Perjalanan selanjutnya dimulai dengan perubahan pola transportasi geng Flores (kami berempat) dari yang sebelumnya pake transportasi umum ke perjalanan pake travel. Sebenernya bukan kami yang menginginkan perubahan itu, tapi gara-garanya ada travel dengan base di Labuanbajo yang lagi ada di Maumere dan butuh penumpang buat balik ke Labuanbajo biar nggak rugi. Dan hebatnya, si supir travel itu bisa tahu lokasi persis kami di Riung hanya dengan nanya-nanya orang di Moni. Singkat kata, jadilah kami nge-deal supir travel itu buat ke Labuanbajo dengan waktu selama 4 hari dengan harga 500 ribu rupiah perhari nett, udah nggak perlu mikirin bensin, makan supir, nginep supir, dsb. dan hanya tinggal nempelin badan di kursi. Tentu udah dengan perhitungan kalo kami berempat naik angkutan umum sampai ke Labuanbajo total cuma hemat 200 ribu dibandingin sama naik travel. Bingung? Nggak usah dipikirin.
Oke, perjalanan selanjutnya ke kota Bajawa disupiri Pak Lexi yang ternyata dari Riung lumayan jauh, melewati jalanan yang lagi-lagi berkelok-kelok dan jalanan yang aspalnya setengah jadi. Kira-kira butuh waktu 3 jam perjalanan Riung-Bajawa. Bajawa sendiri adalah kota yang letaknya di tengah Flores dan terkenal berhawa paling dingin. Sebenernya tempat wisata di Bajawa juga nggak terlalu banyak, cuma pemandian air panas yang kami skip karena keterbatasan waktu, dan juga yang paling terkenal adalah desa wisata Bena.
Desa Bena sendiri butuh waktu setengah jam perjalanan dari Bajawa. Untuk mencapai ke sana kalo nggak pake travel bisa menggunakan angkutan umum atau ojek. Sebelum masuk ke desa, wajib nulis buku tamu dulu sambil ngasih uang sukarela. Kemudian bisa keliling-keliling desa sepuasnya, motret-motret, atau berburu kain tenun khas Bena. Objeknya lumayan menarik, ada batu-batu menhir besar di tengah desa yang dipake untuk pemujaan, ada kuburan-kuburan batu, ada ibu-ibu yang lagi menenun, dan banyak lagi lainnya. Dari puncak tertinggi di Bena, kita bisa lihat pemandangan gunung-gunung di sekitar Bajawa hingga pantai selatan Flores. Cukup menyenangkan!
Selepas dari Bena, mampir sebentar di Bajawa untuk isi bensin dan makan. Lagi-lagi pilihan makanan di Flores itu kalo nggak seafood, makanan Padang, atau makanan Jawa. Abis makan, cabut lagi ke kota selanjutnya Ruteng dengan waktu perjalanan 4 jam, itu pun dengan ngebut banget ala Pak Lexi.
Ruteng adalah kota favorit gw di Flores. Gimana nggak? Kotanya relatif lebih lengkap daripada kota lainnya di Flores, udaranya adem sepanjang masa kadang-kadang berkabut, letaknya di kaki gunung, lalu lintasnya juga tenang-tenang aja, pokoknya tipe kota yang tenang buat ditinggali tanpa stress. Ruteng sendiri adalah ibukota Kab. Manggarai dan terkenal sebagai pintu gerbang ke tempat-tempat wisata di sekitarnya yang lumayan banyak. Sayangnya, selepas jam 7 malam, kota ini seperti kota mati. Kami baru berkesempatan keliling wisata di sekitar Ruteng hanya ke 2 tempat wisata: sawah spider-web dan gua Liang Bua.
Sawah spider-web letaknya sekitar seperempat jam dari kota Ruteng. Letaknya gw sendiri nggak tau ada di mananya karena pake supir travel ke sana. Untuk mencapai pemandangan sawah, dibutuhkan naik bukit yang nggak terlalu tinggi dan kemudian hamparan sawah dengan pola sirkular terbentang di depan. Di belakang, panorama Ruteng dengan gunung di belakangnya. Berhubung tempatnya cukup terjangkau, direkomendasikan ke daerah ini.
Sementara Liang Bua terletak sekitar setengah jam dari Ruteng. Setelah jalan yang lagi-lagi berkelok-kelok Liang Bua ditandai dengan adanya gerbang selamat datang. Dari situ di sebelah kanan terdapat musium untuk edukasi tentang gua ini, berhubung tempat ini adalah tempat ditemukannya manusia hobbit dari Flores Homo floresiensis, yang katanya sempat mengguncang dunia perarkeologian. Nggak jauh dari musium terdapat pintu masuk gua yang lebar. Di dalem gua sih sebenernya nggak ada apa-apa, cuma bisa lihat tempat tinggalnya manusia primitif jaman dulu. Kalo ke Flores dalam jangka waktu terbatas, sebaiknya nggak usah ke tempat ini. Tapi kalo waktunya lama seperti kami-kami ini, boleh juga ke sana soalnya tanggung udah jauh-jauh pergi.
