Saturday, January 28, 2012

Perjalanan Singkat ke Sawarna

Pekerjaan sebagai dokter itu kadang penuh tantangan, kadang juga membosankan. Penuh tantangan gw rasa semua dokter juga merasakan kalo pekerjaannya itu menyerempet maut orang lain dan rawan dituntut. Sementara membosankan itu sebaliknya, mungkin cuma sedikit dokter termasuk gw yang udah merasa bosan sama rutinitas di rumah sakit, macet di jalan, padahal baru 2 bulan gw menjalani pekerjaan baru gw di RSUD Kabupaten Bekasi. Dokter juga manusia, butuh libur, cuti, dan refreshing untuk sekedar nge-charge mental.

Maka oleh karena daripada itu, di pertengahan Januari ini gw sangat beruntung dapat jadwal kosong yang lumayan banyak hasil transaksi tuker jadwal jaga sama teman. Dan gw nggak akan menyia-nyiakannya untuk liburan yang pendek tapi padat. Pilihan jatuh ke Jawa Barat bagian selatan, gw belum pernah ke sana kecuali ke Pangandaran yang ceritanya udah pernah gw tulis di blog ini. Basecamp untuk perjalanan kali ini gw tetapkan di kota kecil Palabuhanratu, karena ada teman-teman gw yang internship juga di sana. Pilihan destinasi ada 2: Ujung Genteng dan Sawarna. Keduanya nggak mungkin dijalani bareng kecuali perjalanan mau dilakukan seminggu lebih. Setelah searching, akhirnya pilihan jatuh ke Sawarna. Semula gw mau jalan sendiri, ngerasain backpacking sendiri, nggak disangka teman gw Fatia ikut juga gara-gara diajak sama cowoknya Fadhil yang emang kebetulan di Palabuhanratu. Jadilah Fatia gw paksa ikut naik kendaraan umum dari Jakarta ke Palabuhanratu.

Perjalanan dimulai di stasiun Cawang. Berbekal tiket commuter line seharga Rp 7 ribu, perjalanan Jakarta-Bogor cuma ditempuh 40 menit. Dari stasiun Bogor naik angkot 03 jurusan Bubulak-Baranangsiang untuk selanjutnya naik bus MGI jurusan Bogor-Palabuhanratu di terminal Baranangsiang seharga Rp 25 ribu. Berhubung waktu udah makin sore, jadilah kami berdua nggak sempet makan siang di Bogor. Bus MGI ini full AC dan full music, tapi tarikannya lambat banget dan nggak bisa ngebut. Alhasil perjalanan Bogor-Palabuhanratu ditempuh dalam waktu 4 jam. Untung gw sempet tidur gara-gara efek jaga malam sebelum berangkat. Sampai di Palabuhanratu, ngasih surprise  buat teman gw Diko yang lagi ultah, kami semua makan dan langsung tidur.

Keesokan harinya gw diajak trip  di RSUD Palabuhanratu sama Fadhil. RS-nya lebih luas daripada RS gw, jumlah spesialis lebih sedikit, suasananya lebih tenang, dan udaranya masih seger. Setelah makan pagi di RS, kami bertiga berangkat naik sedannya Fadhil. Gw menyetir. Di tengah jalan menjelang Bayah, gw melintasi rombongan anak SD di kiri gw yang lagi pulang sekolah, tiba-tiba ada 1 anak yang nyebrang sambil lari tiba-tiba di depan mobil. Sempat ngerem, gw pun menabrak anak ini dan dia kelempar sekitar 5 meter. Habis jatuh, si Asep ini langsung lari ke rumahnya, gw teriak manggil dia dan nyamperin tapi dia tetep kabur sambil nangis. Dibantu warga gw berhasil ke rumahnya anak itu. Setelah ngenalin kalo gw dokter (inilah salah satu enaknya dokter) dan periksa-periksa dikit untuk menyingkirkan fraktur, gw menyarankan kalo Asep dibawa ke puskesmas untuk dibersihin lukanya. Gw cuma bawa obat asam mefenamat dan loratadine, Fatia bawa stetoskop, nggak ada yang bawa amoxicillin atau bahkan kasa dan betadine. Gw bawalah anak itu ke Puskesmas Bayah untuk diobatin dengan gratis (mungkin karena gw ngenalin ke sana sebagai dokter), dan dengan delay 1 jam, kami langsung cabut ke Sawarna.

