Thursday, September 11, 2014

Seleksi Masuk PPDS Ilmu Kesehatan Anak FKUI

PPDS Ilmu Kesehatan Anak (IKA) FKUI adalah salah satu program studi favorit bagi sebagian dokter. Berikut saya akan menjabarkan sedikit tentang alur masuk ke program studi ini. Semoga menjadi pencerahan bagi yang membaca.

Untuk masuk ke program studi ini diperlukan persiapan sama seperti masuk ke program studi PPDS lainnya. Tentu yang harus dipersiapkan adalah mental (karena kehidupan PPDS bisa berbeda 180 derajat dibandingkan dengan dokter umum), keilmuan, dan biaya. Proses awal adalah pendaftaran berkas ke CHS FKUI (tempat terakhir sih sudah pindah ke gedung rektorat Salemba 4 lantai 5). Berkas yang harus dilengkapi dapat ditanyakan langsung ke CHS FKUI. Sebelum mendaftar hal yang harus dipersiapkan dari jauh hari antara lain: pengalaman klinis 1 tahun (di luar internship), mempersiapkan rekomendasi, legalisir ijazah dan transkrip nilai, surat rekomendasi IDI, dan nilai TOEFL prediction test di atas 500 di LBI UI atau LIA Pramuka.

Khusus untuk pengalaman klinis, beberapa staf pengajar menyebutkan bahwa pengalaman PTT, terutama di daerah yang sangat terpencil, menjadi nilai plus paling besar dibandingkan dengan pengalaman klinis di tempat lain. Tentu jangan berkecil hati buat yang tidak PTT, karena masih ada tempat untuk dokter non-PTT, contohnya saya. Pengalaman klinis yang banyak bersentuhan dengan kasus anak, misalnya menjadi dokter di NICU, juga bisa dijadikan poin plus. Soal rekomendasi juga kadang menjadi pertanyaan apakah ketiga rekomendasi harus diisi oleh staf pengajar di RSCM? Ini yang membuat orang-orang berlomba untuk magang divisi di RSCM. Jawabannya tidak. Banyak teman saya dari daerah yang tidak bermodalkan rekomendasi dari orang dalam RSCM. Cukup bubuhkan rekomendasi dari guru anda atau atasan anda yang benar-benar mengenal baik karakter anda. Karena sebenarnya rekomendasi itu dipakai apabila nilainya cukup-cukupan, kalau pintar ya tidak dipakai.

Bila berkas sudah diserahkan maka yang bisa kita lakukan hanya belajar sambil menunggu panggilan ujian dari departemen. Ujian masuk PPDS IKA FKUI sekarang ada 4 jenis: psikotest, ujian TOEFL, ujian MCQ, dan ujian wawancara. Semua ujian ini diikuti oleh semua pelamar yang lolos seleksi berkas.

Ujian psikotest hampir sama seperti ujian psikotest pada umumnya, dilakukan di Dept. Psikiatri RSCM. Karena banyaknya tes yang dilakukan, ujian ini dilakukan selama 1 hari penuh. Saya rasa tidak ada tips khusus dalam menjalani ujian ini, karena yang paling penting adalah istirahat secukupnya sehari sebelum tes. Yang penting adalah be yourself, karena bila kita seumpama memiliki kecenderungan memiliki gangguan bipolar kemudian kita belajar psikotest dari buku-buku psikotest dan kemudian lulus, maka yang selanjutnya menderita adalah kita selama menjalani pendidikan.

Ujian TOEFL dilakukan kembali di seleksi masuk dan dilakukan oleh LBI UI. Persyaratan minimal adalah nilai TOEFL 500, walaupun lebih baik bila bisa mencapai 550 atau kalau bisa 600. Karena nilai TOEFL ini akan dirangking dari yang tertinggi hingga terendah. Apabila nilai TOEFL didapat di bawah 500, maka otomatis akan tersingkir dari persaingan masuk.