Pilihan penginapan dan restoran di Ruteng juga terbatas, nggak seperti di Labuanbajo.Untuk penginapan kami menginap di Susteran Maria Berduka Cita (MBC) yang tempatnya nyaman abis dan yang penting ada air panasnya. Jangan harap bisa nginep dengan enak di Ruteng tanpa air panas. Bahkan katanya kalo ada menteri yang nginep di Ruteng, dia akan nginep di susteran ini. Untuk makanan, selain restoran Padang tentunya, bisa dicoba restoran Pade Doang atau restoran Agape yang jual variasi makanan yang lumayan banyak. Bahkan di Ruteng, kami sempet coba kedai pizza yang tentunya nggak bisa ditemukan dari perjalanan Maumere ke Ruteng sebelumnya.
Sunday, December 23, 2012
Sunday, December 16, 2012
Flores: Riung
Jadi pilihan ke Riung itu sebenernya nggak diduga-duga sebelumnya. Dari hasil riset itinerary sebelumnya untuk mencapai Riung itu harus lewat kota Bajawa. Ternyata baru di Moni kami tahu kalo bisa langsung jalan dari Ende ke Riung tanpa harus lewat Bajawa, dan tentu jarak tempuhnya lebih pendek. Nah masalahnya angkutan dari Moni ke Riung itu katanya harus pake angkutan Moni-Ende dulu, trus pindah terminal di Ende, baru naik angkutan ke Riung yang katanya terakhir jam 10 pagi dari Ende. Sementara itu, jam 9 pagi kami masih santai-santai di teras Pak John. Alternatif kalo nggak mau pilihan itu adalah langsung ke Bajawa naik angkutan dari Moni yang katanya datang siang hari, dari situ baru naik angkutan ke utara ke arah Riung. Bingung nggak? Sama.
Buat yang belum tahu, Riung itu adalah kawasan wisata pantai yang ada di Kab. Nagakeo di sisi pantai utara Flores. Memang kawasannya sendiri masih dalam pengembangan dan jauh dari jalan utama lintas Flores sehingga turis yang ke sana juga baru dikit. Denger-denger sih pantainya masih bagus, obyek wisata yang dijual adalah taman laut yang terdiri atas 17 pulau. Hmm menarik.
Si tengah penimbangan mau naik yang mana di terasnya Pak John, tiba-tiba ada tukang ojek yang ngasih tau kalo ada angkutan yang langsung ke Mbay, ibukota Kab. Nagakeo. Dari situ bisa naik angkutan ke Riung yang katanya cuma 15-20 menit dari Mbay. Begitu gw tanya angkutannya seperti apa, eh dia udah nunjuk di depan rumah. Waduh! Dengan keadaan belum packing, belum mandi, angkutannya udah nongol depan hidung aja. Tenang aja katanya, bisa disuruh nunggu, apalagi buat turis lokal seperti kita ini yang jumlahnya 4 orang. Si supir awalnya minta 120 ribu per orang, setelah ditawar jadi 90 ribu per orang. Setelah panik-panik packing dan gw nggak sempet mandi sejak dari Jakarta akhirnya naiklah kita ke bis antar kota tersebut.
Bentukan bis itu mirip elf, cuma isinya bisa macem-macem. Yang turis cuma kami berempat dan dapet kursi nyaman di bangku belakang. Penumpang lain harus rela berdesak-desakan duduk di tengah. Supirnya beda 180 derajat sama supir travel sebelumnya: ugal-ugalan, kenceng, dan pastinya bikin mabok. Untung gw udah minum antimo 2 biji sebelum berangkat. Lagu yang disetel juga lagu yang nge-beat dengan bass speaker yang adanya di bangku belakang. Makin komplit lah penderitaan perjalanan ini. Jalanan berkelok-kelok Moni-Ende memang bikin puyeng, untung bis itu berhenti di Ende buat makan siang di restoran Padang.
Akhirnya setelah muter-muter lagi sampai juga di terminal Mbay sekitar jam 2 siang. Jangan bayangin terminalnya mirip terminal bis di Jawa. Setelah angkotnya nunggu penumpang juga akhirnya cabut ke Riung yang katanya cuma 15-20 menit itu dengan harga 15 ribu per orang. Pret! Perjalanan ke Riung butuh waktu 1 jam lebih. Sore hari barulah nyampe ke kecamatan yang bernama Riung. Setelah menimbang-nimbang, mikir-mikir bujet juga kami memilih hotel Bintang Wisata.
Nggak ada hiburan di Riung ketika sore sampai malam hari. Hotel kami pun nggak ada TV-nya. Semua hotel yang kami tinggali di Flores juga nggak ada TV-nya karena sedang dalam budget travelling. Jadi kalo malem di Riung, yang dilakukan adalah ngumpul di rumah makan Padang satu-satunya di daerah itu yang dimiliki oleh Uda Burhanis sambil ngobrol-ngobrol nggak jelas, ngomongin itinerary, dan hal-hal nggak penting lainnya. Wisata di Riung paling bagus dilakuin seharian dengan nyewa kapal seharga Rp 250 ribu sepuasnya buat keliling taman laut Riung. Uda Burhanis juga yang ngajarin biar hemat konsumsi di atas kapal, yaitu dengan beli nasi bungkusnya buat dimakan siang hari. Dasar orang Padang memang otak bisnisnya jalan.