Perjalanan ke Sawarna diawali naik bukit dulu dengan jalanan yang rusak terus langsung turun ke Sawarna. Jarak dari jalan raya mungkin sekitar 10 km. Pintu gerbang Sawarna langsung dapat dikenali dari adanya jembatan gantung di atas sungai. Setelah parkir, gw langsung masuk untuk survey sekaligus cari penginapan. Hari itu bukan hari libur jadi desa Sawarna sepi banget, yang ada cuma penduduk asli. Gw sendiri begitu masuk sempat kecewa ternyata desa Sawarna sekilas seperti desa-desa lainnya di Jawa. Lebih dekat ke pantai, baru mulai banyak homestay yang masih kosong karena bukan hari libur. Setelah pilih-pilih akhirnya gw memilih homestay Javabeach yang satu-satunya punya lantai 2 dan ada beranda yang langsung hadap ke sawah. Penginapan di Sawarna sistemnya bukan bayar per kamar, tapi bayar per orang dengan layanan makan 3 kali sehari.

Kekecewaan itu terobati keesokan harinya. Berbekal browsing di internet saat di Jakarta, gw memutuskan untuk berkeliling sambil nyewa guide  bernama Bimbim dengan biaya Rp 100 ribu, lebih baik bayar agak mahal daripada tersesat di Sawarna. Perjalanan pertama ke gua Lalay, sebutan kelelawar dalam bahasa Sunda, ditempuh dengan menyusuri jalan utama di depan jembatan Sawarna ke arah timur. Setelah melewati tiang telekomunikasi, belok ke jalan kecil di kanan jalan dan menyusuri pematang sawah, jalan di pinggir kali, menyeberang jembatan gantung, menyusuri pematang sawah lagi, baru sampai di pintu masuk gua yang ada di sungai kecil. Peralatan wajib yang kudu dibawa: senter, karena masuk ke dalam gua bisa dalam banget sampai 200 meter secara horizontal melewati sungai kecil dan lumpur. Makin ke dalam, bau kotoran kelelawar makin menyengat. Sebenarnya bisa juga masuk ke lebih dalam lagi asal perlengkapan caving yang dibawa lengkap. Setelah 30 menit menyusuri gua baru kami keluar dan menuju tujuan selanjutnya yaitu pantai Lagoan Pari.

Jalan dari gua Lalay ke pantai Lagoan Pari cukup jauh, mungkin sekitar 4-5 km. Dari gua Lalay harus jalan lewat pematang sawah lagi, menyeberangi sungai yang dangkal, kemudian naik bukit mengikuti aliran air, menyusuri pematang sawah lagi, terus turun bukit dan melewati kebun kelapa. Kecapekan, kepanasan, dan sakit di kaki, bukan karena betis yang sakit tapi karena sandal berlumpur terobati begitu sampai di pantai Lagoan Pari. Saat kami datang, hanya kami bertiga pengunjung pantai tersebut, sehingga seperti pantai pribadi. Pasirnya landai dan ombaknya relatif lebih tenang nggak seperti pantai selatan lainnya membuat gw ikut nyemplung di pantai. Apalagi ditambah kelapa muda yang baru dipetik. Di sisi timur Lagoan Pari ada deretan karang yang membatasi Lagoan Pari dengan samudera yang disebut Karang Taraje, salah satu titik sunrise. Setelah puas bermain pantai, akhirnya gw harus jalan ke pantai Tanjung Layar yang harus ditempuh melalui pinggir pantai dan kebun kelapa sejauh 2 km. Perjalanan ini juga menantang karena kadang harus melewati karang di pantai, dan lebih susah kalo laut sedang pasang. Sesampainya di pantai Tanjung Layar, yang ditandai sama 2 batu besar di tengah laut dan dibatasi sama jejeran karang di belakangnya, gw istirahat lagi untuk menikmati pantai Sawarna. Lagi-lagi kami satu-satunya pengunjung di sana. Setalah makan siang sebentar, kami pun balik ke pantai Ciantir sejauh 2 km menyusuri pantai melewati surfing spot  yang disebut Sawarna Point. Pantai Ciantir merupakan pantai terdekat ke desa Sawarna, jaraknya kira-kira 500 meter dari penginapan kami. Sunset dapat dinikmati di pantai Ciantir ini. Malam hari karena nggak ada TV sama sekali kami habiskan dengan bermain badminton dan menikmati angin malam di penginapan.