Ujian MCQ merupakan ujian selanjutnya. Ujian ini tidak dapat diprediksi soalnya seperti apa, karena dibuat oleh kolegium anak berdasarkan giliran setiap cabang. Ujian ini juga bersifat nasional. Saran saya, banyaklah berlatih soal pediatri dari buku-buku latihan dari luar negeri seperti USMLE atau buku lainnya. Tentu belajar buku ajar dalam negeri juga penting.

Tahapan ujian selanjutnya yang banyak ditakuti akhirnya tiba, yaitu ujian wawancara. Ujian wawancara sendiri dilakukan oleh tiga orang penguji, biasanya 1 orang staf senior (profesor) dan 2 orang staf yang lebih muda. Ujian ini tidak bisa ditebak akan berjalan seperti apa, namun secara umum akan ditanyakan hal-hal seperti minat akan kesehatan anak, pengalaman selepas sekolah, pengetahuan kesehatan anak, dan hal lain seperti keluarga, keuangan, dll. Jawaban pertanyaan, "Mengapa anda ingin menjadi dokter anak?" menjadi penting karena biasanya menentukan lancarnya wawancara atau tidak. Sebaiknya jawaban pertanyaan itu bersifat orisinil dan saran saya jangan sekali-kali berbohong dalam ujian wawancara ini. Pengetahuan anak yang terpenting adalah pengetahuan mengenai masalah umum kesehatan anak di Indonesia. Yang penting juga adalah apabila kita memiliki pengalaman penelitian (tidak harus di bidang anak) maka itu bisa menjadi nilai plus juga. Tentu dengan bukti yang sahih, seperti membawa jurnal yang ada nama kita, atau bukti poster/oral presentation. Waktu 1,5 hingga 2 jam diberikan dalam ujian ini.

Kabarnya sih akan ada ujian tambahan berupa OSCE ke depannya, namun untuk saat ini seleksi masuk hanya berupa keempat ujian di atas.

Selesai merampungkan semua ujian, maka yang bisa dilakukan hanyalah berdoa dan tawakkal sambil menunggu pengumuman. Pengumuman sendiri biasanya agak lama (sekitar 1 bulan) setelah ujian selesai.

Semoga yang ditulis di sini berguna bagi calon-calon dokter anak yang akan melanjutkan sekolahnya.

Wednesday, February 26, 2014

Rujuk Merujuk

Berhubung pas malem ini lagi jaga malam yang tenang di RS, dan kebetulan hujan deres jadi relatif tenang dan ada waktu luang, gw mau berbagi pengalaman tentang sistem rujukan di Indonesia (yang gw tahu). Biasanya, rujukan antar RS dilakukan kalo ada perbedaan fasilitas antara RS asal dengan RS tujuan supaya pasien bisa ditangani dengan lebih lengkap.

Alur proses rujukan antar RS biasanya dimulai dengan penilaian dokter di RS asal untuk menentukan dirujuk atau tidak. Kemudian RS asal menghubungi RS tujuan untuk menanyakan tempat dan menjelaskan maksud rujukan. Apabila RS tujuan sudah menyanggupi menerimanya secara medis, keluarga pasien biasanya membicarakan proses administrasi dengan RS tujuan. Setelah semua beres, barulah pasien dirujuk dengan memakai ambulans. Selain rujukan dengan ambulans, ada juga jenis rujukan (yang kurang etis) yang tidak memakai ambulans atau pasien sekedar dilepas begitu saja, sehingga sering dinamakan rujuk lepas.

Gw sendiri kalo menerima kasus rujukan biasanya menimbang masalah medisnya dulu buat dinilai pasien butuh apa. Kasus rujukan bisa ringan bisa juga berat. Rujukan akan menyenangkan bila dokter di RS asal melaporkan kondisi pasien secara aktual. Kasus sebaliknya misalnya, pasien dilaporkan sadar penuh saat akan berangkat pola nafasnya baik, ternyata saat sampai kesadarannya menurun dan sesak. Apa yang terjadi kemudian? RS tujuan akan marah-marah ke RS asal, IGD kalang kabut, dan ujung-ujungnya pasien terlambat ditangani.