Pagi hari, setelah beli nasi Padang, kami jalan kaki ke dermaga. Malam sebelumnya gw udah ngehubungin salah satu pemilik kapal yaitu Pak Adam. Nah buat perjalanan kami ini dinahkodain sama Mas Abri. Tujuan pertama ke Pulau Tiga. Pulau Tiga ini terkenal dengan spot surfingnya di pinggir pantai. Oke, jadi kami nyebur sepuasnya di sana. Lumayan bagus. Kami bisa nangkap ikan fugu buat dimain-mainin, ketemu sama lionfish, dan beratus-ratus starfish. Karang-karangnya masih perawan karena jarangnya turis ke sana.
Tujuan selanjutnya adalah Pulau Rutong. Pulau ini adalah pulau yang berbukit, jadi agendanya adalah trekking ke atas bukit. Rutenya sih nggak jauh-jauh amat, cuma berhubung panas terik jadinya butuh tenaga lebih. Tapi begitu sampai di atas pemandangannya Subhanallah. Jernih birunya laut Riung kelihatan dari puncak ini dengan latar belakang lanskap Pulau Flores. Setelah berpuas-puas trekking dan tentunya renang lagi di Pulau Rutong, baru kami jalan ke taman laut di dekat Pulau Bakau. Nah di taman laut inilah tempat snorkling yang paling ajib. Karena tempatnya bukan di tepi pantai, tapi di benar-benar di tengah laut dangkal, keanekaragaman ikannya sungguh bagus. Sangat direkomendasikan buat snorkling di sini.
Nah menjelang sore baru kami bertolak ke Pulau Kelelawar yang agak jauh. Sebenernya udah capek juga tapi masih penasaran sama Pulau Kelelawar. Di sini jutaan kelelawar masih tidur menggantung di dahan-dahan pohon bakau. Dengan sedikit gangguan mesin kapal sama tepukan tangan, jutaan itu kaget dibangunin dan langsung terbang nggak tentu arah cari tempat yang lebih tenang. Dengan kami cuma satu-satunya turis di sana tentunya pemandangan itu sangat eksklusif.
Dengan ini, gw simpul dan sarankan bahwa Riung termasuk tempat wisata yang nggak boleh dilewatin selama ke Flores. Terima kasih.
Buat yang belum tahu, Riung itu adalah kawasan wisata pantai yang ada di Kab. Nagakeo di sisi pantai utara Flores. Memang kawasannya sendiri masih dalam pengembangan dan jauh dari jalan utama lintas Flores sehingga turis yang ke sana juga baru dikit. Denger-denger sih pantainya masih bagus, obyek wisata yang dijual adalah taman laut yang terdiri atas 17 pulau. Hmm menarik.
Si tengah penimbangan mau naik yang mana di terasnya Pak John, tiba-tiba ada tukang ojek yang ngasih tau kalo ada angkutan yang langsung ke Mbay, ibukota Kab. Nagakeo. Dari situ bisa naik angkutan ke Riung yang katanya cuma 15-20 menit dari Mbay. Begitu gw tanya angkutannya seperti apa, eh dia udah nunjuk di depan rumah. Waduh! Dengan keadaan belum packing, belum mandi, angkutannya udah nongol depan hidung aja. Tenang aja katanya, bisa disuruh nunggu, apalagi buat turis lokal seperti kita ini yang jumlahnya 4 orang. Si supir awalnya minta 120 ribu per orang, setelah ditawar jadi 90 ribu per orang. Setelah panik-panik packing dan gw nggak sempet mandi sejak dari Jakarta akhirnya naiklah kita ke bis antar kota tersebut.
Bentukan bis itu mirip elf, cuma isinya bisa macem-macem. Yang turis cuma kami berempat dan dapet kursi nyaman di bangku belakang. Penumpang lain harus rela berdesak-desakan duduk di tengah. Supirnya beda 180 derajat sama supir travel sebelumnya: ugal-ugalan, kenceng, dan pastinya bikin mabok. Untung gw udah minum antimo 2 biji sebelum berangkat. Lagu yang disetel juga lagu yang nge-beat dengan bass speaker yang adanya di bangku belakang. Makin komplit lah penderitaan perjalanan ini. Jalanan berkelok-kelok Moni-Ende memang bikin puyeng, untung bis itu berhenti di Ende buat makan siang di restoran Padang.
Akhirnya setelah muter-muter lagi sampai juga di terminal Mbay sekitar jam 2 siang. Jangan bayangin terminalnya mirip terminal bis di Jawa. Setelah angkotnya nunggu penumpang juga akhirnya cabut ke Riung yang katanya cuma 15-20 menit itu dengan harga 15 ribu per orang. Pret! Perjalanan ke Riung butuh waktu 1 jam lebih. Sore hari barulah nyampe ke kecamatan yang bernama Riung. Setelah menimbang-nimbang, mikir-mikir bujet juga kami memilih hotel Bintang Wisata.