Keesokan paginya kami jalan ke muara sungai Sawarna yang bentuknya berkelok. Pemandangannya cukup bagus walaupun saat itu cuaca mendung. Kami pun pulang cepat dari Sawarna agar bisa makan siang di Palabuhanratu. 1,5 jam lamanya perjalanan Sawarna-Palabuhanratu, tentu tanpa insiden menabrak anak kecil lagi. Di Palabuhanratu ada warung makan enak yang menghidangkan ikan jangilus (marlin) bakar seukuran steak, warung Geksor, terletak di dalam terminal Palabuhanratu. Dengan harga yang relatif murah, gw dapat makan dengan kenyang dan enak. Fadhil dan Fatia pulang duluan ke Jakarta karena harus mengejar jadwal jaganya Fatia di malamnya, sementara gw karena masih capek dan males pulang menunggu keesokan harinya. Esoknya gw pulang bareng teman gw Darrell yang dengan baik hati mengantar gw ke Ciawi. Dari situ gw jalan sendiri ke Bogor untuk keliling sekaligus wisata kuliner sendiri, dan pulang sendiri dengan commuter line.

Perjalanan ini berhasil menghitamkan seluruh kulit gw, kecuali di bagian baju, celana, jam tangan, sama tali sandal, mencoba destinasi baru, dan menghilangkan kebosanan gw untuk sementara.

Si Asep
Lagoan Pari
Tanjung Layar
Sunset di Ciantir
Penginapan Javabeach
Jembatan gantung Sawarna

Monday, January 23, 2012

It's Been A Long Time Since...

Pertama, maafkan gw sudah nggak nulis di blog ini selama hampir 7 bulan. Padahal sebelumnya gw selalu nyempetin waktu minimal sekali sebulan untuk menulis blog.

Oke... Kali ini gw menuliskan ke mana gw menghilang selama habis kuliah selesai sampai sekarang. Bagi yang nggak berminat baca, silakan tinggalkan halaman ini.

Hal yang pertama gw lakukan setelah bebas dari perkuliahan kedokteran yang lama dan mumet itu adalah liburan ke luar Jakarta! Mungkin berbeda sama FK-FK lain yang banyak stase di luar Jakarta sehingga bisa mendinginkan hati di luar sana, tapi sekolah terus di Jakarta seperti di FKUI bisa bikin panas hati. Karena itu langkah pertama setelah bebas kuliah adalah segera menjalankan rencana liburan yang telah direncanakan sejak hampir setahun sebelumnya. Pilihan ini jatuh ke ke destinasi paling oke di Indonesia: Bali & Lombok. Berbekal tiket AirAsia yang dibeli supermurah dan dengan tanggal berangkat yang beda-beda karena beli online cepet-cepetan, gw berangkat ke Bali sebagai orang terakhir setelah sehari sebelumnya landing bersama keluarga dari Singapura. Rata-rata objek wisata yang gw kunjungi saat itu udah pernah gw kunjungi sebelumnya, seperti sunset di pantai Suluban, pantai Kuta, Ubud, Bedugul, dan Jimbaran, tapi hal itu nggak mengurangi keelokan Bali. Hal yang baru gw kunjungi untuk pertama kali hanyalah monkey forest Ubud dan sawah bertingkat di Tegalalang. Dan juga ada pengalaman menarik pas debat sama bule gara-gara tabrakan saat surfing di Kuta. Tapi tentu liburan ke Bali bersama teman-teman beda sama liburan sama keluarga, tentu bujet terbatas tapi lebih bebas.