Kasus rujukan yang ngeselin juga adalah kalo pasien bayi (prematur) yang dirujuk ujug-ujug sementara udah dilahirin dengan sesar di RS asal. Padahal, kendaraan yang paling baik untuk merujuk bayi prematur adalah rahim si ibu, jadi sebisa mungkin bayi yang kemungkinan besar akan lahir prematur seharusnya dilahirkan di RS yang memiliki fasilitas perawatan intensif bayi baru lahir.

Berikut ini beberapa jenis rujukan yang ada di Indonesia. 

1. Tidak ada/kurang fasilitas
Ini biasanya alasan rujukan yang paling klasik dan sekaligus paling sering. Fasilitas ini bisa macam-macam, dari fasilitas ruangan (ICU, PICU, NICU), tenaga ahli (dokter subspesialis, dokter bedah spesialistik), atau peralatan penunjang (CT scan, USG, kemoterapi, dll). Kalo RS asal menjelaskan dengan benar kondisi pasien dan fasilitas yang dibutuhkan ke RS tujuan dengan benar maka akan memudahkan proses rujukan. Bila tidak, ujung-ujungnya pasien bisa dipingpong kembali ke RS lain yang akhirnya menyusahkan pasien.

2. Atas permintaan sendiri (APS)
Rujuk APS merupakan alasan rujuk yang datangnya dari pasien dan/atau keluarganya. Belum tentu ada perbedaan fasilitas antara RS asal dan tujuan. Alasan dari keluarga yang paling klasik biasanya adalah pelayanan dari RS asal tidak memuaskan, atau sakitnya si pasien tidak sembuh-sembuh sehingga butuh second opinion. Alasan lain biasanya adalah karena rumah si pasien lebih dekat sama RS tujuan. Nah, yang umum lagi biasanya adalah faktor biaya. Yang tipe jenis rujuk APS ini kondisi pasien biasanya nggak sejelek seperti tipe rujuk yang nggak ada fasilitas.

3. Ruangan penuh
Tipe rujukan yang karena ruangan penuh adalah tipe bagi-bagi rejeki ke RS tetangga. Biasanya RS asal adalah RS favorit banyak orang yang nggak peduli musim apa pasiennya selalu membludak. Atau RS asal adalah RS umum yang kuota kamar untuk pasien jaminan sudah habis. Kondisi pasien bisa bervariasi dari yang ringan atau yang berat sekalipun.

Terlepas dari baik buruknya sistem rujukan di Indonesia, diharapkan masyarakat awam mengerti dan dapat memilah-milah tempat perawatan yang pas untuk pasien sehingga pasien tidak perlu terlalu banyak dipindahkan antar RS. Second opinion ke dokter keluarga atau kerabat yang dokter kadang diperlukan untuk menentukan hal tersebut.

Tuesday, November 12, 2013

Renungan Malam

Entah kesambet apa tengah malem begini gw kepingin untuk nulis blog lagi. Rasanya udh lama banget nggak nulis di sini, tp jg emg selama ini nggak ada ide buat nulis. Kyk sekarang ini, mau nulis jg nggak tau konsep idenya buat apa, jadi ya makanya paragraf pertama sesi ini juga   isinya kosong. Bener kan?

Mungkin bisa dimulai dari liburan yg dijalanin dari blog terakhir ditulis kali ya? Jawabannya adalah nol. Palingan cuma travel Jakarta-Bogor-Bandung yg nothing extraordinary. Bahkan... bahkan lebaran pun gw nggak mudik, tp jaga kandang karena belum dpt cuti dari tempat kerja. Jadi hal ini yg jadi penghambat utama kenapa blog ini seakan mati suri.

Masalah kerjaan sekarang. Kerjaan ya begitu2 aja jadi dokter, makin lama makin biasa ngadepin pasien. Walaupun belum bisa untuk diagnosis penyakit dari suara tangisan anak *ngarep. Tp bener kata senior2, momen yg paling bahagia jadi dokter itu ada 2: 1) Saat diterima pertama kali di FK; 2) Saat setelah lepas dari FK sebelum sekolah lagi. Apa tanda2 bahagia yg paling signifikan? Tentunya adalah peningkatan massa tubuh. Semua dokter yg kerja setelah kuliah PASTI mengalaminya. Suatu hal yg diucapkan oleh direktur RS gw kepada dokter2 baru, "Di rumah sakit ini, kalian belajar sambil digaji." Enak kan?