Nggak ada hiburan di Riung ketika sore sampai malam hari. Hotel kami pun nggak ada TV-nya. Semua hotel yang kami tinggali di Flores juga nggak ada TV-nya karena sedang dalam budget travelling. Jadi kalo malem di Riung, yang dilakukan adalah ngumpul di rumah makan Padang satu-satunya di daerah itu yang dimiliki oleh Uda Burhanis sambil ngobrol-ngobrol nggak jelas, ngomongin itinerary, dan hal-hal nggak penting lainnya. Wisata di Riung paling bagus dilakuin seharian dengan nyewa kapal seharga Rp 250 ribu sepuasnya buat keliling taman laut Riung. Uda Burhanis juga yang ngajarin biar hemat konsumsi di atas kapal, yaitu dengan beli nasi bungkusnya buat dimakan siang hari. Dasar orang Padang memang otak bisnisnya jalan.
Pagi hari, setelah beli nasi Padang, kami jalan kaki ke dermaga. Malam sebelumnya gw udah ngehubungin salah satu pemilik kapal yaitu Pak Adam. Nah buat perjalanan kami ini dinahkodain sama Mas Abri. Tujuan pertama ke Pulau Tiga. Pulau Tiga ini terkenal dengan spot surfingnya di pinggir pantai. Oke, jadi kami nyebur sepuasnya di sana. Lumayan bagus. Kami bisa nangkap ikan fugu buat dimain-mainin, ketemu sama lionfish, dan beratus-ratus starfish. Karang-karangnya masih perawan karena jarangnya turis ke sana.
Tujuan selanjutnya adalah Pulau Rutong. Pulau ini adalah pulau yang berbukit, jadi agendanya adalah trekking ke atas bukit. Rutenya sih nggak jauh-jauh amat, cuma berhubung panas terik jadinya butuh tenaga lebih. Tapi begitu sampai di atas pemandangannya Subhanallah. Jernih birunya laut Riung kelihatan dari puncak ini dengan latar belakang lanskap Pulau Flores. Setelah berpuas-puas trekking dan tentunya renang lagi di Pulau Rutong, baru kami jalan ke taman laut di dekat Pulau Bakau. Nah di taman laut inilah tempat snorkling yang paling ajib. Karena tempatnya bukan di tepi pantai, tapi di benar-benar di tengah laut dangkal, keanekaragaman ikannya sungguh bagus. Sangat direkomendasikan buat snorkling di sini.
Nah menjelang sore baru kami bertolak ke Pulau Kelelawar yang agak jauh. Sebenernya udah capek juga tapi masih penasaran sama Pulau Kelelawar. Di sini jutaan kelelawar masih tidur menggantung di dahan-dahan pohon bakau. Dengan sedikit gangguan mesin kapal sama tepukan tangan, jutaan itu kaget dibangunin dan langsung terbang nggak tentu arah cari tempat yang lebih tenang. Dengan kami cuma satu-satunya turis di sana tentunya pemandangan itu sangat eksklusif.
Dengan ini, gw simpul dan sarankan bahwa Riung termasuk tempat wisata yang nggak boleh dilewatin selama ke Flores. Terima kasih.
Flores: Moni & Kelimutu
Perjalanan dimulai dari Jakarta, transit di Denpasar, lanjut ke bandara Frans Seda (Waioti) Maumere sore. Maumere sendiri adalah kota paling gede sejagat Flores. Tentu jangan dibandingin sama Jakarta. Hal pertama yang harus dilakukan sebelum nyampe Maumere sebenarnya adalah pastikan moda transportasi apa yang akan membawa anda ke pusat kota. Jangan kayak kami berempat, begitu nyampe di bandara langsung bingung mau ngapain. Alhasil langsung dikerubutin sama agen-agen travel. FYI, di sana nggak ada taksi. Jadi pilihannya adalah travel, ojek atau naik angkot ke pusat kota yang harus jalan dulu lumayan jauh ke gerbang depan bandara. Oke karena nggak ada pilihan, travel minta 50 ribu rupiah buat nganter dari bandara ke pusat kota. Sebenernya dia sanggup nganterin pake Innova ke Moni seharga 500 ribu, tapi bujet kami nggak sanggup.
Entah ditipu apa nggak, dia nganterin cuma sampe deket gerbang depan bandara. Sebenernya nggak ditipu juga sih soalnya dia cariin travel yang nganter penumpang ke Moni. Tapi perbandingan harga dan jaraknya mahal amet! Yasudahlah yang penting dapat angkutan ke Moni. Travel ini harganya Rp 70 ribu per kepala naik mobil Avanza dengan penumpang 7 orang. Supirnya the best, jalan dengan penuh kehati-hatian, sangat nyaman, nggak bikin mabok, walaupun jalanan Maumere ke Ende via Moni itu terkenal meliuk-liuk dan banyak longsor. Sekitar jam 9 malem nyampe di Moni setelah sempat singgah ke peristirahatan di tepi jalan, dan nginep di homestaynya Pak John yang direkomendasiin sama adek kelas yang trip ke sini sebelumnya. Kamarnya nyaman, bednya asik, kamar mandinya standar, Pak John-nya ramah banget. Sebaiknya kalo mau ke Kelimutu berangkatnya pagi hari abis subuh. Kayaknya ini nasihat yang agak salah.
