskesmas adalah program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilakukan tiap hari Jumat. Dokter atau perawat puskesmas rutin mengunjungi RW-RW untuk mengawasi PSN ini, ditemenin sama kader-kader dari tiap RT, suatu hal yang nggak pernah gw rasakan di lingkungan gw. Sekalian berbarengan sama kegiatan ini, gw sama salah satu perawat kunjungan rumah ke pasien bayi gizi buruk yang kemarinnya datang ke puskesmas.
Sungguh memprihatinkan melihat keadaan keluarganya. Keluarganya menyewa 1 kamar kontrakan kecil di mana di 1 tempat tersebut terdapat 26 kamar. Ayahnya bekerja nggak tentu, ibunya sibuk mengurus 3 anak lainnya. Pasien tersebut menderita TB dengan gizi buruk. Umur 9 bulan, berat badan masih 6,7 kg. Dokter sebelumnya sudah membujuk ibu tersebut untuk dirujuk ke rumah sakit, gw pun juga, tapi ibu tersebut menolak. Yang bikin miris adalah alasannya, sang ibu nggak mau mengobati anaknya ke rumah sakit karena nggak ada ongkos untuk bolak-balik ke rumah sakit dan sibuk mengurusi anak-anak lainnya juga. Padahal kartu Gakin udah dipunyai. Ngobatin pasien seperti itu di RSCM aja udah susah, apalagi ngobatin sendiri di rumah. Gw nggak habis pikir masih ada keadaan yang seperti itu di Jakarta.
Banyak banget perbedaan antara pengobatan di perifer sama pengobatan di rumah sakit seperti RSCM. Kalo di rumah sakit gw nggak terlalu memperhatikan keadaan sosioekonomi pasien, di perifer kebalikannya. Bukan pengalaman medis yang dikejar di stase puskesmas ini, tapi pengalaman terjun langsung ke pasien lah yang paling penting.
Akhir-akhir ini gw semakin jarang nulis blog di sini karena ke-nggak-sempet-an gw gara-gara kerjaan yang nggak kelar-kelar. Minggu kemarin gw baru bikin seminar kedokteran yang lumayan gede di hotel bintang lima, yang menguras waktu gw 3 minggu terakhir. Gw juga punya banyak tugas di modul yang sekarang, berkutat sama yang namanya deadline. Gw cuma bisa menunggu libur.
Salah satu program yang gw salut dari puskesmas adalah program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilakukan tiap hari Jumat. Dokter atau perawat puskesmas rutin mengunjungi RW-RW untuk mengawasi PSN ini, ditemenin sama kader-kader dari tiap RT, suatu hal yang nggak pernah gw rasakan di lingkungan gw. Sekalian berbarengan sama kegiatan ini, gw sama salah satu perawat kunjungan rumah ke pasien bayi gizi buruk yang kemarinnya datang ke puskesmas.
Sungguh memprihatinkan melihat keadaan keluarganya. Keluarganya menyewa 1 kamar kontrakan kecil di mana di 1 tempat tersebut terdapat 26 kamar. Ayahnya bekerja nggak tentu, ibunya sibuk mengurus 3 anak lainnya. Pasien tersebut menderita TB dengan gizi buruk. Umur 9 bulan, berat badan masih 6,7 kg. Dokter sebelumnya sudah membujuk ibu tersebut untuk dirujuk ke rumah sakit, gw pun juga, tapi ibu tersebut menolak. Yang bikin miris adalah alasannya, sang ibu nggak mau mengobati anaknya ke rumah sakit karena nggak ada ongkos untuk bolak-balik ke rumah sakit dan sibuk mengurusi anak-anak lainnya juga. Padahal kartu Gakin udah dipunyai. Ngobatin pasien seperti itu di RSCM aja udah susah, apalagi ngobatin sendiri di rumah. Gw nggak habis pikir masih ada keadaan yang seperti itu di Jakarta.
Banyak banget perbedaan antara pengobatan di perifer sama pengobatan di rumah sakit seperti RSCM. Kalo di rumah sakit gw nggak terlalu memperhatikan keadaan sosioekonomi pasien, di perifer kebalikannya. Bukan pengalaman medis yang dikejar di stase puskesmas ini, tapi pengalaman terjun langsung ke pasien lah yang paling penting.
Friday, May 27, 2011
Sports Medicine
Akhir-akhir ini gw menjalani modul tambahan elektif setelah menyelesaikan seluruh kegiatan perkoassan di kampus gw. Bagaikan jatuh ke jurang, mungkin itu yang menggambarkan perubahan kesibukan gw selama masa transisi ini. Dari IPD yang pontang-panting sibuk, masuk ke dalam modul Sports and Exercise as an Active Lifestyle (SEAL) di departemen Ilmu Kedokteran Olahraga (IKO) yang luar biasa berbeda. Tapi yang namanya mahasiswa FKUI tentu nggak sesantai itu. Karena gw harus mengadakan 2 seminar kedokteran yang waktunya berdempetan dan mengambil waktu senggang gw.
Secara umum, gw masuk modul ini karena memang gw senang olahraga, semuanya selama masih bisa gw lakukan akan gw jabanin. Yang kedua, gw masuk ke modul ini karena gw ingin bisa edukasi orang tentang olahraga, nggak cuma kalo ngadepin pasien DM cuma bilang, "Pak, olahraga yang teratur ya!" Yang ketiga, tempatnya yang nyaman di dalam lingkungan Salemba 6 serta ada fasilitas Exercise Clinic yang OK. Yang keempat, jadwalnya yang fleksibel serta nggak berhubungan dengan yang namanya rumah sakit, karena gw udah bosen dengan stase perklinikan di rumah sakit.
Jadwal sehari-hari pun diisi sama yang namanya diskusi, diskusi, dan diskusi, ditambah dengan internet searching atau belajar mandiri. Bahkan kita bisa memanfaatkan fasilitas untuk melakukan exercise sekaligus membuat program sendiri ke diri sendiri. Maklum, badan udah semakin melar sejak pertama gw masuk ke kampus ini.
| Kegiatan exercise mandiri |
![]() |
| Observasi ke latihan SM di Britama Arena |
Subscribe to:
Posts (Atom)

