Everyone has a dream! Blog kali ini agaknya diilhami dari serial Kick Andy yang baru gw tonton tentang anak orang miskin bisa jadi S3. Ya udah pasti semua orang punya mimpi atau cita-cita. Nggak mungkin sebaliknya, kalo seseorang nggak punya suatu mimpi mungkin status Homo sapiens-nya perlu dipertanyakan.
Omong-omong tentang cita-cita, gw sendiri punya beberapa cita-cita sejak gw kecil. Malahan beberapa di antaranya mungkin rada aneh buat dipikir-pikir jadi cita-cita, lucu juga kalo diinget.
Dimulai dari cita-cita pertama gw. Ini dia cita-cita gw yang paling natural mungkin: jadi pengantin! Hahaha. Padahal gw sendiri nggak pernah nyadar, cuma gw sendiri dikasih tau sama orang tua kalo masa kecil gw waktu ikut pesta pengantin suka minta duduk di kursi pengantin. Kenapa sampe terpikirkan oleh gw waktu itu! I don't know. Mungkin gw waktu itu membayangkan jadi pengantin enak soalnya disalamin orang banyak. Hahaha.
Cita-cita kedua gw, waktu gw agak gedean sedikit (TK-SD) adalah yang paling aneh dan nggak masuk akal: jadi penjaga pom bensin! Hahaha. Kalo yang ini gw udah sadar kalo gw memilih cita-cita itu. Alasannya simpel. Gw waktu itu iri sama penjaga pom bensin soalnya mereka dapat duit terus. So, that's realistic. Anak kecil memang gampang ditipu sama situasi.
Cita-cita ketiga gw (waktu di SD) adalah standar sama kayak anak-anak kecil lainnya: pilot. Kenapa memilih ini gw juga bingung. Sama aja kayak anak-anak kalo punya cita-cita jadi dokter atau jadi tentara, STD alias standar.
Cita-cita keempat gw, waktu gw masuk SMP, adalah cita-cita paling spontan dari gw. Gw inget waktu gw orientasi ditanyain satu-satu tentang cita-cita, gw jawab aja cita-cita gw: profesor. Alasannya keren aja sama yang namanya profesor, bisa seperti Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie yang pernah datang ke SD gw, walaupun gw nggak tau apa sebenernya arti profesor hingga gw masuk kuliah.
Cita-cita kelima: insinyur. Mungkin ini cita-cita pertama gw yg gw pikirkan secara serius. Dan yang satu ini bertahan dari jaman akhir SMP sampe akhir SMA. Dulu waktu SMP memang gw pernah berkunjung ke ITB dan kepincut sama kampus yang adem itu. Waktu masuk SMA pun gw masih pingin masuk ITB, apalagi gw juga 'lumayan' suka itung-itungan. Dulu gw bermimpi untuk bisa bikin pesawat seperti pak Habibie. Dan masa akhir SMA jadi masa penentuan cita-cita gw.
Cita-cita terakhir gw dan masih bertahan hingga saat ini adalah jadi dokter. Sebenernya gw termasuk lemah soal hafalan. Profesi dokter juga nggak kepikiran dari dulu. Alasan gw mau jadi dokter simpel juga: karena kampus kedokteran ratingnya paling tinggi di Indonesia. Dan sampe sekarang pun gw juga masih bingung kalo ditanya, "Kenapa pingin jadi dokter?" Sama seperti saat gw diuji di modul pulmonologi kebetulan sama ketua Konsil Kedokteran Indonesia. Tapi dari pertama gw memilih cita-cita ini sampe sekarang, gw semakin suka dengan profesi kedokteran.
Berarti kalo dirunut dari awal, gw mungkin punya cita-cita seperti ini: dokter, yang menjadi pengantin, yang punya usaha pom bensin, yang bisa nyetir pesawat, yang akhirnya punya usaha pabrik pesawat, yang selanjutnya jadi profesor. Dan gw termasuk salah satu dari orang yang beruntung bisa sejalan dengan cita-cita gw sekarang. So keep being thankful of your life!
Sunday, March 21, 2010
Tuesday, March 9, 2010
Nyeri Bahu
Hari ini gw dapat kuliah yang sangat interaktif dan menyenangkan dari dosen gw, dr. Salim Harris, SpS(K) yang ngomong dengan aksen arab yang kental bener. Topiknya sekilas biasa aja: nyeri kepala aka headache.
Memang kesannya pertama biasa, belajar anatomi otak dan pembuluh darahnya yang kecil & amit-amit di kepala. Terus nyambung ke jenis sakit-sakit kepalanya. Topik makin menghangat setelah ngomongin tentang migrain dan akhirnya nyambung juga ke nyeri leher dan bahu. Nah ini dia yang seru!
Tiba-tiba semua mahasiswa cowok disuruh berdiri, terus diliat satu-satu. Setelah diliat bahunya satu-satu, akhirnya dengan yakin, si dosen nyuruh gw berdiri sambil ngomong, "Maaf ya Himawan, kamu dibuat belajar dulu ya!" Whaattt??!!
Gw disuruh maju ke depan kelas, buka kemeja luar, buka kaos dalem (huh!) dan akhirnya disuruh ngadep ke depan kelas, sambil punggung gw diliatin ke teman-teman sekelas.
"Nah, disini bisa dilihat, bahunya terlihat tidak simetris. Yang kiri lebih tinggi sedikit dan lebih gemuk daripada yang kanan. Ini adalah contoh spasme dari otot bahu (trapezius) kiri. Pasti kamu sering sakit bahu kiri ya, Wan?"
Buset ajaib amat nih dokter, cuma ngeliat aja bisa tau kalo gw suka sakit bahu kiri. walaupun nggak gw sadari sih, tapi memang selama ini gw ngerasa bahu kiri agak kurang nyaman dan cepet pegel. "Iya sih, dok!" jawab gw.
"Coba kamu rentangkan tangan kamu ke depan, terus digerakkan ke atas bawah berulang kali!"
"Nah bisa dilihat kan otot di kiri terlihat lebih gemuk daripada di kanan, ini yang disebut spasme. Terus coba lihat skapula (tulang belikat) kiri lebih menonjol. Kondisi ini yang dinamakan spondyloarthrosis cervicalis."
GILAAAA!!! *sembah-sembah ke dokter tersebut
Teman-teman gw juga terheran-heran dengan fenomena di bahu gw, sampai ada yang berpikir mau memvideokannya. Gw sendiri bingung, pingin liat, tapi adanya di punggung gw. Memang derita orang percobaan (OP).