Di tengah liburan ini rombongan nyebrang ke pulau Lombok. Terakhir kali gw mengunjungi Lombok adalah tahun sekitar tahun 2001, jadi pasti ada sesuatu yang beda di liburan ini. Tujuan pertama kami adalah sebuah pulau di selatan Lombok bernama Gili Nanggu. Pulau ini berukuran kecil, cuma ada 1 hotel di sana tapi hal ini yang menjadikan Gili Nanggu nggak seperti wisata pantai kebanyakan: nggak terorganisasi dengan baik dan kumuh. Pantai di Gili Nanggu udah seperti private beach, begitu bangun pagi, villa yang langsung menghadap ke laut diterpa angin pantai. Bujet memang terkuras di sini karena monopoli hotel, tapi nggak rugi karena snorkeling di pantai sini memang menakjubkan, terutama ikan-ikannya. Setelah 1 malam di Gili Nanggu kami pindah ke Gili Trawangan di barat laut Lombok, sambil mampir ke daerah Taliwang untuk menyicipi ayam taliwang yang terkenal enak dan pedas. Wow! Gili Trawangan udah berbeda 180 derajat sejak gw mengunjungi pulau ini dulu. Pinggiran pantai udah dipenuhi kafe-kafe internasional, bule-bule udah membludak, dan di pulau ini udah ada ATM! Tujuan utama ke Gili Trawangan adalah untuk scuba diving, jadi gw pertama kali ber-diving ria di pulau yang terkenal akan penyunya ini. Ternyata akibat kurang fit saat diving dan makan siang tepat sebelumnya, gw muntah saat diving, total 5 kali gw muntah di dalam laut.

Seminggu setelah liburan ini, gw ikutan Liga Medika 2011 sebagai kontingen basket yang berakhir jadi runner-up lagi-lagi setelah takluk sama FK Udayana. Ada jeda liburan sebulan, tepat saat bulan puasa, sebelum pergi lagi untuk mudik ke kampung halaman. Jeda liburan sebulan inilah yang sangat membosankan sekali, kadang ada keinginan untuk pingin kuliah lagi, padahal baru bebas dari perkuliahan. Untung ada mudik ke Malang & Tuban yang mengakhiri fase membosankan itu.

Selesai mudik, waktu gw terkuras untuk persiapan sumpah dokter PLD FKUI 2011. Gw kebetulan bertugas sebagai ketua seksi publikasi dan perizinan, sehingga rata-rata tugas gw udah selesai sebelumnya. Tapi persiapan PLD yang super banyak dan SDM efektif yang sedikit membuat persiapannya juga makan waktu. Beberapa kali gw terpaksa nginep kampus saat seminggu sebelum PLD. Dan akhirnya 24 September 2011 gw disumpah jadi dokter. Gw berhak untuk mencantumkan titel dr. di depan nama gw.

Sebenarnya ada rencana liburan (lagi) yang direncanakan oleh gw dan teman-teman, yaitu kunjungan ke pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur. Tiket pun sudah dibeli Jakarta-Denpasar, dilanjutkan dengan rencana perjalanan darat Denpasar-Labuan Bajo. Namun sayang, karena sebelumnya gw udah menyanggupi sebagai pembantu penelitian residen IPD di KDK Kiara dan Puskesmas Pulogadung selama 2 bulan, gw terpaksa membatalkan liburan ini sementara teman-teman gw tetap melanjutkan liburannya. Tentu kesempatan liburan ke Komodo tidak datang setiap saat dan perlu niat yang besar, mungkin suatu saat gw bisa pergi ke pulau Komodo sekalian ke Ende.

