Sunday, July 15, 2012

8 Months in Short Story

Setelah lama gw nggak nulis blog, gw balik lagi dengan kesibukan yang baru lagi. Tepat seminggu yang lalu gw resmi dipindahtugaskan dari RSUD Kabupaten Bekasi ke Puskesmas Kecamatan Setu 1 yang letaknya sekitar 10 km lebih jauh. Jadi secara total gw harus bolak-balik sepanjang 35 km x 2 dari hari Senin-Sabtu. Belum lagi ditambah macet khas Jakarta-Bekasi yang didominasi sama truk trailer.

Macet di daerah ini memang sifatnya progresif. Dulu waktu gw pertama tugas di Cibitung, macet cuma terjadi kalo berangkat sore ke Cibitung atau pulang pagi ke Jakarta. Sekarang tambah parah. Macet pasti terjadi sebelum interchange Cikunir sama ruas Bekasi Timur-Cibitung, nggak peduli mau berangkat jam berapa. Pernah gw pulang jam 12 malam dari Cibitung ke arah Jakarta, di arah sebaliknya masih macet. Entah karena banyak perbaikan jalan, karena kecelakaan, atau gara-gara demo buruh, tapi yang pasti penyebab utamanya itu karena makin banyak mobil dan truk.

Secara umum tugas di rumah sakit itu ya gitu-gitu aja: jaga UGD, jaga poli, visit ruangan. Variasi pasiennya banyak banget dan kapasitas pasiennya kurang banget. Rumah sakit ini juga terkenal suka ngerujuk pasien gara-gara kamarnya penuh. Ya iyalah, kapasitasnya untuk pasien jaminan cuma 54 bed. Jadi maafkan gw ya pasien-pasienku, dokter-dokter yang ada di RS rujukan kalo jadi susah. Jaga UGD-nya kadang-kadang santai, kadang-kadang juga nggak bisa istirahat dari pertama masuk sampai ganti shift. Oiya, di RS ini juga dijadikan tempat pendidikan koass dari Yarsi. Dibandingkan sama kehidupan koass gw dulu, gw ngerasa kehidupan mereka jauh lebih bahagia dan minim tekanan. Dan gw juga baru ngerasa kalo pressure seorang DPJP UGD atau residen itu lebih berat dari yang gw bayangin selama gw koass dulu. Pernah teman gw kena marah-marah sama pasien sampai dilaporin ke komite medik, pernah juga debat sama pasien anggota DPRD yang sok penting, dan informed consent  ke keluarga pasien kalo pasien ini harus dirujuk, ternyata nggak segampang teorinya. Belum lagi dimarahin sama spesialis kalo konsulnya sembarangan. Mungkin itu ilmu paling berharga yang gw dapat di Cibitung.

Anyway, bila anda berkunjung ke Cibitung, jangan harapkan anda akan mendapatkan sajian kuliner yang otentik dari daerah ini. Makanan di sini hampir sama dengan Jakarta, bahkan dengan harga yang kadang-kadang lebih mahal dari standar Jakarta yang penyebabnya entah kenapa. Untuk pengunjung RSUD, jangan lewatkan untuk makan di warung Mak Gambreng yang ada di sebelah UGD. Warung ini menurut gw adalah tempat yang menyajikan makanan terenak di seluruh Cibitung. Makanannya bervariasi: lontong sayur, nasi uduk, dan nasi dengan lauk rumahan.

Bila dibandingkan dengan Cibitung, kecamatan Setu lebih pedalaman lagi. Seperti biasa, kalo gw masuk ke daerah baru salah satu hal pertama yang gw tanyakan adalah makanan apa yang enak di daerah itu. Banyak orang bilang ada warung masakan Sunda dan warung Padang yang enak di daerah dekat Puskesmas, tapi setelah gw coba rasanya nggak lebih enak dari yang ada di Cibitung. Tampaknya strategi diet bisa gw lakukan di stase puskesmas apalagi ditambah nantinya bulan puasa.

Selain hal-hal berkaitan sama internship dan makan-memakan di atas, gw juga punya kesibukan tambahan sebagai pengajar di salah satu bimbel UKDI. Itung-itung nambah penghasilan dan refresh ilmu selama masa internship. Soalnya jujur, selama masa internship kami nggak bakal dapat ilmu terbaru sebanyak masa koass. Sebenernya, di Bekasi sendiri udah terkenal sebagai kotanya klinik-klinik kecil, sehingga tawaran jaga klinik itu sangat banyak. Tapi berhubung gwnya sendiri yang males ngabisin 12 jam demi 100 ribu rupiah rata-rata, menurut gw bayaran segitu masih nggak worth dengan pekerjaannya.

2 comments:

  1. Replies
    1. Yaa mgkn skrg dengan laju inflasi yg terus naik dan biaya hidup yg meningkat, bayaran itu juga sudah lebih tinggi

      Delete