"Kondisi ini bisa dikarenakan trauma, degeneratif, diturunkan dari orang tua yang seperti ini juga, ataupun sering terjadi pada orang yang sering bekerja menunduk di depan komputer (seperti gw ini), dan pijat maupun obat-obatan itu hanya akan meredakan gejalanya aja, tetapi nantinya akan muncul terus-menerus. Karena nyeri yang terjadi itu adalah campuran dari nosiseptif dan neuropati, maka obat-obatan yang bisa diberikan adalah kombinasi NSAID dan anti-epilepsi"
Terus apa obatnya dong dok? Ternyata obatnya hanya satu: berenang. Dan renangnya juga cuma boleh satu gaya: gaya punggung. Duh, susah amat obatnya. Dulu boleh aja sering renang, tapi dengan waktu sekarang ini mana sempet?! Oiya, kalo nggak mau renang bisa juga sih obatnya dengan masang collar neck biar leher nggak terbebani, atau sering mendongakkan kepala. Obat yang susah. Memang sehat itu susah, sehat itu anugrah.
Sebenernya nggak cuma ini aja sih gw didiagnosis penyakit saat belajar di kedokteran. Dulu pernah juga didiagnosis myopia (rabun jauh) -1,25 mata kiri ditambah astigmatisma. Tapi gw nggak pake kacamata karena gw merasa tidak terganggu. Memang, dokter adalah pasien yang paling bandel.
Buat yang mengeluh keluhan yang sama seperti gw, mungkin bisa dicoba resep berenang tersebut. Mudah-mudahan keluhannya bisa hilang total.
Mungkin gw juga akan mencoba berenang kembali.
Memang kesannya pertama biasa, belajar anatomi otak dan pembuluh darahnya yang kecil & amit-amit di kepala. Terus nyambung ke jenis sakit-sakit kepalanya. Topik makin menghangat setelah ngomongin tentang migrain dan akhirnya nyambung juga ke nyeri leher dan bahu. Nah ini dia yang seru!
Tiba-tiba semua mahasiswa cowok disuruh berdiri, terus diliat satu-satu. Setelah diliat bahunya satu-satu, akhirnya dengan yakin, si dosen nyuruh gw berdiri sambil ngomong, "Maaf ya Himawan, kamu dibuat belajar dulu ya!" Whaattt??!!
Gw disuruh maju ke depan kelas, buka kemeja luar, buka kaos dalem (huh!) dan akhirnya disuruh ngadep ke depan kelas, sambil punggung gw diliatin ke teman-teman sekelas.
"Nah, disini bisa dilihat, bahunya terlihat tidak simetris. Yang kiri lebih tinggi sedikit dan lebih gemuk daripada yang kanan. Ini adalah contoh spasme dari otot bahu (trapezius) kiri. Pasti kamu sering sakit bahu kiri ya, Wan?"
Buset ajaib amat nih dokter, cuma ngeliat aja bisa tau kalo gw suka sakit bahu kiri. walaupun nggak gw sadari sih, tapi memang selama ini gw ngerasa bahu kiri agak kurang nyaman dan cepet pegel. "Iya sih, dok!" jawab gw.
"Coba kamu rentangkan tangan kamu ke depan, terus digerakkan ke atas bawah berulang kali!"
"Nah bisa dilihat kan otot di kiri terlihat lebih gemuk daripada di kanan, ini yang disebut spasme. Terus coba lihat skapula (tulang belikat) kiri lebih menonjol. Kondisi ini yang dinamakan spondyloarthrosis cervicalis."
GILAAAA!!! *sembah-sembah ke dokter tersebut
Teman-teman gw juga terheran-heran dengan fenomena di bahu gw, sampai ada yang berpikir mau memvideokannya. Gw sendiri bingung, pingin liat, tapi adanya di punggung gw. Memang derita orang percobaan (OP).
"Kondisi ini bisa dikarenakan trauma, degeneratif, diturunkan dari orang tua yang seperti ini juga, ataupun sering terjadi pada orang yang sering bekerja menunduk di depan komputer (seperti gw ini), dan pijat maupun obat-obatan itu hanya akan meredakan gejalanya aja, tetapi nantinya akan muncul terus-menerus. Karena nyeri yang terjadi itu adalah campuran dari nosiseptif dan neuropati, maka obat-obatan yang bisa diberikan adalah kombinasi NSAID dan anti-epilepsi"
Terus apa obatnya dong dok? Ternyata obatnya hanya satu: berenang. Dan renangnya juga cuma boleh satu gaya: gaya punggung. Duh, susah amat obatnya. Dulu boleh aja sering renang, tapi dengan waktu sekarang ini mana sempet?! Oiya, kalo nggak mau renang bisa juga sih obatnya dengan masang collar neck biar leher nggak terbebani, atau sering mendongakkan kepala. Obat yang susah. Memang sehat itu susah, sehat itu anugrah.
Sebenernya nggak cuma ini aja sih gw didiagnosis penyakit saat belajar di kedokteran. Dulu pernah juga didiagnosis myopia (rabun jauh) -1,25 mata kiri ditambah astigmatisma. Tapi gw nggak pake kacamata karena gw merasa tidak terganggu. Memang, dokter adalah pasien yang paling bandel.
Buat yang mengeluh keluhan yang sama seperti gw, mungkin bisa dicoba resep berenang tersebut. Mudah-mudahan keluhannya bisa hilang total.
Mungkin gw juga akan mencoba berenang kembali.
Friday, February 26, 2010
Welcome Back to Salemba!
Setelah sekian lama gw nggak menjejakkan kaki di Salemba tercinta akhirnya gw balik juga ke kampus ini. Ternyata banyak juga cerita-cerita kampus yang gw tinggalin selama masa pengasingan itu. Yang paling heboh tentu aja hilangnya patung Pak Karbol di depan kampus gw. Patung perunggu segede gitu bisa banget dicuri orang, pastinya kl gw ketemu pencurinya yang pertama gw lakukan adalah gw bakal melakukan salam hormat ke dia selama sebulan penuh. Back to the topic, banyak hal yang gw kangenin dari Salemba. Pertama, gw bisa kembali ketemu sama temen-temen kuliah gw. Kedua, balik ke habitat artinya gw bisa ngelakuin hal-hal yang nggak bisa gw lakuin di RS jejaring lain, seperti main bola di sore hari dll. Ketiga, jaraknya dari rumah gw yang nggak terlalu jauh jadi alasan kenapa gw cinta Salemba.