Dan kemudian, tiba saatnya gw masuk ke program internship. Sebelumnya, isu yang beredar angkatan gw bakal ditempatin di Lampung, kemudian berkembang isu di Kalimantan Barat. Gw sendiri waktu itu udah nggak masalah bakal ditempatin di mana aja, bahkan udah siap-siap untuk pergi jauh dari Jakarta. Tapi ternyata, menjelang pengumuman ternyata tempat internship diumumkan di Jawa Barat, dan gw sendiri dapat di RSUD Kabupaten Bekasi, suatu tempat yang berjarak 30 km dari rumah gw, 30 menit berkendara mobil bila lancar. Dan rutinitas gw kembali seperti semula: jaga IGD.

Monday, September 26, 2011

Goodbye, Young Doctor!

Sabtu, 24 September 2011 kemarin, menjadi hari yang paling menggembirakan sekaligus menyedihkan bagi FKUI angkatan 2006. Betapa tidak, di hari yang menjadi titik tumpu bagi kami semua untuk meneruskan masa depan, teman kami, dr. Steven Wijata, justru meninggalkan dunia yang fana ini.

Memang gw nggak sedekat seperti teman-teman lainnya ke W (begitu Steven biasa dipanggil). Tapi gw berkesan banget selama dia menjadi wakil ketua rombongan gw semasa stase klinik di bagian Ilmu Kesehatan Anak. Kepeduliannya, tanggung jawabnya, kepintarannya selalu menjadi panutan bagi teman-teman sekelas. Gw masih ingat bagaimana status pasien W menjadi status pasien paling holistik, komprehensif, dan panjang selama kepaniteraan di modul Ilmu Kedokteran Komunitas (IKK). Bagaimana dia selalu duduk paling depan, membaca bahan kuliah terlebih dahulu, menyiapkan laptop, mencatat materi kuliah dosen, serta siap dengan pertanyaan kritisnya. Bagaimana dia selalu konsisten dengan snelli lengan panjangnya bahkan ketika modul klinik sudah berakhir, tanda bahwa dia adalah murid yang menghormati gurunya. Bagaimana dia membuat dirinya menjadi drummer  nomer 1 di kampus FKUI. Bagaimana dia secara konsisten mencoba meraih ilmu sebanyak-banyaknya hingga mengikuti konferensi kedokteran di luar negeri. Bagaimana dia selalu bersedia membantu teman-temannya

Hal-hal di atas menjadi bukti bahwa hampir sangat tidak mungkin W melakukan bunuh diri, sesuatu yang banyak diberitakan dan dibicarakan orang lain di luar sana yang hanya bisa gw panggil sebagai penggosip murahan.

Kepergiannya adalah kerugian besar bagi FKUI 2006, Indonesia, bahkan dunia kedokteran yang telah kehilangan calon dokter yang hebat.

Selamat jalan W... Kenangan itu tidak akan pernah terhapus dari kami.

Sunday, June 26, 2011

Pelajaran Terakhir

Hampir mengakhiri masa pendidikan kedokteran, gw kembali stase di Puskesmas. Kali ini di Puskesmas Pisangan Timur 2, suatu tempat yang belum pernah gw datangin sebelumnya. Datang ke sana, ternyata banyak orang jualan pisang, nggak heran kalo dinamain Pisangan. Masuk ke daerah sana harus lewat jalan-jalan tikus yang saingan sama angkot-angkot warna biru yang sering ngetem. Puskesmas gw terletak di pojokan jalan, deket sama kantor lurah dan, ini dia ciri khasnya puskesmas di Jakarta, deket sama SD. Alhasil, kalo menjelang jam pulang anak sekolah pedagang-pedagang jajanan SD ngumpul di depan puskesmas.

Akhir-akhir ini gw semakin jarang nulis blog di sini karena ke-nggak-sempet-an gw gara-gara kerjaan yang nggak kelar-kelar. Minggu kemarin gw baru bikin seminar kedokteran yang lumayan gede di hotel bintang lima, yang menguras waktu gw 3 minggu terakhir. Gw juga punya banyak tugas di modul yang sekarang, berkutat sama yang namanya deadline. Gw cuma bisa menunggu libur.