Jadi subuh-subuh kami naik ke Kelimutu ditemenin ojek seharga 70 ribu per ojek pulang pergi. Satu-satunya hal berguna dari bawa jaket di trip ini adalah untuk naik ke Kelimutu ini karena anginnya emang dingin bener. Gw nggak bisa nikmatin pemandangan jalan ke puncak gara-gara sibuk berurusan sama dingin. Sampai di gerbang taman nasional, bayar untuk kendaraan, orang dan kamera yang menurut gw murah banget lalu ditemenin ojek lagi sampai ke parkiran. Nah dari parkiran baru jalan kaki sampai ke summit.
Kelimutu sendiri ada 3 danau yang namanya susah banget dilafalin dan nggak mungkin dihafalin juga. Katanya sih ya, ada danau yang warnanya biru turquoise, ada yang hijau lumut, ada yang coklat kehitaman. Gw sih percaya aja belum ngeliat, cuma ngeliat lewat duit goceng pas masa kecil dulu. Eh begitu ngeliat sendiri bener lho. Hebat ya yang ngasih tau gw! Dan dengan begitu gw juga tau kalo gambar yang ada di duit goceng dulu itu bohong. Danaunya nggak berjejer 3 berbarengan, tapi danau yang coklat kehitaman itu ada di sisi yang berbeda sama 2 danau lainnya.
Katanya juga nih ya, Kelimutu itu tempat baliknya roh-roh orang Flores. Nah kalo yang ini gw masih belum percaya soalnya gw nggak ngelihat ada 1 roh pun yang lagi melayang-layang ke arah danau.
Jadi setelah puas berkeliling kompleks danau dan foto-foto (itu yang terpenting!) kami pun balik ke parkiran. Soal foto-foto, kami pun menemukan istilah sesi foto baru yang dinamain socialita, yaitu foto pake blackberry masing-masing buat diupdate dan membuat iri teman lainnya, yang tradisi ini berlanjut terus sampai akhir trip. Di parkiran mau nggak mau kami harus mampir ke salah satu warung soalnya kami satu-satunya turis yang datang pagi itu. Ternyata nyobain kopi di sana rasanya enak gila. Kopi Flores memang top. Setelah minum nyemil sebentar kami harus cepet-cepet turun ke Moni lagi soalnya belum packing dan belum tau harus naik apa ke tujuan selanjutnya. Bahkan tujuan selanjutnya pun masih abstrak.
Di Moni, hasil nanya-nanya lagi sama Pak John dan bapak-bapak ojek yang baik hati masih belum tau juga cara nyampe ke tujuan selanjutnya. Pilihannya 2: ke kota Bajawa atau ke pantai Riung, tergantung faktor ekonomis, jarak tempuh, sama ada atau nggaknya angkutan yang praktis dari Moni. Dua-duanya pasti lewat kota Ende. Inilah enaknya backpacking, bisa nentuin sendiri ke mana tujuan selanjutnya.
Entah ditipu apa nggak, dia nganterin cuma sampe deket gerbang depan bandara. Sebenernya nggak ditipu juga sih soalnya dia cariin travel yang nganter penumpang ke Moni. Tapi perbandingan harga dan jaraknya mahal amet! Yasudahlah yang penting dapat angkutan ke Moni. Travel ini harganya Rp 70 ribu per kepala naik mobil Avanza dengan penumpang 7 orang. Supirnya the best, jalan dengan penuh kehati-hatian, sangat nyaman, nggak bikin mabok, walaupun jalanan Maumere ke Ende via Moni itu terkenal meliuk-liuk dan banyak longsor. Sekitar jam 9 malem nyampe di Moni setelah sempat singgah ke peristirahatan di tepi jalan, dan nginep di homestaynya Pak John yang direkomendasiin sama adek kelas yang trip ke sini sebelumnya. Kamarnya nyaman, bednya asik, kamar mandinya standar, Pak John-nya ramah banget. Sebaiknya kalo mau ke Kelimutu berangkatnya pagi hari abis subuh. Kayaknya ini nasihat yang agak salah.
Jadi subuh-subuh kami naik ke Kelimutu ditemenin ojek seharga 70 ribu per ojek pulang pergi. Satu-satunya hal berguna dari bawa jaket di trip ini adalah untuk naik ke Kelimutu ini karena anginnya emang dingin bener. Gw nggak bisa nikmatin pemandangan jalan ke puncak gara-gara sibuk berurusan sama dingin. Sampai di gerbang taman nasional, bayar untuk kendaraan, orang dan kamera yang menurut gw murah banget lalu ditemenin ojek lagi sampai ke parkiran. Nah dari parkiran baru jalan kaki sampai ke summit.