Nah sekarang masalah sekolah lagi. Ngeliat temen2 gw udh lumayan yg ketrima jadi PPDS pasti bikin temen2 seangkatan yg lain juga termotivasi. Doakan aja gw tahun depan mulai ikut mendaftar, dan keluar dari comfort zone yg sekarang. Comfort zone emg candu, memghalangi kemauan untuk pengembangan diri sendiri (Rahman, 2013). Contohnya gini, temen gw yg menghabiskan waktunya buat magang demi sekolah lg rela nggak dibayar, sementara gw yg cuma kerja tanpa magang dibayar dan bisa beli dan makan sesuatu yg gw pingin sekarang. Lebih enak mana?

Tapi paling enggak, sebelum gw kecemplung di growth zone lagi, ijinkanlah aku ya Allah untuk jalan2 liburan minimal sekali lagi. Amiin.


Tuesday, March 12, 2013

Susahnya Jadi Dokternya Anak Sakit

Sudah hampir 2 bulan gw jadi dokter di rumah sakit tempat kerja yang baru. Alhamdulillah lingkungan di sini ramah dan bisa menerima gw dan segala kekurangan gw hehehe. Gw sendiri cukup betah kerja di sini walaupun tiap pagi dan sore harus berjuang melawan kejamnya jalanan ibu kota. Kebetulan juga rumah sakit ini juga masih seumur jagung, jadi ada banyak tantangan buat pengembangan ke depannya. Karena itu juga dokter umum di sini juga banyak yang muda dan sealmamater jadi mendukung suasana kondusif. Nah, karena rumah sakit gw ini memang didesain sebagai rumah sakit ibu dan anak, jadilah banyak banget kasus anak dan obstetri ginekologi yang masuk ke rumah sakit ini. Apalagi kalo udah berurusan sama fasilitas NICU/PICU yang rame dibicarakan orang sekarang ini, rumah sakit gw cukup bisa untuk jadi rujukan regional buat kasus bayi yang sakit kritis.

Awalnya gw masuk ke rumah sakit gw ini berharap jadi dokter yang pure tugas fungsional, artinya cuma berperan di pelayanan ke pasien aja. Tapi berhubung rumah sakit gw ini diharapkan bisa berkembang dengan adanya dokter-dokter baru, jadilah gw langsung ditaruh di instalasi perawatan anak sebagai kepalanya. Artinya juga gw harus belajar manajemen ruangan juga, yang berarti harus juga menguasai selain masalah medis pasien-pasien gw, menguasai masalah keperawatan pasien, masalah umum di ruangan, dll. Pertama tugas di situ tentu pusing. Namanya juga gw belum pernah pegang manajemen ruangan keperawatan. Tapi justru di situ letak tantangannya.

Selain instalasi perawatan anak, gw juga harus disuruh pegang klinik tumbuh kembang yang sebelumnya gw blank sama sekali. Apalagi berkaitan dengan fisioterapis dan terapis-terapis lainnya ngurusin klinik yang tugasnya membantu perkembangan anak yang mengalami keterlambatan perkembangan. Yah, semua harus dijalani satu-satu lah. Kalo cuma nanganin hal-hal yang udah pernah dipelajari sama aja dengan kita yang nggak mau berkembang.