Ternyata selain perubahan-perubahan positif setelah balik kandang, gw juga ngerasa ada nggak enaknya juga meninggalkan dunia luar. Jalan-jalan di RS Harkit maupun RSP adalah jalan sekalian wisata kuliner dadakan lho!! Pilihan makanannya sangat banyak dan enak pastinya. Gw pasti bakal kangen sama kantin/minimarket yang ada di Harkit atau RSP. Harganya juga murah daripada di RSCM (mentang-mentang daerahnya di Jakarta Pusat jadi lebih mahal!). Yang lebih parah lagi tentunya adalah soal parkir. Sejak jaman dulu daerah Salemba dan sekitarnya terkenal daerah rawan macet, banyak asap, parkiran terbatas, pokoknya neraka buat para penghuninya. Itu juga yg gw rasakan, berpindah dari RSP yang kaya oksigen ke RSCM yang kaya karbon monoksida. Hasilnya adalah gw batuk-batuk seminggu pertama gw di Salemba lagi. Ternyata juga stase di RSCM itu lebih hectic dibandingin sama stase di RS luar. Mungkin karena kebanyakan mahasiswa/dosen/pasien kali ya?!
6 minggu stase di luar jg membuat gw jadi anak rada ansos. Bayangkan, gw nggak nonton bioskop selama 2 bulan lebih. Begitu sampai di rumah, hal pertama yang gw pikirkan adalah tidur! Yak waktu buat tidur, harta yang paling berharga buat seorang ko-ass. Sisanya waktu dihabiskan dengan menghabiskan waktu di jalan, kuliah, jaga...
Anyway, paling nggak balik kandang membuat gw cukup senang. But still, I'm craving for holiday!
Ternyata selain perubahan-perubahan positif setelah balik kandang, gw juga ngerasa ada nggak enaknya juga meninggalkan dunia luar. Jalan-jalan di RS Harkit maupun RSP adalah jalan sekalian wisata kuliner dadakan lho!! Pilihan makanannya sangat banyak dan enak pastinya. Gw pasti bakal kangen sama kantin/minimarket yang ada di Harkit atau RSP. Harganya juga murah daripada di RSCM (mentang-mentang daerahnya di Jakarta Pusat jadi lebih mahal!). Yang lebih parah lagi tentunya adalah soal parkir. Sejak jaman dulu daerah Salemba dan sekitarnya terkenal daerah rawan macet, banyak asap, parkiran terbatas, pokoknya neraka buat para penghuninya. Itu juga yg gw rasakan, berpindah dari RSP yang kaya oksigen ke RSCM yang kaya karbon monoksida. Hasilnya adalah gw batuk-batuk seminggu pertama gw di Salemba lagi. Ternyata juga stase di RSCM itu lebih hectic dibandingin sama stase di RS luar. Mungkin karena kebanyakan mahasiswa/dosen/pasien kali ya?!
6 minggu stase di luar jg membuat gw jadi anak rada ansos. Bayangkan, gw nggak nonton bioskop selama 2 bulan lebih. Begitu sampai di rumah, hal pertama yang gw pikirkan adalah tidur! Yak waktu buat tidur, harta yang paling berharga buat seorang ko-ass. Sisanya waktu dihabiskan dengan menghabiskan waktu di jalan, kuliah, jaga...
Anyway, paling nggak balik kandang membuat gw cukup senang. But still, I'm craving for holiday!
Sunday, February 21, 2010
Bebek Goreng
Yeah, it's been my favorite in recent weeks. Nggak tau kenapa akhir-akhir ini jadi sering makan bebek goreng, padahal sebelumnya (baca: 2 tahun silam) gw masih anti makan makanan yang satu ini. Sama kasusnya dengan sate, tongseng, dan nasi goreng kambing; dulu gw anti, sekarang doyan banget. Menurut gw padahal bebek goreng itu sama sekali bukan makanan yang sehat. Lemak dimana-mana, daging yang liat, berbau khas, nggak kayak ayam yang netral-netral aja. Gw juga lupa siapa yang ngenalin makanan yang satu ini ke gw.
3. Bebek Barokah
4. Bebek Kaleyo
5. Bebek Kemayoran
Akhir-akhir ini gw jadi sering makan bebek goreng, mungkin gara-gara gw kebanyakan stase di RS luar jadinya gw sering wisata kuliner Jakarta. Tapi bener lho, bebek goreng di Jakarta nggak kalah sama yang ada di Surabaya. Variasinya pun macem-macem. Berikut ini ulasan 5 bebek yang gw makan, diurut dari yang paling biasa sampai yang paling enak. Bukan berarti di list ini adalah bebek yang terenak se-Jakarta, karena gw belum nyobain semua bebek di Jakarta. Dan sekali lagi, ini adalah versi gw.
1. Bebek Ginyo
Bebek Ginyo termasuk salah satu bebek branded yang cukup terkenal di Jakarta. Lokasinya di Tebet Utara, cukup deket dari rumah gw. Menurut gw sih, bebek disini banyak pilihannya. Ada bebek goreng, bebek bakar, bebek cabe ijo, dan sisanya gw lupa. Nilai plusnya tempatnya enak, walaupun parkirnya bikin stress, selalu macet kalo gw lewat situ. Nasi sepuasnya (ini yang penting!). Tapi rasa bebeknya terlalu standar, nggak ada rasa khasnya. Kalo dibawa pulang pasti jadi nggak enak deh. Harga sih murah, but still, I don't recommend it. Kalo ada yang lebih enak kenapa nggak ke tampat lain?
2. Bebek Slamet
Bebek Slamet ada di bilangan Rawamangun, deket sama UNJ. Tempatnya cukup enak. Bebek andalannya cuma satu: bebek goreng. Menurut gw, bebek gorengnya sangat berbumbu, tapi sayangnya waktu gw ke sana digoreng kurang kering. Sambelnya juga cukup enak, berminyak, banyak campuran bawangnya. Tapi secara umum, bebek sini enak buat dikunjungi. Harga sih standar. Porsinya juga cukup. Sayangnya, kadang-kadang bebek gorengnya bisa habis, padahal masih siang bolong. Lah gimana ini, restoran bebek kok bebeknya bisa habis?
3. Bebek Barokah
Bebek Barokah ada di seberang RS Persahabatan di Rawamangun. Dibilang restoran juga bukan, karena tempatnya berupa warung, di sebelah warung Padang yang punya dendeng balado paling enak se-Jakarta! Porsi bebeknya sih kecil banget, gorengannya juga biasa aja, tapi harganya juga murah banget. Walaupun warung-warung gini tapi udah banyak yang ngebahas di forum-forum di internet. Alasannya: bumbunya mantap!!! Bumbu di sini seperti bumbu rendang kering, diguyur di atas nasi panas, terus dikasih bawang goreng. Tapi awas, buat yang nggak suka pedes jangan coba-coba ke sini. Bumbunya sangat pedes!!! Habis makan pun, setelah mulut kepanasan, perut juga bisa kepanasan.