Kelimutu sendiri ada 3 danau yang namanya susah banget dilafalin dan nggak mungkin dihafalin juga. Katanya sih ya, ada danau yang warnanya biru turquoise, ada yang hijau lumut, ada yang coklat kehitaman. Gw sih percaya aja belum ngeliat, cuma ngeliat lewat duit goceng pas masa kecil dulu. Eh begitu ngeliat sendiri bener lho. Hebat ya yang ngasih tau gw! Dan dengan begitu gw juga tau kalo gambar yang ada di duit goceng dulu itu bohong. Danaunya nggak berjejer 3 berbarengan, tapi danau yang coklat kehitaman itu ada di sisi yang berbeda sama 2 danau lainnya.
Katanya juga nih ya, Kelimutu itu tempat baliknya roh-roh orang Flores. Nah kalo yang ini gw masih belum percaya soalnya gw nggak ngelihat ada 1 roh pun yang lagi melayang-layang ke arah danau.
Jadi setelah puas berkeliling kompleks danau dan foto-foto (itu yang terpenting!) kami pun balik ke parkiran. Soal foto-foto, kami pun menemukan istilah sesi foto baru yang dinamain socialita, yaitu foto pake blackberry masing-masing buat diupdate dan membuat iri teman lainnya, yang tradisi ini berlanjut terus sampai akhir trip. Di parkiran mau nggak mau kami harus mampir ke salah satu warung soalnya kami satu-satunya turis yang datang pagi itu. Ternyata nyobain kopi di sana rasanya enak gila. Kopi Flores memang top. Setelah minum nyemil sebentar kami harus cepet-cepet turun ke Moni lagi soalnya belum packing dan belum tau harus naik apa ke tujuan selanjutnya. Bahkan tujuan selanjutnya pun masih abstrak.
Di Moni, hasil nanya-nanya lagi sama Pak John dan bapak-bapak ojek yang baik hati masih belum tau juga cara nyampe ke tujuan selanjutnya. Pilihannya 2: ke kota Bajawa atau ke pantai Riung, tergantung faktor ekonomis, jarak tempuh, sama ada atau nggaknya angkutan yang praktis dari Moni. Dua-duanya pasti lewat kota Ende. Inilah enaknya backpacking, bisa nentuin sendiri ke mana tujuan selanjutnya.
Monday, December 3, 2012
Flores: Preambule
Yak saatnya untuk berbagi perjalanan gw kemarin. Tujuan liburan gw kemarin adalah ke Flores. Yah, masih banyak orang Indonesia sendiri yang nggak tau Flores itu ada di mana. Padahal sekarang ini pulau itu adalah salah satu fokus promosi wisata Indonesia ke luar negeri. Menurut gw yang baru aja ke sana, sangat worth untuk menjadikan Flores tujuan wisata karena beberapa alasan. Landscape Flores bener-bener beda banget sama yang ada di Jawa atau Bali. Pulau itu juga menawarkan wisata gunung dan laut secara komplit. Wisata budaya di sana juga nggak kalah menarik. Yah, yang kurang di Flores mungkin cuma wisata kuliner karena orang Flores boleh dibilang nggak punya makanan khas. Tapi itu nggak mengurangi keelokan Flores, seperti artinya sendiri yang berarti bunga. Apalagi tahun depan juga bakal diadakan Sail Komodo 2013, jadi be prepared untuk menyiapkan perjalanan kalian ke sana!
Liburan gw kemarin berlangsung selama 12 hari 11 malam. Dengan jangka waktu segitu, liburan sekarang jadi perjalanan gw terlama di dalam negeri, di luar mudik tentunya. Seperti sebelum-sebelumnya para pionir perjalanan ini riset kecil-kecilan dulu dan nyiapain itinerary yang pas, serta mulai ngajak orang-orang yang mau berpetualang. Yak, berpetualang! Karena perjalanan ke Flores jangan diharapkan bisa menikmati akomodasi dan transportasi yang enak. Singkat kata, yang mau ikut harus backpacking. Setelah tarik ulur nawarin kesana-sini hampir sebulanan, jadilah yang terkumpul cuma 4 orang, yaitu Fadhil, Fatia, dan Dina.
Walaupun itinerary udah mateng, persiapan sebelum perjalanan pun nggak kalah ribet tapi seru. Tentu packing itu bagi gw termasuk yang paling ribet. Stok obat gw di perjalanan yang sekarang tergolong yang paling banyak. Belum lagi kami nggak booking transportasi atau penginapan yang bakal didiami lebih dulu. Singkat kata, ini bener-bener perjalanan yang mungkin bakal banyak perubahan di tengah jalan. Tiket pesawat demi hemat bener-bener dibeli beda maskapai biar jatuhnya yang paling murah.
Total biaya perjalanan untuk 12 hari ini cuma sekitar 6-7 juta rupiah. Relatif lebih murah dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan kalo bepergian ke daerah lain di Indonesia.