Bicara tentang ruang keperawatan anak, ternyata jadi dokter ruangan di keperawatan anak benar-benar butuh kesabaran. Bisa dibilang, semua anak sakit yang dirawat di rumah sakit ini bakal ketemu sama gw. Pertama, karena selain ngurusin penyakitnya si anak ini, kadang-kadang orang tuanya atau seluruh keluarganya ikut-ikutan "sakit". Istilah "sakit" ini juga kadang-kadang bikin kesel dokter dan perawat. Kedua, di tengah kemajuan teknologi sekarang, mommies (atau istilah indonesianya bunda-bunda) jaman sekarang udah pada pinter-pinter untuk nanya penyakit anaknya ke dokter. Kadang-kadang pertanyaannya udah kayak pertanyaan presentasi pas jaman koass dulu seperti: "Berapa ya dok batasan hematokrit yang bisa disebut bahaya pada demam berdarah anak saya ini?"; atau "Batu empedu anak saya ini batu jenis apa ya dok?" Ketiga, tentu kalo berurusan sama anak sakit, tentu berurusan juga sama itung-itungan dosis per kg berat badannya. Dan yang keempat, beneran pemeriksaan fisik pada anak itu beneran susah dari dulu sampe sekarang. Kalo pasien nangis kita bisa tenang-tenang aja tapi pemeriksaannya juga susah, tapi kalo pasien tenang-tenang aja kita juga agak kuatir takutnya ada kenapa-kenapa. Belum lagi kalo pasien kritis di PICU/NICU, mereka gampang banget buat jelek, tapi gampang juga buat dibagusin lagi klinisnya kalo penanganannya benar. Kesimpulannya susah-susah gampang.

Jadi, kalo mau jadi dokter harus berpikir dua kali, kalo mau nerusin sekolah yang khusus menangani anak sakit mestinya harus berpikir empat kali.

Saturday, March 2, 2013

Ngajar Itu Susah!

UKDI. Ujian itu mungkin jadi momok buat sebagian dokter baru di Indonesia. Tujuannya sih bagus, untuk menyamaratakan standar praktik kedokteran di Indonesia, seperti juga halnya praktik kedokteran di negara-negara lainnya. Tapi pada kenyataannya, nggak sedikit dokter baru yang menentang adanya ujian ini dengan berbagai macam alasan. UKDI itu sendiri awalnya terdiri dari 200 paket soal multiple choice yang harus dikerjakan dalam waktu 200 menit di komputer. Namun sekarang, 200 paket soal itu ditambah lagi dengan ujian praktik (OSCE) yang dilakukan seminggu setelahnya. Jadi, menjadi dokter sekarang memang perlu banyak proses, kalo udah menyelesaikan kuliah di FK masing-masing harus ikut UKDI dulu, kemudian disumpah, setelah itu lewat proses internship, baru dapat STR. Ribet ya? Mayaaan...

Nah, sejak tahun lalu dari pertengahan masa internship gw, salah satu kegiatan rutin gw adalah ngajar materi UKDI buat calon dokter-dokter baru di sebuah lembaga ajar UKDI. Ngajar materi UKDI saat masa-masa internship sungguh berguna banget buat recall dan refresh ilmu karena internship sesungguhnya masa-masa yang stagnan. Hampir semua murid-murid gw (yang awalnya sebenernya adalah seangkatan sama gw semua) berasal dari FK swasta, ada yang pinter, ada yang agak lambat, ada yang kritis, ada juga yang apatis. Dan gw sendiri selalu cuma ngambil sekelas aja untuk satu batch karena gw males ngabisin waktu banyak-banyak untuk ngajar. Padahal sebenernya honor dari ngajar itu lumayan menggiurkan, jauh di atas rata-rata kalo jaga klinik 24 jam.

Awalnya karena gw masih tutor baru, gw dikasih entah karena kebetulan murid-murid yang fresh graduate. Dapat murid yang tipe-tipe ini sungguh enak. Pertama, karena ilmunya dari FK masing-masing masih fresh sehingga gampang catch-up-nya. Kedua, karena prioritas hidupnya masih seputar karir dan rata-rata belum punya anak sehingga kemauan belajar di luar kelas juga tinggi. Dan yang ketiga, usianya rata-rata masih seumuran gw sehingga nggak canggung di dalam kelas dan gampang juga untuk 'belajar' bareng di luar kelas.

Nah, susahnya adalah kalo dapat kelas yang isinya adalah calon dokter-dokter yang lulus dari tahun lama dan udah beranak. Biasanya perempuan, setelah lulus, berkeluarga, kemudian hamil dan mengurus anak sampai agak gedean dikit, baru deh mikir untuk praktik dokter lagi. Yang kelas didominasi murid seperti ini memang susah. Ngajar satu materi harus berulang-ulang kali, dan prognosisnya pun biasanya lebih dubia ad malam.