4. Bebek Kaleyo
Bebek Kaleyo termasuk bebek branded yang paling terkenal se-Jakarta. Cabangnya ada dimana-mana, tapi tetep yang paling mantap di tempat aslinya di Rawamangun, belakang Mal Arion. Bebek gorengnya sangat kering (sampai tulangnya bisa dimakan!), bumbunya enak, sambelnya mantap! Bebek gorengnya dilengkapi dengan kremes. Selain itu ada bebek bakar & cabe ijo. Pokoknya kalo dateng jam makan siang atau makan malem, pasti tempatnya penuh banget. Harganya standar. Tapi pokoknya rugi deh kalo nggak pernah ke sini dan nyicipin sambelnya yang mantap dan pedes.
5. Bebek Kemayoran
Ini dia bebek yang paling enak se-Jakarta sampai saat ini, menurut gw. Bebek Kemayoran (jeng..jeng..jeng). Berawal dari waktu stase gw di Harkit ditraktir sama salah satu dokter di sana makan nasi bebek bungkus, wah rasanya mantap skalee. Usut punya usut gw cari-cari informasi ke orang lain yang pernah ditraktir juga dan ternyata tempatnya di Kemayoran. Setelah punya telponnya, gw telpon dan ternyata lokasinya ada di sebelah RS Mitra Kemayoran. Setelah gw datengin, bukan restoran, bukan juga warung, tapi cuma gerobak dorong yang jual nasi bebek, sate ayam, dll. Tapi rasanya? Jangan ditanya. Bebeknya enak banget, dilengkapin sama bumbu serundeng (ini yang bikin enak!), plus sambel yang cukup enak, plus nasi yang banyak, plus harga yang murah! (nasi bebek porsi gede cuma 13.000). Gw pernah search di internet, belum ada yang ngebahas bebek ini. Kasian juga, makanya gw yang pertama ngebahas mungkin. Pokoknya highly recommended!
Tujuan selanjutnya:
Bebek Yogi - Kebonjeruk, Jakbar
Bebek Suryo - Blok S, Jaksel
Selamat makaaan!!!
Saturday, February 13, 2010
Minggu Gila (part 2)
Minggu Gila (part 2) adalah kelanjutan dari postingan Minggu Gila sebelumnya. MG kali ini terjadi di pertengahan Februari 2010, kira-kira hampir 2 tahun setelah MG 1. Berikut ini adalah petikan salah satu kalimat terakhir dari MG 1:
"Good bye respirasi, semoga kita nggak ketemu minggu depan!!"
Ternyata nasib-oh-nasib, gw memang nggak ketemu respirasi di minggu depan setelah MG 1, tapi kayaknya itu jadi karma dan akhirnya gw harus ketemu lagi saat stase di bagian Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI (sekilas namanya keren, gw singkat aja jadi pulmo).
Stase di pulmo memang ada 2 sisi; sisi yang satu ko-ass bisa dapet kesempatan lebih buat mempraktekkan ilmunya di RS Persahabatan; di sisi lain jaga di stase ini kebanyakan! Memang RSP surga buat ko-ass yang rajin, sebaliknya neraka buat ko-ass yang magabut. Bisa dibayangkan, apabila RS Jantung Harapan Kita slogannya adalah "Patient First", kalo di RSP mungkin slogannya jadi "Co-Ass First". Mungkin juga di belakangnya ditambahin "Further complain is not accepted". Kebayang kan? Bahkan pasien baru yang masuk bangsal paru kelas ekonomi, terlebih dahulu harus difilter dulu oleh ko-ass sebelum diperiksa oleh dokter jaga.
Pernah suatu kasus, gw jaga malem di IGD RSP, ada pasien baru dengan keluhan utama sesak nafas, ditaruh di luar ruangan IGD. Pasti ko-ass disuruh periksa pertama dong, namanya juga RSP. Gw lah yang dapet kesempatan pertama periksa pasien, klinisnya sesak, nggak ada batuk, suhu juga subfebris. Kebetulan gw nggak pake masker dan sarung tangan saat itu, karena merasa gw udah kebal terhadap TB dan pneumonia (penyakit paling sering), nggak deng karena gw lupa (yak.. gw lupa beneran!!) dan pasien nggak ada batuk, jadi ngapain pake masker segala. Dengan santainya pasien gw raba-raba (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi). Pasien juga berkeringat banyak. Setelah gw balik ke dokter jaga dan mau melaporkan pasien tersebut, dengan santainya dia ngomong, "Oh itu pasien yang suspek AI (avian influenza) kan?" Sialan nih dokter. Pantesan ditaruh di luar. Gw udah terlanjur megang pasien apa mau dikata, tinggal pasrah aja, sambil ngelumurin tangan gw dengan sebanyak-banyaknya alkohol. Setelah diperiksa segala macem, taunya pasien mungkin bukan AI (syukurlah!), tapi dia positif HIV (sialan!).
Pelajaran pertama: Selalu pakai APD tiap memeriksa pasien!
Pelajaran kedua: Selalu tanya riwayat kontak unggas tiap periksa pasien sesak!
Hari pertama stase sudah biasa diawali dengan undian jaga. Berhubung kelompok gw jumlahnya relatif sedikit (dan jaganya membutuhkan orang banyak, termasuk weekend siang malem), rata-rata pada dapet 6 kali jaga dalam 3 minggu. Jumlah ini termasuk banyak dalam perkalenderan anak-anak klinik. Berhubung juga ada yang harus dapet bonus, gw kebagian bonus plus untuk jaga 7 kali. Berhubung berhubung juga gw minggu ke-2 dapet stase di RS Sulianti Saroso di Sunter-nan-jauh-di-sana, which is nggak bisa jaga saat stase itu, jaga gw ketumpuk di akhir stase.
Pelajaran ketiga: Aturlah jadwal jaga anda dengan bijak!
Secara umum, jaga di RSP menyenangkan, asal (1) dapet jaga di bangsal, (2) dapet dokter yang enak juga sekaligus gaul sekaligus rajin, (3) nggak banyak pasien, (4) nggak dapet pas weekend, dan (5) nggak dapet pasien asma atau batuk darah atau penurunan kesadaran yang harus di-followup terus-terusan. Kamar jaga ko-ass di RSP adalah yang paling bagus di antara kamar jaga lain.
Pelajaran keempat: Berdoalah supaya beruntung sebelum jaga!
Minggu I dan minggu II udah gw jalanin dan gw mau masuk minggu III, dengan catatan: gw sudah menjalani 3 kali jaga. Itu berarti gw kurang 4 kali jaga lagi dalam seminggu!
Hal ini ditambah lagi dengan sabda dari koordinator S1 bahwa mahasiswa pulmo harus ikut seminar pulmo-respirasi di hari Sabtu-Minggu.