Hmmm... untuk perjalanannya gw bingung mau gw ceritain seberapa banyak. Hahaha! Mungkin nanti akan gw bagi ke beberapa postingan dan agak panjang. Jadi jangan bosan-bosan untuk ngikutin blog gw.
Wednesday, October 31, 2012
Seminggu Lagi
Seminggu lagi...
Seminggu lagi internship selesai, dan masa depan keliatannya nggak jelas.
Ada temen gw yang mau sekolah lagi ambil spesialisasi langsung.
Ada temen gw yang rencana mengabdikan diri buat PTT di daerah.
Ada temen gw yang mau sekolah ambil master di luar negeri.
Ada temen gw yang ambisius nyaplok kerjaan di klinik sana klinik sini.
Ada temen gw yang udah daftar magang aja di departemen.
Ada temen gw yang niat kerja rodi di perusahaan walaupun ditempatin di daerah yang ganas.
Ada temen gw yang niatnya malah wiraswasta aja.
Ada temen gw nggak jelas juntrungannya.
Ya seperti gw ini, mikirnya liburan dulu...
Oooh, I need holidays so badly...
Nantikan liputan liburan di blog ini.
Seminggu lagi internship selesai, dan masa depan keliatannya nggak jelas.
Ada temen gw yang mau sekolah lagi ambil spesialisasi langsung.
Ada temen gw yang rencana mengabdikan diri buat PTT di daerah.
Ada temen gw yang mau sekolah ambil master di luar negeri.
Ada temen gw yang ambisius nyaplok kerjaan di klinik sana klinik sini.
Ada temen gw yang udah daftar magang aja di departemen.
Ada temen gw yang niat kerja rodi di perusahaan walaupun ditempatin di daerah yang ganas.
Ada temen gw yang niatnya malah wiraswasta aja.
Ada temen gw nggak jelas juntrungannya.
Ya seperti gw ini, mikirnya liburan dulu...
Oooh, I need holidays so badly...
Nantikan liputan liburan di blog ini.
Thursday, October 18, 2012
Macet Panjang di Jalan Tol
Anda pernah kena macet di jalan tol sekitar Jakarta? Tenang, anda tidak sendiri. Hampir semua orang pernah mengalaminya. Macet itu jelas nyebelin, bikin semua rencana hancur berantakan gara-gara ngaret. Kadang-kadang orang suka bingung macet yang ada di depan itu panjang atau nggak. Nah, berdasarkan pengalaman pribadi, gw akan mencoba mangajukan kriteria diagnosis macet panjang di jalan tol.
* Terima kasih untuk: macet di hari Kamis yang menginspirasi gw; stase puskesmas pembantu yang meliburkan dokter di hari Kamis sehingga gw magabut; dan koneksi wifi puskesmas Setu 1 yang kenceng
- Ada truk kontainer yang menyalip lewat bahu jalan.
- Ada minimal tiga truk kontainer yang jalan di tiga lajur yang berbeda untuk saling menyalip.
- Anda menghabiskan waktu minimal dua jam untuk berkendara sejauh 10 km.
- Ada perbaikan jalan minimal di satu lajur.
- Ada minimal lima kendaraan yang berganti lajur tiba-tiba dalam rentang jarak 50 meter.
- Ada pembentukan lajur baru kendaraan di atas marka jalan.
- Anda menghabiskan waktu minimal satu jam dari tanda "Gerbang Tol xxxx - 1 km" ke gerbang tol yang dimaksud.
- Anda mendengarkan dua lagu yang sama di radio yang sama dalam perjalanan dengan jarak 100 km.
- Adanya penampakan minimal satu penjual minuman di tengah jalan.
- Anda mampu menghabiskan semua artikel di laman utama m.detik.com atau m.goal.com dalam perjalanan dengan jarak 100 km.
* Terima kasih untuk: macet di hari Kamis yang menginspirasi gw; stase puskesmas pembantu yang meliburkan dokter di hari Kamis sehingga gw magabut; dan koneksi wifi puskesmas Setu 1 yang kenceng
Sunday, October 14, 2012
Tragedi Nasi Goreng
Sudah sewajarnya gw sebagai orang Indonesia aseli menyukai masakan Indonesia aseli juga. Beneran. Mau makan di hotel bintang lima sekalipun yang all you can eat, tetep makanan yang paling pas di lidah gw adalah menu Indonesianya.
Salah satu makanan Indonesia favorit gw adalah nasi goreng. Alesannya simpel: gw nggak perlu ribet-ribet makan nasi pake lauk dan sayur kalo gw makan nasi goreng. Sebenernya nasi goreng itu mungkin asli Cina, yang menyebar ke Asia bagian lainnya dan jadi makanan favorit di negara masing-masing. Personally, gw paling suka nasi goreng merah yang asalnya dari Malang atau Makassar. Varian nasi goreng lainnya juga gw suka.