Kira-kira menjelang akhir internship, gw baru dipercaya untuk ikut bikin materi ajar. Awalnya coba-coba, kelamaan kerjaan ini bikin pusing saat batch pertama gw masuk ke tim akademik. Tiap minggu berurusan sama deadline, kemana-mana harus bawa laptop untuk nyicil kerjaan, dan juga harus update ilmu tentang materi yang kita bikin. Semakin lama, karena udah adaptasi di tim akademik, gw lama-lama jadi malas untuk ngajar lagi. Karena ngajar itu beban mental. Kalo murid gagal, kitanya juga ikut drop. Kalo murid tanya, kita wajib jawab. Belum lagi kalo tanya yang aneh-aneh di materi yang agak kurang gw kuasai seperti psikiatri atau kedokteran komunitas.

Jadilah sekarang gw cuma menjadi tim akademik aja. Ngabisin waktu senggang di rumah dengan sortir soal-soal, bahas soal, dan tanggung jawab sama materi ajar. Paling nggak, gw nggak harus spare  waktu buat datang ke tempat les dan ngabisin waktu 3,5 jam untuk ngajar satu kelas.

Dan gw nyadarin bahwa untuk lulus UKDI itu udah cukup dengan bahas soal-soal UKDI yang udah berlalu. Ya dengan catatan, dasar keilmuan kedokteran juga menunjang, jadi nggak cuma ngapalin soal aja. Karena kadang-kadang clue-clue tertentu suka dibedain dengan soal-soal terdahulu. Dan gw agak nyesel dulu waktu gw ikut UKDI kenapa nggak kayak gitu ya? Entahlah.


Thursday, January 24, 2013

Kembali ke Rumah Sakit!

Akhirnyaaaa!! Setelah masa penantian hampir 1,5 bulan melamar kesana-sini, gw dipanggil untuk kerja di rumah sakit. Keharusan untuk kerja di rumah sakit sebenarnya untuk persyaratan pengalaman klinis sebelum gw sekolah lagi nantinya. Kenapa harus selama itu? Karena gw menetapkan ekspektasi tinggi untuk rumah sakit gw, salah satunya harus punya yang namanya NICU/PICU. Karena alasan ini juga gw menolak beberapa tawaran rumah sakit yang ditawarin sama senior gw.

Proses jadi dokter baru itu lumayan ribet. Pertama, kalo udah punya STR, harus mengurus keanggotaan IDI dulu tergantung wilayah masing-masing. Gw mendaftar ke IDI Jakarta Selatan yang ada di RSUP Fatmawati. Setelah jadi anggota IDI, baru cari tempat praktek dan baru bisa mengurus SIP dengan minta surat rekomendasi dari IDI asal. Kalo tempat prakteknya di wilayah IDI yang lain, harus bikin surat dari IDI asal ke IDI tujuan. Surat rekomendasi ini kemudian ditujukan ke Dinkes setempat untuk pembuatan SIP.

Proses seleksinya sendiri lumayan ribet. Secara umum sih, lebih susah untuk fresh graduate untuk daftar langsung ke rumah sakit swasta daripada dokter yang udah punya pengalaman kerja sebelumnya. Seperti lamaran kerja biasanya, proses ini dimulai dengan mengirim CV dan surat lamaran ke RS yang mau dituju. Bisa dengan 2 cara, kirim secara online atau drop langsung ke RS itu. Kedua, tunggu panggilan, ini yang biasanya butuh waktu lama. Yang ketiga, proses seleksi biasa: psikotest, wawancara medis, wawancara user dan HRD. Nah, RS yang mau gw tuju ini agak banyak prosesnya. Psikotest aja harus dilakuin 2 kali: di induk RS ini dan juga di RSPAD.

Dan akhirnya gw dipanggil untuk kerja, tapi harus menjalani on-the-job training (OJT) dulu di jejaring lain RS tersebut. Gw diterima kerja di sebuah RS yang ada di Jakarta bagian selatan. Bukan wilayah Jakarta lagi sih, jadi perlu perjuangan paling nggak perjalanan selama 0,5-1 jam dari rumah. Tempat OJT gw juga ada di selatan Jakarta juga. Sampai sekarang, udah hampir 2 minggu gw menjalani OJT.