DItambah ditambah lagi dengan minggu III di RSP gw harus follow up 2 pasien dari riwayat, PF, diagnosis kerja, dan rencana kerja setiap hari. Plus ujian yang diadakan di minggu ini pula: logbook, mini-cex, dan tulis. Gw sendiri udah nggak kebayang apa yang terjadi minggu depan. Jadi total, dalam 9 hari, gw ada 5 hari kuliah (7 am-3 pm), 2 hari seminar, 4 kali jaga (3 pm-6 am), 2 ujian logbook, 2 ujian mini-cex, 1 ujian tulis, 2 pasien follow up. Berarti juga gw harus nginep rumah & rumah sakit selang-seling dalam seminggu ini.
Pelajaran kelima: Jaga kesehatan anda dan biasakanlah pola tidur anda jika ingin menjadi dokter!
MG 1 dulu gw tulis setelah gw jalanin semua rangkaian 1 minggu. Nah sekarang MG 2 gw tulis sebelum gw menjalaninya. Siapa tau nanti habis selesainya MG 2, gw bakal kecapekan, hibernasi, dan lupa mau nulis apa.
Bismillah...
"Good bye respirasi, semoga kita nggak ketemu minggu depan!!"
Ternyata nasib-oh-nasib, gw memang nggak ketemu respirasi di minggu depan setelah MG 1, tapi kayaknya itu jadi karma dan akhirnya gw harus ketemu lagi saat stase di bagian Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI (sekilas namanya keren, gw singkat aja jadi pulmo).
Stase di pulmo memang ada 2 sisi; sisi yang satu ko-ass bisa dapet kesempatan lebih buat mempraktekkan ilmunya di RS Persahabatan; di sisi lain jaga di stase ini kebanyakan! Memang RSP surga buat ko-ass yang rajin, sebaliknya neraka buat ko-ass yang magabut. Bisa dibayangkan, apabila RS Jantung Harapan Kita slogannya adalah "Patient First", kalo di RSP mungkin slogannya jadi "Co-Ass First". Mungkin juga di belakangnya ditambahin "Further complain is not accepted". Kebayang kan? Bahkan pasien baru yang masuk bangsal paru kelas ekonomi, terlebih dahulu harus difilter dulu oleh ko-ass sebelum diperiksa oleh dokter jaga.
Pernah suatu kasus, gw jaga malem di IGD RSP, ada pasien baru dengan keluhan utama sesak nafas, ditaruh di luar ruangan IGD. Pasti ko-ass disuruh periksa pertama dong, namanya juga RSP. Gw lah yang dapet kesempatan pertama periksa pasien, klinisnya sesak, nggak ada batuk, suhu juga subfebris. Kebetulan gw nggak pake masker dan sarung tangan saat itu, karena merasa gw udah kebal terhadap TB dan pneumonia (penyakit paling sering), nggak deng karena gw lupa (yak.. gw lupa beneran!!) dan pasien nggak ada batuk, jadi ngapain pake masker segala. Dengan santainya pasien gw raba-raba (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi). Pasien juga berkeringat banyak. Setelah gw balik ke dokter jaga dan mau melaporkan pasien tersebut, dengan santainya dia ngomong, "Oh itu pasien yang suspek AI (avian influenza) kan?" Sialan nih dokter. Pantesan ditaruh di luar. Gw udah terlanjur megang pasien apa mau dikata, tinggal pasrah aja, sambil ngelumurin tangan gw dengan sebanyak-banyaknya alkohol. Setelah diperiksa segala macem, taunya pasien mungkin bukan AI (syukurlah!), tapi dia positif HIV (sialan!).
Pelajaran pertama: Selalu pakai APD tiap memeriksa pasien!
Pelajaran kedua: Selalu tanya riwayat kontak unggas tiap periksa pasien sesak!
Hari pertama stase sudah biasa diawali dengan undian jaga. Berhubung kelompok gw jumlahnya relatif sedikit (dan jaganya membutuhkan orang banyak, termasuk weekend siang malem), rata-rata pada dapet 6 kali jaga dalam 3 minggu. Jumlah ini termasuk banyak dalam perkalenderan anak-anak klinik. Berhubung juga ada yang harus dapet bonus, gw kebagian bonus plus untuk jaga 7 kali. Berhubung berhubung juga gw minggu ke-2 dapet stase di RS Sulianti Saroso di Sunter-nan-jauh-di-sana, which is nggak bisa jaga saat stase itu, jaga gw ketumpuk di akhir stase.
Pelajaran ketiga: Aturlah jadwal jaga anda dengan bijak!
Secara umum, jaga di RSP menyenangkan, asal (1) dapet jaga di bangsal, (2) dapet dokter yang enak juga sekaligus gaul sekaligus rajin, (3) nggak banyak pasien, (4) nggak dapet pas weekend, dan (5) nggak dapet pasien asma atau batuk darah atau penurunan kesadaran yang harus di-followup terus-terusan. Kamar jaga ko-ass di RSP adalah yang paling bagus di antara kamar jaga lain.
Pelajaran keempat: Berdoalah supaya beruntung sebelum jaga!
Minggu I dan minggu II udah gw jalanin dan gw mau masuk minggu III, dengan catatan: gw sudah menjalani 3 kali jaga. Itu berarti gw kurang 4 kali jaga lagi dalam seminggu!
Hal ini ditambah lagi dengan sabda dari koordinator S1 bahwa mahasiswa pulmo harus ikut seminar pulmo-respirasi di hari Sabtu-Minggu.
DItambah ditambah lagi dengan minggu III di RSP gw harus follow up 2 pasien dari riwayat, PF, diagnosis kerja, dan rencana kerja setiap hari. Plus ujian yang diadakan di minggu ini pula: logbook, mini-cex, dan tulis. Gw sendiri udah nggak kebayang apa yang terjadi minggu depan. Jadi total, dalam 9 hari, gw ada 5 hari kuliah (7 am-3 pm), 2 hari seminar, 4 kali jaga (3 pm-6 am), 2 ujian logbook, 2 ujian mini-cex, 1 ujian tulis, 2 pasien follow up. Berarti juga gw harus nginep rumah & rumah sakit selang-seling dalam seminggu ini.
Pelajaran kelima: Jaga kesehatan anda dan biasakanlah pola tidur anda jika ingin menjadi dokter!
MG 1 dulu gw tulis setelah gw jalanin semua rangkaian 1 minggu. Nah sekarang MG 2 gw tulis sebelum gw menjalaninya. Siapa tau nanti habis selesainya MG 2, gw bakal kecapekan, hibernasi, dan lupa mau nulis apa.
Bismillah...