Salah satu program yang gw salut dari puskesmas adalah program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilakukan tiap hari Jumat. Dokter atau perawat puskesmas rutin mengunjungi RW-RW untuk mengawasi PSN ini, ditemenin sama kader-kader dari tiap RT, suatu hal yang nggak pernah gw rasakan di lingkungan gw. Sekalian berbarengan sama kegiatan ini, gw sama salah satu perawat kunjungan rumah ke pasien bayi gizi buruk yang kemarinnya datang ke puskesmas.

Sungguh memprihatinkan melihat keadaan keluarganya. Keluarganya menyewa 1 kamar kontrakan kecil di mana di 1 tempat tersebut terdapat 26 kamar. Ayahnya bekerja nggak tentu, ibunya sibuk mengurus 3 anak lainnya. Pasien tersebut menderita TB dengan gizi buruk. Umur 9 bulan, berat badan masih 6,7 kg. Dokter sebelumnya sudah membujuk ibu tersebut untuk dirujuk ke rumah sakit, gw pun juga, tapi ibu tersebut menolak. Yang bikin miris adalah alasannya, sang ibu nggak mau mengobati anaknya ke rumah sakit karena nggak ada ongkos untuk bolak-balik ke rumah sakit dan sibuk mengurusi anak-anak lainnya juga. Padahal kartu Gakin udah dipunyai. Ngobatin pasien seperti itu di RSCM aja udah susah, apalagi ngobatin sendiri di rumah. Gw nggak habis pikir masih ada keadaan yang seperti itu di Jakarta.

Banyak banget perbedaan antara pengobatan di perifer sama pengobatan di rumah sakit seperti RSCM. Kalo di rumah sakit gw nggak terlalu memperhatikan keadaan sosioekonomi pasien, di perifer kebalikannya. Bukan pengalaman medis yang dikejar di stase puskesmas ini, tapi pengalaman terjun langsung ke pasien lah yang paling penting.

Friday, May 27, 2011

Sports Medicine





Akhir-akhir ini gw menjalani modul tambahan elektif setelah menyelesaikan seluruh kegiatan perkoassan di kampus gw. Bagaikan jatuh ke jurang, mungkin itu yang  menggambarkan perubahan kesibukan gw selama masa transisi ini. Dari IPD yang pontang-panting sibuk, masuk ke dalam modul Sports and Exercise as an Active Lifestyle (SEAL) di departemen Ilmu Kedokteran Olahraga (IKO) yang luar biasa berbeda. Tapi yang namanya mahasiswa FKUI tentu nggak sesantai itu. Karena gw harus mengadakan 2 seminar kedokteran yang waktunya berdempetan dan mengambil waktu senggang gw.


Secara umum, gw masuk modul ini karena memang gw senang olahraga, semuanya selama masih bisa gw lakukan akan gw jabanin. Yang kedua, gw masuk ke modul ini karena gw ingin bisa edukasi orang tentang olahraga, nggak cuma kalo ngadepin pasien DM cuma bilang, "Pak, olahraga yang teratur ya!" Yang ketiga, tempatnya yang nyaman di dalam lingkungan Salemba 6 serta ada fasilitas Exercise Clinic yang OK. Yang keempat, jadwalnya yang fleksibel serta nggak berhubungan dengan yang namanya rumah sakit, karena gw udah bosen dengan stase perklinikan di rumah sakit.


Jadwal sehari-hari pun diisi sama yang namanya diskusi, diskusi, dan diskusi, ditambah dengan internet searching atau belajar mandiri. Bahkan kita bisa memanfaatkan fasilitas untuk melakukan exercise sekaligus membuat program sendiri ke diri sendiri. Maklum, badan udah semakin melar sejak pertama gw masuk ke kampus ini.

Kegiatan exercise mandiri

Bahkan dalam minggu-minggu terakhir ini, gw bersama kelompok gw malah banyak jalan-jalan keluar kampus sebagai bagian dari modul. Betapa bahagianya kuliah selama 3 minggu terakhir ini!