Sebenarnya kalo secara medis, nggak terlalu beda antara kerja di RS ini sama kerja waktu internship. Cuma sekarang gw kerja di RS swasta. Pastinya pasien datang ke sini selain pingin sembuh juga pingin dapat pelayanan yang bagus juga. Jadi mental kerja di sini juga beda sama mental kerja di RSU milik pemerintah. Komplain pasien bukan sesuatu yang bisa ditolerir. Tapi fasilitas untuk dokternya juga lebih, paling nggak untuk makan siang gw nggak perlu keluar duit, dapat snack pagi pula. Gimana bisa diet kalo makan aja terjamin??

Doakan aja ya gw betah di tempat kerja baru gw, dan bisa menambah pengalaman klinis yang berguna buat masa depan gw dan juga orang lain.

Ciao!

Menuju Ujung Barat Pulau Jawa

Perjalanan kali ini yang gw lakuin akhir-akhir ini adalah ke bagian barat Pulau Jawa. Yah, boleh dibilang sebenernya hampir semua bagian Pulau Jawa udah gw jamah sebelumnya, cuma daerah ini aja dan beberapa bagian lagi yang masih belum. Bisa dibilang agak over, karena dalam 2 minggu di bulan Januari gw 2 kali ke ujung Jawa ini. Yang pertama, anti-mainstream karena ngerayain tahun baru di pulau terpencil di Ujung Kulon; yang kedua, karena ikut tim relawan bencana di Pandeglang.

Gw nggak menyia-nyiakan kesempatan ketika ada ajakan dari seorang teman untuk bertahun baru di suatu tempat bernama Ujung Kulon. Sebenernya karena udah bosen ngerayain tahun baru di Jakarta. Di kebanyakan tahun-tahun baru sebelumnya gw sering menghabiskan waktu seperti malam-malam biasanya: di rumah, nonton TV sampai ngantuk, dan kemudian tidur abis ngeliat kembang api dari jauh. Pernah suatu kali, nyoba keluar ke arah Thamrin-Sudirman, macetnya luar biasa dan gw kapok untuk tahun baruan di sana. Tahun sebelumnya malah gw ngehabisin waktu jaga UGD dan nongkrong di atas gedung buat ngelihat kembang api. Jadi, nggak ada salahnya mencoba wisata yang agak beda kali ini.

Karena teman gw bawa teman bulenya juga dari Italia, kami pilih cara mudah untuk bepergian: ikut travel. Sebenarnya susah juga sih kalo mau backpacking sendiri ke Ujung Kulon, ujung-ujungnya jatuhnya mahal. Bepergian pake travel emang menyenangkan, selain nggak perlu mikir itinerary sendiri, nggak perlu mikir akomodasi dan transportnya, makan pun udah dijamin. Kekurangannya ya nggak bisa nentuin tujuan dan durasi dengan bebas, but never mind. Mau berangkat sendiri atau pake travel tempat wisata di Ujung Kulon juga sama aja. Dalam dua hari perjalanan kita bisa dapet Pulau Peucang, Cibom, mercu suar Tanjung Layar, padang rumput Cidaon, dan canoeing di Handeuleum. Begitu kata orang travel.

Perjalanan ini sepertinya nggak bakal berjalan lancar, feeling gw. Dan bener, karena kebiasaan gw packing 2 jam sebelum berangkat, kamera yang udah gw bawa ke mobil ujung-ujungnya nggak kebawa. Jadilah perjalanan ini nggak pake acara foto-foto. Udah gitu awal Januari musim hujan lagi deres-deresnya. Bener aja, perjalanan perahu dari Sumur (desa terakhir di Pulau Jawa untuk ke Ujung Kulon) sampai ke Peucang diserang sama ombak-ombak tinggi. Awalnya cuma 0,5 meter, eh kemudian jadi 1 meter, begitu udah di tengah laut jadi 1,5 meter. Antimo pun nggak bisa mencegah muntahan gw, dan seluruh penumpang beserta bawaannya basah kuyup diterpa ombak selama perjalanan 3-4 jam.