Sunday, January 24, 2010
Singkong dan Keju
Singkong adalah umbi-umbian yang katanya berasal dari Brazil, menyebar ke Indonesia (bisa dibilang juga makanan tradisional), teksturnya keras, kulitnya tebal, dan katanya juga sedikit beracun. Gw sendiri nggak tau cara makan singkong yang paling enak selain digoreng kering, makanya buat pilihan makanan pokok gw memilih singkong di urutan buncit di bawah sagu. Sementara keju adalah makanan turunan hewani, berasal dari Eropa (jelas bukan asli Indonesia), bertekstur lembut-keras, dan memiliki rasa yang unik, sehingga tidak heran banyak orang yang menyukainya. Sementara itu lagi, singkong keju adalah makanan asli entah mana (entah orang Indonesia yang kegirangan nemuin keju, atau orang Eropa yang bereksperimen dengan singkong) yang banyak dijual di pinggir jalan. Kadang diberi tetesan susu manis ataupun bumbu sehingga rasanya semakin enak. Gw cukup suka dengan jajanan satu ini.
Titik.
Whattt???
Kalo postingan ini cuma diakhiri di sini aja lama-lama gw bisa jadi komentator makanan ataupun celebrity chef yang akhir-akhir ini banyak menjamur di TV. Bukan singkong keju ini yang gw maksud, tapi cerita berikutlah yang wajib anda sekalian simak baik-baik!
Gw sekarang kuliah di (katanya sih) jurusan terpopuler di unversitas terpopuler juga di Indonesia. Gw kuliah di bidang ngurusin orang-orang sakit dan sekarang duduk di tingkat 4, yang berarti gw harus mulai membiasakan diri sama yang namanya rumah sakit (co-ass; co=bersama, ass=bokong; silakan artikan sendiri!). Periode co-ass adalah periode yang menentukan dan oleh karena itu, pemilihan kelompok dalam periode ini sangat krusial, di mana kelompok adalah tempat bekerja sama selama setahun ke depan. Sebenernya gw awalnya nggak terlalu suka sama pemilihan kelompok sekarang yang mencampurkan mahasiswa reguler dan internasional ke dalam satu kelompok. Gebleknya gw, pas saatnya awal pemilihan kelompok lewat Siak-New Generation yang katanya canggih itu, gw belum melunasin pembayaran kuliah yang berarti gw harus ngelunasin cepet-cepet supaya bisa daftar, dan berarti lagi gw kalah start sama temen-temen lainnya. Bukan tanpa alasan gw telat, gw sendiri waktu itu emang lagi disibukkan sama yang namanya Liga Medika. Temen-temen gw sesama panitia juga telat daftarnya tapi tetep aja gw yang paling telat. Menjelang akhir deadline, gw segera ke kampus Salemba, ngelunasin pembayaran, daftar ke TU, duduk, nyalain laptop, lihat kelompok di internet, dan hanya tersisa beberapa kursi kosong di beberapa kelompok yang kurang menguntungkan, dan harus minta persetujuan PA! Omg, gw langsung nelpon PA, minta persetujuan baru bisa masukin tuh kuliah. Akhirnya nggak lama kemudian gw lihat lagi di internet. Oh, cuma tersisa kursi kosong di satu kelompok: Emergency, yang itu berarti gw harus ikut kuliah bersama ana-anak kelas internasional. Gw kebayang tiap hari harus pake english, bikin tugas pake english, presentasi pake english, diskusi pake english, bahkan ijin ke toilet pun harus pake english. Inilah akibat kalo nggak memperhatikan deadline pendaftaran!
Stase pertama gw di Emergency aka IGD biasa aja, gw ketemu temen baru tentu dalam suasana internasional. Gw harus membiasakan ngomong english for daily purpose, kenalan temen-temen baru tentu dalam suasana english (cerita stase di klinik gw ceritain lain waktu aja). Ternyata, sekelompok sama kelas internasional itu ada enaknya juga! Hal yang paling enak adalah ketika membuat makalah presentasi kasus (preskas), di bab literature review, tinggal buka e-book yang diinginkan, atau NEJM, atau e-medicine, trus copy bahan yang dimaksud, paste, voila, jadilah satu bab. Hal yang paling nggak enak adalah ketika membuat bab case illustration dan discussion. Siapa yang tau kalo rhonki itu rales, atau pinggang jantung? Bikin bab ini rasanya harus meras otak. Apalagi bikin naskah psikiatri yang bagaikan nulis biografi pasien in english. Huh, gw kira masuk kelas campuran bikin gw expert in english, ternyata nggak ada kemajuan. Gw memang bodoh.
Gw ngelewatin hari-hari stase bareng anak internasional dengan enjoy. Gw semakin dekat dengan mereka. Well, memang kehidupan di Melbourne nggak bisa langsung lepas dari mereka, dan terbukti sulit untuk mengingat pelajaran preklinik ketika harus skip satu tahun di Australia. Dosen-dosen tampaknya ada juga yang baru tau kalo grup ini adalah grup campuran, gado-gado, jadi sebagian juga ngomong english seadanya, lalu minta diskusinya ke bahasa indonesia, entah karena kasihan mahasiswa regulernya atau nggak mampu ngikutin diskusi anak inter yang udah kayak native. Dan tampaknya pula, beberapa dosen dan residen sudah 'waspada' terhadap co-ass inter, entah kenapa. Dan gw merasa hal ini mulai terasa belakangan ini seperti contoh ini:
(Gw dan anak inter mau jaga, masuk ke ruangan)
Residen jaga: kamu co-ass yang jaga malam ini ya?
Gw dan temen: iya dok
Residen: hmmm, kamu keju, dan kamu singkong
Gw: (kaget)
Temen: sebenernya kita ini singkong rasa keju dok...
Yap, itu dia singkong = co-ass reguler dan keju = co-ass inter. Entah dari kapan istilah itu muncul tapi berarti itu bikin diskriminasi di antara anak reguler dan anak inter. Tapi kelompok gw toh tak ambil pusing.
Memang anak reguler rata-rata males buat gabung sama anak inter. Boleh dibilang alasannya suasana akademik di kelas reguler dan internasional berbeda. Gw sendiri pikir kelompok singkong keju malah bikin simbiosis mutualismenya sendiri. Gw dan temen-temen gw yang reguler ngajarin cara pendekatan terhadap dosen, pasien, ngajarin ilmu preklinik lagi, sementara mereka ngajarin kebiasaan bertanya dan open-minded. Karena gw ngerasain banget anak inter itu suka banget nanya ke dosen, bahkan dengan pertanyaan yg gw anggep nggak perlu ditanya lagi. Anak inter memang gw akuin berprinsip tidak ada pertanyaan yang bodoh. Tapi sekali lagi, kita di sini masih belajar dan tujuan kita satu: jadi dokter. Jadi nggak ada salahnya kan saling berbagi nilai positif. Lagian gw enjoy di kelompok klinik gw sekarang.