Maka oleh karena daripada itu, pas gw main-selepas-kerja bareng teman-teman gw di salah satu mall elit di Jakarta, gw memesan nasi goreng. Kebetulan restorannya cukup kelihatan mewah dan enak buat ngumpul bareng. Restorannya sendiri mengandalkan menu bawang putih sebagai temanya, hmmm penasaran, gw sendiri adalah salah satu fans berat bawang putih. Teman-teman gw udah pada mesen dan katanya makanannya enak-enak. Definisi makanan yang gw pesen kayak gini: special fried rice with garlic pickles, shrimp, and asparagus. Ditambah lagi dengan tanda khusus chef recommendation di belakangnya. Oke, pesanan diminta, dibuat, dan diantar dan voila keluarlah makanan yang bentukannya seperti gini:
Buat gw yang udah mencicipi berbagai nasi goreng yang rasanya enak-enak, menurut gw rasanya standar. Malah cenderung aneh agak asem (bukan awesome) gara-gara ada acar bawang putih yang nyampur di dalemnya. Protein yang ada di dalem nasi goreng cuma 4 ekor udang berukuran sedang, sisanya cuma sayuran belaka.
Mau tahu berapa harganya? Rp 110.000,00 belum termasuk pajak restoran dan service charge.
Gw sendiri nggak masalah sekali makan buat gw ngehabisin duit segitu, tapi untuk sepiring nasi goreng??
Oh meeen... Dibandingin sama nasi goreng chinese food yang ada di Setu, Bekasi rasanya hampir sama. Dibandingin sama nasi goreng yang dijual restoran Cina yang ada di mall yang sama dan lebih murah rasanya beda jauh. Jangan dibandingin sama rasa nasi goreng merah berharga Rp 7.000,00 yang dijual di jalanan seantero Malang.
Gw jadi inget ada istilah menu nasi goreng yang dijual di deket kampus gw dulu di Salemba, si penjual menamakan menunya nasi goreng santri. Isinya cuma nasi + sayuran. Konon dinamakan santri gara-gara makanan para santri di pesantren emang rata-rata cuma nasi + sayur nggak pake protein. Nah, menu nasi goreng bawang putih yang gw pesen barusan rasanya hampir sama, agak plain, isi sayuran (bedanya si kangkung diganti sama si asparagus), dan ditambah sama 4 ekor udang.
Salah satu makanan Indonesia favorit gw adalah nasi goreng. Alesannya simpel: gw nggak perlu ribet-ribet makan nasi pake lauk dan sayur kalo gw makan nasi goreng. Sebenernya nasi goreng itu mungkin asli Cina, yang menyebar ke Asia bagian lainnya dan jadi makanan favorit di negara masing-masing. Personally, gw paling suka nasi goreng merah yang asalnya dari Malang atau Makassar. Varian nasi goreng lainnya juga gw suka.
Maka oleh karena daripada itu, pas gw main-selepas-kerja bareng teman-teman gw di salah satu mall elit di Jakarta, gw memesan nasi goreng. Kebetulan restorannya cukup kelihatan mewah dan enak buat ngumpul bareng. Restorannya sendiri mengandalkan menu bawang putih sebagai temanya, hmmm penasaran, gw sendiri adalah salah satu fans berat bawang putih. Teman-teman gw udah pada mesen dan katanya makanannya enak-enak. Definisi makanan yang gw pesen kayak gini: special fried rice with garlic pickles, shrimp, and asparagus. Ditambah lagi dengan tanda khusus chef recommendation di belakangnya. Oke, pesanan diminta, dibuat, dan diantar dan voila keluarlah makanan yang bentukannya seperti gini:
Buat gw yang udah mencicipi berbagai nasi goreng yang rasanya enak-enak, menurut gw rasanya standar. Malah cenderung aneh agak asem (bukan awesome) gara-gara ada acar bawang putih yang nyampur di dalemnya. Protein yang ada di dalem nasi goreng cuma 4 ekor udang berukuran sedang, sisanya cuma sayuran belaka.
Mau tahu berapa harganya? Rp 110.000,00 belum termasuk pajak restoran dan service charge.
Gw sendiri nggak masalah sekali makan buat gw ngehabisin duit segitu, tapi untuk sepiring nasi goreng??
Oh meeen... Dibandingin sama nasi goreng chinese food yang ada di Setu, Bekasi rasanya hampir sama. Dibandingin sama nasi goreng yang dijual restoran Cina yang ada di mall yang sama dan lebih murah rasanya beda jauh. Jangan dibandingin sama rasa nasi goreng merah berharga Rp 7.000,00 yang dijual di jalanan seantero Malang.
Gw jadi inget ada istilah menu nasi goreng yang dijual di deket kampus gw dulu di Salemba, si penjual menamakan menunya nasi goreng santri. Isinya cuma nasi + sayuran. Konon dinamakan santri gara-gara makanan para santri di pesantren emang rata-rata cuma nasi + sayur nggak pake protein. Nah, menu nasi goreng bawang putih yang gw pesen barusan rasanya hampir sama, agak plain, isi sayuran (bedanya si kangkung diganti sama si asparagus), dan ditambah sama 4 ekor udang.
Subscribe to:
Posts (Atom)