Pulau Peucang sendiri sebenernya pulau yang biasa aja (menurut gw), cuma karena lokasinya yang terisolir jadi tujuan wisata. Di sana cuma ada penginapan yang dikelola sama balai taman nasional tanpa restoran ataupun toko untuk menjual barang sehari-hari. Jadi sangat salah kalo ke Peucang tanpa bawa air minum yang cukup dan snack. Penginapannya sendiri sebenernya cukup bersih. Di tengah penginapan terdapat padang rumput tempat rusa, babi hutan cari makanan. Perjalanan selanjutnya ke Cibom sendiri nggak jauh-jauh amat, cuma ombak Selat Sunda di musim hujan memang menantang. Perjalanan trekking dari Cibom ke Tanjung Layar (the westernmost point of Java) akhirnya dibatalkan gara-gara cuaca yang nggak bersahabat, takutnya nggak bisa pulang. Padang rumput Cidaon pun sama aja. Biasanya di sana jadi tempat banteng, rusa, dan merak ngumpul, cuma gara-gara hujan semuanya menghilang. Snorkling di Selat Peucang pun juga nggak seimpresif snorkling di Flores (ya iyalah!). Apalagi hujan yang deres di tengah laut bikin laut jadi bergejolak dan jarak pandang jadi dekat. Terpaksa memang waktu harus dihabiskan di Pulau Peucang.

Perayaan malam tahun baru sendiri dirayain sederhaa sama BBQ dan kembang api bareng wisatawan lain di Peucang. Keesokan harinya, masih ada waktu untuk snorkling. Untuk pulangnya, teman yang bule udah kapok ngebayangin untuk naik kapal selama 3-4 jam dengan ombak segede gaban. Tapi begitu dikasih tau kalo jalan kaki butuh waktu seminggu akhirnya dia nyerah juga. Tujuan selanjutnya Handeuleum, tujuannya canoeing. Eh, ujung-ujungnya batal juga karena hujan deras menyerang di tengah perjalanan. Jadilah perjalanan ini sebenarnya cuma ngabisin waktu buat pengangguran seperti gw. Nggak ketemu badak juga yang jadi ikon Taman Nasional Ujung Kulon.

Perjalanan yang kedua sebenarnya nggak sejauh perjalanan pertama. Awalnya gara-gara diajak untuk ikut bantuin bencana banjir di Pandeglang. Setelah kumpul di kantor relawan di Ciputat, gw dan 5 orang lainnya berangkat ke Pandeglang cuma modal alamat. Dengan modal Blackberry map juga akhirnya setelah 4 jam nyampe juga di Desa Pagelaran, Pandeglang. Desa ini itungannya udah jau banget dari Jakarta, dekat dengan pantai Labuan. Dari yang awalnya cuma rencana pulang balik sehari, ujung-ujungnya jadi nginep karena akses ke tempat bencana yang masih tinggi ditutup banjir. Oiya, jangan lupa kalo ke daerah Labuan mampir ke rumah makan Bu Entin yang spesialis otak-otak tenggiri, dijamin nggak bakal nyesel. Begitulah, wisata kuliner tetap harus dilakuin walau ada bencana sekalipun.

Keesokan harinya dengan mobil 4WD, banjir itu bisa juga ditembus. Kasihan memang, banyak warga yang masih belum tersentuh bantuan logistik ataupun medis. Sebenarnya para relawan masih butuh tim medis untuk bantuan selama seminggu ke depan, namun apa daya karena masih ada keperluan di Jakarta keesokan harinya kami harus pulang. Banyak cerita-cerita heroik warga di balik bencana banjir ini.

Begitulah rangkuman perjalanan gw ke ujung barat Jawa kemarin. In conclusion, akibat perjalanan sebelumnya yang ke Flores, sekilas Ujung Kulon jadi nggak terlalu bagus menurut gw. Tapi yang mau mencoba terisolasi dengan jarak relatif dekat dari Jakarta, destinasi ini dapat dicoba.