Titik.
Whattt???
Kalo postingan ini cuma diakhiri di sini aja lama-lama gw bisa jadi komentator makanan ataupun celebrity chef yang akhir-akhir ini banyak menjamur di TV. Bukan singkong keju ini yang gw maksud, tapi cerita berikutlah yang wajib anda sekalian simak baik-baik!
Gw sekarang kuliah di (katanya sih) jurusan terpopuler di unversitas terpopuler juga di Indonesia. Gw kuliah di bidang ngurusin orang-orang sakit dan sekarang duduk di tingkat 4, yang berarti gw harus mulai membiasakan diri sama yang namanya rumah sakit (co-ass; co=bersama, ass=bokong; silakan artikan sendiri!). Periode co-ass adalah periode yang menentukan dan oleh karena itu, pemilihan kelompok dalam periode ini sangat krusial, di mana kelompok adalah tempat bekerja sama selama setahun ke depan. Sebenernya gw awalnya nggak terlalu suka sama pemilihan kelompok sekarang yang mencampurkan mahasiswa reguler dan internasional ke dalam satu kelompok. Gebleknya gw, pas saatnya awal pemilihan kelompok lewat Siak-New Generation yang katanya canggih itu, gw belum melunasin pembayaran kuliah yang berarti gw harus ngelunasin cepet-cepet supaya bisa daftar, dan berarti lagi gw kalah start sama temen-temen lainnya. Bukan tanpa alasan gw telat, gw sendiri waktu itu emang lagi disibukkan sama yang namanya Liga Medika. Temen-temen gw sesama panitia juga telat daftarnya tapi tetep aja gw yang paling telat. Menjelang akhir deadline, gw segera ke kampus Salemba, ngelunasin pembayaran, daftar ke TU, duduk, nyalain laptop, lihat kelompok di internet, dan hanya tersisa beberapa kursi kosong di beberapa kelompok yang kurang menguntungkan, dan harus minta persetujuan PA! Omg, gw langsung nelpon PA, minta persetujuan baru bisa masukin tuh kuliah. Akhirnya nggak lama kemudian gw lihat lagi di internet. Oh, cuma tersisa kursi kosong di satu kelompok: Emergency, yang itu berarti gw harus ikut kuliah bersama ana-anak kelas internasional. Gw kebayang tiap hari harus pake english, bikin tugas pake english, presentasi pake english, diskusi pake english, bahkan ijin ke toilet pun harus pake english. Inilah akibat kalo nggak memperhatikan deadline pendaftaran!
Stase pertama gw di Emergency aka IGD biasa aja, gw ketemu temen baru tentu dalam suasana internasional. Gw harus membiasakan ngomong english for daily purpose, kenalan temen-temen baru tentu dalam suasana english (cerita stase di klinik gw ceritain lain waktu aja). Ternyata, sekelompok sama kelas internasional itu ada enaknya juga! Hal yang paling enak adalah ketika membuat makalah presentasi kasus (preskas), di bab literature review, tinggal buka e-book yang diinginkan, atau NEJM, atau e-medicine, trus copy bahan yang dimaksud, paste, voila, jadilah satu bab. Hal yang paling nggak enak adalah ketika membuat bab case illustration dan discussion. Siapa yang tau kalo rhonki itu rales, atau pinggang jantung? Bikin bab ini rasanya harus meras otak. Apalagi bikin naskah psikiatri yang bagaikan nulis biografi pasien in english. Huh, gw kira masuk kelas campuran bikin gw expert in english, ternyata nggak ada kemajuan. Gw memang bodoh.
Gw ngelewatin hari-hari stase bareng anak internasional dengan enjoy. Gw semakin dekat dengan mereka. Well, memang kehidupan di Melbourne nggak bisa langsung lepas dari mereka, dan terbukti sulit untuk mengingat pelajaran preklinik ketika harus skip satu tahun di Australia. Dosen-dosen tampaknya ada juga yang baru tau kalo grup ini adalah grup campuran, gado-gado, jadi sebagian juga ngomong english seadanya, lalu minta diskusinya ke bahasa indonesia, entah karena kasihan mahasiswa regulernya atau nggak mampu ngikutin diskusi anak inter yang udah kayak native. Dan tampaknya pula, beberapa dosen dan residen sudah 'waspada' terhadap co-ass inter, entah kenapa. Dan gw merasa hal ini mulai terasa belakangan ini seperti contoh ini:
(Gw dan anak inter mau jaga, masuk ke ruangan)
Residen jaga: kamu co-ass yang jaga malam ini ya?
Gw dan temen: iya dok
Residen: hmmm, kamu keju, dan kamu singkong
Gw: (kaget)
Temen: sebenernya kita ini singkong rasa keju dok...
Yap, itu dia singkong = co-ass reguler dan keju = co-ass inter. Entah dari kapan istilah itu muncul tapi berarti itu bikin diskriminasi di antara anak reguler dan anak inter. Tapi kelompok gw toh tak ambil pusing.
Memang anak reguler rata-rata males buat gabung sama anak inter. Boleh dibilang alasannya suasana akademik di kelas reguler dan internasional berbeda. Gw sendiri pikir kelompok singkong keju malah bikin simbiosis mutualismenya sendiri. Gw dan temen-temen gw yang reguler ngajarin cara pendekatan terhadap dosen, pasien, ngajarin ilmu preklinik lagi, sementara mereka ngajarin kebiasaan bertanya dan open-minded. Karena gw ngerasain banget anak inter itu suka banget nanya ke dosen, bahkan dengan pertanyaan yg gw anggep nggak perlu ditanya lagi. Anak inter memang gw akuin berprinsip tidak ada pertanyaan yang bodoh. Tapi sekali lagi, kita di sini masih belajar dan tujuan kita satu: jadi dokter. Jadi nggak ada salahnya kan saling berbagi nilai positif. Lagian gw enjoy di kelompok klinik gw sekarang.
Sunday, January 10, 2010
FKUI Basketball Team
Untuk postingan pertama gw mau cerita salah satu pengalaman gw yang berkesan di kampus FKUI: main basket.
Boleh dibilang olahraga itu hobi utama gw, salah satunya main basket. Gw sendiri kenal sama basket dimulai waktu SMP gw ikut ekskul basket (di SD gw lebih suka main bola), terus berlanjut ke SMA. Di SMA udah puas ikut kejuaraan-kejuaraan antar-SMA, dan waktu mau lulus gw commit untuk nggak ngelanjutin lagi di kuliah. Alasannya simpel: mau belajar serius demi masa depan yang gemilang (hahaha). Tapi pandangan ini berubah waktu gw masuk EBM dan ketemu temen-temen seangkatan gw yang hobi basket juga, yang jumlahnya juga lumayan banyak. Kita janjian untuk ikut latihan pertama di kampus.