Observasi ke latihan SM di Britama Arena


Sunday, April 24, 2011

Hari Sial

Sabtu kemarin jadi salah satu hari tersial gw. Mulanya diawali dengan keharusan gw untuk jaga pagi di RS Kanker Dharmais di daerah Slipi, Jakarta Barat. Overall, jaga di RS ini terbilang sangat nyantai, terlalu santai malah, karena perawat-perawatnya tanggap dan juga kasusnya adalah semuanya kanker yang kemoterapinya tentu bukan kompetensi koass. Berasa ngabisin waktu juga jaga di sini karena gw udah selesai ujian IPD dan juga logbook  RSKD juga udah penuh, dokter jaga pun ilang entah ke mana. Akhirnya jaga yang dimulai jam 10 pagi gw selesaikan jam 1 siang, sambil beli makanan kecil buat di mobil. Tujuan selanjutnya: nyebarin poster seminar ke daerah Jakarta Selatan dan Depok.

Menjelang akhir kuliah, gw sedang disibukkan oleh yang namanya seminar. Total ada 2 seminar yang gw pegang: 1 seminar emergensi anak dan 1 seminar emergensi umum. Dan siang itu gw berencana nyebarin poster ke daerah selatan Jakarta. Gw harus ngambil poster tersebut di rumah teman gw di Fatmawati, Jakarta Selatan, terus menuju ke RS pertama di daerah Buncit, Jakarta Selatan. Habis men-drop poster di situ gw langsung ke Depok. Di sini cerita dimulai.

Di daerah Lenteng Agung, gw merasa mobil gw melindas sesuatu, tapi gw nggak nyadar itu apaan. Sampai di tengah Margonda barulah gw nyadar ban gw kempes total. Sh*t! Kesialan pertama. Setelah menepi  di tempat yang agak kosong, gw berencana untuk mengganti ban mobil. Begitu dongkrak udah selesai gw keluarin dan mau gw pasang di bawah mobil, hujan mulai turun! Kesialan kedua. Memang waktu mau jalan ke arah Depok, langit di atasnya udah hitam banget. Terpaksa gw masukin lagi alat-alat ganti ban ke bagasi sambil ninggalin dongkrak di bawah mobil. Gw harus menunggu hingga hujan agak reda ± 1,5 jam kemudian. Untung ada sandwich dan Aqua yang gw beli sebelum gw berangkat ke Depok jadi bisa lumayan mengisi perut, selebihnya hanya ada BB, radio, dan kursi buat tidur.

Menjelang hujan mau reda, gw ambil payung dan alat ganti ban dari bagasi, dan mulai mendongkrak. Di tengah mendongkrak, gw didatangin sama orang yang nawarin bantuan. Penawaran pertama, dia nawarin untuk masukin ke bengkel, gw tolak dengan halus karena gw bisa ganti ban sendiri. Kedua kali, dia nawarin penawaran yang sama, diulang lagi untuk ketiga kalinya, begitu juga yang keempat, kelima, dst. Setelah gw amatin ternyata dia adalah orang skizofrenia alias orang nggak waras! Kesialan ketiga. Dia merasa bahwa gw adalah kakaknya. Oh, kenapa di saat gw butuh waktu dan konsentrasi untuk ganti ban, malah ada orang seperti ini yang cerita segala macam di samping gw. Gw cuma menanggapi dia ngomong selama 15 menit, udah berasa jadi psikiater dadakan. Begitu gw dan dia selesai mengakhiri percakapan, dia pindah ngomong ke pengendara motor yang menepi di belakang gw untuk memakai jas hujan. Dengan topik pembicaraan yang sama. Haduuh...

Akhirnya gw selesai mengganti ban dan men-drop semua poster ke tempat tujuan. Pulang dari Depok masih harus disambut dengan kemacetan menjelang malam minggu ditambah hujan yang masih mengguyur Depok dan Jakarta Selatan. Total dalam sehari gw menghabiskan waktu menyetir dan diam di mobil 6 jam. Bukan sesuatu yang ingin diulang lagi.