Tim basket angkatan gw ( FKUI 2006) boleh dibilang udah lumayan jago untuk ukuran mahasiswa baru. Di kejuaraan Dekan Cup pertama, kita udah dapet juara IV (itu pun karena dipaksa kalah WO). Jumlah orangnya cukup untuk bikin 1 tim, malah berlebih. Anak-anaknya pun kompak buat latihan bareng. Ikut MPK OR basket juga bareng. Latihan juga rutin dateng, walaupun lapangan masih aspal kasar & lampu masih redup. Setelah kuliah di FKUI, gw baru sadar kalo belajar itu juga harus diimbangi oleh seneng-seneng juga, salah satunya ya basket ini.
Di tahun-tahun pertama gw, angkatan gw harus lebih ngalah sama angkatan atas, yang mendominasi tiap latihan maupun pertandingan. Begitu angkatan atasnya lulus, kontan tim basket FKUI juga limbung. Waktu itu, tiap turnamen rasanya jadi underdog. Susah banget buat lolos penyisihan. Pelatih pun ikut mundur waktu gw tingkat 2.
Masuk ke tingkat 3, dengan duit kas yang pas-pasan, direkrutlah pelatih baru. Turnamen pertama (Liga Medika 2008) memang diakhiri dengan kekecewaan, tapi sejak saat itu, kami mulai membangun tim dari dasar lagi. Pola individual diganti dengan pola kerjasama tim. Lapangan juga dibikin selayaknya lapangan olahraga & diterangi oleh lampu sorot yang memadai. Dan hasilnya nggak sia-sia. Sejak saat itu kami hampir menjuarai tiap turnamen yang diikuti: juara I Olimpiade UI, juara III Dentistry Cup (2008), juara II UMJ Cup, juara II Liga Medika, juara I Dentistry Cup, juara IV Olimpiade UI (2009), dan yang terbaru juara I Atma Cordis Cup (2010). Kas basket yang tadinya kempis, mendadak jadi terlampau tebal (terima kasih juga buat PPKM FKUI).
Well, di samping semua itu, gw tetep mahasiswa. Prioritas gw tetep belajar dan gw menjadikan basket ini hanya sebagai hobi (di samping hobi-hobi yang lain tentunya). Dan tentu gw pasti udah nggak main lagi kalo atmosfer di tim basket FKUI nggak nyaman. Many thanks to Gunawan (2000), Harman, Habibi, Wishnu (2001), Kemal, Aryo (2002), Reza (2003), Matthew, Yoshi, Ari, Achi (2005), Deryl, Diko, Aliev, Anton, Mogi (2006), Faisal, Elyas, Yoko (2007), Teja (2008), Erwin, Dimas (2009), Aryo (D3) yang udah bikin gw enjoy main basket di kampus. I'm proud being part of this team. Mudah-mudahan prestasi kita nggak sampai di sini, dan bisa jadi kenangan berharga buat masa depan.
Sunday night - after gaining Atma Cordis Cup
Boleh dibilang olahraga itu hobi utama gw, salah satunya main basket. Gw sendiri kenal sama basket dimulai waktu SMP gw ikut ekskul basket (di SD gw lebih suka main bola), terus berlanjut ke SMA. Di SMA udah puas ikut kejuaraan-kejuaraan antar-SMA, dan waktu mau lulus gw commit untuk nggak ngelanjutin lagi di kuliah. Alasannya simpel: mau belajar serius demi masa depan yang gemilang (hahaha). Tapi pandangan ini berubah waktu gw masuk EBM dan ketemu temen-temen seangkatan gw yang hobi basket juga, yang jumlahnya juga lumayan banyak. Kita janjian untuk ikut latihan pertama di kampus.
Tim basket angkatan gw ( FKUI 2006) boleh dibilang udah lumayan jago untuk ukuran mahasiswa baru. Di kejuaraan Dekan Cup pertama, kita udah dapet juara IV (itu pun karena dipaksa kalah WO). Jumlah orangnya cukup untuk bikin 1 tim, malah berlebih. Anak-anaknya pun kompak buat latihan bareng. Ikut MPK OR basket juga bareng. Latihan juga rutin dateng, walaupun lapangan masih aspal kasar & lampu masih redup. Setelah kuliah di FKUI, gw baru sadar kalo belajar itu juga harus diimbangi oleh seneng-seneng juga, salah satunya ya basket ini.
Di tahun-tahun pertama gw, angkatan gw harus lebih ngalah sama angkatan atas, yang mendominasi tiap latihan maupun pertandingan. Begitu angkatan atasnya lulus, kontan tim basket FKUI juga limbung. Waktu itu, tiap turnamen rasanya jadi underdog. Susah banget buat lolos penyisihan. Pelatih pun ikut mundur waktu gw tingkat 2.
Masuk ke tingkat 3, dengan duit kas yang pas-pasan, direkrutlah pelatih baru. Turnamen pertama (Liga Medika 2008) memang diakhiri dengan kekecewaan, tapi sejak saat itu, kami mulai membangun tim dari dasar lagi. Pola individual diganti dengan pola kerjasama tim. Lapangan juga dibikin selayaknya lapangan olahraga & diterangi oleh lampu sorot yang memadai. Dan hasilnya nggak sia-sia. Sejak saat itu kami hampir menjuarai tiap turnamen yang diikuti: juara I Olimpiade UI, juara III Dentistry Cup (2008), juara II UMJ Cup, juara II Liga Medika, juara I Dentistry Cup, juara IV Olimpiade UI (2009), dan yang terbaru juara I Atma Cordis Cup (2010). Kas basket yang tadinya kempis, mendadak jadi terlampau tebal (terima kasih juga buat PPKM FKUI).
Well, di samping semua itu, gw tetep mahasiswa. Prioritas gw tetep belajar dan gw menjadikan basket ini hanya sebagai hobi (di samping hobi-hobi yang lain tentunya). Dan tentu gw pasti udah nggak main lagi kalo atmosfer di tim basket FKUI nggak nyaman. Many thanks to Gunawan (2000), Harman, Habibi, Wishnu (2001), Kemal, Aryo (2002), Reza (2003), Matthew, Yoshi, Ari, Achi (2005), Deryl, Diko, Aliev, Anton, Mogi (2006), Faisal, Elyas, Yoko (2007), Teja (2008), Erwin, Dimas (2009), Aryo (D3) yang udah bikin gw enjoy main basket di kampus. I'm proud being part of this team. Mudah-mudahan prestasi kita nggak sampai di sini, dan bisa jadi kenangan berharga buat masa depan.
Sunday night - after gaining Atma Cordis Cup
Subscribe to:
Posts (Atom)