Tuesday, April 19, 2011

IPD = Ilmu Pengkajian & DD

Fiuhhh... Tepat malam ini gw baru aja menyelesaikan ujian pasien IPD gw tadi pagi (ujian pasien terakhir gw sebagai koass), yang berarti hampir lengkap sudah pembelajaran gw di stase IPD. Berarti juga selama 2 minggu ke depan gw bakal stase makan gaji buta (magabut) di sisa modul sambil nunggu ujian tulis. Akan tetapi, itu juga berarti hampir selesai juga sekolah gw dan sebentar lagi bakal nyandang gelar dr. di depan nama gw. Aihhh... Ini dia yang namanya hidup segan, mati tak mau. Jadi coass penat, jadi dokter pun ragu. Daripada pusing, lebih baik ngeblog. (nggak nyambung).

Balik lagi ke topik IPD. Kenapa gw namain IPD sebagai Ilmu Pengkajian & DD (diagnosis diferensial)? Bahkan teman gw secara frontal dan lebay menyebut Ilmu Penuh Derita. Karena memang begitulah adanya. Tugas kami sebagai koass hanyalah anamnesis sebanyak mungkin, PF setajam mungkin, pikirkan semua masalah yang mungkin timbul beserta semua DD-DD-nya dan etiologi-etiologinya, semua perencanaannya baik diagnostik maupun terapi per masalah, serta yang terakhir: tulislah semua di status. Ada yang bilang satu pulpen habis dalam seminggu, tapi saya tegaskan cerita itu berlebihan. Ada yang bilang tangannya kesemutan nulis hingga hampir carpal tunnel syndrome, saya tegaskan cerita itu hampir benar. Menulis 3 status portofolio setiap minggunya hingga pengkajian per masalah dan followup tuntas per hari sudah bikin gw gelagapan di stase ini. Padahal ini nggak ada apa-apanya sama residen yang bisa nulis sampai 16 pasien per hari. Tapi dibanding Obsgyn? Gw lebih suka IPD. Serius.

Masuk IPD berarti juga gw bertemu sama yang namanya pasien dengan prognosis hidup tak lama lagi. Begitu banyak pasien dengan end-stage organ failure di stase ini, dimulai dari CHF (jantung), fibrosis paru dan PPOK (paru), CKD (ginjal), dan sirosis (hati). Jika disuruh milih, sakit mana yang paling mematikan, gw akan memilih sirosis hati sebagai penyakit nomer satu. Padahal gw di masa preklinik menganggap sirosis adalah suatu hal yang nggak berat-berat banget, namun kenyataannya pasien dengan sirosis gampang sekali mengalami perburukan. Apalagi penyebabnya terbanyaknya adalah hepatitis viral kronik yang banyak di masyarakat, nggak ada gejala saat infeksi, dan berjalan progresif dalam waktu lama. Gw pernah punya pengalaman pasien baru didiagnosis sirosis, dua hari kemudian pasien mengalami enselafopati, dan keesokan harinya meninggal. Obatnya pun cuma satu yang paling tepat: transplantasi hati yang baru pertama kali dikerjakan di Indonesia tahun ini. Kebetulan makalah pribadi gw juga bertemakan hepatitis C jadinya gw tertarik sama bidang hepatologi ini.

Yang bikin gw menyerah lagi sama IPD adalah banyak yang harus dipikirkan. Ternyata yang selama ini dibilang diabetes nggak segampang cuma tusuk jari, ambil darah, dan voila  anda diabetes. Pemilihan obat-obatnya pake pertimbangan semua dari yang oral sampai insulin. Sayangnya, nggak cuma DM yang begitu, hipertensi pun nggak sekedar orang ditensi dan voila  diberi captopril. Semua pakai pertimbangan. Pneumonia pun beda dari orang biasa sama orang tua. Bahkan mual pun yang hampir semua dokter ngasih ranitidine dan omeprazole pakai pertimbangan juga. Huaaah capek deh... Tangan kerja berat, otak pun harus kerja lebih berat.